Yogyakarta, MMI – Sekelompok mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi dan Multimedia, Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) telah sukses menyelenggarakan program pengabdian masyarakat bertajuk “Saring Sebelum Sharing: Menjadi Detektif Informasi di Era Banjir Berita”.
Kegiatan ini menyasar kelompok remaja, khususnya para siswa di SMP Karitas Ngaglik, yang saat ini sangat aktif mengeksplorasi identitas digital mereka melalui berbagai platform media sosial.
Di era digital saat ini, fenomena “banjir berita” sering kali mengaburkan batasan antara informasi yang valid dan manipulatif. Kecepatan arus informasi yang diterima oleh generasi digital native ini kerap tidak sebanding dengan kemampuan kognitif mereka dalam memverifikasi kebenaran konten. Merespons permasalahan tersebut, tim mahasiswa UMBY menginisiasi program pendampingan untuk mengatasi rendahnya literasi kritis siswa dalam membedakan fakta dan opini, serta kebiasaan menyebarkan informasi tanpa penyaringan.
Program pemberdayaan siswa ini merupakan salah satu luaran mata kuliah kapita selekta komunikasi dengan pengampu Dr. Rila Setyaningsih, M.S.I
Workshop interaktif ini dikemas dengan konsep “Detektif Informasi”, di mana siswa tidak hanya diberikan materi mengenai ciri-ciri hoaks, tetapi juga diajak melakukan praktik langsung. Tim memberikan pelatihan khusus terkait penggunaan alat bantu digital reverse image search untuk memvalidasi kebenaran sebuah foto atau berita yang beredar di internet.
Guna mengukur efektivitas program, tim pelaksana melakukan evaluasi melalui pretest dan posttest yang terdiri dari 5 butir soal kepada 15 orang siswa peserta. Salah satu indikator keberhasilan diukur melalui pemahaman siswa dalam memilih alat yang tepat—seperti fitur Google Lens (Reverse)—untuk mengecek keaslian sebuah foto viral.
Berdasarkan hasil pengujian secara kuantitatif:
- Pada tahap pretest, sebesar 20% siswa (3 dari total 15 peserta) masih keliru dalam menjawab soal spesifik (soal nomor 2) mengenai penggunaan alat verifikasi foto tersebut.
- Setelah mengikuti sesi praktik dan pendampingan, tingkat kesalahan tersebut berhasil ditekan. Pada hasil posttest, persentase siswa yang menjawab salah pada soal yang sama menurun menjadi 13,3% (2 orang).
- Secara akumulatif, tingkat pemahaman (jawaban benar) siswa pada materi verifikasi foto ini mengalami peningkatan dari 80% (12 siswa) menjadi 86,7% (13 siswa).
Penurunan tingkat kesalahan dan peningkatan persentase jawaban benar ini menunjukkan bahwa pelatihan teknis alat verifikasi digital secara langsung efektif membantu siswa SMP Karitas Ngaglik untuk menguasai metode fact-checking dasar.
Melalui program ini, para siswa diharapkan tidak lagi menjadi konsumen informasi yang pasif, melainkan bertransformasi menjadi agen perubahan yang aktif memutus rantai hoaks di komunitas sekolah mereka.
Penulis:
1. Wayan Wirayana 230710039
2. Hans Prismanta Sembiring 230710165
3. Muhammad Aldi Nur Haq 230710083
4. Zeskind Loveressaa 230710080
5. Supriyadin 230710081
6. Ilham Muhammad Ridho 230710138
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY)
Dosen Pengampu: Dr. Rila Setyaningsih, M.S.I.
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













