Stuck bukan Akhir: Meresiliensi Diri di Tengah Realitas yang Menahan

Resiliensi Diri
Foto: Freepik

Dalam kenyataan hidup modern, perasaan stuck menjadi pengalaman yang semakin umum. Individu kerap merasa terkurung dalam kebiasaan, tekanan sosial, kegagalan personal, atau ekspetasi yang tidak selaras dengan kemampuan dan kondisi diri. Pada situasi semacam ini, sorongan untuk “segera bangkit” sering kali justru memperparah bebas psikologis. Di tengah kondisi tersebut, konsep resiliensi diri hadir sebagai pendekatan mental yang lebih wajar dan realistis.

Membaca buku Serius Meresiliensi Diri karya Fadhlun Suweleh menghadirkan resiliensi bukan hanya sebagai motivasi, tetap merupakan suatu proses kesadaran yang memerlukan kejujuran terhadap diri sendiri dan kenyataan. Berdasarkan pemikiran ini, esai ini berusaha untuk menyampaikan pandangan akademis mengenali resiliensi sebagai sikap reflektif dan praktik psikologis yang relevan dalam menghadapi kemacetan dalam hidup. Sekaligus menjadikan buku tersebut sebagai kerangka pemikiran yang dapat memperdalam pemahaman resiliensi dalam konteks yang lebih luas.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Dalam wacana umum, resiliensi sering kali dipersempit maknanya menjadi kemampuan untuk ”tetap kuat” atau ”tidak tumbang”. Interpretasi ini cenderung problematic karena menempatkan individu pada tuntutan untuk selalu tangguh, bahkan ketika kondisi mentalnya rapuh. Resiliensi, dalam pandangan yang lebih kritis, seharusnya dilihat sebagai proses adaptif yang bersifat dinamis, bukan sebagai kondisi statis yang harus terus dipertahankan.

Resiliensi diri mencakup untuk mengenali batasan, menerima kelemahan, dan mengatasi kegagalan tanpa kehilangan orientasi makna hidup. Di sinilah letak pentingnya kesadaran diri (self-awareness) sebagai fondasi resiliensi. Individu yang resilien bukanlah mereka yang tidak pernah mengalami kegagalan, melainkan mereka yang mampu menginterpretasikan kegagalan sebagai bagian dari proses pendewasaan diri.

Pengalaman merasa terjebak (stuck) bukan disebabkan oleh satu kejadian besar, melainkan dari akumulasi atau penumpukan tekanan kecil yang terjadi secara berulang. Ketidakpastian tentang masa depan, tuntutan untuk produktif, serta perbandingan sosial yang terus menerus membentuk ruang mental yang sempit bagi seseorang. Dalam kondisi seperti ini, kesulitan untuk melangkah maju sering kali dianggap sebagai kelemahan individu, alih-alih sebagai respon yang wajar terhadap situasi yang bersifat struktural dan psikologis.

Resiliensi diri menjadi penting ketika seseorang tidak dapat bergerak dan dengan cepat. Alih-alih berusaha untuk mengubah segalanya secara instan, resiliensi mengajarkan pentingnya peka terhadap realitas kehidupan, refleksi, dan Menyusun kembali tujuan hidup. Dengan demikian, resiliensi bukan hanya tentang segera keluar dari situasi terjebak, tetapi tentang tetap bertahan hidup dengan penuh kesadaran tanpa mengorbankan harga diri.

Gagasan utama yang dapat diambil dari Serius Mereliensi Diri adalah pentingnya keseriusan sebagai sikap etis dalam membenahi diri. Keseriusan di sini bukan berarti bersikap keras terhadap diri sendiri. Keseriusan menunjukkan keberanian untuk menerima dan menghadapi realitas apa adanya. Resiliensi yang serius menolak dua ekstrem, yakni penyangkalan terhadap luka dan glorafikasi atas penderitaan.

Dalam konteks ini, resiliensi terlihat sebagai praktik reflektif yang mengharuskan adanya tanggung jawab individu. Individu diharapkan untuk tidak hanya mengeluh mengenai situasi yang dihadapi, namun juga tidak menyalahkan diri secara berlebihan. Sikap ini memungkinkan individu membangun hubungan yang lebih sehat dari kegagalan, sehingga pengalaman yang pahit tidak menjadi sumber trauma yang stagnan.

Selain itu, mengenai ketahanan diri yang dihadirkan dalam buku Serius Meresiliensi Diri oleh Fadhlun Suweleh memberi sumbangan signifikan dalam diskusi tentang pengembangan diri, yang sering terjebak pada cara motivasional yang dangkal. Karya ini berhasil menegaskan bahwa ketahanan bukan hanya sekadar kemampuan untuk bertahan, melainkan suatu proses yang sadar dan memerlukan kejujuran, refleksi, serta penerimaan terhadap kenyataan. Akan tetapi, meskipun pandangan ini relevan dan menyentuh aspek kemanusiaan, konsep ketahanan diri tetap harus dianalisis secara kritis agar tidak terbatas pada aspek pribadi saja.

Salah satu kekuatan utama dari buku ini terletak pada penekanan akan pentingnya memperhatikan diri sendiri. Ketahanan dipandang sebagai sikap etis yang menolak glorifikasi terhadap penderitaan sekaligus menghindari penyangkalan atas luka yang dialami. Pendekatan ini sangat penting karena memberikan kesempatan bagi individu untuk menerima kerapuhan tanpa merasa gagal sebagai manusia. Dalam masyarakat yang sangat menghargai produktivitas dan kecepatan, ajakan untuk sejenak berhenti dan merenungkan keadaan menjadi bentuk perlawanan yang halus terhadap narasi keberhasilan yang terkadang menindas.

Namun, penekanan yang kuat pada kesadaran dan tanggung jawab pribadi dapat menimbulkan masalah ketika ketahanan dipandang tanpa mempertimbangkan konteks struktural. Pengalaman merasa terjebak tidak selalu berasal dari kelemahan individu, tetapi sering kali dipengaruhi oleh faktor sosial, ekonomi, dan budaya. Ketidakmerataan akses pendidikan, tekanan ekonomi, serta ekspektasi sosial yang berkaitan dengan kelas atau gender dapat secara nyata membatasi ruang gerak seseorang. Oleh karena itu, jika ketahanan terlalu dipandang sebagai proyek pribadi, hal ini dapat mengaburkan peran sistemik dalam menciptakan kondisi terjebak tersebut.

Selanjutnya, meskipun buku ini menolak narasi motivasi instan, gagasan keseriusan dalam membangun ketahanan diri tetap dapat diartikan sebagai tuntutan moral baru. Individu yang belum berhasil bangkit atau masih berada dalam kondisi stagnasi mungkin merasa gagal karena dianggap kurang “serius” dalam merawat diri mereka. Pada titik ini, ketahanan seharusnya dipahami sebagai sebuah proses yang tidak linier dan sangat tergantung pada konteks, sehingga tidak dapat dinilai dengan satu standar yang sama.

Meski begitu, keterbatasan ini tidak mengurangi nilai reflektif dari karya ini. Sebaliknya, Serius Meresiliensi Diri bisa dianggap sebagai awal untuk memperdalam pembahasan mengenai hubungan antara ketahanan individu dan tanggung jawab kolektif. Resiliensi pribadi seharusnya tidak hanya dilihat sebagai kapasitas seseorang untuk bertahan, tetapi juga sebagai pemahaman kritis yang mendorong kita untuk mempertanyakan sistem yang memaksa banyak orang untuk terus-menerus berjuang.

Dengan demikian, tanggapan kritis terhadap konsep resiliensi individu membawa kita pada pemahaman yang lebih seimbang: resiliensi sebagai usaha pribadi yang penting, namun harus dihubungkan dengan analisis terhadap kondisi sosial yang membentuk pengalaman pribadi. Dalam konteks ini, resiliensi bukan hanya sekadar metode bertahan, tetapi juga kesadaran untuk mendorong perubahan yang lebih adil dan manusiawi.

Resiliensi pribadi adalah sebuah proses yang disadari dan memungkinkan seseorang untuk bertahan serta menemukan kembali makna hidup di tengah kondisi yang sering kali membuat langkah terasa terhambat. Berdasarkan pemikiran yang sejalan dengan karya Fadhlun Suweleh berjudul Serius Meresiliensi Diri, resiliensi tidak hanya dipandang sebagai ketahanan pribadi, tetapi juga sebagai suatu sikap reflektif yang mengakui adanya kerentanan, batasan, serta kerumitan pengalaman hidup. Dalam dunia modern yang dipenuhi dengan tekanan dan kebutuhan untuk produktif, resiliensi menjadi usaha yang krusial untuk tetap mempertahankan sisi kemanusiaan tanpa terjebak dalam pujian terhadap kekuatan yang tidak nyata.

Namun, penting untuk menempatkan ketahanan pribadi secara kritis agar tidak dianggap sebagai beban moral yang hanya ditanggung individu. Pengalaman stagnasi dan terjebak tidak selalu disebabkan oleh kegagalan individu, tetapi sering kali dipengaruhi oleh kondisi struktural dan sosial yang membatasi kebebasan individu. Oleh karena itu, ketahanan yang berarti adalah ketahanan yang tidak hanya mendorong individu untuk bertahan secara pribadi, tetapi juga meningkatkan kesadaran kritis mengenai kondisi yang membentuk pengalaman hidup tersebut. Dengan cara ini, ketahanan pribadi bisa menjadi penghubung antara kekuatan individu dan tanggung jawab bersama dalam menciptakan kehidupan yang lebih manusiawi.

 

Penulis: Setia Ning Rahayu
Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Surabaya

Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Daftar Pustaka

Han, B.-C. (2015). The Burnout Society. Stanford: Standford University Press.

Kathryn M. Connor, J. R. (2003). Development of a new resilience scale: The Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC). Depression and Anxiety, 76-82.

Mastern, A. S. (2014). Ordinary magic: Resilience in development. New York: Guilford Press.

Suweleh, F. (2024). Serius Meresiliensi Diri. Sleman, Yogyakarta: Brilliant Books.

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses