Wartawan adalah seseorang yang memiliki tugas utama untuk mencari, mengolah, menulis, dan menyampaikan informasi atau berita kepada publik melalui berbagai media, baik cetak, elektronik, maupun digital.
Wartawan berperan sebagai penyampai informasi sekaligus penghubung antara peristiwa yang terjadi di lapangan dengan masyarakat luas.
Salah satu novel karya penulis lokal yang berkisah tentang wartawan berjudul Nadira karya Leila S. Chudori yang juga merupakan seorang wartawan. Berikut resensinya!
Judul: Nadira
Penulis: Leila S. Chudori
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Halaman: 304 hlm
Aku mengenal Ibu Leila lewat karyanya yang sangat populer yaitu Laut Bercerita. Membaca Laut Bercerita sebagai karya pertama Ibu Leila yang berkenalan denganku ketika aku masih mahasiswa akhir mengaktifkan jiwa sosialis ini dan membuatku semakin bersemangat untuk membaca buku-buku perlawanan maupun fiksi sejarah.
Saat itu Laut Bercerita menjadi buku yang paling laris di toko buku bahkan sekarang pun masih sama, beliau penulis yang cerdas, pengalamannya yang cukup lama sebagai wartawan sangat nyata terasa di buku-bukunya.
Nama Leila S. Chudori menjadi salah satu nama penulis Indonesia yang terekam dalam ingatan, hingga aku menemukan bukunya yang berjudul Nadira di toko buku dengan sampul cerah dan tampak sangat menarik sekali, tapi ketika ku baca blurb, ternyata tidak secerah sampulnya yang mentereng warna soft pink.
Kalimat awal dari paragraf perkenalan buku ini dibuka dengan “Nadira menemukan ibunya tewas bunuh diri”, wow, aku menjadi tertarik dan menjadikan Nadira sebagai target incaranku setelah punya cukup uang untuk membeli buku. Aku memilikinya tepat di tahun ketiga setelah aku menemukan pujaan hatiku ini di toko buku.
Membuka Nadira yang masih perawan di tangan, mengejutkanku dengan gambar-gambar ilustrasi yang terlihat tegas, sedih, dan misterius.
Sangat berbeda dengan ilustrasi cover sampulnya yang cerah dan imut seperti perempuan polos, di luar perkiraanku, aku sedikit kecewa dan merasa tertipu. Aku bahkan ternganga karena tidak percaya telah men-judge buku dari sampulnya, lol, maafkan aku Bu Leila tersayang.
Buku ini berisi 11 bab: 1. Mencari Serikat Seruni; 2. Nina dan Nadira; 3. Melukis Langit; 4. Tasbih; 5. Ciuman Terpanjang; 6. Kirana; 7. Sebilah Pisau; 8. Utara Bayu; 9. At Pedder Bay; 10. Sebelum Matahari Mengetuk Pagi; 11. Dari New York ke Legian. Bab yang cukup banyak untuk sebuah novel yang berhalaman sedang.
Membuka halaman pertama, aku disuguhi gambar ilustrasi dari seorang gadis yang bersedih, terpuruk di tempat ternyamannya, kasur. Nadira dan keluarga ditinggal ibunya bunuh diri dengan mulut berbusa di kamar mandi karena minum racun. Sungguh berat sekelas pembahasan awal, aku merasa beban si Nadira sudah dimulai sejak halaman pertama.
Baca Juga: Resensi Novel: Laut Bercerita
Nadira Suwandi, begitulah nama panjangnya yang diambil dari marga ayahnya. Sebagaimana ayahnya, Nadira adalah seorang wartawan yang pintar dan gemar bekerja. Dia selalu membaca buku setiap waktu lenggang, bahkan di kantor ketika rapat yang ricuh, dia seperti punya dunianya sendiri.
Berwajah cantik dan tegas, membuatnya disukai beberapa lelaki sekaligus menjadi perbincangan burung nazar (begitu mereka memanggil penggosip gila) di kantor karena kebiasaannya yang suka menyendiri juga pendiam.
Ketika bekerja, dia tidak suka memakai tape recorder untuk mewawancarai narasumber tetapi lebih memilih cara tradisional yang tidak bisa disebut kuno: menulis di buku.
Dia bekerja dengan baik sehingga kinerjanya sangat disukai medianya, di usia muda, dia sudah melanglang buana dari negara satu ke negara lainnya demi liputan yang hangat.
Pun begitu ayahnya, seorang wartawan senior yang sangat disegani junior maupun atasan, namun memutuskan untuk pensiun dini setelah kematian istrinya, ibunda Nadira.
Semua cerita menguap kehidupan Nadira dan orang di sekitar Nadira mulai dari keluarga, lelaki-lelaki yang menyukainya, dan karyawan di Media Tera tempatnya bekerja, memakai POV orang ketiga.
Dari novel ini, aku menangkap pelajaran di baliknya. Bahwa orang yang bunuh diri, tidak hanya meninggalkan kehidupan dan traumanya, tapi juga meninggalkan keluarga dan orang yang mencintainya dalam keadaan bersalah.
Yang paling merasakan luka dari orang yang bunuh diri adalah orang-orang yang sangat mencintainya, dan mereka-mereka ini akan merasa gagal seumur hidupnya, gagal karena tidak bisa melindungi si yang bunuh diri, gagal karena tidak bisa selalu berada di sisinya di detik-detik ketika trauma paling menghantui, gagal karena kalah saing dengan kematian dan menjadi alasan seseorang harus bertahan hidup, gagal karena merasa tidak dianggap dan tidak dicintai, gagal karena tidak bisa menjadi tempat bercerita dan menguraikan rasa sedih untuk dibagi.
Orang yang ditinggalkan akan bersedih seumur hidupnya dan turut mengalami trauma, trauma bisa menular dari orang yang bunuh diri ke orang yang ditinggalkan
Jadi, pikirkanlah kembali niat untuk bunuh diri ya guys jika kalian terpikir sesekali untuk melakukan itu, jika kalian tidak ingin menjadi alasan seseorang trauma seumur hidupnya. Semua orang mempunyai empati dan orang yang bunuh diri adalah orang yang egois. Mungkin pernyataanku terkesan jahat, tapi setidaknya jujur.
Yup, Nadira dan keluarganya mengalami trauma seumur hidupnya setelah peninggalan ibunya yang memilih mengakhiri hidup daripada menghabiskan masa tua menemani Nadira.
Ayahnya memilih pensiun dini dari profesi yang sangat dicintainya dan setiap malam tidak bisa tidur, berakhir menonton video dokumenter wawancara yang ia lakukan di masa muda. Kakaknya, Nina, pindah ke Amerika sambil menyelesaikan studi dan konsul rutin dengan psikiater untuk menyembuhkan mental.
Abangnya, Arya, memilih mengasingkan diri ke hutan, menggeluti pekerjaan dan alam yang sangat dicintainya sedari kecil. Sedangkan Nadira, membenamkan dirinya ke dalam pekerjaannya, wartawan, dan setiap hari tidur di bawah kolong mejanya, bisa dibilang tidur yang tidak tidur.
Kebiasaan-kebiasaan keluarga Suwandi pasca ditinggal ibunya tidak hanya berdampak ke keluarga Suwandi sendiri tapi juga orang sekitar mereka yang ikut kecipratan biasnya.
Yaitu para karyawan di Media Tera tempat Nadira bekerja dan lelaki-lelaki yang menyukainya, salah satunya Utara Bayu, partner kerja Nadira. Nadira yang selalu murung dan hilang semangat kerja membuat para karyawan juga ikut susah.
Aku tau ditinggal seseorang yang kita kasihi sangat berat dan butuh waktu bertahun-tahun untuk bangkit, tapi lihatlah juga orang di sekeliling kita yang masih menyanyangi dan membutuhkan kita, kita masihlah dicintai, kita masih harus bergerak. Itulah yang dilakukan Nadira, bergerak dari traumanya.
Kelebihan
Aku mengagumi ilustrasi yang dimasukkan pada awal bab dibuka, Ario Anindito sang ilustrator sangat kreatif menggambarkan kesan kehidupan yang suram milik Nadira. Buku ini bisa dibilang ringan dibanding karya Ibu Leila yang lain dan bisa dibaca para remaja di atas 15 tahun.
Baca Juga: Resensi Buku Terapi Emosi: Pentingnya Emotional Healing dalam Menemukan Kedamaian Batin
Kekurangan
Buku ini sedikit membingungkan karena alurnya maju-mundur. Tokoh-tokohnya banyak menggunakan surat untuk berkomunikasi satu sama lain yang beberapa surat tidak memiliki nama jadi kita hanya menebak itu sudut pandang siapa.
Dalam satu bab biasanya memuat banyak sudut pandang dari beberapa tokoh dan perpindahan sudut pandang itu terasa terburu-buru. Penggunaan tanggal di akhir bab maupun di awal sub bab menambah kebingunganku, karena jika harus ku urut, tanggalnya tidak sesuai.
Kadang aku bingung apakah tanggal itu adalah waktu si penulis menulis karyanya atau alur waktu untuk cerita di dalam naskah. Waktunya berubah-ubah, ketika membacanya, aku jadi tidak terlalu memperhatikan waktu yang diberikan penulis karena itu mengganggu konsentrasiku.
Di antara karya Bu Leila yang pernah ku baca, jujur saja, Nadira adalah karya yang membosankan. Kisah cerita menurutku hanya terfokus di satu tokoh saja: Nadira. Yah sesuai sih dengan judulnya, aku terlalu berekspektasi banyak.
Aku berekspektasi bahwa cerita ini menyindir satu peristiwa yang ada di Indonesia, seperti Laut Bercerita misalnya, yang berfokus pada penculikan aktivis yang hilang, atau Pulang yang fokus pada tapol ’65 di luar negeri yang tidak bisa pulang ke Indonesia, bagiku dua novel itu memberi kesan yang mengajak kita untuk jasmerah.
Tapi membaca Nadira banyak sekali peristiwa dalam satu buku dan itu membuat fokusku pecah karena banyak informasi dalam satu cerita. Peristiwa-peristiwa itu tidak serta merta dijabarkan dengan rinci melainkan hanya lewat sebagai kilas balik sederhana dari beberapa tokoh yang beragam.
Bagiku itu terasa terlalu cepat berlalu dan terburu-buru, sehingga pesan dari peristiwa itu tidak bisa ku tangkap karena hanya terfokus pada kisah pribadi para tokoh.
Nadira mungkin bukanlah karya terbaik Bu Leila, tapi bagiku, tanpa Nadira, Bu Leila tak akan menciptakan karya populernya Laut Bercerita.
Bu Leila juga bilang bahwa Nadira akan selalu menjadi bagian hidupnya karena merincikan profesi wartawan yang merupakan profesinya dan kelak akan melahirkan karya lanjutan Nadira yaitu sudut pandang dari ibunya.
Penulis: Ika Ayuni Lestari
Redaktur Pelaksana Media Mahasiswa Indonesia
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














