Pengaruh Aturan dan Hukuman terhadap Manajemen Tingkah Laku Taruna pada Sekolah Kedinasan

Opini
Sumber: analisadaily.com

Abstrak

Penelitian ini dilakukan atas dasar permasalahan yang ada di Politeknik Penerbangan Medan yang menunjukkan masih ada beberapa taruna yang belum disiplin dalam melaksanakan tata tertib sekolah, seperti: masih ada taruna yang datang terlambat dalam mengikuti kegiatan di lingkungan Politeknik Penerbangan Medan. Taruna masih bersikap acuh tak acuh terhadap tata tertib sekolah.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh antara penerapan tata tertib dan hukuman terhadap tingkah laku taruna di Politeknik Penerbangan Medan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan pendekatan kuantitatif.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Teknik pengambilan sampel yaitu purposive sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah angket dengan bentuk pilihan berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat pengaruh signifikan antara pengaruh tata tertib dan hukuman terhadap tingkah laku taruna.

Kata Kunci: Hukuman, Tata Tertib, Tingkah Laku.

Baca Juga: Pelatihan dan Pengembangan dalam Manajemen Sumber Daya Manusia

Abstract

This research was conducted on the basis of the problems that existed at the Medan Aviation Polytechnic which showed that there were still some cadets who were not disciplined in implementing school rules, such as: there were still cadets who arrived late in participating in activities within the Medan Aviation Polytechnic. The cadets are still indifferent to school rules.

This study aims to determine whether there is an influence between the application of discipline and punishment on the behavior of cadets at the Medan Aviation Polytechnic. The research method used is a survey method with a quantitative approach. The sampling technique is purposive sampling.

The research instrument used was a multiple choice questionnaire. The results of this study indicate that there is a significant influence between the influence of discipline and punishment on the behavior of cadets.

Keywords: Punishment, Order, Behavior.

Pendahuluan

Pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Setiap anak memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendidikan, mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Pada saat menjalani pendidikan anak-anak diharapkan dapat menjadi generasi yang hebat.

Pendidikan pada hakikatnya merupakan usaha memanusiakan manusia, kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari bidang pendidikan.

Sesuai dengan UU RI Nomor 20 Tahun 2003 bahwa pendidkan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dalam proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Setiap individu pada umumnya membutuhkan pendidikan, karena dengan pendidikan, kehidupan  manusia akan dapat mengalami kemajuan. Dengan pendidikan pula sesorang bisa mulia dan diterima oleh masyarakat. Makin tinggi pendidikan seseorang makin baik masa depannya.

Baca Juga: Inovasi dalam Dunia Pendidikan

Bahkan setiap warga negara dituntut menjalani pendidikan seumur hidup (life long education). Dalam dunia yang dinamis, setiap masyarakat selalu mengalami perubahan, bila tidak turut berubah dan tidak turut mengikuti pertukaran zaman, masyarakat tersebut dapat mengalami ketertinggalan dalam segala segi.

Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa sekolah merupakan salah satu lembaga sosial yang memiliki struktur kepemimpinan dan penyelenggaraan yang resmi, di mana terdapat suatu proses belajar mengajar antara guru dengan siswa.

Proses belajar dan mengajar juga memerlukan lingkungan yang kondusif, untuk itu dibutuhkan suasana yang nyaman, tenang, tentram, dan tertib agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik dan peserta didik dapat mengasah potensi yang dimilikinya. Agar tercapainya susasana belajar yang kondusif sekolah membutuhkan yang namanya tata tertib sekolah.

Tata tertib sekolah yaitu patokan yang harus diikuti di dalam lingkungan sekolah. Ketertiban artinya kondisi dinamis yang dapat menimbulkan keserasian, keselarasan, dan keseimbangan dalam tata hidup bersama di lingkungan sekolah.

Secara umum tata tertib sekolah diartikan sebagai aturan yang harus ditaati setiap warga sekolah tempat berlangsungnya kegiatan pembelajaran. Dapat disimpulkan tata tertib sekolah adalah pedoman seseorang untuk bersikap dan berperilaku sesuai dengan tata tertib di sekolah yang memiliki tujuan dalam menciptakan kondisi dinamis dan kondusif dalam kegiatan belajar mengajar.

Tata tertib sekolah merupakan salah satu usaha sekolah dalam pembentuk sikap dan etika para siswa, yang pada dasarnya setiap sekolah memiliki tata tertib yang berbeda-beda sesuai dengan situasi yang ada di sekolah tersebut.

Adanya tata tertib sekolah diharapkan bisa memberikan pengarahan dan juga batasan-batasan kepada siswa dalam bersikap dan berperilaku di dalam lingkungan sekolah. Setiap siswa harus mengetahui tata tertib yang berlaku di sekolah, setelah siswa mengetahui siswa harus mentaatinya.

Baca Juga: Mengenal Ragam Budaya Organisasi

Jika siswa tidak mengikuti tata tertib yang ada di sekolah maka siswa akan mendapat sanksi atau hukuman sesuai pelanggaran yang dilakukannya. Hukuman atau sanksi yang diberikan guru kepada siswa yang melanggar tata tertib sekolah bertujuan, untuk membuat siswa jera dan tidak mau melanggar atau mengulangi kesalahannya kembali.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan sebuah penelitian yang berjudul “Pengaruh Aturan dan Hukuman terhadap Manajemen Tingkah Laku Taruna pada Sekolah Kedinasan”.

Kajian Teori

Pengertian Tata Tertib sekolah

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, tata tertib sekolah merupakan suatu petunjuk, ketentuan, atau kaidah, yang dibuat untuk mengatur. Tata tertib sekolah merupakan ketentuan yang ada di sekolah, dan berguna untuk mengatur kegiatan-kegiatan dalam sekolah, selama berada di lingkungan sekolah.

Tata tertib sekolah disusun bukan hanya untuk siswa melainkan untuk seluruh personil sekolah. Pemerintah melalui Permendiknas Nomor 19 Tahun 2007 menjelaskan bahwa tata tertib sekolah diterapkan oleh kepala sekolah melalui rapat dengan dewan pendidikan dan mempertimbangkan masukan komite sekolah.

Sehingga tata tertib yang disusun dan disepakati bersama dapat dilaksanakan dengan baik oleh warga sekolah.

Tata tertib sekolah merupakan aturan yang berlaku di sekolah yang memiliki tujuan agar proses pendidikan dapat berlangsung dengan efektif dan efsien.

Dapat disimpulkan dengan adanya tata tertib diharapkan personil sekolah mampu menciptakan susana belajar yang kondusif, hal ini akan terwujud apabila setiap siswa mampu bersikap sesuai dengan tata tertib yang telah dibuat.

Pengertian Hukuman

Kata hukuman ditinjau dari segi bahasa Indonesia, berasal dari kata dasar hukum dan mendapat akhiran “an”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa hukum adalah suatu sistem aturan atau adat, yang secara resmi dianggap mengikat dan dikukuhkan oleh penguasa, pemerintah atau otoritas melalui lembaga atau institusi hukum.

Baca Juga: Realisasi Nilai Pancasila untuk Memperkuat Moralitas dan Etika

Undang-undang, peraturan, dan sebagainya dibuat untuk mengatur pergaulan hidup masyarakat. Menurut P. Borst, hukum adalah keseluruhan peraturan atau perbuatan manusia di dalam masyarakat, yang pelaksanaannya dapat dipaksakan dan bertujuan mendapatkan tata atau keadilan.

Menurut J.C.T Simorangkir, hukum adalah himpunan petunjuk hidup (perintah dan larangan) yang mengatur tata tertib dalam masyarakat.

Pengertian Tingkah Laku

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa tingkah laku itu sama artinya dengan perangai, kelakuan, atau perbuatan. Tingkah laku dalam pengertian ini lebih mengarah kepada aktivitas seseorang.

Menurut Caplin, tingkah laku itu merupakan respon yang mungkin berupa reaksi, tanggapan, jawaban, atau alasan yang dilakukan oleh organisme. Tingkah laku juga bisa berarti suatu perbuatan atau aktivitas.

Tingkah laku dan sikap merupakan mata rantai yang terjalin dengan hubungan faktor penentu, yaitu motif yang mendasari sikap. Motif sebagai tenaga pendorong arah sikap negatif atau positif akan terlihat dalam tingkah laku nyata pada diri seseorang atau kelompok.

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa perilaku adalah tingkah laku, suatu perbuatan, atau tindakan seseorang yang nyata dapat dilihat atau bersifat konkrit dan tanpa melalui pembinaan dalam jiwa terlebih dahulu.

Metode Penelitian

Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan menyusun instrumen penelitian sebagai alat pengumpul data dalam bentuk angket/ kuesioner. Kemudian penulis menganalisis data yang diperoleh dari hasil penelitian berupa informasi dan data yang berkaitan dengan tema yang akan diteliti.

Populasi penelitian ini adalah taruna Politeknik Penerbangan Medan yang berjumlah 310 orang. Sedangkan yang dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah sebagian dari populasi yaitu 25% dari total populasi atau sejumlah 78 taruna yang dipilih secara acak.

Baca Juga: Pengamalan Implementasi Nilai-Nilai Pancasila untuk Generasi Milenial

Pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai sumber dan berbagai cara, maka teknik pengumpulan data dapat dilakukan melalui:

1. Kuesioner (angket)

Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya.

    2. Observasi

    Observasi merupakan aktivitas terhadap suatu proses atau objek yang dimaksud merasakan dan kemudian memahami pengetahuan dari sebuah fenomena berdasarkan pengetahuan dan gagasan yang sudah diketahui sebelumnya.

    Teknik pengumpulan data observasi digunakan bila penelitian berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam, dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar.

    3. Dokumentasi

    Dokumentasi merupakan pengumpulan data yang tertulis atau tercetak yang dapat dipakai sebagai bukti atau keterangan barang cetakan atau naskah, atau dengan pengumpulan, pengolahan, dan penyimpanan informasi dalam bidang pengetahuan seperti struktur organisasi dan uraian tugas.

    Teknik Analisis Data

    1. Uji Asumsi Klasik

    Dalam uji asumsi klasik terdapat beberapa uji seperti uji multikoleniritas, uji normalitas, dan uji heterokedastisitas.

    2. Analisis Regresi Linear Berganda

    Menurut Sofyan Siregar (2013), analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui apakah variabel bebas secara bersama mempengaruhi variabel terikat:

    Baca Juga: Norma Moral: Ancaman Bagi Masyarakat

    Y         = a+b1X1+ b2X2 + e

    Y         = Tingkah laku

    b1        = Koefisien regresi tata tertib

    b2        = Koefisien regresi hukuman

    X1       = Tata tertib

    X2       = Hukuman

    e          = Varians pengganggu

    3. Pengujian Hipotesis

    Pengujian dalam penelitian ini menggunakan uji t dan uji f.

    4. Koefisien Korelasi

    Koefisien korelasi menunjukkan kekuatan hubungan linear dan arah hubungan dua variabel acak.

    5. Determinasi (R2)

    Koefisien Determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu.

    Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi-variasi dependen (Sofyan Siregar: 2013).

    Hasil dan Pembahasan

    Baca Juga: Perpeloncoan Maba Cukup Sampai di Sini!

    Uji Asumsi Klasik

    1. Uji Multikoleniritas

    Dalam penelitian ini dapat diketahui bahwa nilai toleransi dari variabel pengaruh tata tertib dan hukuman lebih dari 0,10 dan VIF kurang dari 10, maka dapat disimpulkan bahwa dalam model regresi tidak terjadi multikolineritas.

    2. Uji Normalitas

    Dalam penelitian ini hasil pengujian one-sample kolmogrov- Smirnov test menghasilkan asymptotic significance sebesar 0,971 & 0,05. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa model regresi telah memenuhi asumsi kenormalan.

    3. Analisis linear regresi berganda

    Analisis regresi dalam penelitian ini yaitu:

    Y         = 13,62 + 0,119 X1 – 0,017 X2

    1. 13,62
      Nilai konstanta ini menunjukkan bahwa taruna memiliki manajemen tingkah laku sebesar 13,62 apabila tidak ada variabel bebas (X1 dan X2).
    2. 0,119
      Koefisien regresi variabel X1 (tata tertib) adalah 0,119. Artinya jika variabel bebas lainnya yaitu variabel X2 (hukuman) nilainya tetap dan tata tertib bertambah, maka manajemen tingkah laku meningkat sebesar 11,9%.
    3. -0,017
      Koefisien regresi variabel X2 (hukuman) sebesar -0,017. Artinya jika variabel bebas lainnya yaitu variabel X1 nilainya tetap dan hukuman meningkat, maka manajemen tingkah laku taruna akan meningkat 1,47%.

    4. Uji F

    Berdasarkan hasil perhitungan yang diperoleh Fhitung 40,625 > Ftabel 4,012. Sehingga dapat disimpulkan Ho ditolak jika Fhitung 40,625>4,012. Artinya variabel X1 dan X2 berpengaruh besar terhadap varaiabel Y secara simultan atau bersama-sama.

    Baca Juga: Pancasila sebagai Kontrol Generasi Z dalam Menghadapi Degradasi Moral di Era Globalisasi

    5. Uji determinasi (R2)

    Dalam penelitian ini diperoleh koefisien determinasi sebesar 0,52 atau 52%. Artinya terdapat korelasi atau pengaruh antara variabel terikat dengan variabel bebas. Koefisien determinasi 0,52 artinya manajemen tingkah laku taruna dapat dijelaskan oleh tata tertib dan hukuman sebesar 52% selebihnya 48% dipengaruhi oleh variabel lainnya.

    Pembahasan

    1. Pengaruh tata tertib terhadap manajemen tingkah laku

    Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh tata tertib secara parsial yang positif dan signifikan terhadap manajemen tingkah laku taruna. Hasil analisis data penelitian menunjukkan ada pengaruh pelaksanaan tata tertib sekolah terhadap manajemen tingkah laku taruna.

    Hal ini ditunjukkan dengan Fhitung 40,625 > Ftabel 4,012, artinya Ho ditolak dan Ha diterima. Hubungan pelaksanaan tata tertib sekolah dengan manajemen tingkah laku taruna dapat dilihat dari nilai R square sebesar 0,52 artinya sumbangan pengaruh tata tertib sekolah terhadap manajemen tingkah laku taruna sebesar 52%.

    Pelaksanaan tata tertib sekolah memengaruhi siswa untuk terbiasa melakukan segala hal dengan tertib dan teratur sehingga siswa dapat lebih disiplin dalam melakukan belajarnya.

    Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Kurniawan (2018: 20) bahwa tata tertib sangat dibutuhkan karena sedikit banyak akan menumbuhkan kedisiplinan pada anak.

    Selain itu Hadianti (2008) dalam (Priyono, 2016: 8) berpendapat bahwa semakin baik tata tertib di sekolah, maka semakin baik pula kedisiplinan dalam proses belajar siswa. Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan tata tertib sekolah berpengaruh pada kedisiplinan belajar siswa.

    2. Pengaruh hukuman terhadap manajemen tingkah laku taruna

    Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh hukuman secara parsial yang positif dan signifikan terhadap manajemen tingkah laku taruna. Hasil analisis data penelitian menunjukkan ada pengaruh hukuman terhadap manajemen tingkah laku taruna.

    Baca Juga: Analisa Hubungan antara Kesehatan Mental Mahasiswa dan Kualitas Pendidikan

    Hal ini ditunjukkan dengan Fhitung 40,625 > Ftabel 4,012, artinya Ho ditolak dan Ha diterima. Hubungan hukuman dengan manajemen tingkah laku taruna dapat dilihat dari nilai R square sebesar 0,52 artinya sumbangan hukuman terhadap manajemen tingkah laku taruna sebesar 52%.

    Suatu hukuman dapat efektif dan dapat berpengaruh positif terhadap manajemen tingkah laku taruna bila penerapannya senantiasa memperhatikan aspek situasional dan kondisional. Hukuman yang akan diterapkan kepada taruna hendaknya tidak pandang bulu, bahwa taruna sama kedudukannya di depan hukum dan kesalahan sekecil apapun punya konsekuensi terhadap hukuman.

    Kesimpulan

    Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

    1. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh tata tertib secara parsial dan signifikan terhadap manajemen tingkah laku taruna di Politeknik Penerbangan Medan.
    2. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh hukuman secara parsial dan signifikan terhadap manajemen tingkah laku taruna di Politeknik Penerbangan Medan.

    Penulis: 

    Narel Eka Padanta Surbakti
    Mahasiswa Teknik Listrik Bandara Politeknik Penerbangan Medan

    Editor: Ika Ayuni Lestari     

    Bahasa: Rahmat Al Kafi

    Daftar Pustaka

    Ahmadi, Abu. 2007. Psikologi Sosial. Jakarta: Rineka Cipta.

    Arikunto, Suharsmi. 2007. Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

    Depdiknas. 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

    Djali. 2015. Pisikologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

    Hadeli. 2001. Manajemen Pendidikan. Padang: Baitul Hikmah Press.

    Hendyadi, Suryani. 2015. Metode Riset Kuantitatif: Teori dan Aplikasi Pada Penelitian Bidang Manajemen dan Ekonomi Islam. Jakarta: Kencana.

    Hurlock, Elizabeth B. 1978. Perkembangan Anak Jilid 2. Jakarta: Erlangga.

    Prayitno. 1997. Pelayanan Bimbingan Dan Konseling (SLTP). Jakarta: PT Rineka Cipta.

    Purwanto, Nanang. 2014. Pengantar Pendidikan. Yogyakarta: Garaha Ilmu.

    Sarwono, Sarlito W. 2014. Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: Rajawali Pres.

    Sudijono, Anas. 2008. Pengantar Statistik pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo.

    Sugiyono. 2012. Metodologi Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D Bandung: Alfabeta.

    Sujonto, Agus. 1980. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Aksara Baru.

    Suryosubroto. 2004. Manajemen Pendidikan Di sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.

    Swatra, I Wayan. 2014. Sosiologo Pendidikan. Yogyakarta: Graha Ilmi.

    Thohifah, I’natut. 2015. Statistic Pendidikan dan Metode Penelitian Kuantitatif. Malang: Madani.

    Tohirin. 2006. Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

    ⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
    Ikuti Channel WhatsApp
    Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
    KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

    Pos terkait

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses