Dibanyak sekolah, masalah disiplin seperti terlambat, malas mengerjakan tugas, berpakaian tidak rapi, atau tidak menghormati guru sudah menjadi hal yang hampir “lumrah”. Terutama di era modern, di mana sebagian besar siswa lebih tertarik pada ponsel, game, dan hiburan daring mereka daripada memperhatikan peraturan sekolah. Tidak mengherankan jika para pendidik seringkali kewalahan dengan upaya memulihkan budaya disiplin.
Sekolah biasanya menggunakan satu metode: hukuman. Berdiri di depan kelas, sedikit melenceng. Tidak mengumpulkan tugas, mendapat nilai nol. Pelanggaran dicatat karena tidak lengkap. Ini bukan berarti tidak ada dampaknya, tetapi masalahnya adalah perubahannya hanya sementara.
Siswa harus mengulangnya besok atau minggu depan. Dari sini, kita harus mulai bertanya: apakah hukuman benar-benar mengubah siswa? Atau apakah hukuman hanya membuat mereka takut sesaat, tanpa memahami alasan di balik hukuman tersebut?
CARA SKINNER: PERILAKU BAIK ITU DIPANCING, BUKAN DIPAKSA
Menurut B.F. Skinner, manusia memiliki kemampuan untuk belajar melalui “pengkondisian operan”, yang berarti perilaku yang menyenangkan akan diulang dan perilaku yang tidak menyenangkan akan dihindari. Namun, Skinner tidak berhenti di situ.
Ia menekankan bahwa “penguatan positif” menambahkan sesuatu yang menyenangkan setelah suatu perilaku, adalah cara paling efektif untuk membentuk kebiasaan. “Sederhananya, ini seperti memberi hadiah untuk perilaku baik.”
Contohnya begini: Seorang siswa datang tepat waktu. Gurunya bilang, “Keren, kamu on time terus akhir-akhir ini!”. Siswa itu akan senyum-senyum sendiri dan merasa dihargai. Besok ia akan berusaha datang tepat waktu lagi. Ini bukan soal hadiah besar. Bahkan hanya ucapan sederhana bisa membuat siswa merasa diakui.
CONTOH PENGUATAN POSITIF YANG RELEVAN SERING TERJADI
- Guru memuji siswa di depan kelas karena mengumpulkan tugas lebih awal.
- Siswa yang tertib seminggu penuh boleh memilih tempat duduknya.
- Siswa yang konsisten disiplin dapat poin tambahan.
- Kelas yang rapi dan tenang dapat waktu istirahat tambahan.
Sekecil apa pun bentuknya, penguatan positif itu membuat siswa bangga. Kebanggaan inilah yang mendorong mereka mengulang perilaku baiknya.
LALU, KENAPA HUKUMAN SERINGKALI TIDAK EFEKTIF?
Hukuman memang bisa menghentikan perilaku buruk, tapi hanya untuk sementara. Siswa yang sering dihukum biasanya belajar untuk takut, bukan untuk berubah.
Contoh hukuman yang sering terjadi: Disuruh berdiri di luar kelas karena telat, Nilai dikurangi karena lupa membawa buku, Diumumkan sebagai siswa pelanggar aturan, Disindir di depan teman-temannya.
Baca juga: Pengaruh Aturan dan Hukuman terhadap Manajemen Tingkah Laku Taruna pada Sekolah Kedinasan
Hukuman seperti ini sering membuat siswa: merasa malu, tidak percaya diri, membenci aturan, dan bahkan membenci gurunya. Skinner jelas mengatakan bahwa hukuman hanya mematikan perilaku, bukan menggantinya dengan perilaku yang benar. Jadi wajar kalau siswa mengulangi pelanggaran yang sama.
PENGUATAN POSITIF LEBIH MANJUR, INI ALASANNYA
- Siswa merasa dihargai, bukan ditekan, Ketika perilaku baik mereka disorot, siswa sadar bahwa disiplin itu berharga.
- Membangun motivasi dari dalam diri, Mereka melakukan hal benar bukan karena takut dihukum, tapi karena merasa bangga.
- Hubungan siswa dan guru jadi lebih sehat, Guru bukan lagi sosok yang ditakuti, tapi mentor yang mendukung.
- Perilaku baik lebih bertahan lama, Hal yang diberi penguatan positif biasanya berubah menjadi kebiasaan.
SIMPULAN
Hukuman tidak lagi dapat digunakan untuk mengubah perilaku siswa. Metode B.F. Skinner menunjukkan bahwa penguatan positif lebih mudah mengubah perilaku daripada ancaman atau rasa takut. Disiplin akan berkembang secara alami ketika siswa merasa dihargai, didukung, dan diberi ruang untuk berkembang.
Mereka menemukan bahwa bertindak disiplin bukan tentang menghindari hukuman, tetapi tentang mencapai yang terbaik. Budaya sekolah Indonesia harus bergeser dari “menghukum pelanggaran” menjadi “menghargai kebaikan.” Dengan cara ini, kita dapat membangun generasi yang disiplin melalui kesadaran, bukan rasa takut.
Penulis: Egbert Pheros Lewankoru
Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Universitas Kristen Satya Wacana
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












