Teknologi Sediaan Solid merupakan salah satu inovasi penting dalam dunia farmasi yang terus berkembang hingga saat ini.
Bentuk sediaan padat, khususnya tablet, menjadi pilihan utama karena praktis, mudah digunakan, serta mampu menjaga kestabilan zat aktif obat. Dengan adanya teknologi ini, kualitas dan efektivitas obat dapat lebih terjamin, sehingga mendukung upaya peningkatan terapi dan kesehatan masyarakat.
Perkembangan tablet sebagai bentuk sediaan solid bukan hanya sekadar menghadirkan obat dalam bentuk praktis, tetapi juga melibatkan teknologi canggih yang memastikan kandungan zat aktif dapat dilepaskan secara tepat di dalam tubuh.
Hal ini penting karena efektivitas suatu obat sangat dipengaruhi oleh cara penyajiannya, termasuk bagaimana obat diproduksi, didistribusikan, hingga digunakan oleh pasien.
Di sisi lain, tablet juga memiliki keunggulan dalam hal keamanan, kestabilan, serta efisiensi biaya produksi dibandingkan dengan bentuk sediaan lain seperti cairan atau semi-solid.
Tidak heran jika tablet menjadi salah satu sediaan obat yang paling banyak diproduksi dan dikonsumsi di seluruh dunia.
Artikel ini akan membahas secara mendalam mengenai teknologi sediaan solid berjenis tablet, mulai dari konsep dasar, metode pembuatan, evaluasi kualitas, hingga tantangan dan peluang pengembangannya di masa depan.
Pengertian dan Konsep Dasar Teknologi Sediaan Solid
Tablet merupakan salah satu bentuk sediaan solid yang paling populer dalam dunia farmasi. Sebagai bagian dari teknologi sediaan solid, tablet tidak hanya diformulasikan untuk mempermudah pasien dalam mengonsumsi obat, tetapi juga untuk menjaga kestabilan zat aktif di dalamnya.
Dengan struktur yang padat dan kering, tablet dapat disimpan dalam jangka waktu yang lebih lama dibandingkan dengan bentuk sediaan lain, tanpa mengurangi efektivitas terapeutiknya.
Lebih jauh lagi, konsep dasar teknologi sediaan solid menekankan pentingnya mengombinasikan zat aktif dengan bahan tambahan atau eksipien yang sesuai. Hal ini bertujuan agar tablet tidak hanya stabil dari sisi fisik, tetapi juga dapat melepaskan zat aktifnya dengan optimal di dalam tubuh.
Oleh karena itu, pemahaman mengenai dasar-dasar tablet menjadi hal yang krusial bagi tenaga farmasi maupun peneliti di bidang farmasi.
Definisi Sediaan Solid dalam Farmasi
Sediaan solid adalah bentuk obat dengan struktur padat dan kering yang dibuat untuk memudahkan konsumsi serta menjaga kestabilan zat aktif di dalamnya. Tablet, kapsul, ovula, dan supositoria termasuk dalam kategori ini. Dari semua bentuk tersebut, tablet menjadi yang paling umum digunakan karena lebih praktis, mudah dikemas, serta memiliki daya simpan yang lebih panjang.
Menurut Murtini & Elisa (2018), sediaan solid berperan penting dalam meningkatkan efektivitas obat, karena memungkinkan dosis yang tepat dan mudah diterima oleh pasien. Hal ini berbeda dengan sediaan cair yang lebih sulit dijaga stabilitasnya, terutama dari aspek kimia maupun mikrobiologi.
Peran Tablet dalam Dunia Kesehatan
Tablet tidak hanya dianggap sebagai bentuk obat yang praktis, tetapi juga sebagai media yang memungkinkan variasi terapi. Tablet dapat diformulasikan menjadi lepas cepat, lepas lambat, salut enterik, atau bahkan orodispersible yang larut di mulut tanpa perlu ditelan dengan air. Hal ini mempermudah pasien dengan kondisi khusus, seperti lansia atau anak-anak.
Selain itu, tablet juga berperan dalam meminimalkan efek samping. Dengan teknologi salut enterik, misalnya, tablet bisa diatur agar larut di usus, bukan di lambung, sehingga iritasi lambung akibat zat aktif dapat dihindari.
Kelebihan dan Kekurangan Tablet sebagai Sediaan Solid
Tablet menjadi salah satu bentuk obat yang paling banyak digunakan karena praktis, ekonomis, dan mudah dibawa. Kelebihan lainnya adalah kemampuannya dalam menyediakan dosis yang akurat serta memungkinkan pengembangan berbagai jenis tablet dengan fungsi berbeda, mulai dari tablet salut enterik hingga tablet lepas lambat. Keunggulan inilah yang membuat tablet menjadi pilihan utama bagi industri farmasi dalam produksi massal obat-obatan.
Namun, di balik kelebihannya, tablet juga memiliki sejumlah keterbatasan. Beberapa obat dengan sifat cair atau higroskopis sulit diformulasikan dalam bentuk tablet, sehingga memerlukan teknologi khusus dalam pembuatannya. Selain itu, tablet tidak dapat digunakan oleh semua pasien, misalnya pasien yang mengalami kesulitan menelan, bayi, atau pasien dalam kondisi tidak sadar. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun tablet unggul dalam banyak aspek, tetap ada tantangan dalam penggunaannya.
Kelebihan Tablet
Tablet menawarkan banyak keunggulan dibandingkan sediaan obat lain. Beberapa di antaranya adalah:
-
Stabilitas tinggi – Tablet lebih tahan terhadap degradasi kimia dan mikrobiologi.
-
Mudah dikonsumsi – Bentuknya kecil dan bisa dikemas rapi sehingga praktis dibawa.
-
Dosis akurat – Setiap tablet memiliki dosis seragam, sehingga meminimalkan risiko kelebihan atau kekurangan dosis.
-
Produksi massal lebih efisien – Tablet dapat diproduksi dalam jumlah besar dengan biaya relatif rendah.
-
Meningkatkan kepatuhan pasien – Tablet dapat diberi warna, bentuk, dan ukiran tertentu agar mudah dikenali.
Penggunaan tablet sebagai sediaan obat memiliki beberapa kelebihan maupun kekurangan. Beberapa kelebihan penggunaan tablet menurut Tungadi (2017) di antaranya adalah:
- Volume kecil membuatnya mudah untuk dikemas, disimpan, atau dibawa ke mana saja;
- Mengandung bahan aktif yang sama;
- Bahan aktifnya banyak, tetapi jumlahnya sedikit, sehingga mudah dikonsumsi oleh anak-anak;
- Stabilitas kimia, mekanik, dan mikrobiologinya tinggi dibandingkan dengan formulasi lain’
- Menelan langsung mengurangi rasa dan bau yang tidak enak dan mengurangi kontak jangka panjang dengan selaput lendir (mulut);
- Tablet dapat dilapisi untuk melindungi bahan aktif, menutupi rasa atau bau yang tidak menyenangkan, atau untuk terapi enteral;
- Pelepasan zat aktif dapat dimodulasi;
- Produksi massal dapat menurunkan harga;
- Mudah digunakan;
- Mudah untuk menetapkan identitas produk ke tablet karena tidak diperlukan pemrosesan tambahan saat menggunakan permukaan yang dicetak;
- Tersedia pada banyak takaran dan berbagai konsentrasi;
- Rejimen pengobatan pasien dapat dipertahankan oleh pasien seperti yang direkomendasikan oleh dokter.
Kekurangan Tablet
Meski memiliki banyak kelebihan, tablet juga memiliki keterbatasan. Zat aktif yang bersifat cair, mudah menguap, atau tidak stabil dalam kondisi tekanan sering sulit diformulasikan menjadi tablet. Selain itu, tablet tidak cocok diberikan kepada pasien yang kesulitan menelan, seperti bayi atau pasien tidak sadar.
Beberapa obat juga membutuhkan efek cepat, misalnya pada kondisi darurat, sehingga sediaan cair atau injeksi lebih dipilih dibanding tablet. Hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam pengembangan teknologi tablet modern.
Sedangkan kekurangan penggunaan tablet menurut Tungadi (2017) adalah sebagai berikut:
- Obat cair atau higroskopis sulit diformulasikan karena memerlukan prosedur khusus dan membutuhkan waktu lama untuk pembuatan tablet;
- Cara menggunakan aditif, kerajinan, dan alat untuk membuatnya super rumit;
- Jangan diberikan pada pasien yang tidak bisa makan (tidak bisa ditelan), muntah, atau tidak sadarkan diri;
- Tidak dapat diberikan langsung pada bayi;
- Bentuk dan warna yang menarik, bau dan rasa yang menyenangkan, tablet dapat menarik perhatian anak-anak dan dapat menyebabkan kecanduan jika disimpan selama berhari-hari;
- Efek terapeutik biasanya lebih lambat daripada larutan karena zat aktif tidak segera diserap dan harus dilepaskan.
Komponen Utama dalam Formulasi Tablet
Dalam pembuatan tablet, terdapat dua komponen utama yang sangat menentukan kualitas dan efektivitas sediaan, yaitu zat aktif dan eksipien.
Zat aktif merupakan inti dari tablet karena berperan langsung dalam memberikan efek terapeutik. Namun, keberadaannya tidak dapat berdiri sendiri. Oleh karena itu, diperlukan eksipien yang berfungsi sebagai pendukung agar tablet dapat diproduksi dengan bentuk, tekstur, serta stabilitas yang optimal.
Eksipien memiliki berbagai macam fungsi, mulai dari pengikat, pengisi, penghancur, hingga pelicin. Masing-masing eksipien dipilih dengan cermat agar sesuai dengan karakteristik zat aktif yang digunakan.
Tanpa adanya eksipien, tablet bisa menjadi rapuh, sulit ditelan, atau tidak mampu melepaskan zat aktif dengan baik di dalam tubuh. Inilah sebabnya, komponen dalam formulasi tablet perlu diperhatikan dengan sangat teliti oleh para formulator.
Zat Aktif (Active Pharmaceutical Ingredient/API)
Zat aktif adalah komponen inti yang memberikan efek terapi. Dalam tablet, jumlah zat aktif biasanya kecil, namun perannya sangat krusial. Contoh zat aktif yang sering diformulasikan dalam bentuk tablet antara lain parasetamol, amoksisilin, dan ibuprofen.
Pemilihan zat aktif harus mempertimbangkan sifat fisikokimia, termasuk kelarutan, kestabilan, serta bioavailabilitasnya. Jika zat aktif sulit larut dalam air, maka dibutuhkan teknologi khusus untuk meningkatkan kelarutannya.
Eksipien dan Fungsinya dalam Tablet
Eksipien adalah bahan tambahan non-aktif yang berfungsi mendukung pembentukan tablet. Jenis eksipien yang umum digunakan antara lain:
- Pengisi (diluent): meningkatkan volume tablet, contohnya laktosa.
- Pengikat (binder): menjaga agar tablet tidak rapuh, misalnya pati pregelatinisasi.
- Disintegran: mempercepat hancurnya tablet di saluran cerna, contohnya natrium starch glycolate.
- Pelumas (lubricant): mencegah tablet menempel pada cetakan mesin, seperti magnesium stearate.
Eksipien ini tidak memberikan efek terapi, tetapi berperan besar dalam memastikan tablet stabil, mudah diproduksi, dan efektif saat digunakan.
Teknologi dan Metode Pembuatan Tablet
Proses pembuatan tablet bukanlah sesuatu yang sederhana. Teknologi yang digunakan dalam produksi tablet berkembang seiring dengan kebutuhan untuk menghasilkan sediaan dengan kualitas tinggi. Metode yang paling umum digunakan adalah granulasi, baik granulasi basah maupun granulasi kering, serta metode cetak langsung. Masing-masing metode memiliki kelebihan, kekurangan, dan penerapan yang berbeda sesuai sifat zat aktif dan tujuan terapeutik.
Dengan adanya berbagai pilihan metode, industri farmasi dapat menyesuaikan teknik yang digunakan berdasarkan karakteristik obat yang akan diproduksi. Granulasi basah, misalnya, lebih banyak digunakan karena dapat menghasilkan tablet dengan kekuatan mekanis yang baik, sementara granulasi kering biasanya dipilih ketika zat aktif tidak stabil terhadap kelembapan. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi pembuatan tablet merupakan perpaduan antara sains, seni, dan inovasi.
Metode Granulasi Basah
Granulasi basah adalah metode paling umum dalam pembuatan tablet. Zat aktif dicampur dengan eksipien, kemudian ditambahkan cairan pengikat sehingga membentuk granul. Granul dikeringkan dan dikompresi menjadi tablet. Kelebihan metode ini adalah menghasilkan tablet dengan kekuatan mekanis yang baik.
Metode Granulasi Kering
Metode ini digunakan jika zat aktif tidak stabil terhadap kelembapan. Granulasi kering dilakukan dengan cara menekan campuran serbuk tanpa penambahan cairan, lalu dihancurkan kembali menjadi granul. Tablet yang dihasilkan biasanya lebih rapuh dibanding granulasi basah, tetapi tetap efektif untuk zat aktif tertentu.
Metode Cetak Langsung (Direct Compression)
Metode ini memungkinkan tablet dibuat langsung dari serbuk tanpa melalui tahap granulasi. Syaratnya, serbuk harus memiliki sifat alir dan kompresibilitas yang baik. Metode ini lebih hemat waktu dan biaya, tetapi hanya bisa diterapkan pada bahan dengan sifat tertentu.
Evaluasi Kualitas Tablet
Setelah tablet diproduksi, tahap selanjutnya yang tidak kalah penting adalah melakukan evaluasi kualitas. Evaluasi ini bertujuan untuk memastikan bahwa tablet yang dihasilkan memenuhi standar keamanan, stabilitas, dan efektivitas. Tanpa evaluasi yang ketat, risiko kegagalan terapi bisa meningkat karena pasien mengonsumsi obat yang tidak sesuai dengan standar.
Evaluasi kualitas tablet mencakup beberapa tahap, mulai dari pemeriksaan bahan baku, granul, proses produksi, hingga tablet jadi. Setiap tahap memiliki parameter khusus yang harus dipenuhi, misalnya keseragaman bobot, kekerasan, waktu hancur, dan disolusi. Dengan evaluasi yang sistematis, kualitas tablet dapat dipastikan konsisten dari satu batch produksi ke batch berikutnya.
Evaluasi Bahan Baku
Bahan baku yang digunakan harus memenuhi standar farmakope, baik dari sisi identitas, kemurnian, maupun sifat fisikokimia. Pemeriksaan awal sangat penting agar tablet yang dihasilkan tidak menimbulkan risiko bagi pasien.
Evaluasi Granul
Granul diuji berdasarkan kadar air, distribusi ukuran partikel, dan aliran serbuk. Granul yang baik harus memiliki aliran lancar agar mudah dikompresi menjadi tablet dengan bobot seragam.
Evaluasi Proses Produksi
Selama proses produksi, dilakukan uji keseragaman zat aktif dan distribusi eksipien. Hal ini bertujuan untuk memastikan setiap tablet mengandung zat aktif dalam jumlah yang tepat.
Evaluasi Tablet Jadi
Tablet yang telah selesai diproduksi diuji dengan parameter seperti:
- Kekerasan tablet
- Waktu hancur
- Uji disolusi
- Keseragaman bobot dan kandungan
Evaluasi ini memastikan kualitas dan efektivitas tablet tetap konsisten sebelum didistribusikan.
Peran Teknologi Sediaan Solid dalam Farmasi Modern
Perkembangan teknologi farmasi membuat tablet tidak lagi sekadar sebagai sediaan padat biasa, tetapi juga sebagai sarana untuk meningkatkan efektivitas terapi dan kepatuhan pasien. Melalui teknologi sediaan solid, obat dapat diformulasikan sedemikian rupa sehingga dapat dilepaskan secara bertahap atau ditargetkan ke bagian tubuh tertentu. Hal ini membuat terapi menjadi lebih efisien dan sesuai dengan kebutuhan pasien.
Selain itu, peran teknologi tablet juga terlihat dari efisiensi produksi. Industri farmasi dapat memproduksi tablet dalam jumlah besar dengan biaya yang lebih rendah, sekaligus menjaga kualitas dan keamanan obat. Dengan begitu, teknologi sediaan solid berkontribusi signifikan terhadap ketersediaan obat yang lebih luas dan terjangkau bagi masyarakat.
Efisiensi Produksi Obat
Dengan adanya teknologi tablet, industri farmasi dapat memproduksi obat dalam jumlah besar secara cepat. Tablet juga lebih mudah dikemas dalam bentuk blister atau botol, sehingga memudahkan distribusi.
Peningkatan Kepatuhan Pasien
Tablet yang diberi warna dan bentuk tertentu membuat pasien lebih mudah mengenali obat yang harus diminum. Hal ini terbukti meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalankan terapi, terutama untuk pengobatan jangka panjang.
Hasil Penelitian Terkait Teknologi Sediaan Solid
Keberhasilan pengembangan tablet sebagai bentuk sediaan solid tidak lepas dari berbagai penelitian yang telah dilakukan. Penelitian berfokus pada stabilitas, efektivitas, serta inovasi dalam formulasi tablet. Misalnya, studi mengenai stabilitas fisik dan kimia tablet memberikan gambaran penting mengenai daya tahan obat selama penyimpanan.
Selain itu, penelitian lain menyoroti efektivitas terapi tablet dibandingkan dengan bentuk sediaan lainnya. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa tablet mampu memberikan pelepasan zat aktif yang lebih konsisten, sehingga meningkatkan hasil terapi. Dengan adanya bukti ilmiah, teknologi sediaan solid semakin dipercaya sebagai salah satu pilar utama dalam dunia farmasi modern.
Penelitian tentang Stabilitas Tablet
Sebuah penelitian oleh Rahul et al. (2014) menunjukkan bahwa tablet dengan teknologi salut enterik mampu menjaga stabilitas zat aktif lebih baik dibandingkan dengan tablet konvensional. Salut enterik mencegah kerusakan zat aktif oleh asam lambung, sehingga bioavailabilitas obat meningkat.
Penelitian tentang Efektivitas Terapi Tablet
Penelitian lain yang dilakukan oleh Erizal et al. (2020) membuktikan bahwa penggunaan eksipien tertentu, seperti superdisintegran, dapat mempercepat waktu hancur tablet dan meningkatkan efek terapi. Hal ini penting untuk obat-obatan yang membutuhkan efek cepat, seperti analgesik.
Tantangan dan Peluang Pengembangan Tablet di Masa Depan
Meski tablet telah menjadi salah satu bentuk sediaan yang paling populer, masih banyak tantangan yang harus dihadapi dalam pengembangannya. Tantangan tersebut antara lain mencakup kesulitan formulasi untuk zat aktif yang tidak stabil, keterbatasan pada pasien dengan kondisi tertentu, hingga persaingan dengan bentuk sediaan inovatif lainnya. Hal ini mendorong para peneliti dan industri farmasi untuk terus mencari solusi baru.
Di sisi lain, peluang pengembangan tablet di masa depan sangatlah besar. Inovasi seperti tablet pintar, yang mampu melepaskan obat sesuai kebutuhan tubuh, serta personalisasi dosis obat berdasarkan kondisi genetik pasien, menjadi tren baru dalam dunia farmasi. Jika tantangan dapat diatasi, tablet akan tetap menjadi bentuk sediaan yang relevan dan terus berkembang mengikuti kemajuan teknologi medis.
Inovasi Teknologi dalam Formulasi Obat
Salah satu tantangan besar dalam pengembangan tablet adalah formulasi untuk zat aktif yang sukar larut air. Inovasi seperti nanoteknologi dan sistem drug delivery cerdas menjadi peluang besar untuk meningkatkan efektivitas tablet.
Pengembangan Tablet Pintar dan Personalized Medicine
Masa depan farmasi juga diarahkan pada tablet pintar, yaitu tablet yang bisa melepaskan obat berdasarkan sinyal tubuh, serta personalized medicine, di mana dosis disesuaikan dengan kondisi genetik dan kebutuhan pasien.
Kesimpulan dan Penutup
Tablet adalah salah satu bentuk Teknologi Sediaan Solid yang paling populer dan banyak digunakan di seluruh dunia. Dengan keunggulan dari sisi stabilitas, efisiensi produksi, hingga kepatuhan pasien, tablet menjadi pilar penting dalam terapi modern.
Namun, pengembangan tablet tidak lepas dari tantangan, terutama dalam formulasi zat aktif tertentu. Meski demikian, inovasi teknologi memberikan peluang besar bagi tablet untuk terus berevolusi menjadi sediaan yang lebih canggih, aman, dan efektif.
Makalah: Teknologi Sediaan Solid: Tablet
Pendahuluan
Sediaan solid yaitu sebuah jenis sediaan obat di mana obat tersebut memiliki tekstur yang padat dan kering. Obat adalah sebuah bahan yang dapat digunakan untuk mempengaruhi sistem biologis baik pada manusia ataupun hewan yang bertujuan untuk memberikan penyembuhan, mengurangi/ menghilangkan gejala, mencegah, mendiagnosis, serta meningkatkan stamina.
Dalam hal ini, obat dirancang sebagai suatu sistem yang terintegrasi untuk mencapai tujuan terapeutik secara aman, efektif, dan efisien.
Baca Juga: Kandungan Bahan Aktif Tanaman Pegagan (Centella Asiatica l.) dan Khasiatnya dalam Bidang Kefarmasian
Dengan semakin berkembangnya teknologi di masa kini, membuat perancangan suatu obat semakin beragam seperti terciptanya obat yang tidak lagi berbentuk zat murni untuk dikonsumsi melainkan diciptakan sediaan obat yang di dalamnya terkandung zat aktif yang memiliki banyak manfaat ketika dikonsumsi.
Zat aktif dalam sediaan obat tersebut dapat diterima dengan lebih efektif oleh pasien sehingga pasian yang sakit tidak perlu ragu dalam mengonsumsi obat. Selain itu, dibuatnya obat dalam sediaan bertujuan untuk alasan keamanan dalam menggunakan zat aktif yang dapat memberikan rangsangan pada lambung (Tungadi, 2017).
Sediaan obat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok yaitu kelompok sediaan liquid, sediaan semi solid, serta sediaan solid. Macam-macam sediaan solid terdiri dari supositoria, kapsul, ovula, dan tablet. Tablet adalah salah satu bentuk sediaan solid yang mengandung satu atau lebih zat aktif yang dipadatkan.
Tablet mempunyai beragam perbedaan baik bentuk, berat, ukuran maupun tekstur dan ketebalan. Secara umum, penggunaan tablet memiliki maksud untuk ditelan yang selanjutnya sistem pencernaan akan menghancurkan untuk melepas zat yang terkandung pada tablet tersebut (Murtini & Elisa, 2018).
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk mendeskripsikan teknologi sediaan solid berjenis tablet sehingga tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk mengetahui teknologi sediaan solid berjenis tablet beserta evaluasinya.
Metodologi
Penelitian ini termasuk ke dalam penelitian studi kepustakaan atau studi literatur. Penelitian kepustakaan bertujuan untuk mendapatkan pemahaman mengenai suatu permasalahan secara lebih mendalam.
Sumber data pada penelitian ini adalah semua referensi berupa buku atau artikel ilmiah yang relevan. Data yang dicari dalam penelitian ini merupakan data yang berkaitan dengan teknologi sediaan solid berjenis tablet.
Pembahasan
Salah satu jenis sediaan solid dalam obat adalah tablet. Tablet merupakan sebuah sediaan yang bersifat padat karena dibuat dengan cara melakukan pemadatan pada satu atau lebih zat aktif baik dengan zat tambahan ataupun tanpa zat tambahan lainnya.
Tablet dapat memiliki bentuk seperti tabung yang pipih ataupun cembung. Penambahan zat lain ke dalam tablet dapat memiliki beberapa fungsi yaitu sebagai pengembang, pelicin, pengikat, pengisi, atau pembasah serta fungsi lainnya yang sesuai (Erizal et al., 2020).
Tablet adalah salah satu jenis sediaan yang populer dan banyak dikonsumsi jika dibandingkan dengan sediaan dalam bentuk yang lainnya. hal tersebut dikarenakan oleh alasan praktis dan lebih mudah dalam menggunakannya.
Selain itu, tablet memiliki ukuran dosis yang lebih akurat, rasa yang tidak enak dari zat aktif pada obat dapat dikurangi dengan penggunaan tablet dan juga proses untuk memproduksi tablet lebih mudah serta lebih stabil dibandingkan dengan sediaan yang lain (Rahul et al., 2014).
Baca Juga: Evaluasi Tablet
Tablet diperkenalkan sebagai sediaan farmasi memiliki tujuan untuk memperoleh dampak secara biologis dari sebuah obat secara maksimal. Terdapat beberapa ketentuan agar tablet dapat dikatakan sebagai sediaan obat yang baik.
Beberapa ketentuan tersebut terdiri dari: 1) Mampu atau tahan terhadap pengaruh mekanis selama proses pembuatan, pengemasan, pengangkutan, dan penggunaan; 2) Tidak ada kerusakan seperti retak, sisi terkelupas, perubahan warna, kontaminasi dengan bahan obat lain, atau kontaminasi dengan kontaminan lain;
3) Stabilitas fisik dan kimia dari sifat-sifat yang terlibat dapat dijamin; 4) Zat yang memiliki khasiat dapat dilepaskan dengan benar untuk mencapai efek biologis yang diinginkan; 5) Terjaminnya bentuk dan manfaat terapeutik saat pasien menggunakannya; 6) Bau, rasa, dan bentuk yang menarik; dan 7) Tablet memiliki berat dan dosis yang seragam (Erizal et al., 2020).
Penggunaan tablet sebagai sediaan obat memiliki beberapa kelebihan maupun kekurangan. Beberapa kelebihan penggunaan tablet menurut Tungadi (2017) di antaranya adalah:
- Volume kecil membuatnya mudah untuk dikemas, disimpan, atau dibawa ke mana saja;
- Mengandung bahan aktif yang sama;
- Bahan aktifnya banyak, tetapi jumlahnya sedikit, sehingga mudah dikonsumsi oleh anak-anak;
- Stabilitas kimia, mekanik, dan mikrobiologinya tinggi dibandingkan dengan formulasi lain’
- Menelan langsung mengurangi rasa dan bau yang tidak enak dan mengurangi kontak jangka panjang dengan selaput lendir (mulut);
- Tablet dapat dilapisi untuk melindungi bahan aktif, menutupi rasa atau bau yang tidak menyenangkan, atau untuk terapi enteral;
- Pelepasan zat aktif dapat dimodulasi;
- Produksi massal dapat menurunkan harga;
- Mudah digunakan;
- Mudah untuk menetapkan identitas produk ke tablet karena tidak diperlukan pemrosesan tambahan saat menggunakan permukaan yang dicetak;
- Tersedia pada banyak takaran dan berbagai konsentrasi;
- Rejimen pengobatan pasien dapat dipertahankan oleh pasien seperti yang direkomendasikan oleh dokter.
Baca Juga: Evaluasi Kapsul Keras
Sedangkan kekurangan penggunaan tablet menurut Tungadi (2017) adalah sebagai berikut:
- Obat cair atau higroskopis sulit diformulasikan karena memerlukan prosedur khusus dan membutuhkan waktu lama untuk pembuatan tablet;
- Cara menggunakan aditif, kerajinan, dan alat untuk membuatnya super rumit;
- Jangan diberikan pada pasien yang tidak bisa makan (tidak bisa ditelan), muntah, atau tidak sadarkan diri;
- Tidak dapat diberikan langsung pada bayi;
- Bentuk dan warna yang menarik, bau dan rasa yang menyenangkan, tablet dapat menarik perhatian anak-anak dan dapat menyebabkan kecanduan jika disimpan selama berhari-hari;
- Efek terapeutik biasanya lebih lambat daripada larutan karena zat aktif tidak segera diserap dan harus dilepaskan.
Obat-obatan membutuhkan eksipien dan beberapa aditif selain bahan aktif dalam tablet. Di sini, adjuvant adalah bahan non-aktif yang ditambahkan ke formulasi produk obat untuk berbagai tujuan atau fungsi.
Meskipun eksipien bukan bahan aktif, keberadaannya sangat penting untuk keberhasilan produksi produk obat yang dapat diterima (Murtini & Elisa, 2018). Zat lain yang ditambahkan pada tablet memiliki beberapa fungsi. Fungsi tersebut menurut Anief (1998) di antaranya adalah:
- Sebuah pengisi yang digunakan untuk meningkatkan volume tablet atau sebagai zat pengisi;
- Sebagai bahan pengikat dapat menempel untuk mencegah tablet pecah atau retak;
- Disintegran digunakan untuk memecah tablet di saluran cerna;
- Pelumas yang digunakan untuk mencegah tablet menempel pada cetakan.
Baca Juga: Glukokortikoid
Dalam proses pembuatan tablet sebagai sediaan obat, terdapat beberapa metode yang digunakan. Secara umum, metode dalam pembuatan tablet terdiri dari tiga metode. Ketiga metode tersebut di antaranya adalah:
- Proses basah, termasuk proses granulasi basah dan proses khusus;
- Proses kering termasuk pencetakan langsung dan granulasi kering (slugging);
- Kombinasi kedua proses di atas disebut granulasi dasar di mana bahan aktif ditambahkan ke dalam granula sebagai fraksi halus.
Secara umum, granulasi masih merupakan metode pembuatan tablet yang paling populer dibandingkan dengan metode lain di atas, karena hanya sedikit bahan aktif yang memiliki kondisi pencetakan langsung yang dapat dicetak. Di antara metode granulasi ini, metode granulasi basah memiliki peran yang paling banyak.
Setelah tablet diproduksi, langkah selanjutnya diperlukan evaluasi yang bertujuan untuk melakukan pengujian pada kualitas tablet yang dihasilkan. Evaluasi pada sediaan tablet terdiri dari beberapa jenis evaluasi di antaranya adalah (Erizal et al., 2020):
1. Evaluasi pada bahan baku yang digunakan
Pada proses pengujian bahan baku, dilakukan evaluasi pada sifat kimia & fisika pada bahan yang telah digunakan untuk proses pembuatan dari tablet yang disesuaikan dengan monografi setiap bahan.
2. Evaluasi pada granul
Pengujian granul meliputi kandungan bahan aktif, kadar air, distribusi ukuran partikel granul, stabilitas bahan aktif, berat jenis sebenarnya, berat jenis sebenarnya, densitas inkompresibel, porositas, laju alir granul, sudut istirahat, dan verifikasi kompatibilitas.
3. Evaluasi pada proses yang dilalui
Pengujian dalam proses meliputi evaluasi yang dilaksanakan saat dilakukannya proses pada pembuatan tablet. Evaluasi yang dilakukan meliputi kadar bahan aktif di dalam granul, kesamaan bahan aktif yang terkandung, serta evaluasi pada granul yang lain. Selain itu, dilakukan pula evaluasi pada fabrikasi pembuatan sediaan tablet agar teratur.
4. Evaluasi pada tablet yang sudah jadi
Evaluasi dilakukan untuk menentukan kualitas tablet untuk memastikan keamanan dan kemanjurannya. Jadi, Evaluasi tablet meliputi kenampakan tablet, keseragaman ukuran, keseragaman bobot, kekerasan tablet, penentuan kandungan obat, keseragaman kandungan obat, kerapuhan (brittleness), waktu hancur, stabilitas obat, dan pengujian disolusi obat dari formulasi tablet.
Penutup
Tablet adalah bentuk sediaan yang paling umum dan sering digunakan dalam kombinasi dengan bentuk sediaan lainnya.
Hal ini membuat tablet nyaman digunakan dalam hal pengobatan sendiri, kemudahan dosis, akurasi dosis yang lebih tepat, pencegahan rasa sakit, fleksibilitas dan proses pembuatan yang relatif efisien untuk meminimalkan harga jual karena merupakan bentuk sediaan yang fleksibel.
Terdapat beberapa ketentuan agar tablet dapat dikatakan sebagai sediaan obat yang baik ketentuan tersebut di antaranya adalah tablet memiliki daya tahan terhadap pengaruh mekanis tidak ada kerusakan, terjaminnya stabilitas fisik dan zat yang memiliki khasiat dapat dilepaskan dengan benar, terjaminnya bentuk dan manfaat serta bau, rasa, dan bentuk yang menarik.
Selain itu, evaluasi pada sediaan tablet perlu untuk dilakukan agar kualitas tablet sebagai sediaan dapat teruji dengan baik sehingga akan memberikan efek yang optimal saat digunakan.
Penulis: Faradhila Venesha W. (120033)
Mahasiswa DIII-Farmasi Politeknik Kesehatan Hermina Jakarta
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Daftar Pustaka
Anief, M. (1998). Ilmu Meracik Obat. Gadjah Mada University Press.
Erizal, Nofita, R., Febritenti, Hasanah, U., & Jessica, A. (2020). Praktikum Teknologi Sediaan Padat. 1–48.
Murtini, G., & Elisa, Y. (2018). Teknologi Sediaan Solid. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Rahul, M., Bhagwat, P., Patil, S., Shetkar, M., & Chavan, D. (2014). A review on immediate release drug delivery system. PharmaTutor Research Journal of Pharmaceutical, Biological and Chemical Sciences, 2(8), 95–109.
Tungadi, R. (2017). Teknologi Sediaan Solida. Wade Group.
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













