Evaluasi tablet merupakan proses penting dalam industri farmasi untuk memastikan mutu, keamanan, dan efektivitas obat padat sebelum dipasarkan. Tablet termasuk salah satu bentuk sediaan obat yang paling banyak digunakan oleh masyarakat karena praktis dan mudah dikonsumsi.
Oleh karena itu, setiap tablet wajib melalui serangkaian uji mutu sesuai standar Farmakope Indonesia maupun pedoman internasional.
Proses evaluasi melibatkan berbagai aspek, mulai dari keseragaman bobot, ukuran, kekerasan, kerapuhan, hingga waktu hancur tablet. Setiap parameter memiliki peran penting dalam menentukan kualitas obat sehingga dapat bekerja secara optimal sesuai dosis yang ditentukan.
Tanpa adanya uji mutu yang ketat, risiko penyimpangan dapat terjadi, misalnya perbedaan bobot tablet yang berpotensi menimbulkan overdosis atau subdosis pada pasien.
Selain itu, evaluasi tablet juga membantu industri farmasi menjaga konsistensi produk agar tetap memenuhi standar kualitas global. Hal ini sangat penting mengingat tablet diproduksi dalam jumlah besar dengan metode kempa langsung, granulasi basah, atau cetak.
Evaluasi yang tepat akan memberikan jaminan kepada masyarakat bahwa obat yang mereka konsumsi aman, efektif, dan sesuai ketentuan Farmakope Indonesia.
1. Pengertian Evaluasi Tablet
Evaluasi tablet merupakan salah satu tahap penting dalam industri farmasi untuk memastikan bahwa sediaan padat yang diproduksi memenuhi standar mutu. Tablet sebagai bentuk obat padat yang paling banyak digunakan harus melewati serangkaian pengujian sebelum dinyatakan aman untuk dikonsumsi.
Proses evaluasi ini bukan hanya sekadar prosedur teknis, melainkan bagian dari sistem jaminan kualitas yang diatur oleh Farmakope Indonesia serta pedoman internasional lain seperti United States Pharmacopeia (USP).
Selain itu, evaluasi tablet juga berfungsi sebagai indikator konsistensi produksi. Setiap tablet yang diproduksi dalam jumlah besar harus memiliki bobot, ukuran, kekerasan, serta waktu hancur yang seragam.
Tanpa adanya evaluasi, risiko terjadinya ketidaksesuaian mutu akan meningkat, seperti perbedaan dosis, tablet rapuh, atau tablet yang gagal hancur sesuai waktu standar. Oleh sebab itu, evaluasi tablet menjadi proses esensial untuk menjaga keamanan pasien serta efektivitas terapi obat.
Definisi Evaluasi Tablet Menurut Para Ahli dan Farmakope Indonesia
Menurut Farmakope Indonesia edisi V, evaluasi tablet adalah serangkaian uji mutu yang dilakukan pada sediaan padat berbentuk tablet untuk memastikan keseragaman, kekerasan, waktu hancur, serta stabilitasnya.
Definisi ini sejalan dengan pandangan ahli farmasi modern yang menyatakan bahwa evaluasi tablet merupakan kombinasi antara pengujian fisik, kimia, dan biologis guna menjamin mutu obat.
Evaluasi tablet bukan hanya mengukur aspek fisik seperti bobot atau ketebalan, tetapi juga mengamati performa tablet saat digunakan pasien. Misalnya, waktu hancur tablet harus sesuai standar agar zat aktif bisa dilepaskan dan diserap tubuh secara optimal.
Jika tablet tidak memenuhi syarat mutu, maka risiko kegagalan terapi akan meningkat. Dengan demikian, definisi evaluasi tablet tidak hanya terbatas pada pemeriksaan laboratorium, tetapi juga mencakup pemastian kualitas obat yang dikonsumsi masyarakat.
Peran Evaluasi Tablet dalam Menjaga Mutu Sediaan Farmasi
Peran evaluasi tablet sangat vital dalam industri farmasi modern. Setiap tahap produksi harus diawasi secara ketat, mulai dari pemilihan bahan baku, proses pencetakan, hingga pengemasan akhir.
Evaluasi tablet memastikan bahwa seluruh proses tersebut menghasilkan produk dengan kualitas seragam dan sesuai standar. Hal ini penting karena sedikit saja penyimpangan dapat berdampak besar pada keamanan dan efektivitas obat.
Selain itu, evaluasi tablet juga menjadi alat kontrol mutu yang membantu industri mencegah masalah produksi. Misalnya, jika ditemukan adanya penyimpangan bobot tablet, pabrik dapat segera melakukan perbaikan proses sebelum produk dipasarkan.
Dengan cara ini, evaluasi tablet tidak hanya melindungi pasien dari risiko kesehatan, tetapi juga menjaga reputasi produsen farmasi. Oleh karena itu, evaluasi tablet dapat dianggap sebagai fondasi utama dalam menjamin keberhasilan terapi obat yang diberikan kepada masyarakat.
2. Tujuan Evaluasi Tablet
Evaluasi tablet dilakukan bukan hanya sebagai prosedur teknis, tetapi juga sebagai langkah strategis untuk memastikan kualitas obat.
Tablet yang diproduksi dalam jumlah besar harus tetap konsisten dalam bobot, ukuran, kekerasan, dan waktu hancur. Tanpa adanya tujuan yang jelas, proses evaluasi tidak akan mampu memberikan jaminan mutu bagi pasien maupun produsen.
Selain itu, tujuan evaluasi tablet juga berkaitan langsung dengan keamanan penggunaan obat. Pasien mengandalkan tablet sebagai bentuk sediaan farmasi yang praktis dan efektif.
Dengan adanya evaluasi, setiap tablet yang beredar dipastikan memenuhi standar mutu yang berlaku, sehingga terapi obat dapat berjalan sesuai harapan tanpa menimbulkan risiko berbahaya.
Menjamin Keamanan dan Efektivitas Obat
Keamanan pasien merupakan prioritas utama dalam industri farmasi. Evaluasi tablet dilakukan untuk memastikan bahwa setiap tablet memiliki dosis zat aktif yang sesuai standar.
Jika terjadi penyimpangan dosis akibat bobot tablet yang tidak seragam, pasien berisiko mengalami overdosis atau sebaliknya, dosis yang terlalu rendah. Kedua kondisi tersebut dapat menurunkan efektivitas terapi.
Selain dosis, evaluasi juga mengukur efektivitas pelepasan zat aktif. Tablet harus hancur sesuai waktu yang ditetapkan agar obat dapat diserap tubuh dengan baik.
Evaluasi ini membantu memastikan bahwa terapi obat memberikan manfaat maksimal bagi pasien tanpa menimbulkan efek samping yang merugikan. Dengan kata lain, tujuan utama evaluasi tablet adalah menjamin keamanan serta efektivitas penggunaan obat pada masyarakat luas.
Mengontrol Kualitas Produksi Tablet
Evaluasi tablet juga memiliki tujuan penting dalam mengontrol kualitas produksi. Proses pembuatan tablet melibatkan tahapan kompleks mulai dari pencampuran bahan aktif dan eksipien, granulasi, hingga pencetakan dengan mesin kempa. Setiap tahapan berpotensi menimbulkan variasi yang dapat memengaruhi mutu produk akhir.
Dengan adanya evaluasi, produsen dapat memastikan bahwa setiap batch tablet memiliki standar mutu yang sama. Uji keseragaman bobot, ukuran, serta kerapuhan membantu mendeteksi adanya kesalahan produksi lebih awal.
Hal ini memungkinkan pabrik melakukan perbaikan segera sebelum produk dipasarkan. Jadi, evaluasi tablet berfungsi sebagai pengendali kualitas sekaligus pencegah kerugian besar akibat produk cacat.
Memastikan Kesesuaian dengan Standar Farmakope
Setiap negara memiliki regulasi farmakope yang mengatur standar mutu obat, termasuk Indonesia melalui Farmakope Indonesia (FI). \Evaluasi tablet dilakukan untuk memastikan bahwa produk yang beredar telah memenuhi standar tersebut. Beberapa uji penting seperti waktu hancur, keseragaman bobot, dan kekerasan tablet harus sesuai batas yang ditentukan FI.
Kesesuaian dengan standar farmakope tidak hanya melindungi pasien, tetapi juga memberikan jaminan kepercayaan terhadap industri farmasi. Produk yang lolos evaluasi akan lebih mudah diterima baik di pasar lokal maupun internasional.
Dengan demikian, tujuan evaluasi tablet bukan hanya menjaga kualitas, tetapi juga meningkatkan daya saing industri farmasi Indonesia di kancah global.
3. Dasar Teori Evaluasi Tablet
Evaluasi tablet tidak bisa dilepaskan dari teori dasar farmasetika yang menjadi fondasi dalam pembuatan dan pengujian obat.
Setiap parameter evaluasi memiliki penjelasan ilmiah yang menjelaskan mengapa uji tersebut penting dilakukan. Misalnya, keseragaman bobot tablet berkaitan dengan dosis obat yang harus konsisten, sementara uji waktu hancur berhubungan langsung dengan kecepatan pelepasan zat aktif di dalam tubuh.
Selain itu, teori farmakope juga menegaskan bahwa kualitas tablet dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari jenis bahan aktif, komposisi eksipien, hingga metode produksi yang digunakan.
Oleh sebab itu, dasar teori evaluasi tablet menjadi landasan utama yang harus dipahami produsen farmasi agar mampu menghasilkan produk bermutu tinggi dan sesuai standar regulasi.
Prinsip Farmasetika dalam Pembuatan Tablet
Farmasetika adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara sifat fisikokimia obat dan bentuk sediaannya. Dalam pembuatan tablet, prinsip farmasetika menekankan pentingnya penggunaan eksipien yang tepat agar tablet memiliki kekuatan mekanik, kestabilan, dan waktu hancur sesuai syarat.
Misalnya, pengikat digunakan untuk menjaga tablet tetap utuh, sementara disintegran ditambahkan agar tablet cepat hancur ketika dikonsumsi.
Prinsip farmasetika juga menyoroti pentingnya teknik produksi. Metode kempa langsung dan granulasi basah memiliki karakteristik berbeda yang memengaruhi hasil tablet.
Jika prinsip farmasetika diabaikan, tablet yang dihasilkan mungkin rapuh, terlalu keras, atau tidak terdisolusi dengan baik. Oleh karena itu, pemahaman teori ini menjadi dasar utama dalam setiap proses evaluasi tablet.
Hubungan Eksipien dengan Kualitas Tablet
Eksipien adalah bahan tambahan nonaktif yang digunakan dalam formulasi tablet. Meskipun tidak memiliki efek farmakologis, peran eksipien sangat penting dalam menentukan mutu tablet.
Misalnya, bahan pengisi digunakan untuk memberikan bobot, bahan pelicin mencegah tablet lengket pada mesin, dan bahan penghancur mempercepat proses disintegrasi.
Evaluasi tablet memperhatikan bagaimana kombinasi eksipien memengaruhi kualitas produk akhir. Tablet dengan eksipien yang tidak seimbang dapat mengalami penyimpangan bobot, kerapuhan tinggi, atau waktu hancur yang tidak sesuai.
Oleh karena itu, hubungan antara eksipien dan mutu tablet harus diperhatikan sejak tahap formulasi hingga evaluasi akhir.
Teori Disolusi dan Waktu Hancur
Salah satu aspek penting dalam evaluasi tablet adalah uji disolusi, yang mengukur kecepatan zat aktif larut ke dalam cairan tubuh.
Teori disolusi menjelaskan bahwa obat harus larut terlebih dahulu sebelum dapat diserap tubuh. Jika tablet gagal larut sesuai waktu yang ditentukan, efektivitas obat akan menurun.
Waktu hancur menjadi indikator awal sebelum proses disolusi terjadi. Tablet yang terlalu lama hancur dapat menunda pelepasan obat, sedangkan tablet yang terlalu cepat hancur berpotensi menimbulkan iritasi.
Oleh karena itu, evaluasi tablet selalu menekankan uji waktu hancur dan disolusi sesuai standar Farmakope Indonesia. Teori ini memastikan bahwa obat bekerja tepat waktu dan memberikan manfaat terapi yang optimal.
4. Metode Pembuatan Tablet
Proses pembuatan tablet merupakan tahapan penting yang menentukan mutu dan kualitas obat padat. Dalam farmasi, terdapat beberapa metode produksi yang digunakan, di antaranya granulasi basah, granulasi kering, dan kempa langsung.
Masing-masing metode memiliki kelebihan, kelemahan, serta syarat bahan tertentu yang perlu dipenuhi agar menghasilkan tablet sesuai standar mutu.
Pemilihan metode pembuatan biasanya ditentukan berdasarkan sifat bahan aktif, jenis eksipien, serta skala produksi.
Misalnya, bahan aktif yang sensitif terhadap panas lebih cocok diproduksi menggunakan kempa langsung daripada granulasi basah. Dengan memahami metode pembuatan, produsen farmasi dapat menyesuaikan teknik yang tepat untuk menjamin kualitas tablet sekaligus efisiensi proses produksi.
Metode Granulasi Basah
Granulasi basah merupakan metode paling umum digunakan dalam industri farmasi. Proses ini melibatkan pencampuran bahan aktif dengan eksipien, kemudian ditambahkan larutan pengikat untuk membentuk massa lembap. Massa tersebut lalu diayak menjadi granul, dikeringkan, dan akhirnya dikempa menjadi tablet.
Kelebihan metode granulasi basah adalah menghasilkan tablet dengan kekerasan yang baik, distribusi zat aktif merata, serta mengurangi risiko segregasi partikel.
Namun, kelemahannya terletak pada waktu produksi yang lebih lama serta ketidakcocokan untuk bahan yang mudah rusak oleh panas atau kelembapan. Evaluasi tablet yang dibuat dengan metode ini biasanya berfokus pada kekerasan, kerapuhan, serta keseragaman bobot granul.
Metode Granulasi Kering
Berbeda dari granulasi basah, metode granulasi kering dilakukan tanpa penggunaan cairan pengikat. Proses ini umumnya dipilih untuk bahan aktif yang tidak stabil terhadap air atau panas. P
ada teknik ini, bahan campuran dipadatkan terlebih dahulu menggunakan mesin rol atau slugging, kemudian dihancurkan dan diayak menjadi granul sebelum akhirnya dikempa menjadi tablet.
Kelebihan metode ini adalah lebih cepat dan cocok untuk bahan sensitif. Namun, kelemahannya yaitu tablet yang dihasilkan sering kali memiliki kekerasan rendah dan waktu hancur tidak seragam.
Oleh karena itu, evaluasi tablet granulasi kering sangat penting, terutama pada aspek kerapuhan, keseragaman ukuran, serta disolusi.
Metode Kempa Langsung
Metode kempa langsung adalah teknik produksi tablet yang paling efisien karena tidak memerlukan tahapan granulasi.
Bahan aktif dan eksipien yang memiliki sifat alir baik dicampur lalu langsung dikempa menjadi tablet. Proses ini sangat menghemat waktu dan biaya karena langkah produksi lebih singkat.
Namun, metode kempa langsung membutuhkan bahan dengan sifat kohesif dan kompresibilitas tinggi. Jika bahan tidak memenuhi syarat, tablet yang dihasilkan mudah retak atau rapuh.
Evaluasi tablet kempa langsung biasanya berfokus pada kekerasan, kerapuhan, dan keseragaman bobot. Metode ini banyak digunakan pada skala besar karena lebih ekonomis.
Perbedaan Tablet Kempa dan Tablet Cetak
Tablet kempa dibuat menggunakan tekanan tinggi dari mesin press, sedangkan tablet cetak dibentuk dengan cara pencetakan menggunakan cetakan khusus.
Perbedaan utama terletak pada kekuatan tablet. Tablet kempa umumnya lebih padat dan stabil, sementara tablet cetak cenderung lebih rapuh.
Dari sisi produksi, tablet kempa lebih efisien dan umum digunakan di industri farmasi modern. Sedangkan tablet cetak lebih jarang digunakan karena keterbatasan teknologi serta mutu yang kurang konsisten.
Evaluasi tablet kempa dan cetak tetap dilakukan pada aspek yang sama, seperti bobot, kekerasan, kerapuhan, dan waktu hancur, untuk memastikan keduanya memenuhi standar Farmakope Indonesia.
5. Jenis-Jenis Tablet Farmasi
Tablet merupakan sediaan obat padat yang paling beragam jenisnya. Variasi tablet dibuat untuk menyesuaikan kebutuhan pasien, sifat zat aktif, serta tujuan terapi. Setiap jenis tablet memiliki karakteristik unik, baik dari segi bentuk, cara penggunaan, maupun teknologi yang digunakan dalam pembuatannya.
Dalam industri farmasi, klasifikasi tablet dapat dibagi berdasarkan cara penggunaannya, lapisan pelindung, hingga metode penghantaran obat.
Misalnya, ada tablet salut untuk melindungi zat aktif dari asam lambung, tablet sublingual untuk penyerapan cepat di bawah lidah, hingga tablet effervescent yang dilarutkan terlebih dahulu sebelum diminum. Setiap jenis tablet memiliki evaluasi mutu tersendiri agar sesuai standar farmakope.
Tablet Salut (Film, Enterik, Gula)
Tablet salut adalah tablet yang dilapisi bahan pelindung untuk tujuan tertentu. Salut film menggunakan lapisan tipis polimer yang membuat tablet lebih kuat dan tahan terhadap kelembapan.
Salut enterik dirancang agar tablet tidak hancur di lambung, tetapi larut di usus, sehingga melindungi zat aktif dari asam lambung. Sedangkan salut gula menggunakan lapisan manis untuk menutupi rasa pahit obat.
Evaluasi tablet salut meliputi uji waktu hancur, kekerasan, serta ketebalan lapisan. Misalnya, tablet salut enterik harus lolos uji ketahanan asam sebelum larut pada kondisi basa.
Dengan adanya lapisan salut, pasien lebih mudah mengonsumsi tablet sekaligus meningkatkan stabilitas zat aktif.
Tablet Sublingual dan Bukal
Tablet sublingual diletakkan di bawah lidah, sedangkan tablet bukal ditempatkan di antara gusi dan pipi. Keduanya dirancang untuk hancur cepat dan zat aktif langsung terserap ke aliran darah melalui mukosa mulut. Metode ini menghindari metabolisme pertama di hati sehingga efek obat muncul lebih cepat.
Evaluasi tablet sublingual dan bukal fokus pada waktu hancur yang sangat singkat, biasanya kurang dari 2 menit.
Tablet jenis ini banyak digunakan pada obat jantung seperti nitrogliserin yang membutuhkan efek segera. Dengan evaluasi yang ketat, tablet sublingual dapat memberikan terapi cepat tanpa menunggu proses pencernaan.
Tablet Kunyah dan Effervescent
Tablet kunyah dirancang agar dikunyah sebelum ditelan. Biasanya diberikan untuk anak-anak atau pasien yang kesulitan menelan tablet biasa.
Tablet effervescent berbeda karena harus dilarutkan dalam air sebelum diminum, menghasilkan larutan berkarbonasi yang lebih mudah dikonsumsi.
Evaluasi tablet kunyah menekankan pada rasa, tekstur, dan waktu hancur setelah dikunyah. Sedangkan tablet effervescent dievaluasi dari kecepatan larut, kestabilan zat aktif, serta rasa larutan yang dihasilkan.
Kedua jenis tablet ini memudahkan pasien yang memerlukan sediaan obat lebih praktis dan nyaman.
Kaplet dan Perbedaannya dengan Tablet
Kaplet merupakan bentuk modifikasi tablet yang memiliki bentuk lonjong menyerupai kapsul. Desain ini dibuat agar lebih mudah ditelan dibandingkan tablet bulat besar.
Selain itu, kaplet biasanya dilapisi film tipis sehingga permukaannya lebih halus.
Perbedaan utama kaplet dengan tablet biasa adalah bentuk, kemudahan menelan, serta lapisan pelindung. Evaluasi kaplet dilakukan dengan parameter yang sama seperti tablet, yaitu keseragaman bobot, kekerasan, dan waktu hancur.
Kaplet sering dipilih untuk obat dengan dosis tinggi karena lebih nyaman dikonsumsi oleh pasien.
6. Uji Evaluasi Tablet Menurut Farmakope Indonesia
Evaluasi tablet tidak terlepas dari standar yang ditetapkan oleh Farmakope Indonesia. Setiap tablet yang diproduksi harus melewati serangkaian uji fisik untuk memastikan mutu, keamanan, serta konsistensinya.
Pengujian ini mencakup aspek visual, keseragaman bobot, ukuran, kekerasan, kerapuhan, waktu hancur, hingga uji disolusi. Masing-masing parameter memiliki tujuan yang berbeda tetapi saling melengkapi untuk menjamin kualitas produk akhir.
Pelaksanaan uji evaluasi tablet biasanya menggunakan alat khusus dan metode standar yang sudah diakui secara internasional. Produsen farmasi wajib mematuhi aturan ini agar tablet yang dihasilkan dapat diterima baik di pasar lokal maupun global.
Tanpa adanya evaluasi sesuai Farmakope, tablet berisiko tidak efektif atau bahkan membahayakan pasien. Oleh sebab itu, uji mutu tablet menjadi fondasi penting dalam regulasi farmasi modern.
Uji Visual Tablet
Uji visual dilakukan untuk menilai tampilan fisik tablet secara kasat mata. Parameter yang diperhatikan meliputi warna, bentuk, permukaan, rasa, bau, serta adanya cacat fisik seperti retakan atau bercak. Penampilan tablet sangat penting karena memengaruhi penerimaan pasien terhadap produk.
Tablet dengan tampilan menarik akan lebih mudah diterima, sementara cacat fisik dapat menurunkan kepercayaan konsumen. Walaupun sederhana, uji visual menjadi tahap awal penting sebelum masuk ke pengujian laboratorium yang lebih kompleks.
Uji Keseragaman Bobot Tablet
Keseragaman bobot tablet berhubungan langsung dengan konsistensi dosis obat. Farmakope Indonesia mengatur bahwa variasi bobot tablet tidak boleh melebihi batas tertentu, misalnya ±5% dari bobot rata-rata untuk tablet dengan berat tertentu.
Pengujian dilakukan dengan menimbang sejumlah tablet lalu menghitung deviasi bobot rata-rata. Jika penyimpangan terlalu besar, maka proses produksi harus dievaluasi kembali. Hal ini penting karena bobot yang tidak seragam dapat menyebabkan perbedaan dosis, yang pada akhirnya memengaruhi efektivitas terapi.
Uji Keseragaman Ukuran Tablet
Selain bobot, ukuran tablet juga harus seragam. Parameter ini meliputi diameter, ketebalan, dan tinggi tablet. Pengujian biasanya dilakukan menggunakan jangka sorong atau alat ukur digital presisi tinggi.
Ukuran tablet berpengaruh pada kenyamanan pasien saat menelan obat. Tablet yang terlalu besar sulit ditelan, sedangkan tablet terlalu tipis lebih mudah pecah. Oleh karena itu, keseragaman ukuran menjadi salah satu syarat mutu yang wajib dipenuhi.
Uji Kekerasan Tablet
Uji kekerasan tablet bertujuan mengukur daya tahan tablet terhadap tekanan mekanis selama proses produksi, pengemasan, distribusi, hingga penyimpanan. Tablet yang terlalu lunak mudah hancur sebelum digunakan, sedangkan tablet terlalu keras sulit larut dalam tubuh.
Pengujian biasanya dilakukan dengan alat uji kekerasan manual atau digital. Standar kekerasan berbeda untuk tiap jenis tablet, tetapi umumnya tablet harus cukup kuat menahan guncangan sekaligus tetap mudah hancur sesuai waktu yang ditentukan.
Uji Kerapuhan (Friabilitas) Tablet
Kerapuhan tablet diukur untuk mengetahui sejauh mana tablet dapat bertahan terhadap gesekan. Pengujian dilakukan menggunakan friabilator, yaitu alat yang memutar tablet dalam drum berputar. Setelah sejumlah putaran, tablet ditimbang kembali untuk menghitung kehilangan bobot.
Standar Farmakope menetapkan bahwa kehilangan bobot akibat kerapuhan tidak boleh lebih dari 1%. Jika melebihi batas, maka tablet dianggap rapuh dan kualitas produksinya harus diperbaiki. Uji ini sangat penting untuk memastikan tablet tetap utuh hingga sampai ke tangan pasien.
Uji Waktu Hancur Tablet
Waktu hancur tablet menunjukkan lamanya tablet terurai menjadi partikel kecil dalam medium cair. Farmakope Indonesia menetapkan batas waktu hancur berbeda untuk tiap jenis tablet, misalnya 15 menit untuk tablet tidak bersalut dan 60 menit untuk tablet salut enterik.
Uji ini menggunakan alat uji waktu hancur dengan medium cairan tertentu pada suhu 37°C. Hasil pengujian memastikan bahwa tablet dapat melepaskan zat aktif tepat waktu sehingga efek terapi muncul sesuai kebutuhan pasien.
Uji Disolusi Tablet
Uji disolusi mengukur kecepatan dan jumlah zat aktif yang terlarut ke dalam cairan tubuh. Tes ini sangat penting karena berhubungan langsung dengan bioavailabilitas obat, yaitu seberapa banyak zat aktif tersedia di aliran darah setelah dikonsumsi.
Farmakope menetapkan persyaratan minimum jumlah obat yang harus larut dalam waktu tertentu. Misalnya, minimal 80% zat aktif harus larut dalam 30 menit. Jika tablet gagal memenuhi syarat, maka efektivitasnya diragukan dan produk harus diperbaiki sebelum dipasarkan.
7. Evaluasi Sediaan Granul
Granul merupakan bentuk perantara yang sangat penting dalam proses pembuatan tablet. Sebelum dicetak menjadi tablet, bahan aktif dan eksipien biasanya diolah menjadi granul terlebih dahulu agar memiliki sifat alir dan kompresibilitas yang baik.
Evaluasi sediaan granul dilakukan untuk memastikan kualitas granul memenuhi syarat sehingga tablet yang dihasilkan stabil dan konsisten.
Beberapa parameter yang diuji pada granul meliputi kadar lembab, waktu alir, kompresibilitas, serta keseragaman ukuran partikel.
Setiap parameter memiliki peran penting, misalnya kadar lembab berhubungan dengan kestabilan penyimpanan, sedangkan waktu alir menentukan kelancaran proses pencetakan tablet. Dengan evaluasi yang tepat, granul dapat menghasilkan tablet yang memenuhi standar Farmakope Indonesia.
Uji Kadar Lembab Granul
Kadar lembab granul sangat berpengaruh terhadap kualitas tablet. Granul yang terlalu lembab rentan menggumpal dan menurunkan kestabilan zat aktif. Sebaliknya, granul yang terlalu kering dapat menyebabkan tablet rapuh. Oleh sebab itu, uji kadar lembab menjadi salah satu tahapan penting dalam evaluasi granul.
Pengujian kadar lembab biasanya menggunakan alat moisture analyzer. Standar Farmakope menetapkan kadar lembab ideal bervariasi tergantung jenis granul dan bahan aktif, tetapi umumnya berada pada kisaran 2–5%.
Hasil uji ini membantu memastikan granul dalam kondisi optimal sebelum masuk tahap pencetakan tablet.
Uji Waktu Alir dan Kompresibilitas
Waktu alir granul menunjukkan seberapa cepat partikel mengalir melalui corong atau alat khusus. Granul dengan waktu alir yang baik akan memudahkan proses pengisian die pada mesin tablet. Standar waktu alir biasanya tidak boleh melebihi beberapa detik per gram bahan.
Selain waktu alir, kompresibilitas juga diuji untuk menilai kemampuan granul dipadatkan menjadi tablet.
Uji ini melibatkan pengukuran kerapatan curah dan kerapatan mampat. Semakin tinggi nilai kompresibilitas, semakin mudah granul diproses menjadi tablet yang padat dan stabil. Evaluasi ini sangat penting untuk mencegah terjadinya tablet rapuh atau retak.
Persen Penyimpangan Bobot Tablet
Persen penyimpangan bobot tablet dapat ditentukan sejak tahap granulasi. Jika ukuran granul tidak seragam, maka bobot tablet hasil pencetakan juga akan bervariasi.
Oleh sebab itu, evaluasi granul membantu mencegah terjadinya penyimpangan bobot yang terlalu besar pada produk akhir.
Farmakope Indonesia memberikan batas toleransi penyimpangan bobot berdasarkan berat tablet. Misalnya, tablet dengan bobot lebih dari 250 mg memiliki toleransi ±5%. Dengan mengontrol kualitas granul, produsen dapat mengurangi risiko penyimpangan bobot dan menjaga konsistensi dosis obat.
8. Evaluasi Kapsul Menurut Farmakope Indonesia
Selain tablet, kapsul juga termasuk sediaan padat yang banyak digunakan dalam terapi obat. Bentuk kapsul lebih mudah ditelan karena memiliki permukaan licin, sehingga sering dipilih sebagai alternatif tablet berukuran besar. Sama seperti tablet, kapsul harus dievaluasi sesuai standar Farmakope Indonesia sebelum dipasarkan.
Evaluasi kapsul meliputi keseragaman bobot, waktu hancur, serta kerapuhan. Meskipun parameter uji tidak sebanyak tablet, standar mutu kapsul tetap ketat. Hal ini dilakukan agar kapsul yang beredar aman, efektif, dan dapat menjaga stabilitas zat aktif di dalamnya.
Keseragaman Bobot Kapsul
Keseragaman bobot kapsul berhubungan dengan konsistensi dosis obat yang dikandungnya. Farmakope Indonesia menetapkan toleransi deviasi bobot kapsul serupa dengan tablet, yaitu tidak boleh melebihi batas tertentu dari bobot rata-rata.
Pengujian dilakukan dengan menimbang sejumlah kapsul, mengosongkan isinya, lalu menghitung bobot cangkang dan isinya. Jika deviasi terlalu besar, berarti pengisian kapsul tidak seragam dan proses produksi harus diperbaiki.
Uji Waktu Hancur Kapsul
Kapsul harus hancur dalam waktu tertentu agar zat aktif dapat dilepaskan dan diserap tubuh. Farmakope Indonesia mengatur waktu hancur kapsul keras biasanya tidak lebih dari 30 menit.
Uji dilakukan menggunakan alat uji waktu hancur dengan medium cairan simulasi lambung pada suhu 37°C. Jika kapsul gagal hancur sesuai waktu, maka efektivitas obat dapat menurun dan kualitas produk dinyatakan tidak memenuhi syarat.
Uji Kerapuhan Kapsul
Walaupun jarang dibahas seperti tablet, kapsul juga dievaluasi tingkat kerapuhannya. Uji ini memastikan cangkang kapsul cukup kuat selama proses distribusi dan penyimpanan. Cangkang kapsul yang rapuh berisiko pecah, sehingga dosis obat tidak lagi konsisten.
Pengujian biasanya dilakukan secara mekanis untuk melihat kekuatan kapsul terhadap guncangan atau gesekan. Standar kerapuhan ditetapkan agar kapsul tetap utuh hingga sampai ke tangan pasien.
9. Alat Evaluasi Tablet
Evaluasi tablet tidak bisa dilakukan hanya dengan observasi visual, melainkan memerlukan serangkaian alat khusus.
Peralatan ini membantu memastikan setiap parameter uji, mulai dari bobot, ukuran, kekerasan, kerapuhan, hingga waktu hancur, sesuai standar Farmakope Indonesia. Tanpa alat yang tepat, hasil evaluasi bisa tidak akurat dan berpotensi membahayakan pasien.
Alat evaluasi tablet dikembangkan khusus untuk memudahkan produsen dalam menguji kualitas sediaan.
Sebagian besar alat bekerja otomatis dan terstandarisasi sehingga hasil pengujian bisa konsisten. Dengan penggunaan alat evaluasi, produsen farmasi dapat menjamin mutu tablet yang dihasilkan tetap terjaga.
Alat Uji Keseragaman Bobot Tablet
Keseragaman bobot tablet diuji menggunakan timbangan analitik dengan tingkat ketelitian sangat tinggi. Alat ini mampu mengukur bobot tablet hingga empat angka desimal. Beberapa produsen juga menggunakan timbangan digital otomatis yang dapat menimbang banyak tablet sekaligus.
Tujuannya adalah memastikan bobot rata-rata sesuai dengan persyaratan. Penyimpangan bobot yang terlalu besar menunjukkan proses pencetakan tablet tidak stabil.
Alat Uji Keseragaman Ukuran Tablet
Keseragaman ukuran tablet diuji menggunakan jangka sorong atau mikrometer. Kedua alat ini dapat mengukur diameter dan ketebalan tablet dengan akurasi tinggi. Ukuran tablet yang terlalu besar bisa menyulitkan pasien menelan obat, sedangkan ukuran terlalu tipis rentan menyebabkan keretakan.
Oleh sebab itu, Farmakope Indonesia menetapkan batas toleransi ukuran yang harus dipatuhi. Alat ukur ini membantu memastikan setiap batch tablet konsisten dari segi dimensi.
Alat Uji Kekerasan Tablet
Kekerasan tablet diuji menggunakan hardness tester. Terdapat dua jenis alat, yaitu hardness tester manual dan digital. Alat ini menekan tablet dengan beban tertentu untuk mengetahui kekuatan pecahnya.
Nilai kekerasan yang sesuai standar memastikan tablet cukup kuat saat distribusi, tetapi tetap bisa hancur sesuai waktu yang ditentukan. Kekerasan tablet yang terlalu tinggi dapat memperlambat disintegrasi, sedangkan kekerasan terlalu rendah membuat tablet mudah patah.
Alat Kerapuhan Tablet
Kerapuhan tablet diuji menggunakan friabilator. Alat ini berbentuk drum berputar yang akan mengguncang tablet selama periode tertentu. Setelah pengujian, tablet ditimbang kembali untuk melihat berapa persen bobot yang hilang.
Standar kerapuhan yang diperbolehkan biasanya tidak lebih dari 1%. Jika lebih, maka tablet dianggap terlalu rapuh dan tidak layak dipasarkan.
Alat Uji Waktu Hancur Tablet
Waktu hancur tablet diuji menggunakan disintegration tester. Alat ini terdiri dari tabung kecil dengan saringan yang bergerak naik turun dalam medium cairan pada suhu 37°C.
Uji ini menilai apakah tablet dapat hancur sesuai standar waktu Farmakope. Tablet salut, misalnya, memiliki waktu hancur lebih lama dibandingkan tablet tanpa salut. Hasil uji membantu memastikan obat bekerja sesuai yang diharapkan.
10. Perbedaan Tablet dan Kaplet
Tablet dan kaplet sama-sama termasuk sediaan padat yang dikonsumsi secara oral. Namun, keduanya memiliki perbedaan signifikan baik dari segi bentuk, proses produksi, maupun karakteristik penggunaan.
Mengetahui perbedaan ini penting, terutama bagi pasien dan tenaga kesehatan, agar tidak terjadi kesalahpahaman saat mengonsumsi obat.
Tablet umumnya berbentuk bulat atau oval dengan permukaan datar atau cembung, sedangkan kaplet berbentuk lonjong menyerupai kapsul. Dari segi konsumsi, kaplet lebih mudah ditelan karena desainnya yang ramping, sementara tablet bulat berukuran besar sering menyulitkan pasien.
Perbedaan dari Segi Bentuk dan Desain
Bentuk tablet biasanya lebih bervariasi, mulai dari bulat, oval, hingga berbentuk khusus seperti hati atau segitiga. Kaplet cenderung memiliki bentuk standar lonjong agar mempermudah proses menelan.
Perbedaan desain ini juga memengaruhi persepsi pasien. Tablet besar sering menimbulkan rasa tidak nyaman, sedangkan kaplet lebih disukai karena lebih praktis. Industri farmasi banyak memproduksi kaplet untuk obat-obatan dosis tinggi agar pasien tidak kesulitan menelan.
Perbedaan dari Segi Proses Pembuatan
Tablet dibuat dengan cara kempa atau cetak menggunakan mesin tablet. Proses ini relatif cepat dan ekonomis, sehingga tablet menjadi bentuk sediaan paling banyak diproduksi.
Kaplet pada dasarnya juga diproduksi dengan metode kempa, tetapi sering kali dilapisi film atau salut agar permukaan lebih halus dan licin. Proses tambahan ini membuat kaplet sedikit lebih mahal, namun memberikan keuntungan dari sisi kenyamanan konsumsi dan stabilitas obat.
Perbedaan dari Segi Penggunaan
Tablet lebih fleksibel karena bisa dibuat dalam berbagai jenis, seperti tablet hisap, sublingual, effervescent, hingga orodispersible. Kaplet lebih terbatas dan umumnya hanya tersedia untuk konsumsi oral langsung.
Dari segi pengalaman pasien, kaplet lebih unggul karena mudah ditelan dan jarang menyebabkan rasa tidak nyaman. Namun, tablet tetap banyak dipilih karena variasinya lebih beragam sesuai kebutuhan terapi.
11. Formulasi Tablet Ibuprofen Granulasi Basah
Ibuprofen termasuk obat antiinflamasi nonsteroid (AINS) yang banyak digunakan untuk meredakan nyeri, demam, dan peradangan.
Salah satu bentuk sediaannya adalah tablet, yang biasanya dibuat menggunakan metode granulasi basah. Teknik ini dipilih karena dapat menghasilkan granul dengan sifat alir dan kompresibilitas lebih baik, sehingga tablet yang dihasilkan memiliki mutu tinggi.
Formulasi tablet ibuprofen melalui granulasi basah melibatkan proses pencampuran bahan aktif ibuprofen dengan eksipien tertentu.
Bahan tambahan ini berfungsi untuk meningkatkan kekompakan, mempercepat hancurnya tablet, serta memperbaiki rasa atau tampilan. Proses granulasi basah menjadi penting karena ibuprofen termasuk zat aktif yang membutuhkan kestabilan formulasi sebelum dikompresi menjadi tablet.
Uraian Bahan Ibuprofen
Ibuprofen memiliki sifat fisik berupa serbuk kristalin putih yang agak sulit larut dalam air, tetapi mudah larut dalam pelarut organik. Karena sifat kelarutannya rendah, dibutuhkan eksipien khusus agar pelepasan zat aktif dalam tubuh tetap efektif.
Dalam formulasi tablet, ibuprofen biasanya dicampur dengan bahan pengisi, penghancur, pengikat, dan pelicin. Kombinasi bahan ini membantu memastikan tablet yang dihasilkan tidak rapuh, mudah hancur, serta memberikan dosis obat yang konsisten pada setiap unitnya.
Metode Granulasi Basah pada Ibuprofen
Granulasi basah dimulai dengan mencampur ibuprofen dan eksipien, kemudian menambahkan larutan pengikat. Campuran basah ini kemudian diayak untuk membentuk granul dengan ukuran seragam. Setelah itu, granul dikeringkan hingga kadar lembabnya sesuai standar Farmakope.
Tahap akhir adalah pencampuran granul kering dengan bahan pelicin sebelum dicetak menggunakan mesin kempa tablet.
Proses ini menghasilkan tablet yang lebih stabil, memiliki kekerasan sesuai standar, dan tidak mudah hancur sebelum waktunya. Granulasi basah menjadi pilihan terbaik untuk ibuprofen karena mampu meningkatkan kualitas tablet sekaligus memperbaiki bioavailabilitas obat.
12. Jenis-Jenis Tablet Obat Farmasi
Tablet merupakan salah satu bentuk sediaan obat paling beragam dalam dunia farmasi. Keanekaragaman ini disesuaikan dengan kebutuhan terapi, cara penggunaan, serta karakteristik pasien. Setiap jenis tablet memiliki formulasi dan proses produksi yang berbeda agar dapat memberikan manfaat maksimal.
Farmakope Indonesia dan literatur farmasi modern mengklasifikasikan tablet menjadi beberapa kategori. Mulai dari tablet oral konvensional, tablet salut, tablet kunyah, hingga tablet khusus seperti sublingual dan effervescent. Masing-masing memiliki keunggulan dan tujuan penggunaan yang berbeda.
Tablet Oral Konvensional
Tablet oral konvensional adalah bentuk paling umum yang dikonsumsi dengan cara ditelan. Nah, Tablet jenis ini biasanya larut di lambung dan melepaskan zat aktif di saluran pencernaan. Proses produksinya relatif mudah, sehingga banyak digunakan untuk obat generik maupun bermerek.
Kelebihannya antara lain biaya produksi rendah dan stabilitas obat yang baik. Namun, tablet jenis ini tidak cocok untuk pasien dengan kesulitan menelan atau membutuhkan pelepasan cepat.
Tablet Salut
Tablet salut dilapisi dengan bahan tertentu, baik berupa film tipis maupun lapisan gula. Tujuan salut adalah melindungi zat aktif dari kelembaban, meningkatkan rasa, atau mengatur pelepasan obat.
Contoh penting adalah tablet salut enterik yang dirancang agar tidak hancur di lambung, melainkan di usus halus. Hal ini bermanfaat untuk obat yang dapat mengiritasi lambung atau rusak oleh asam lambung.
Tablet Kunyah
Tablet kunyah dibuat dengan tekstur yang lebih lunak dan biasanya diberi perasa agar mudah diterima pasien. Jenis Tablet ini tidak perlu ditelan langsung, melainkan dikunyah terlebih dahulu.
Jenis tablet ini sering digunakan untuk obat anak-anak, suplemen vitamin, maupun obat yang ditujukan untuk terapi ringan. Kelemahannya adalah rasa pahit bahan aktif masih bisa terasa meskipun sudah diberi perasa tambahan.
Tablet Sublingual dan Bukal
Tablet sublingual ditempatkan di bawah lidah, sedangkan tablet bukal diletakkan di antara gusi dan pipi. Kedua jenis tablet ini dirancang untuk hancur cepat dan diserap melalui mukosa mulut.
Contoh penggunaannya adalah nitrogliserin sublingual untuk terapi jantung. Keunggulan utama tablet ini adalah efek obat lebih cepat karena melewati metabolisme pertama di hati.
Tablet Effervescent
Tablet effervescent larut dalam air sebelum dikonsumsi. Nah, Tablet ini mengandung asam sitrat dan natrium bikarbonat yang menghasilkan karbon dioksida ketika bereaksi dengan air.
Kelebihan tablet effervescent adalah rasa lebih menyenangkan serta pelepasan zat aktif yang cepat. Jenis ini sangat cocok untuk pasien yang kesulitan menelan tablet padat.
13. Evaluasi Tablet Salut
Tablet salut merupakan tablet yang dilapisi dengan bahan tertentu, baik berupa film polimer, lapisan gula, maupun salut enterik.
Tujuan dari pelapisan ini tidak hanya untuk memperbaiki penampilan, tetapi juga untuk melindungi zat aktif dari kerusakan akibat kelembaban atau asam lambung. Oleh karena itu, evaluasi tablet salut menjadi sangat penting agar mutu produk tetap sesuai standar.
Evaluasi tablet salut dilakukan untuk memastikan lapisan pelindung berfungsi dengan baik, tidak memengaruhi pelepasan zat aktif secara negatif, serta memberikan perlindungan maksimal. Beberapa parameter yang diuji antara lain ketebalan, kekerasan, waktu hancur, serta keseragaman salut.
Syarat Ketebalan Tablet Salut
Ketebalan lapisan salut berpengaruh besar terhadap kualitas tablet. Lapisan yang terlalu tebal bisa memperlambat disintegrasi, sedangkan lapisan terlalu tipis dapat gagal melindungi zat aktif. Oleh sebab itu, standar ketebalan tablet salut harus diperhatikan.
Pengukuran ketebalan biasanya dilakukan menggunakan mikrometer. Farmakope Indonesia menetapkan toleransi tertentu yang harus dipenuhi. Dengan ketebalan ideal, tablet salut dapat melindungi zat aktif sekaligus tetap hancur sesuai waktu yang ditentukan.
Syarat Kekerasan Tablet Salut
Kekerasan tablet salut juga diuji untuk memastikan lapisan tidak mudah pecah selama distribusi. Tablet salut harus cukup kuat menahan guncangan, tetapi tidak boleh terlalu keras sehingga memperlambat hancurnya tablet.
Pengujian menggunakan hardness tester, baik manual maupun digital. Nilai kekerasan yang sesuai standar menjamin tablet salut aman hingga sampai ke tangan pasien.
Syarat Waktu Hancur Tablet Salut
Waktu hancur tablet salut berbeda dengan tablet konvensional. Lapisan film atau enterik harus bisa bertahan sesuai fungsinya, lalu hancur di bagian saluran pencernaan yang tepat.
Misalnya, tablet salut enterik tidak boleh hancur di lambung, tetapi harus hancur di usus halus. Farmakope Indonesia mengatur batas waktu hancur maksimal, misalnya tidak lebih dari 60 menit. Evaluasi ini penting agar pelepasan zat aktif terjadi sesuai tujuan terapeutik.
14. Perbedaan Tablet Kempa dan Cetak
Proses pembuatan tablet dapat dilakukan dengan dua metode utama, yaitu kempa (compression) dan cetak (molding).
Keduanya menghasilkan tablet, namun memiliki perbedaan signifikan dari segi teknik produksi, biaya, serta kualitas produk akhir. Pemahaman mengenai perbedaan ini penting dalam industri farmasi untuk menentukan metode terbaik sesuai jenis obat.
Tablet kempa menjadi metode paling populer karena lebih cepat, efisien, dan menghasilkan tablet dengan kekerasan optimal.
Sebaliknya, tablet cetak digunakan lebih terbatas, biasanya untuk tablet hisap atau tablet dengan kandungan bahan aktif tertentu yang tidak cocok diproduksi melalui kempa.
Tablet Kempa
Tablet kempa diproduksi menggunakan mesin kompresi dengan tekanan tinggi. Bahan aktif dan eksipien yang sudah berbentuk granul dimasukkan ke dalam die, kemudian ditekan hingga membentuk tablet padat.
Metode ini memungkinkan produksi massal dengan biaya relatif rendah. Kelebihannya adalah hasil tablet stabil, tidak mudah rapuh, dan cocok untuk berbagai jenis obat. Oleh sebab itu, sebagian besar tablet farmasi modern menggunakan metode kempa.
Tablet Cetak
Tablet cetak dibuat dengan memasukkan massa lembab atau cairan kental ke dalam cetakan, kemudian dikeringkan hingga mengeras. Proses ini tidak melibatkan tekanan tinggi, sehingga tablet yang dihasilkan cenderung lebih rapuh.
Metode cetak biasanya digunakan untuk tablet hisap atau tablet dengan bahan aktif yang tidak tahan terhadap tekanan. Walaupun jarang digunakan dalam produksi massal, tablet cetak tetap relevan untuk sediaan tertentu yang memerlukan karakteristik khusus.
Kesimpulan
Evaluasi tablet merupakan tahapan krusial dalam industri farmasi untuk menjamin mutu, keamanan, serta efektivitas sediaan obat padat. Melalui evaluasi yang terstandar, produsen dapat memastikan bahwa tablet memenuhi persyaratan Farmakope Indonesia, mulai dari keseragaman bobot, ukuran, kekerasan, kerapuhan, hingga waktu hancur. Setiap parameter uji memiliki peran penting dalam menjamin kualitas akhir produk.
Selain tablet, evaluasi juga mencakup sediaan granul dan kapsul. Granul yang baik akan menghasilkan tablet berkualitas, sedangkan kapsul harus dievaluasi agar cangkangnya stabil dan mudah hancur sesuai ketentuan. Peralatan uji yang digunakan pun semakin modern sehingga mampu memberikan hasil pengujian yang lebih akurat dan konsisten.
Secara keseluruhan, evaluasi tablet tidak hanya bertujuan menjaga kepercayaan pasien, tetapi juga meningkatkan daya saing industri farmasi. Dengan mutu produk yang terjamin, obat akan memberikan manfaat maksimal bagi kesehatan masyarakat serta mendukung standar regulasi yang berlaku.
Simpulan
Berdasarkan uraian pembahasan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa konsumsi terhadap tablet memiliki keunggulan serta kekurangannya tersendiri, namun meskipun begitu dapat dilakukan berbagai macam tahapan evaluasi yang berhubungan dengan produk tablet sebelum dipasarkan sehingga tablet memiliki kualitas yang sesuai dengan persyaratan yang telah dikeluarkan oleh Farmakope Indonesia.
Baca Juga: Peran Kecerdasan Buatan dalam Pelayanan Kesehatan
Proses pengujian mutu yang dapat dilakukan dapat melalui uji waktu hancur, uji waktu kekerasan, uji terhadap keseragaman bobot, keseragaman ukuran, beserta uji kerapuhan. Evaluasi yang telah dilakukan tersebut tentunya telah sesuai dengan standar mutu yang ditetapkan sehingga keamanannya pun mampu terjamin.
Saran
Obat tablet yang biasanya dikonsumsi oleh masyarakat secara bebas ini dalam menjamin mutunya harus dilakukan teknik evaluasi secara tepat, sehingga masyarakat memiliki keyakinan lebih tinggi terhadap kualitas yang sudah menjadi prasayarat dalam Farmakope Indonesia.
Penulis: Veny Hayati
Mahasiswa DIII Farmasi, Poltekkes Hermina, Jakarta, Indonesia.
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Referensi:
Murtini, G., & Elisa, Y. (2018). Teknologi Sediaan Solida. (1st ed.) Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
Mutiawati, Y., & Dkk, . (2014). Formulasi dan Evaluasi Tablet Alprazolam 1 mg. IJPST, 1(1).
Parfati, N., & Rani, K. (2018). Sediaan Tablet Orodispersibel. (1st ed.) Fakultas Farmasi Universitas Surabaya.
Rohmani, S., & Rosyanti, H. (2019). Perbedaan Metode Penambahan Bahan
Penghancur secar Intragranular- Ekstragranular terhadap Sifat Fisik serta Profil
Disolusi Tablet Ibuprofen. Journal of Pharmaceutical Science and Clinical
Research, (02), DOI: 10.20961/jpscr.v4i2.33622
Sa’adah, H. (2015). Optimization Of Orally Disintegrating Tablet (Odt) With Direct Compression Using Simplex Lattice Design Analysis. Media Sains, 2(8).
Tungadi, R. (2018). Teknologi Sediaan Solida. (1st ed.) Wade Group.
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














