Belajar dari Tan Malaka

Tan Malaka telah menjadi pahlawan yang dilupakan oleh sesama anak negerinya sendiri. Perjuangan Tan Malaka dalam mencapai kemerdekaan memang betul-betul dilakukan secara serius dan penuh tanggung jawab. Bahkan jika pembaca pernah membaca seluruh karya Tan Malaka, Dia mengatakan, “Kemerdekaan bagi Bangsa Indonesia tidak boleh hanya setengah-setengah, tetapi kemerdekaan itu haruslah kemerdekaan yang 100%”. Tidak hanya itu, namun usaha Tan Malaka ternyata tergambar jelas dari sikapnya yang terus mendorong kaum muda Indonesia untuk menjadi kaum muda yang berjiwa idealis. Menurutnya, idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh Pemuda.

Pergerakan Tan Malaka tidak hanya berhenti pada dua poin di atas, tetapi melalui cara berpikirnya, Tan Malaka juga giat dalam dunia literasi. Tidak heran jika ungkapan terkenalnya yang paling banyak diingat oleh banyak orang, ialah “Selama toko buku masih ada, selama itu pula kepustakaan bisa dibentuk kembali, bila perlu dan memang perlu makanan dan pakaian dikurangi”. Uangkapan ini sebenarnya ingin memperlihatkan kepada masyarakat Indonesia, bahwa literasi itu jauh lebih penting yang dapat mengubah kehidupan masyarakat Indonesia. Di lain kesempatan ada ungkapan yang sekiranya menjadi pegangan kuat dari penulis terhadap sosok Tan Malaka, Dia mengatakan, “Jika Kaum muda yang bersekolah tinggi namun enggan untuk bergaul dengan masyarakat yang hanya bekerja sebagai petani, setiap harinya memegang cakul, lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali”.

Titik berangkat penulis menghadirkan tulisan ini sebenarnya mau mempersoalkan terkait dengan kecemasan penulis terhadap sosok Tan Malaka. Tentu pembaca akan heran serta bertanya, mengapa penulis merasa cemas dengan sosok Tan Malaka? Apakah sosok Tan Malaka perlu dicemaskan? Di sinilah tempat yang pas sekali bagi pembaca memahami kecemasan itu. Dalam buku Autobiografi yang ditulis oleh Tan Malaka ketika dirinya berada dibalik jeruji besi, selanjutnya dikemas dalam sebuah buku dengan judul “Dari Penjara ke Penjara” diterbitkan oleh penerbit Tempo di kemudian harinya. Dalam kata pengantar, dijelaskan bahwa menurut Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 53 tahun 1963 yang bunyinya, “Mengangkat sosok Tan Malaka sebagai Pahlawan Kemerdekaan Republik Indonesia”. Namun keputusan Presiden itu sampai hari ini tidak secara serius mengenalkan sosok Tan Malaka kepada masyarakat Indonesia.

Inilah ironi dari sebuah permainan politik yang dilakukan oleh Pemerintah untuk membelenggu seorang pejuang Bangsa. Bahkan, dalam sebuah buku yang ditulis oleh Paharizal, S.Sos, M.A dan Ismantoro Dwi Yuwono tentang “Misteri Pembunuhan Tan Malaka”, melalui buku tersebut dikatakan bahwa sejarah Orde Lama ketika itu berusaha melakukan penangkapan pada Tan Malaka di rumahnya, mereka sampai merusak seluruh karya-karya Tan Malaka. Begitupun dengan rezim Orde Baru, pemerintah di bawah kekuasaan Presiden Soeharto secara tegas melakukan penangkapan bagi setiap warga Negara yang pada waktu itu diketahui menyimpan serta membaca buku yang ditulis oleh Tan Malaka, yaitu buku Materialisme Dialektika dan Logika (Madilog).

Pemerintah Orde Baru bahkan mengeluarkan instruksi yang melarang secara keras diedarkannya kepada masyarakat buku tersebut. Inilah bentuk selubung politik yang dilakukan oleh kedua rezim pada waktu itu untuk membelenggu seluruh pemikiran sekaligus berusaha menyingkirkan sosok Tan Malaka.

Terujinya Jati Diri Bangsa
Apakah di tengah konstelasi politik yang saat ini sedang berkencan mencari pemimpin lima tahun ke depan, pemimpin terpilih mampu mengangkat sekaligus mengenalkan secara serius sosok Tan Malaka kepada khalayak umum? Apakah masyarakat Indonesia siap sedia menerima kehadiran sosok Tan Malaka secara terbuka sekaligus meneruskan pola pemikiran serta sikap Tan Malaka kepada generasi selanjutnya? Inilah dua pertanyaan mendasar yang coba penulis patahkan pada pemimpin ke depannya serta kepada masyarakat Indonesia. Kedua pertanyaan itu pada hakekatnya menjadi landasan terujinya jati diri bangsa Indonesia, baik dalam negeri maupun negara-negara luar.

Penulis khawatir jika kelak generasi bangsa malah memilih sosok dari luar untuk dijadikan pegangan, sementara sosok anak negeri sendiri yang sudah berkorban untuk mempertahankan negeri ini malah harus dilupakan dan diasingkan di negeri sendiri. Ini yang tentunya tidak diharapkan dari kita sebagai anak bangsa. Di sinilah letak terujinya mental itu, sejauh mana bangsa Indonesia mampu mempertahankan nilai-nilai yang diwariskan oleh para pejuang.

Usaha Mengembalikan Nama Baik Tan Malaka
Tentu sebagai bangsa yang lahir dari sejarah masa lalu yang sungguh kelam, dimana segala penindasan kemanusiaan dan hak-hak sipil dirampas serta dibelenggu secara habis-habisan. Perjuangan meraih kemerdekaan tidak sekedar hanya menyuarakan bahwa kita merdeka, tetapi dibaliknya ada nyawa manusia yang harus dikorbankan, yaitu para pahlawan. Begitupun sosok Tan Malaka, Dia harus mengorbankan dirinya dibuang dan diasingkan dari negeri sendiri selama kurun waktu 20 tahun lamanya, sekaligus nyawalah yang akhirnya menjadi taruhan demi kemerdekaan.

Lantas, bagaimana usaha serta sikap kita dewasa ini mengembalikan nama sekaligus meneruskan dasar pemikiran serta sikapnya? Pertama, dari kacamata penulis bahwa yang harus dilakukan ialah dimulai dari kesadaran kita sebagai bangsa. Kesadaran untuk senantiasa mengakui sekaligus terbuka menerima sosok Tan Malaka. Kedua, mendorong pemerintah untuk secara serius menerapkan keputusan Presiden nomor 53 tahun 1963. Ketiga, meneruskan pemikiran Tan Malaka kepada generasi selanjutnya agar paham dan bisa mengambil segi positif yang dituangkan oleh Tan Malaka di negeri ini.

Patrisius Eduardus Kurniawan Jenila
Mahasiswa Jurusan Administrasi Publik Universitas Merdeka Malang
Aktif di Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas ISIP (DPM-F)
Aktif juga di Perhimpunan Mahasiswa Khatolik Republik Indonesia (PMKRI) cabang Malang-Komisariat Merdeka

Baca juga:
Bidikmisi untuk Orang yang Kurang Mampu, dalam Hal Apa?
Perjuangan Perempuan: Era Buram Menuju Era Yang Berkeadilan
Meneguhkan GmnI sebagai Garda Pemersatu Bangsa

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI