Kamu mungkin pernah bertanya, apa itu mahasiswa? Pertanyaan ini terdengar sederhana, tapi jawabannya sangat kompleks.
Mahasiswa bukan hanya orang yang menuntut ilmu di perguruan tinggi. Mereka adalah agen perubahan dan penggerak masa depan bangsa. Mahasiswa juga berperan sebagai motor sosial dalam berbagai isu nasional.
Dalam kehidupan kampus, ada berbagai tipe dan jenis mahasiswa. Masing-masing punya karakter, aktivitas, dan tujuan berbeda.
Beberapa aktif di organisasi, sementara yang lain fokus pada nilai akademik. Ada juga mahasiswa yang pragmatis, oportunis, bahkan pasif. Semua tipe ini membentuk keragaman yang unik di dunia kampus.
Melalui artikel ini, Kamu akan memahami lebih dalam soal definisi, jenis, serta tipe mahasiswa dari berbagai sudut pandang.
Baik dari segi aktivitas, karakter, status pendidikan, hingga program khusus. Artikel ini juga mengulas pertanyaan populer seperti apa itu mahasiswa RPL, apa itu mahasiswa kupu-kupu, mahasiswa kura-kura, mahasiswa kunang-kunang, mahasiswa kue hingga apa itu mahasiswa hijau.
Baca juga: Cara Mengirim Artikel, Tulisan, Berita ke Media Online: 100% Mudah & Cepat Terbit!
1. Apa itu Mahasiswa?
Sebelum membahas lebih lanjut, mari mulai dengan pemahaman dasar. Apa itu mahasiswa?
Mahasiswa adalah individu yang sedang menempuh pendidikan tinggi di universitas, politeknik, atau institut. Namun, menjadi mahasiswa lebih dari sekadar berkuliah dan mengerjakan tugas.
Mahasiswa memiliki tanggung jawab sebagai bagian dari sivitas akademika. Mereka diharapkan mampu berpikir kritis, menyampaikan pendapat, dan berkontribusi terhadap lingkungan sekitar. Mahasiswa juga sering terlibat dalam riset, pengabdian masyarakat, hingga advokasi sosial.
Menurut Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti), mahasiswa adalah peserta didik pada jenjang pendidikan tinggi. Baik itu program sarjana, pascasarjana, profesi, maupun diploma. Definisi ini menjadi dasar bagi seluruh kebijakan pendidikan tinggi di Indonesia.
Definisi Menurut Undang-Undang Pendidikan Tinggi
Menurut Undang-Undang No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, mahasiswa adalah peserta didik pada satuan pendidikan tinggi. Ini mencakup program sarjana, magister, doktor, profesi, maupun diploma. Jadi, definisi apa itu mahasiswa tidak hanya terbatas pada S1 saja.
Undang-undang ini juga menyebut mahasiswa sebagai pihak yang aktif mengikuti kegiatan akademik. Mereka punya hak atas layanan pendidikan, serta kewajiban untuk menaati tata tertib kampus. Ini membedakan mahasiswa dari pelajar biasa.
Dengan dasar hukum ini, jelas bahwa menjadi mahasiswa bukan sekadar status. Ia juga membawa tanggung jawab sosial dan akademik yang besar.
Ciri-Ciri dan Peran Mahasiswa dalam Sivitas Akademika
Mahasiswa memiliki sejumlah ciri khas. Pertama, mereka punya otonomi belajar. Mahasiswa bebas memilih mata kuliah dan menentukan gaya belajarnya. Kedua, mereka aktif dalam kegiatan kampus, baik akademik maupun non-akademik.
Peran mahasiswa juga vital dalam pengembangan ilmu. Mereka terlibat dalam penelitian, seminar, dan forum ilmiah. Mahasiswa menjadi bagian dari penggerak inovasi di berbagai bidang. Ini memperkuat posisi mereka sebagai intelektual muda bangsa.
Dalam sivitas akademika, mahasiswa sering bersinergi dengan dosen dan tenaga kependidikan. Kolaborasi ini menciptakan ekosistem pendidikan yang dinamis dan produktif.
Rentang Usia dan Status Pendaftaran Resmi
Rata-rata usia mahasiswa berada pada kisaran 17 hingga 30 tahun. Meski demikian, tak sedikit juga yang berkuliah di usia lebih tua, terutama pada program pascasarjana dan RPL (Rekognisi Pembelajaran Lampau).
Status mahasiswa dinyatakan resmi saat mereka terdaftar di Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti). Melalui sistem ini, pemerintah memastikan validitas dan legalitas status mahasiswa. Baik itu mahasiswa reguler, transfer, konversi, hingga mahasiswa on going.
Pendaftaran resmi ini juga menentukan akses terhadap beasiswa seperti Bidikmisi, KIP, atau bantuan PPG.
Baca juga: Organisasi Mahasiswa: Struktur, Sejarah, Gerakan dan Perjuangan
2. Jenis-Jenis Mahasiswa Berdasarkan Aktivitas atau Karakter
Di kampus, Kamu akan menemukan banyak tipe mahasiswa. Setiap tipe memiliki ciri khas dalam perilaku, aktivitas, dan cara berpikir. Pemahaman tentang jenis mahasiswa ini penting agar Kamu bisa menempatkan diri dengan bijak.
Beberapa mahasiswa fokus pada organisasi dan kegiatan sosial. Ada juga yang memilih konsentrasi penuh pada akademik dan nilai. Sebagian lagi bersikap santai dan tidak terlalu aktif dalam kegiatan kampus. Semuanya membentuk ekosistem yang beragam.
Jenis-jenis mahasiswa ini tidak mutlak. Kamu bisa mengalami perubahan tipe selama perjalanan kuliah. Misalnya, dari tipe mahasiswa organisatoris menjadi tipe mahasiswa ideal, atau dari tipe mahasiswa pragmatis menjadi tipe mahasiswa akademis.
Mahasiswa Aktivis
Mahasiswa aktivis dikenal vokal dan kritis terhadap isu sosial. Mereka aktif dalam demonstrasi, diskusi publik, dan kegiatan advokasi. Biasanya mereka tergabung dalam organisasi eksternal kampus.
Mereka sering dianggap agen perubahan. Tipe mahasiswa aktivis ini peka terhadap isu nasional maupun kampus. Keterlibatan mereka penting dalam menjaga demokrasi di lingkungan akademik.
Namun, mahasiswa aktivis harus tetap menjaga keseimbangan. Akademik dan kegiatan sosial harus sejalan agar keduanya berjalan optimal.
Mahasiswa Akademis atau Ambis
Tipe ini dikenal karena semangat belajarnya yang tinggi. Mereka rajin hadir di kelas, membaca buku, dan aktif berdiskusi dengan dosen. Ciri khasnya: suka duduk di barisan depan kelas.
Mahasiswa akademis atau sering disebut ambis sangat peduli pada nilai. Mereka berambisi lulus tepat waktu dengan IPK tinggi. Banyak dari mereka mengikuti lomba karya ilmiah atau riset.
Namun, Kamu tetap perlu menjaga kesehatan mental. Jangan sampai ambisi akademik justru membuat stres berlebihan.
Mahasiswa Agamis
Mahasiswa ini aktif dalam kegiatan keagamaan di kampus. Mereka ikut kajian, komunitas rohani, atau lembaga dakwah kampus. Nilai-nilai religius menjadi dasar dalam setiap keputusan mereka.
Tipe mahasiswa agamis menjaga integritas dan etika tinggi. Mereka juga berperan sebagai penyebar nilai moral di lingkungan kampus. Biasanya, mereka konsisten dalam menjalani prinsip hidup.
Namun, mereka juga diharapkan terbuka terhadap keberagaman. Diskusi lintas agama dan budaya sangat penting untuk membentuk toleransi.
Mahasiswa Apatis
Mahasiswa apatis cenderung tidak terlibat dalam kegiatan kampus. Mereka datang kuliah, lalu pulang tanpa berinteraksi lebih jauh. Umumnya, mereka merasa tidak tertarik atau merasa tidak perlu ikut organisasi.
Tipe mahasiswa ini bisa muncul karena berbagai faktor. Mulai dari tekanan akademik, trauma organisasi, atau hanya sekadar ingin menjalani kuliah tanpa gangguan.
Namun, menjadi apatis terlalu lama bisa menghambat perkembangan diri. Cobalah sesekali mengikuti kegiatan yang sesuai minat agar lebih berkembang.
Mahasiswa Organisatoris
Mahasiswa organisatoris aktif dalam berbagai organisasi internal kampus. Misalnya, BEM, himpunan jurusan, UKM, atau panitia kegiatan. Mereka dikenal karena kepemimpinan dan kemampuannya mengatur acara.
Tipe ini belajar banyak soft skill di luar kelas. Komunikasi, kepemimpinan, dan manajemen waktu adalah contoh kemampuan yang mereka latih.
Namun, Kamu perlu hati-hati agar tak melupakan kuliah. Keseimbangan antara organisasi dan studi adalah kunci keberhasilan.
Mahasiswa Ideal
Tipe mahasiswa ideal adalah kombinasi dari beberapa tipe terbaik. Mereka aktif secara akademis, sosial, spiritual, dan organisasi. Mereka juga bijak, seimbang, dan mampu beradaptasi di berbagai kondisi.
Biasanya, mahasiswa ideal memiliki manajemen waktu yang baik. Mereka tahu kapan harus belajar dan kapan terlibat dalam kegiatan kampus.
Menjadi mahasiswa ideal bukan berarti harus sempurna. Tapi lebih kepada komitmen untuk terus belajar dan berkembang.
Mahasiswa Oportunis
Tipe ini selalu mencari keuntungan pribadi dalam setiap kesempatan. Mereka aktif jika ada manfaat langsung seperti sertifikat, beasiswa, atau relasi.
Mahasiswa oportunis punya insting tinggi dalam memanfaatkan peluang. Namun, jika tidak diawasi, mereka bisa merugikan orang lain atau sistem kampus.
Jika Kamu termasuk tipe ini, usahakan tetap etis. Raih manfaat tanpa mengorbankan integritas.
Mahasiswa Pragmatis
Mahasiswa pragmatis berorientasi pada hasil yang praktis. Mereka jarang berdebat soal idealisme. Yang penting, tugas selesai dan target tercapai.
Mereka biasanya bekerja sambil kuliah atau fokus membangun bisnis. Tipe ini realistis dan efisien. Namun, kurang tertarik pada aktivitas kampus yang bersifat wacana atau teoretis.
Tipe mahasiswa pragmatis ini sangat cocok untuk dunia kerja. Asalkan tetap menjaga etika dan prinsip akademik.
Mahasiswa Penasaran
Mahasiswa penasaran haus akan pengetahuan. Mereka gemar bertanya, membaca, dan mengeksplorasi hal baru. Biasanya mereka menjadi pembelajar mandiri.
Tipe ini sering aktif di forum diskusi, seminar, dan webinar. Mereka tak puas dengan materi kuliah saja. Rasa ingin tahu mereka menjadikan mereka kritis dan inovatif.
Dalam riset kampus tahun 2024 oleh LLDikti, mahasiswa penasaran cenderung memiliki nilai lebih dalam kemampuan berpikir kritis.
Baca juga: Definisi, Fungsi, Peran dan Tanggung Jawab Mahasiswa
3. Jenis Mahasiswa Berdasarkan Pola Kehidupan Kampus
Masing-masing mahasiswa punya gaya hidup yang unik di kampus. Ada yang rajin pulang, ada yang betah nongkrong, hingga yang sibuk berdagang atau kerja. Pola ini turut memengaruhi pengalaman dan karakter mahasiswa.
Pola ini sering kali diberi nama-nama khas. Misalnya, mahasiswa kupu-kupu, kura-kura, atau kuda-kuda. Istilah ini mewakili keseharian mereka di luar jam kuliah.
Mengetahui tipe ini membantu Kamu mengenali kebiasaanmu sendiri. Apakah Kamu hanya kuliah lalu pulang? Atau justru aktif di luar kelas?
Mahasiswa Kupu-kupu (Kuliah–Pulang)
Tipe ini hanya datang ke kampus untuk kuliah, lalu langsung pulang. Mereka jarang ikut organisasi atau nongkrong di kampus. Umumnya lebih nyaman di rumah atau kost.
Apa itu mahasiswa kupu-kupu? Ini adalah mahasiswa yang meminimalisir interaksi sosial di kampus. Biasanya mereka fokus pada studi atau alasan pribadi.
Meski efisien, pola ini bisa menghambat pengalaman sosial. Cobalah sesekali mengikuti kegiatan agar jaringan sosial Kamu berkembang.
Mahasiswa Kura-kura (Kuliah–Rapat)
Tipe ini aktif dalam organisasi. Mereka hadir di kampus bukan hanya untuk kuliah, tapi juga untuk rapat dan kegiatan komunitas.
Mahasiswa kura-kura punya jadwal padat. Kadang mereka mengabaikan tugas karena terlalu sibuk organisasi. Namun, mereka juga punya keunggulan di bidang kepemimpinan.
Jika Kamu termasuk tipe ini, pastikan tetap mengatur waktu agar akademik tidak tertinggal.
Mahasiswa Kunang-kunang (Kuliah–Nongkrong)
Tipe ini suka bersosialisasi dan nongkrong di berbagai sudut kampus. Mereka punya banyak teman dan kenalan lintas jurusan.
Mahasiswa kunang-kunang biasanya mudah beradaptasi. Mereka juga informatif soal kegiatan kampus. Tapi, kalau tidak dikendalikan, waktu bisa banyak terbuang.
Tantangan utama adalah menjaga fokus kuliah sambil tetap aktif bergaul.
Mahasiswa Kuda-kuda (Kuliah–Dagang)
Mahasiswa kuda-kuda aktif berkuliah sambil menjalankan bisnis. Mereka bisa menjual makanan, pakaian, atau jasa di kampus. Biasanya, tipe ini memiliki jiwa wirausaha sejak dini.
Apa itu mahasiswa kuda-kuda? Ini adalah mahasiswa yang menjalani aktivitas bisnis secara paralel dengan kuliah. Mereka memanfaatkan lingkungan kampus sebagai tempat pemasaran.
Tipe ini memiliki kemandirian finansial yang tinggi. Namun, tantangannya adalah menjaga keseimbangan antara kuliah dan bisnis agar keduanya tidak saling mengganggu.
Mahasiswa Kue (Kuliah–Gawe)
Mahasiswa kue adalah mereka yang kuliah sambil bekerja. Banyak dari mereka mengambil pekerjaan paruh waktu untuk membiayai kuliah atau kebutuhan hidup.
Apa itu mahasiswa kue? Mereka adalah pejuang kampus yang juga pejuang lapangan kerja. Biasanya, mereka lebih mandiri, tangguh, dan terlatih secara mental.
Tipe ini sangat realistis dan efisien dalam waktu. Namun, risiko kelelahan dan kehilangan fokus akademik juga besar. Oleh karena itu, manajemen waktu adalah kunci utama bagi mahasiswa kue.
Baca juga: Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM): Tujuan, Tugas, Peran & Fungsi
4. Tipe Mahasiswa Berdasarkan Jalur dan Status Pendidikan
Setiap mahasiswa memiliki latar belakang akademik yang berbeda. Ada yang masuk lewat jalur reguler, ada juga lewat transfer atau konversi. Beberapa mengikuti program lanjutan seperti pascasarjana dan profesi.
Pemahaman terhadap jalur ini penting. Sebab, status pendidikan memengaruhi hak, kewajiban, dan akses fasilitas kampus. Kamu perlu tahu Kamu tergolong mahasiswa apa.
Tipe ini juga berkaitan dengan lama studi, beban akademik, dan kurikulum. Simak penjelasannya berikut ini.
Mahasiswa Reguler
Mahasiswa reguler adalah mahasiswa yang diterima langsung di program studi melalui jalur umum. Mereka mengikuti proses seleksi nasional seperti SNBT atau jalur mandiri kampus.
Apa itu mahasiswa reguler? Mereka adalah peserta didik yang menjalani kuliah dari awal hingga akhir tanpa perpindahan jenjang atau kampus. Jalur ini adalah jalur yang paling umum ditempuh.
Biasanya, mahasiswa reguler memiliki akses penuh ke fasilitas kampus. Mereka juga mengikuti kurikulum standar dari semester satu hingga lulus.
Mahasiswa Transfer
Mahasiswa transfer adalah mereka yang pindah dari kampus lain dan melanjutkan studi di kampus baru. Mereka biasanya sudah menyelesaikan beberapa semester sebelumnya.
Apa itu mahasiswa transfer? Ini adalah mahasiswa yang mengonversi sebagian SKS dari kampus asal ke kampus tujuan. Proses transfer ini mengikuti peraturan akademik masing-masing universitas.
Tantangan terbesar mahasiswa transfer adalah adaptasi. Mereka harus cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan, budaya, dan sistem pembelajaran baru.
Mahasiswa Konversi
Mahasiswa konversi merupakan mahasiswa yang mengubah atau menyetarakan status pendidikan dari jalur berbeda. Misalnya, dari program D3 ke S1.
Apa itu mahasiswa konversi? Mereka adalah mahasiswa yang membawa pengalaman akademik sebelumnya untuk mempercepat studi lanjutan. Konversi ini harus sesuai aturan penyetaraan kurikulum.
Tipe ini sangat membantu bagi mereka yang ingin meningkatkan jenjang pendidikan. Namun, prosesnya kadang memerlukan evaluasi administrasi yang rumit.
Mahasiswa Pascasarjana
Mahasiswa pascasarjana adalah mereka yang menempuh pendidikan di tingkat magister (S2) atau doktoral (S3). Biasanya mereka telah lulus S1 sebelumnya.
Apa itu mahasiswa pascasarjana? Mereka adalah pelajar yang mengejar ilmu lebih dalam dan spesifik sesuai bidangnya. Fokus utama mereka adalah penelitian dan kontribusi akademik lanjutan.
Dan, mahasiswa pascasarjana juga menjadi bagian penting dari pengembangan ilmu dan publikasi ilmiah di kampus.
Mahasiswa On Going
Mahasiswa on going adalah mahasiswa yang masih aktif menempuh studi, namun belum menyelesaikan seluruh mata kuliah. Biasanya status ini digunakan dalam pelaporan akademik atau administrasi beasiswa.
Apa itu mahasiswa on going? Ini adalah istilah yang menandai bahwa Kamu masih berproses dalam studi. Tidak sedang cuti, tidak juga lulus.
Status ini penting diketahui karena sering diminta dalam pengajuan beasiswa atau magang.
Mahasiswa PP (Program Profesi)
Mahasiswa program profesi adalah mereka yang mengikuti pendidikan tambahan setelah sarjana. Biasanya untuk profesi tertentu seperti dokter, apoteker, atau guru.
Apa itu mahasiswa PP? Mereka adalah mahasiswa yang mengambil program khusus untuk mendapatkan izin praktik atau gelar profesional tertentu.
Program ini bersifat wajib untuk profesi tertentu dan memerlukan sertifikasi kompetensi. Contohnya, mahasiswa PPG untuk profesi guru.
Baca juga: Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM): Pengertian, Tujuan, dan Contoh
5. Tipe Mahasiswa Berdasarkan Skema dan Program Khusus
Pemerintah menyediakan berbagai program pendidikan tinggi dengan skema khusus. Ini termasuk beasiswa, konversi pengalaman, hingga program profesi. Mahasiswa yang mengikuti program ini punya jalur dan hak berbeda.
Pemahaman soal program ini penting agar Kamu bisa memanfaatkannya secara maksimal. Berikut beberapa tipe mahasiswa berdasarkan skema pendidikan khusus:
Mahasiswa RPL (Rekognisi Pembelajaran Lampau)
Apa itu mahasiswa RPL? Ini adalah mahasiswa yang masuk kuliah dengan menggunakan pengalaman kerja, pelatihan, atau pembelajaran sebelumnya sebagai pengganti SKS.
Program ini diatur resmi oleh Kemdikbud dan LLDikti. Cocok untuk pekerja profesional yang ingin lanjut studi tanpa harus mulai dari awal.
Mahasiswa RPL biasanya sudah memiliki pengalaman praktis. Mereka membawa sudut pandang baru ke dalam diskusi kelas.
Mahasiswa PPG
Apa itu mahasiswa PPG? Mereka adalah peserta Program Profesi Guru, yaitu program lanjutan untuk mendapatkan sertifikat pendidik.
PPG sangat penting bagi calon guru. Program ini dilaksanakan oleh LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan) dan didukung pemerintah.
Mahasiswa PPG wajib mengikuti perkuliahan, praktik mengajar, dan uji kompetensi. Tujuannya agar kualitas guru di Indonesia meningkat.
Mahasiswa KIP
Apa itu mahasiswa KIP? Mereka adalah penerima bantuan dari program Kartu Indonesia Pintar Kuliah. Program ini bertujuan membantu mahasiswa kurang mampu agar bisa tetap kuliah.
Mahasiswa KIP mendapat bantuan biaya pendidikan dan uang saku. Mereka tetap harus memenuhi syarat akademik agar bantuan terus diberikan.
Menurut laporan Kemendikbud 2024, jumlah mahasiswa KIP terus meningkat. Program ini efektif meningkatkan akses pendidikan tinggi bagi keluarga prasejahtera.
Mahasiswa Bidikmisi
Apa itu mahasiswa Bidikmisi? Ini adalah program beasiswa untuk mahasiswa kurang mampu yang berprestasi. Kini program ini telah tergantikan oleh KIP Kuliah.
Namun, mahasiswa yang masih dalam masa studi dari skema Bidikmisi tetap disebut mahasiswa Bidikmisi. Mereka wajib mempertahankan IPK dan tidak boleh cuti kuliah sembarangan.
Program ini menjadi penyelamat bagi banyak mahasiswa dari keluarga tidak mampu.
Mahasiswa Hijau
Apa itu mahasiswa hijau? Istilah ini merujuk pada mahasiswa baru yang masih awam dengan dunia kampus. Mereka sering kali belum tahu banyak soal organisasi, sistem akademik, dan budaya kampus.
Tipe ini sangat perlu bimbingan. Oleh karena itu, peran senior dan orientasi kampus sangat penting untuk mahasiswa hijau.
Dengan bimbingan yang tepat, mahasiswa hijau bisa berkembang menjadi mahasiswa ideal.
Baca juga: Peran dan Fungsi Mahasiswa: Memahami Jenis Tugas dan Peran Mahasiswa
6. Beberapa Jenis Mahasiswa Menurut Anies Baswedan
Ada beberapa kelompok mahasiswa–menurut Anies Baswedan–yang bisa dibedakan berdasarkan pilihan kegiatan.
Mahasiswa yang pertama adalah mahasiswa hedonis-konsumtif, zaman itu mereka adalah penikmat orde baru, mereka pergi kuliah naik mobil–di zaman itu dimana kebanyakan mahasiswa hanya baru bisa naik motor, sepeda atau jalan kaki untuk menuju kampus.
Yang kedua adalah mahasiswa profesional–individualis, kerjaannya kuliah saja, tidak perduli yang lain, menyiapkan diri untuk masa depan, profesional tapi individualis.
Ketiga, mahasiswa jenis ini, kita istilahkan asketis religius, asketis religius ini di pikirannya hanya agama saja.
Keempat adalah mahasiswa yang aktivis, nilai minim, aktif sana-sini.
Kelima, mahasiswa yang istilah kita adalah protarian, merasa dirinya sebagai ekspresi kemiskinan, ekspresi penderitaan rakyat kecil, kita bisa lihat dari gaya baju, rambut dll.
Selanjutnya Keenam mahasiswa yang kecenderungannya adalah melakukan kajian, lalu seakan-akan setelah melakukan kajian secara mendalam, maka problem masyarakat itu selesai.[5]
7. Perbandingan dan Sinergi Antara Berbagai Tipe
Di dunia kampus, tidak semua mahasiswa masuk dalam satu kategori saja. Justru, banyak mahasiswa memiliki perpaduan karakter yang unik. Kombinasi ini membuat kehidupan kampus menjadi lebih dinamis dan penuh warna.
Beberapa mahasiswa bisa aktif secara akademik, sekaligus aktif dalam organisasi. Ada juga yang pragmatis dalam manajemen waktu, tapi tetap berjiwa aktivis. Sinergi semacam ini bisa sangat menguntungkan bagi pengembangan diri Kamu.
Mengenali kekuatan dan kelemahan dari berbagai tipe akan membantumu menciptakan strategi terbaik. Tujuannya, agar Kamu bisa menjadi mahasiswa ideal yang produktif dan seimbang dalam segala aspek.
Kombinasi Sifat: Akademis + Aktivis, Pragmatis + Oportunis
Tidak sedikit mahasiswa yang mampu menjadi akademis sekaligus aktivis. Mereka menyukai pembelajaran, namun juga aktif menyuarakan pendapat. Kombinasi ini sangat kuat dalam membentuk karakter pemimpin masa depan.
Ada juga mahasiswa yang pragmatis dalam menyelesaikan tugas, namun oportunis dalam mencari peluang. Selama dilakukan secara etis, kombinasi ini sangat bermanfaat bagi kesiapan menghadapi dunia kerja.
Kuncinya adalah kesadaran diri. Ketahui kapan harus serius belajar, kapan harus aktif di luar kelas. Dengan begitu, Kamu bisa memaksimalkan potensi diri di setiap bidang.
Dampak Tipe terhadap Pengalaman Kampus dan Karir
Jenis dan tipe mahasiswa sangat memengaruhi pengalaman belajar dan karir setelah lulus. Mahasiswa organisatoris dan aktivis biasanya unggul dalam soft skill seperti kepemimpinan dan kerja tim.
Sebaliknya, mahasiswa akademis unggul dalam kemampuan analisis dan riset. Mahasiswa pragmatis cenderung lebih siap kerja karena efisien dan realistis. Sementara mahasiswa PPG atau RPL biasanya punya keunggulan praktis di lapangan.
Maka dari itu, penting untuk mengetahui tipe Kamu sejak awal kuliah. Pengalaman selama menjadi mahasiswa bisa menjadi fondasi penting untuk karier masa depan.
Strategi untuk Menjadi Mahasiswa Ideal
Untuk menjadi mahasiswa ideal, Kamu tidak perlu menjadi sempurna. Tapi Kamu harus tahu kekuatan dan kekurangan dirimu. Kemudian, buat strategi untuk menyeimbangkannya.
Misalnya, jika Kamu kuat di akademik, mulailah aktif dalam organisasi. Jika Kamu senang bersosialisasi, perkuat juga kemampuan akademik. Jangan ragu mencoba berbagai peran selama kuliah.
Dengan strategi yang tepat, Kamu bisa menjadi mahasiswa yang seimbang, berkualitas, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
8. Kesimpulan Awal
Menjadi mahasiswa bukan hanya soal belajar di bangku kuliah. Ini adalah perjalanan pembentukan karakter, kemampuan, dan masa depan. Melalui artikel ini, Kamu telah memahami apa itu mahasiswa dari berbagai sudut pandang.
Kita telah membahas definisi, jenis-jenis mahasiswa, serta tipe mahasiswa berdasarkan status pendidikan, aktivitas, dan pola kehidupan kampus. Termasuk juga penjelasan tentang apa itu mahasiswa RPL, apa itu mahasiswa PPG, apa itu mahasiswa pascasarjana, hingga apa itu mahasiswa hijau.
Dengan pengetahuan ini, Kamu bisa lebih bijak dalam menentukan jalur dan cara kuliah yang sesuai dengan dirimu.
Tips Menentukan Tipe yang Sehat dan Produktif
Jangan terlalu kaku dalam menentukan tipe. Kamu bisa berubah, berkembang, dan mencoba berbagai hal. Yang penting, Kamu tetap produktif dan tidak merugikan diri sendiri atau orang lain.
Jika Kamu merasa terlalu pasif seperti mahasiswa kupu-kupu, cobalah aktif di komunitas. Jika Kamu terlalu sibuk organisasi, coba fokus kembali ke akademik.
Menjadi mahasiswa sehat artinya menjaga keseimbangan. Baik fisik, mental, sosial, dan spiritual. Hindari tekanan yang berlebihan dan buat prioritas yang jelas.
Rekomendasi Mindset & Strategi untuk Memaksimalkan Peran sebagai Mahasiswa
Berpikirlah jangka panjang. Jadikan masa kuliah sebagai momen investasi diri. Bangun relasi, asah kemampuan, dan kembangkan potensi diri. Jangan hanya mengejar IPK, tapi juga nilai kehidupan.
Gunakan waktu kuliah untuk belajar hal baru di luar jurusan. Ikuti seminar, organisasi, magang, atau kegiatan sosial. Dunia pasca kampus membutuhkan kemampuan lebih dari sekadar gelar akademik.
Dengan mindset seperti ini, Kamu bisa menjadi mahasiswa yang ideal dan bermanfaat, baik untuk diri sendiri maupun lingkungan.
9. FAQ (Frequently Asked Questions)
Banyak pertanyaan muncul seputar dunia perkuliahan. Di bawah ini adalah beberapa pertanyaan yang sering diajukan oleh mahasiswa baru maupun lama. Kamu mungkin juga memiliki pertanyaan serupa.
Artikel ini akan membantu menjawab pertanyaan secara ringkas dan informatif.
Apa Perbedaan Mahasiswa Reguler dan Transfer?
Mahasiswa reguler masuk melalui jalur umum seperti SNBT dan menjalani kuliah dari semester awal. Sedangkan, mahasiswa transfer masuk dengan membawa SKS dari kampus sebelumnya. Mahasiswa transfer biasanya memulai dari semester tengah.
Apa Keuntungan Jadi Mahasiswa RPL?
Mahasiswa RPL bisa menghemat waktu kuliah karena pengalaman kerja atau pelatihan sebelumnya diakui sebagai SKS. Program ini sangat cocok bagi profesional yang ingin kuliah tanpa mulai dari nol.
Apakah Jadi Mahasiswa Kupu-Kupu Itu Buruk?
Tidak selalu. Namun, jika terlalu tertutup atau tidak bergaul, Kamu bisa kehilangan banyak peluang pengembangan diri. Cobalah sesekali ikut kegiatan sosial atau komunitas kampus.
Bagaimana Menjadi Mahasiswa Akademis Sekaligus Aktivis?
Kuncinya ada di manajemen waktu dan prioritas. Jangan sampai agenda organisasi mengganggu akademik. Sebaliknya, jadikan pengetahuan akademik sebagai amunisi untuk advokasi.
Apa Itu Mahasiswa KIP dan Bedanya dengan Bidikmisi?
Mahasiswa KIP adalah penerima beasiswa dari program Kartu Indonesia Pintar Kuliah. Program ini adalah pengganti Bidikmisi. Tujuannya tetap sama: membantu mahasiswa berprestasi dari keluarga tidak mampu.
Bagaimana Seharusnya Mahasiswa?
Sebagai awal, sebelum menuju pada keharusan-keharusan seorang mahasiswa, kita harus mengenal siapa diri kita? Atau siapakah saya? Atau bisa juga disebut apa definisi mahasiswa?
Soe Hok-Gie[1] dalam tulisannya mengatakan: “Kadang-kadang kita bertanya kepada diri kita sendiri “Siapakah saya?” Apakah saya seorang fungsionaris partai yang kebetulan menjadi mahasiswa sehingga harus patuh pada intruksi dari bapak-bapak saya dalam partai. Apakah saya seorang politikus yang harus selalu realistis dan bersedia menerima kompromi-kompromi prinsipal dan tidak boleh punya idealisme yang muluk-muluk? Apakah saya seorang kecil yang harus patuh pada setiap keputusan dalam DPP (Dewan Pimpinan Pusat) ormas saya, atau pimpinan fakultas saya, atau pemimpin-pemimpin saya? Ataukah saya seorang manusia yang sedang belajar dalam kehidupan ini dan mencoba terus-menerus untuk berkembang dan menilai secara kritis segala situasi. Walaupun pengetahuan dan pengalaman saya terbatas? Kadang saya bertanya pada kenalan-kenalan saya “siapakah kamu?” seorang tokoh mahasiswa menjawab: “Saya adalah antek partai saya. Kebenaran ditentukan oleh DPP Partai.”[2]
Apakah kita telah mengenal siapa kita? Siapa Anda? Siapa kalian? Atau siapa saya? Setelah kita mengenal siapa diri kita. Positif atau tidak, terimalah. Itulah wujud kita hari ini. Tapi jangan khawatir perubahan akan terus tejadi. Karena cuma perubahan yang abadi di atas dunia ini.[3]
Tak kenal maka tak sayang. Kita tidak bisa menyayangi sesuatu tanpa mengenal objeknya. Kita harus mengenal Apa itu mahasiswa sebelum menyayangi dalam bentuk mendalami “bagaimana seharusnya mahasiswa?”
Apa yang dimaksud dengan mahasiswa? Mahasiswa adalah seorang pelajar yang telah menyelesaikan studi SMA-nya, dan sedang menuntut ilmu di perguruan tinggi.
Ada juga yang mengatakan, mahasiswa adalah Agent of change (agen perubahan) karena mahasiswa telah membuktikan diri berpartisipasi dalam perubahan-perubahan yang terjadi di Indonesia pada tahun 1928 (Sumpah Pemuda), tahun 1945 (Proklamasi), tahun 1966 (Orde lama berganti orde baru), dan tahun 1998 (Reformasi). Semoga di hari-hari depan ada lagi.
Menurut Anies Baswedan, masa mahasiswa adalah masa belajar di fase terakhir dari struktur pendidikan formal di Indonesia. Bila Anda sudah sampai mahasiswa, anda pasti sudah SMA dan seterusnya. Jadi ini fase terakhir.
Kenapa saya sebut demikian? Karena sesudah itu maka Anda akan berada di crossing road, apakah Anda meneruskan ke jalur non–akademik atau akademik. Bila Anda meneruskan ke jalur non-akademik mungkin Anda bisa bekerja di wilayah Anda masing-masing dan di situ mungkin Anda bisa meneruskan satu degree lagi, namanya master, master yang sifatnya profesional untuk menopang keprofesian Anda.
Misalnya Anda mengambil master bisnis atau mengambil master ilmu-ilmu terapan lain. Jika Anda masuk ke jalur akademik, karena namanya universitas maka Anda akan meneruskan ke jenjang master, menjadi Doctor lalu menjadi peneliti dan menjadi Scholar.[4]
Dari berbagai paparan kelompok mahasiswa di atas. Bagaimana pun bentuknya mereka tetap mahasiswa dengan ekspresi masing-masing. Kita juga harus mengetahui, budaya akademik di perguruan tinggi dibagi menjadi 13 di antaranya: kritis, kreatif, objektif, analitis, konstruktif, dinamis, dialogis, bersedia menerima kritik, menghargai prestasi akademik, bebas dari prasangka, menghargai waktu, memiliki dan menjunjung tinggi tradisi ilmiah, serta berorientasi pada masa depan.[6]
Dalam diskusi kali ini, kita akan mengkaji tentang “Bagaimana seharusnya Mahasiswa” hal ini harus kita kaji sejauh mungkin karena kita harus menyadari bahwa yang merusak bangsa ini adalah: para “Mantan Mahasiswa!”
Baca juga:
1. Mahasiswa Harus Berani Berterus Terang (Jujur), Mempunyai Banyak Cita-Cita, Tidak Takut Salah, Independen, Pencari Kebenaran, dan Bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
Suatu ketika, Soe Hok Gie menulis, “Saya katakan pada diri saya sendiri: saya adalah seorang mahasiswa. Sebagai mahasiswa saya tak bisa mengingkari wujud saya. Sebagai pemuda yang masih belajar dan mempunyai banyak cita-cita, saya harus bertindak sesuai dengan wujud tadi. Karena itu saya harus berani untuk berterus terang, walaupun ada kemungkinan saya akan salah tindak. Lebih baik bertindak keliru daripada tidak bertindak karena takut salah. Kalaupun saya jujur terhadap diri saya, saya yakin akhirnya saya akan menemukan arah yang tepat. Saya adalah seorang manusia dan bukan alat siapa pun. Kebenaran tidaklah datang dalam bentuk intruksi dari siapapun juga, tapi harus dihayati secara “kreatif”. A man is as he thinks.”[7]
a. Mahasiswa Harus Berani Berterus Terang (Jujur)
Sifat berterus terang, harus berani dibiasakan oleh mahasiswa. Berani menyatakan salah sebagai kesalahan, dan benar sebagai kebenaran.[8] Karena Jujur itu revolusioner.[9] Berani menyatakan kebenaran adalah sebuah simbol bahwa idealisme masih ditegakkan.
Kejujuran-kejujuran di kala mahasiswa akan membiasakan kita hingga kelak selesai kuliah. Mahasiswa harus terus membawa sikap yang jujur berterus terang. Anda akan mendapat trust dari siapapun ketika Anda terbiasa berkata jujur.
b. Mahasiswa Harus Punya Banyak Cita-Cita dan Harus Kritis dengan Situasi
Soe Hok Gie pernah bercerita, “Seorang pemuda, datang dengan penuh takjub pada gerbang perguruan tinggi. Ia berfikir untuk memasuki dunia baru, dunia untuk membuat field work bagi kemajuan nusa dan bangsa. Saya membayangkan seorang mahasiswa antropologi, yang berusia sembilan belas tahun yang datang dengan cita-cita untuk membuat field work di pedalaman Kalimantan atau Irian Barat. Atau seorang jurusan kimia yang berfikir untuk mendapatkan sejenis cairan baru yang dapat melambungkan manusia ke bulan. Atau seorang mahasiswa hukum yang datang dengan ide-ide yang sarat tentang rule of law.”[10]
Soe Hok Gie melanjutkan ceritanya, “Dalam waktu beberapa tahun, pemuda berumur sembilan belas tahun ini mengetahui bahwa tak mungkin ada “field work” ke Irian Barat atau pedalaman Kalimantan. Ia harus puas dengan skripsi tentang masyarakat tukang buah-buahan di Pasar Minggu. Dan pelan-pelan ia harus melupakan idealismenya tentang cairan yang dapat melontarkan manusia ke bulan. Dan mahasiswa fakultas hukum ini mengetahui, bahwa di atas hukum terdapat hukum yang tidak tertulis. Tentara, polisi, jaksa dan garong-garong yang punya koneksi.”[11]
Digambarkan di atas, bahwa ketika memasuki gerbang perguruan tinggi, para mahasiswa sangat antusias dan telah mempunyai mimpi masing-masing, tergantung dari jurusan apa yang mereka ambil. Namun, pada kenyataannya, kampus-kampus hari ini hanya membentuk mahasiswa yang rajin kuliah, cepat lulus dan seterusnya… dan seterusnya…
Namun, yang menjadi poin pentingnya, bahwa dalam kondisi apapun mahasiswa harus konsisten pada cita-citanya. Dalam prosesnya, mahasiswa harus kritis pada kondisi-kondisi yang tidak seharusnya.
c. Mahasiswa Harus Tidak Takut Salah
Dalam proses menuntut ilmu, kesalahan adalah salah satu proses belajar dan kebenaran adalah buah dari proses belajar.
Tidak perlu takut salah, seperti kata Gie tadi, jangan sampai karena takut salah kita tidak berani melakukan apapun sehingga akhirnya kita tidak memperoleh apa-apa. Padahal dari proses salah dan berani mengambil sikap itu merupakan proses belajar yang paling berharga.
d. Mahasiswa Harus Independen Dalam Gerakan Dan Kehidupannya
Menurut Anies Baswedan, Pergerakan Mahasiswa mempunyai karakter moral yang jelas, hitam putih; benar-benar, salah-salah tidak ada area abu-abu. Dan mahasiswa memang harus begitu. Mahasiswa jangan takut, menurut saya “A” nggak ada masalah, Anda tidak mempunyai kepentingan apapun kalau benar Anda katakan benar kalau salah Anda katakan salah.[12]
Mahasiswa harus independen, dia berbicara sesuai dengan keilmuan yang ia miliki, dia harus lepas dari ikatan intruksi, doktrin yang mengikat, yang mebuat mereka harus lari dari kebenaran.
e. Mahasiswa Harus Mencari dan Menegakkan Kebenaran
Mencari kebenaran adalah khittah dari tugas seorang mahasiswa menuntut ilmu. Mencari kebenaran dari yang sudah benar dan mencari yang baik dari yang sudah baik.[13]
Walaupun mereka mengikuti sebuah organisasi lalu mereka diajarkan sesuatu yang bertentangan dengan idealismenya, maka mahasiswa tersebut harus melawan. Tidak ada fanatisme terhadap organisasi yang bisa saja salah dan benar. Fanatisme hanya pada kebenaran dan kebaikan.
f. Mahasiswa Harus Bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala
Seorang mahasiswa harus bertaqwa kepada Allah. Dunia mahasiswa justru membuat kita jauh dari Tuhan.
Padahal kebenaran yang hakiki hanyalah ajaran Tuhan. Namun, tidak bisa dipungkiri di kala mahasiswa sikap kritis kita dihadapkan pada apapun, termasuk eksistensi Tuhan.
Tak banyak manfaatnya terus-terusan membahas hal seperti itu. Semua ajaran dari Allah benar kecuali yang telah diubah atau diinterpretasikan salah oleh manusia.
2. Mahasiswa Harus Aktif di Organisasi, Manajemen Waktu, Belajar Kepemimpinan, Berbicara di Depan Umum, Berfikir, dan Bertindak Sesuai Dengan Kata dan Fikirannya.
Untuk menambah skill dan wawasan individu dari seorang mahasiswa, maka mahasiswa harus aktif di organisasi yang dia sukai, belajar kepemimpinan dan menjadi pemimpin, belajar berbicara yang baik, berfikir yang baik dan mampu bertindak sesuai dengan kata dan fikirannya.
a. Mahasiswa Harus Aktif Di Organisasi
Dalam wawancara tetang mahasiswa, Anies Baswedan mengatakan: “Ketika Anda melewati fase kuliah ini, Anda akan menjadi orang-orang “bekerja” tidak lagi belajar. Bekerja itu diperlukan kemampuan bukan sekedar prestasi akademik tapi dibutuhkan pengalaman, keterampilan untuk bisa memimpin, mengelola, bernegoisasi.
Pengalaman berorganiasi selama kuliah, itu merupakan modal untuk bisa meniti karir ke depan dengan baik. Oleh karena itu saya sangat mendukung dan menurut saya sangat penting bagi anak-anak yang sedang kuliah untuk mengembangkan diri lewat organisasi.
Jadi, saya selalu mengatakan, aktif di kampus, itu sebenarnya sebuah kewajiban secara moral, secara hukum mengatakan itu tidak. Tapi Anda sebagai mahasiswa itu wajib. Kalau Anda tidak mengembangkan diri lewat organisasi sekarang, sesudah Anda lulus atau memulai berkarir saat itu Anda menyesal, kenapa dulu tidak aktif? Kenapa dulu tidak mengembangkan kepemimpinan? Dari pada Anda menyesal nanti, kerjakan, jadilah aktivis, tapi aktivis itu bukan demonstran, beda!.”[14]
Aktif di organisasi, akan membuat mahasiswa bertemu dengan banyak orang dan banyak karakter. Dari situ mahasiswa dapat banyak belajar dari proses interaksi antar manusia di dalamnya.
Dalam organisasi mahasiswa, kita dapat memperoleh ilmu tentang kepemimpinan, manajemen organisasi, manajemen sumberdaya manusia, manajemen aksi, manajemen kegiatan, administrasi, penyelesaian masalah, pengembangan pemikiran, penemuan jati diri, pembentukan karakter dan lain-lain. Ilmu-ilmu tadi dapat digunakan untuk kehidupan setelah kuliah.
Contoh kecilnya dalam mengurus keluarga. Mengurus keluarga tentu membutuhkan pengalaman dalam mengelola organisasi.
b. Mahasiswa Harus Bisa Menjalani Secara Bersamaan, Berorganisasi dan Kuliah (Manajemen Waktu)
Anies Baswedan menambahkan: “Anda sebagai mahasiswa, apa sih kewajiban mahasiswa ini? Kuliah, bukan? Itu bukan dinomorsatukan atau tidak, itu sesuatu yang harus dikerjakan. Jadi, jangan katakan itu terpisahkan. Itu sudah hal yang harus dikerjakan.
Jadi, Demikian juga dengan aktivisme, proporsinya akan tergantung penyesuaian pada suasanannya. Seperti Anda tanyakan seperti saya ”Mas Anies, ingin menjadi suami atau ingin menjadi bapak?” Gimana dong? Itu tidak bisa terpisahkan, dalam diri saya ini banyak menempel beberapa tugas, Anies sebagai anak, ayah, rektor, pengurus Fullbright dan Anies sebagai penggagas gerakan Indonesia Mengajar. Saya tidak bisa kemudian mengatakan “mau yang mana?” Semuanya harus dijalankan. Ada waktunya pada saat saya disini mengerjakan A, B, C, D, itu yang saya harus bereskan dengan baik, saat saya di Jakarta dengan keluarga itu yang harus saya lunasi dengan baik.
Jadi kebiasaan untuk memiliki multiple role, tidak bisa dimulai saat Anda sudah lulus nanti, tapi biasakan sekarang. Saat Anda tidak terbiasa dengan multiple role Anda akan selalu berpikirnya ini atau ini, ini atau ini, Anda harus bisa mengerjakan semuanya.
Anda pernah melihat pemain juggler? Bisa tidak seorang juggler itu berkonsentrasi hanya satu bola saja? Ada masanya Anda mainkan satu bola terus kan? Ada masanya semuanya harus dikerjakan ada yang bisa 3 bola, 5 bola atau 10 bola. The more you practice managing multiple role the more experience you have dan Anda bisa mengerjakan itu tanpa harus melihat lagi.[15]
c. Mahasiswa Harus Belajar Kepemimpinan dan Mampu Menjadi Pemimpin
You are a leader if and only if you have followers. Artinya: Anda pemimpin hanya dan jika Anda punya pengikut.
Anies Baswedan pernah menerangkan bahwa dalam mempelajari kepemimpinan, Anda bisa ikut training-training karena itu bisa membantu menstrukturkan apa yang harus dipelajari dalam leadership.
Yang kedua, ambil pengalaman untuk memimpin karena memimpin itu bukan pekerjaan yang secara teoritis bisa dengan mudah didefinisikan. Memimpin itu adalah pekerjaan yang membutuhkan keterampilan pengalaman. Anda mau belajar berenang? Saya ajak masuk di ruang yang canggih, saya ajari Anda berenang di situ, alat simulasi yang luar biasa, lalu saya ajak Anda ke kolam renang, bisa Anda berenang? Bisa satu jam, habis Anda nyemplung Anda baru berenang, setelah itu Anda tunggu kemampuan berenang Anda.
Saya selalu mengatakan belajarlah berorganisasi dan bermasyarakat di kampus karena kampus itu karakternya seperti kolam renang. Karakter kolam renang itu pakai bata, kedalamannya terukur, tekanannya terukur, ombaknya tidak ada. Anda mau belajar berenang di Samudra Pasifik? Kedalamanya tidak terukur, suhunya luar biasa dingin, ombaknya besar. That’s leadership challenge for the future, itulah tantangan bagi masa depan Anda.
Kebanyakan orang baru belajar berenang saat mereka sudah sampai Samudra Pasifik, bisa survive tapi bisa juga tenggelam. Kalau Anda belajar kepemimpinan di saat mahasiswa, Anda masih belajar di lingkungan yang masih terukur, kadar beban kepemimpinan Anda itu terukur, seperti Anda belajar berenang di kolam renang.
Karenanya kalau mau belajar kepemimpinan lakukan sekarang, jangan nanti saat sudah selesai kuliah. Karena di sana tantangannya sangat besar sekali, mendadak Anda baru belajar kepemimpinan saat tantangaannya sangat besar sekali, kalau Anda gagal maka Anda akan tenggelam.[16]
d. Mahasiswa Harus Mampu Berbicara Dengan Baik di Depan Umum Maupun Interaksi Personal
Mahasiswa adalah manusia intelektual. Dalam menyampaikan gagasan-gagasan intelektual, dibutuhkan kepandaian berbicara (Retorika). Karena, kesan pertama untuk mengetahui seorang mahasiswa cerdas atau tidak adalah dengan melihat cara mahasiswa tersebut berbicara. Untuk menilai selanjutnya, kita bisa melihat dari sikapnya. Pandai berbicara, akan menjadi pandai negosiasi, dan akhirnya pandai mempengaruhi orang lain. Namun peringatan bagi mahasiswa yang pandai berbicara adalah selalu lah berbicara dalam konteks menyebar kebenaran dan kebaikan. Tergelincirnya lidah lebih berbahaya daripada tergelincirnya kaki.[17]
Menurut Anies Baswedan, Gerakan mahasiswa memiliki karakter intelektual, ini yang membedakan dengan gerakan-gerakan pemuda yang lain. Karenanya Anda harus berbicara dengan moral dan dengan ilmu, caranya pakailah data. Anda kalau marah yah harus pakai data, tidak harus melakukan penelitian tapi yang penting ada punya data. Kalau misalnya Anda memprotes pemerintah, yang menaikkan BBM. Anda harus bisa bilang kenapa mau protes, secara data Anda harus bilang ini menyebabkan kemiskinan bukan semata-mata ini sebuah keputusan yang saya mau![18]
e. Mahasiswa Harus Mampu Berfikir Dengan Baik
Mahasiswa harus membiasakan berfikir kritis, solutif, kreatif dan inovatif. Berfikir dapat meningkatkan kapasitas keilmuan. Upaya berfikir dilakukan untuk mencari yang terbaik dari yang terbaik. Kebiasaan berfikir akan memudahkan kita untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kehidupan.
f. Mahasiswa Harus Mampu Meluruskan Kata, Fikiran, Dan Perbuatannya
Setelah pandai berbicara, mampu berfikir dengan baik, mahasiswa harus juga meluruskan dua hal tadi menjadi sebuah tindakan. Mahasiswa harus satu kata, fikiran dan perbuatan. Prinsip seperti ini mengandung aspek kejujuran, konsistensi, tanggungjawab, kedisiplinan dan jauh dari hal yang disebut kemunafikan. Seperti kata Soe Hok Gie, “lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan.”[19]
Bila Anda berfikir bahwa mencuri itu tidak boleh dan tidak baik, anda juga harus mengatakan mencuri itu tidak baik, dan dalam sikap dan perbuatan. Anda tidak boleh mencuri.
g. Mahasiswa harus haus ilmu pengetahuan dan Belajar Sejarah
Sebagai bagian dari kehidupan akademik di perguruan tinggi, mahasiswa harus haus ilmu pengetahuan. Mahasiswa harus menemukan pengetahuan baru, bukan hanya sebagai korban akademik yang sekedar mengetahui bukan menemukan. Kita harus belajar banyak pada kasus-kasus mahasiswa di Amerika Serikat yang berani menemukan sesuatu seperti Steve Jobs (Apple), Bill Gates (Microsoft), dan Mark Zuckerberg (facebook).
Mereka adalah orang yang akhirnya keluar dari kampus, untuk fokus pada temuannya, dan hari ini menjadi kaya raya. Meskipun budaya akademik hari ini tidak banyak mendukung itu, mahasiswa harus berani melawan arus. Mahasiswa harus mencoba menemukan hal-hal baru. Mahasiswa juga harus membuka diri menjadi ilmuwan. Dan intinya, segala sesuatu bisa dipelajari. Ingat sebuah pesan inspiratif “Untuk menjadi BISA. Dibutuhkan bakat 1% dan kerja keras 99%.”
Selain itu, untuk mempermudah pengetahuan, mahasiswa perlu belajar sejarah. Seperti kata Bung Karno: “Jas Merah (Jangan Sekali-kali melupakan sejarah).” Dari sejarah, kita bisa belajar kesalahan-kesalahan dan keberhasilan orang-orang sebelum kita. Kita tidak perlu terjatuh pada kesalahan yang sama dari orang sebelum kita. Dan kita perlu mengambil manfaat dari keberhasilan mereka.
3. Mahasiswa harus mengembangkan potensinya, open mind dan mencari teman sebanyak-banyaknya, dan mengabdi kepada masyarakat.
a. Mahasiswa harus mengembangkan potensinya
Setelah mendapatkan hal-hal diharuskan tadi , tidak bisa dipungkiri, mahasiswa mempunyai bakat, minat dan hobi yang berbeda-beda. Ada yang suka menulis, melakukan kajian, fotografi, film, musik, seni, olahraga, mencitai alam, dan seterusnya. Mahasiswa tidak harus sama dengan teman-temanya. Karena temannya menekuni musik, dia juga memaksakan diri menjadi musisi. Tidak harus. Mahasiswa harus membaca potensi dirinya, lalu kemudian diwujudkan dengan fokus pada pengembangan minat itu saja.
Bruce lee mengatakan:
“Saya tidak takut pada orang yang telah berlatih seribu macam tendangan, tapi saya takut pada orang yang melatih satu macam tendangan sebanyak seribu kali”
b. Mahasiswa Harus Open Mind
Open mind artinya berfikir terbuka, dengan berfikir terbuka kita dapat bergaul kepada siapapun dan pada orang yang macam-macam modelnya. Mahasiswa perlu menyadari, dalam kehidupan, kebenaran hari ini bisa menjadi kesalahan di kemudian hari. Tidak ada kebenaran yang hakiki kecuali dalam kitab-kitab Ajaran Allah SWT. Dengan bergaul dengan banyak orang kita bisa belajar banyak.
c. Mahasiswa harus mencari teman sebanyak-banyaknya
Bergaul dengan banyak orang, bisa membuat kita memperoleh teman yang banyak. Punya banyak teman akan membuat kita dapat memperoleh banyak hal dari teman kita, prinsip-prinsip Brotherhood bisa didapatkan dalam kasus ini.
Akan banyak keuntungan ketika mempunyai banyak teman, contoh paling kecil adalah anda adalah mahasiswa asal Makassar, anda ingin sekali pergi ke Lombok, naik gunung rinjani atau sekedar berwisata di Gili Trawangan dan pantai. Anda cukup menghubungi teman anda yang dari Lombok. Begitupun untuk kasus lainnya.
d. Mahasiswa harus mengabdi kepada masyarakat
Sebagai salah satu amanat Tri Darma Perguruan Tinggi selain pendidikan dan penelitian, pengabdian masyarakat harus juga menjadi bagian dari keseharian mahasiswa. Lakukanlah bentuk-bentuk pengabdian masyarakat sesuai dengan kapasitas keilmuan dan kemampuan kita.
4. Mahasiswa harus kreatif dan bisa menghasilkan duit sendiri
a. Mahasiswa harus kreatif
“Kreativitas adalah kegiatan yang mendatangkan hasil yang sifatnya berguna (useful), lebih enak, lebih praktis, mempermudah, memperlancar, mendorong, mengembangkan, mendidik, memecahkan masalah, mengurangi hambatan, mengatasi kesulitan, mendatangkan hasil lebih baik atau banyak.” (Mangunhardjana (1986 : 11))
“Kreativitas adalah suatu kemampuan umum untuk menciptakan suatu yang baru, sebagai kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan masalah, atau sebagai kemampuan untuk melihat hubungan-hubungan baru antara unsur-unsur yang sudah ada sebelumnya” (Utami Munandar (1995 : 25))
Dari definisi kreativitas diatas seorang mahasiswa harus mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-harinya yang penuh dengan tantangan, persoalan dan perjuangan. Mahasiswa dalam kesehariannya harus berisi penemuan hal baru, gagasan-gagasan baru, penuh dengan imajinasi-imajinasi baru yang diperuntukkan untuk melewati tantangan, menyelesaikan persoalan dan mempermudah perjuangan.
b. Mahasiswa harus belajar mecari duit sendiri
Sebuah penelitian dari Dr Stephen Carr Leon yang dituliskan dalam artikel yang berjudul “Mengapa Yahudi Pintar?”
Di Perguruan Tinggi Yahudi terutama fakultas Ekonomi, para mahasiswa dikumpulkan dalam satu kelompok yang berisi sepuluh orang. Mereka harus menyelesaikan proyek senilai $US 1 juta. Untuk dapat lulus dari perguruan tinggi tersebut.
Pelajaran diatas adalah bagaimana cara bangsa Yahudi bisa cerdas. Yaitu dengan penerapan beberapa kebiasaan yang teman-teman bisa baca artikelnya lebih lanjut.
Belajar mencari uang saat mahasiswa adalah modal berharga untuk kehidupan setelah kampus. Bisa melahirkan pengusaha-pengusaha muda baru. Yang kala mahasiswanya bisa mengurangi beban pembiayaan hidup dan ketika lulus, turut berpartisipasi memajukan negara. Mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla mengungkapkan,
“Minimnya jumlah pengusaha dari total populasi penduduk Indonesia membuat kemakmuran masyarakat berjalan tersendat-sendat. Kekurangan pelaku industri menjadi salah satu kendala penghambat kemajuan bangsa. Pengusaha di Indonesia ini kurang satu persen dari populasi penduduk. Bila dibandingkan misalnya dengan Malaysia, yang punya pengusaha dua persen dari jumlah penduduknya, kita masih kalah. dunia sekarang dikuasai oleh kebutuhan pangan, air, energi, dan logam. Keempat rupa penguasaan tersebut hanya bisa dipenuhi apabila sebuah negara memiliki banyak pengusaha yang mumpuni.”[20]
Inilah salah satu motivasi mahasiswa untuk mulai merintis bisnis. Apapun bentuknya.
Indonesia memiliki potensi besar untuk berkembang… Pertumbuhan angkatan muda di Indonesia itu setiap tahunnya bisa mencapai 3 juta. Ternyata, mayoritas berorientasi menjadi PNS atau pegawai swasta. Nah, mindset inilah yang diharapkan berubah. Anak muda tidak hanya bisanya bercita-cita menjadi PNS dan pegawai swasta. Justru sebaliknya, anak muda harus bercita-cita menciptakan lapangan kerja untuk menyelamatkan Indonesia dari krisis ekonomi. Anak muda seharusnya memiliki impian yang revolusioner untuk menaklukkan dunia, bukan ditaklukkan dunia.
Coba tengok Bill Gates yang sejak usia 13 tahun, saat berdiskusi dengan rekannya, mampu memiliki statement revolusioner dan visioner untuk kategori usianya. “Mari kita tampil dan menjual sesuatu kepada dunia,” ujarnya.
Impiannya saat itu adalah agar setiap rumah memiliki satu Komputer. Sehingga, pada umur 20 tahun, akhirnya ia mendirikan Microsoft. Dampaknya? Manusia memiliki kecenderungan untuk memiliki personal computer. Belum lagi demam Komputer jinjing yang pasarnya semakin luas. Komputer kini sudah menjadi lifestyle yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia.[21] Dan masih banyak kisah sukses lainnya.
Lalu, bagaimana Seharusnya Mahasiswa? Beberapa bagian seperti yang telah disampaikan diatas. Dan selebihnya tergantung proses, pengalaman dari hari-hari kita menjadi mahasiswa.
Meskipun Mahasiswa Indonesia dihadapkan pada realitas-realitas yang anti Idealisme. Namun, mahasiswa akhirnya dihadapkan pada dua pilihan.
Yang pertama tetap bertahan dengan cita-cita idealisme. Menjadi manusia-manusia yang non-kompromistis. Orang-orang dengan aneh dan kasihan akan melihat mereka sambil geleng-geleng kepala: “Dia pandai dan jujur, tetapi sayangnya kakinya tidak menginjak tanah.” Atau yang kedua dia kompromi dengan situasi yang baru. Lupakan idealisme dan ikut arus. Bergabunglah dengan grup yang kuat (partai, ormas, ABRI, klik dan lain-lainnya) dan belajarlah teknik memfitnah dan menjilat. Karir hidup akan cepat menanjak. Atau kalau mau lebih aman kerjalah disebuah perusahaan yang bisa memberikan sebuah rumah kecil, sebuah mobil atau jaminan-jaminan lain dan belajarlah patuh dengan atasan. Kemudian carilah istri yang manis. Kehidupan selesai.[22]
Semua keharusan diatas, hanyalah pilihan bagi mahasiswa, karena menjadi multi talenta itu tidaklah mudah. Namun, bila ada yang mampu, akan lebih baik.
Mahasiswa terbaik adalah mampu menjadi dirinya sendiri.
Sekian…
Salam Lestari…
Wassalam.
RAHMAT AL KAFI
Ketua Umum Ikami Sulsel Cabang Malang 2011-2012
Founder Media Mahasiswa Indonesia
____________________________________________________________
Catatan Kaki:
Tema Diskusi. Disampaikan pada Diskusi Intelektual Teras58. Jum’at, 19 Juli 2013. Materi ini sekaligus sebagai sambutan para mahasiswa baru angkatan 2013.
Penulis Mahasiswa yang aktif di Mapala (Mahasiswa Pencinta Alam) UKM DIMPA. Sedang berusaha sekuat tenaga menyelesaikan studi di Universitas Muhammadiyah Malang. Lebih lanjut bisa mengakses https://rahmatalkafi.id.
- Seorang aktivis 66, pendiri Mapala, Mati muda, mati dalam kondisi paling idealis dalam hidupnya.
- Soe Hok Gie “Siapakah saya?” dalam Rudy Badil,. Luki Sutrisno Bekti,. Nessy Luntungan. (Ed.). (2010). Soe Hok-gie Sekali Lagi: Buku, Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya. Jakarta:KPG. Hlm. 461
- Rhenald Kasali. (2005). Change! Jakarta: Gramedia PU. Hlm. 32.
- Anies Baswedan saat Wawancara tentang mahasiswa. Oleh unejpos.blogspot.com
- Ibid.
- Reza Nugraha Putra “ketika mahasiswa dituntut berfikir kreatif” (edukasi.kompasiana.com) diakses pada tanggal 19 bulan juli 2013.
- Soe Hok Gie “Siapakah saya?” dalam Rudy Badil,. Luki Sutrisno Bekti,. Nessy Luntungan. (Ed.). Op. Cit. Hlm. 461
- Kata mutiara Soe Hok Gie
- Dikutip dari http://pandangankafy.blogspot.com
- Soe Hok Gie “Siapakah saya?” dalam Rudy Badil,. Luki Sutrisno Bekti,. Nessy Luntungan. (Ed.). Op. Cit. Hlm. 464
- Ibid.
- Anies Baswedan. Oleh unejpos.blogspot.com. Op. Cit.
- Kata Mutiara Ahmad Wahib dalam Catatan Hariannya. “Pergolakan Pemikiran Islam”
- Anies Baswedan. Oleh unejpos.blogspot.com. Op. Cit
- Ibid.
- Ibid.
- Mahfudzat.
- Anies Baswedan. Oleh unejpos.blogspot.com. Op. Cit.
- Kata Mutiara Soe Hok-gie
- Dikutip dari okezone.com “JK: Pengusaha Tak Banyak, Negara Tak Maju” diakses pada 19 juli 2013.
- Badroni Yuzirman, Iim Rusyamsi. 2012. “Keajaiban Tangan Di Atas”. Jakarta:QultumMedia. Hlm. 5.
- Soe Hok-gie. “Generasi Yang Lahir Setelah Tahun Empat Lima” Tulisan yang diterbitkan oleh Kompas. Kamis, 16 Agustus 1969. Dalam Rudy Badil,. Luki Sutrisno Bekti,. Nessy Luntungan. (Ed.). Op. Cit. Hlm. 465.
____________________________________________________________
Daftar Pustaka
Buku
- Soe Hok Gie “Siapakah saya?” dalam Rudy Badil,. Luki Sutrisno Bekti,. Nessy Luntungan. (Ed.). (2010).
- Soe Hok-gie Sekali Lagi: Buku, Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya.Jakarta: KPG.
- Rhenald Kasali. (2005). Change! Jakarta: Gramedia Pustaka Utama..
- Badroni Yuzirman, Iim Rusyamsi. 2012. “Keajaiban Tangan Di Atas”. Jakarta: QultumMedia.
Internet
Anies Baswedan saat Wawancara tentang mahasiswa. Oleh unejpos.blogspot.com, diakses pada 19 juli 2013
Dikutip dari okezone.com “JK: Pengusaha Tak Banyak, Negara Tak Maju” diakses pada 19 Juli 2013
Tulisan ini bersumber dari: Bagaimana Seharusnya Mahasiswa? Diakses pada 19 Juli 2013
RAHMAT AL KAFI
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













