Catatan Akhir dari Seorang Demonstran

Catatan Akhir Seorang Demonstran
Foto: Pixabay.com

Akhir-akhir ini, ketika semua orang menjadi demonstran untuk turun ke jalan dan berorasi menuntut keadilan, serta membawa panji-panji dengan tulisan yang unik, sesuai tren masa kini. Ketika semua orang memilih untuk turun ke jalan, entah kenapa hati dan badanku justru enggan untuk turun ke jalan. Malah lebih asik membaca buku para aktivis terdahulu ataupun karya Pak Sapardi. Bukannya enggan membela rakyat, tetapi semua itu memiliki jalanya sendiri.

Dahulu aktivitas demonstrasi belum jadi setenar ini, atau bahkan saat ini telah jadi ajang candaan melalu aplikasi yang sedang naik daun, sebut saja tiktok. Ketika aksi unjuk rasa berlangsung, menjadi aktivis adalah sebuah hal yang “wah” di kalangan muda-mudi. Seakan-akan kata Tan Malaka idealisme adalah kemewahan terakhirnya yang di miliki kaum muda, itu bangkit lagi.

Di masa awal dulu, saat saya menjadi mahasiswa dan akhirnya terjun menjadi aktivis, saya sering dicibir oleh beberapa mahasiswa. kenapa harus menjadi aktivis?yang akhirnya kuliah tercecer dan dicap sebagai mahasiswa lama. Banyak anggapan kenapa kamu lebih memilih kuliah di jalan dibanding kuliah di kelas? Padahal kelas adalah tempat ternyaman menuntut ilmu dan gak panas, beda dengan kalian yang turun ke jalan.

Bagiku semua itu hanyalah angin lalu yang berhembus dan hilang begitu saja. Prinsipku, menuntut ilmu itu di manapun dan kapanpun. Seiring waktu dan tren masa kini, yang dulunya mencibir, sekarang berubah menjadi aktivis dadakan dan selalu ikut turun ke jalan. Mulai dari demo RKUHP, UU KPK, sampai sekarang ini Omnibus Law, dia justru yang paling getol menyuarakan jargon tak pernah berganti hidup mahasiswa! hidup rakyat!

Realitanya, sekarang ini banyak dari kalangan aktivis terdahulu yang sering turun ke jalan malah duduk dan asik di kursi yang nyaman nan empuk. Mereka tak mau lagi mendengar aspirasi rakyat. Mungkin dulu mereka paling getol dan terdepan untuk memperjuangkan hak-hak rakyat bahkan sampai masa kampanye mereka berdalih semua demi rakyat.

Apakah hal-hal tersebut demi menarik simpati rakyat untuk memilihmu? Atau kenapa? Tolong jelaskan! Kalian berdalih berjuang untuk rakyat. Rakyat yang mana wahai senior aktivis yang kau perjuangkan? Gunakan semua indramu untuk merasakan apa yang terjadi di kalangan bawah.

Hari ini kau berpura-pura tuli untuk mendengar aspirasi rakyat, kau berpura-pura buta untuk melihat penderitaan rakyat, dan kau juga berpura-pura bisu untuk menyuarakan keadilan. Hari ini kau lebih suka diam demi keamanan jabatanmu. Kau lebih patuh pada ketuamu dari pada Tuhanmu.

Dulu kau benyanyi karena mereka dirampas haknya, tergusur dan lapar. Tenyata sekarang malah kau yang merampas hak-hak rakyat dan kau juga yang menggusur kedamaian rakyat. Ke mana jiwa patriotmu yang dulu berdiri gagah dengan tangan terkepal, menjunjung ke atas dan memakai ikat kepala hitam sebagai simbol perlawanan?

Sekarang, kau tak berdiri gagah seperti dulu lagi. Ikat kepalamu kau kemanakan? Apakah ikat kepalamu kini berubah menjadi dasi agar terlihat rapi? Dan tangan terkepalmu kini berubah menjadi pemegang mangsi? Ayolah wahai senior! Kembalilah menjadi bijak demi kedamaian esok hari. Toh anak cucumu juga tak akan menyesal ketika negara ini menjadi damai berkat dirimu yang berani berbicara jujur demi keadilan. Ayo keluarkan suara lantangmu yang dulu kau gunakan untuk berjuang! Hari ini saatnya kau merubahnya.

Tak banyak harap dari kami. Semoga mereka yang hari ini, esok, dan nanti turun ke jalan dan memperjuangkan hak-hak rakyat tak bewatak sama dengan senior demonstran yang saat ini tengah duduk nyaman di gedung sana dengan kursi empuknya. Tempatkan diri sebagai wakil rakyat, tetaplah berjuang untuk rakyat dan terimalah aspirasi mereka dengan lapang dada.

Jika nanti kau menjadi wakil rakyat dan kau lupa dengan apa yang dulu kau suarakan sekarang, benar adanya, kau hanya kaum penjilat yang mengelabui keadaan demi kepentinganmu sendiri. Esok hari, aku ingin hidup dengan damai, tanpa ada adu kepentingan yang hanya menguntungkan  golongannya sendiri. Aku ingin hidup ini layak dan tenang layaknya negara-negara tetangga yang damai, tanpa ada sebuah keributan.

Aku ingin negara ini di pandang dunia sebagai negara yang damai dengan keramah tamahannya. Aku ingin hak-hak manusia yang telah direnggut, dikembalikan. Aku ingin anak dan cucuku nanti bisa menikmati damainya hidup di negara ini. Aku ingin tak ada caci maki antar golongan. Aku ingin keadilan ini dijalankan dengan benar. Dan yang terakhir, semoga wakil rakyat sadar, bahwa mereka berasal dari rakyat.

Akhmad Badruzzaman

Editor : Muflih Gunawan

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI