Wali Sanga and Cultural Da’wah: A Literature Review on the Role and Strategies of Islam’s Spread in Java
Abstrak
Wali Sanga merupakan kelompok ulama dan penyebar Islam yang dikenal luas dalam sejarah Islamisasi di Pulau Jawa pada abad ke-15 hingga ke-16 M. Artikel ini bertujuan menguraikan peran Wali Sanga dan strategi dakwah yang mereka gunakan, membandingkan tiga model dakwah yang menonjol (kultural, sufistik, dan kelembagaan), serta mengkaji nilai-nilai dakwah tersebut bagi konteks masa kini. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka terhadap buku sejarah dan artikel jurnal yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa dakwah Wali Sanga dijalankan secara bertahap dan damai melalui lima pendekatan utama, yaitu perdagangan dan ekonomi, pendidikan pesantren, seni dan budaya, pendekatan sosial, serta hubungan dengan kekuasaan dan kekerabatan. Pendekatan tersebut selaras dengan prinsip hikmah, nasihat yang baik, dan dialog sebagaimana tercantum dalam QS. An-Nahl ayat 125. Kajian ini juga mencatat bahwa sumber sejarah tentang Wali Sanga banyak bertumpu pada babad dan tradisi lisan sehingga perlu dibaca secara kritis. Prinsip memahami konteks audiens, mengutamakan keteladanan, dan memanfaatkan sarana budaya tetap relevan bagi dakwah, penguatan moderasi beragama, dan pendidikan Islam kontemporer, termasuk di ruang digital.
Kata kunci: Wali Sanga; dakwah; strategi dakwah; Islamisasi Jawa; dakwah kultural; moderasi beragama
Abstract
Wali Sanga are a group of Muslim scholars and preachers widely recognized in the history of the Islamization of Java in the 15th to 16th centuries. This article aims to describe their role and the da’wah strategies they employed, to compare three prominent models of da’wah (cultural, Sufi-oriented, and institutional), and to examine the relevance of these values today. The study uses a qualitative approach with a literature review of relevant history books and journal articles. The findings indicate that the da’wah of Wali Sanga was carried out gradually and peacefully through five main approaches: trade and the economy, pesantren-based education, arts and culture, social engagement, and relations with political power and kinship. These approaches are consistent with the principles of wisdom, good counsel, and dialogue stated in Qur’an 16:125. The review also notes that historical sources on Wali Sanga rely heavily on chronicles (babad) and oral tradition and therefore need to be read critically. The principles of understanding the audience, setting an example, and using cultural media remain relevant to contemporary Islamic preaching, the strengthening of religious moderation, and Islamic education, including in digital spaces.
Keywords: Wali Sanga; da’wah; da’wah strategy; Islamization of Java; cultural da’wah; religious moderation
1. Pendahuluan
Penyebaran Islam di Nusantara merupakan salah satu proses sejarah yang paling berpengaruh dalam pembentukan wajah masyarakat Indonesia. Islam tidak hadir melalui satu peristiwa tunggal, melainkan melalui interaksi panjang yang melibatkan pedagang, ulama, guru sufi, dan penguasa lokal. Di Pulau Jawa, proses tersebut sering dikaitkan dengan peran sekelompok tokoh yang dalam tradisi masyarakat disebut Wali Sanga atau Walisongo, yang berarti “sembilan wali”.
Menurut Maziyah dan Amaruli (2020), Islamisasi di Jawa pada abad ke-15 hingga ke-16 tidak dapat dilepaskan dari peran Wali Sanga, yang menurut kepercayaan masyarakat Jawa berjumlah sembilan orang. Adib (2023) menegaskan pentingnya membaca kerangka berpikir Walisongo dalam konteks peralihan abad ke-15 dan ke-16, yaitu masa ketika tatanan lama Hindu-Buddha bergeser dan pusat-pusat kekuasaan Islam mulai tumbuh.
Wali Sanga menempati posisi penting bukan hanya dalam catatan sejarah, tetapi juga dalam ingatan kolektif umat Islam di Jawa. Makam-makam mereka hingga kini menjadi tujuan ziarah, dan kisah hidup mereka diwariskan melalui babad, cerita rakyat, serta pendidikan keagamaan. Keberterimaan Islam di tengah masyarakat yang sebelumnya sangat dipengaruhi tradisi Hindu-Buddha dan kepercayaan lokal menunjukkan bahwa para penyebar Islam saat itu memiliki cara penyampaian yang tepat, yang memperhatikan kondisi sosial dan budaya sasaran dakwahnya (Saksono, 1995).
Dalam perspektif ajaran Islam, metode dakwah yang demikian sejalan dengan firman Allah dalam QS. An-Nahl [16]: 125 yang memerintahkan untuk menyeru ke jalan Tuhan dengan hikmah dan pengajaran yang baik, serta berdebat dengan cara yang paling baik. Ayat ini menjadi landasan normatif bagi pendekatan dakwah yang mengedepankan kebijaksanaan, kelembutan, dan keteladanan.
Pendekatan tersebut penting dikaji ulang karena dakwah masa kini kerap berhadapan dengan masyarakat yang beragam latar budaya. Tantangan itu kini tidak lagi bersumber dari perbedaan agama semata, tetapi juga dari arus hoaks, polarisasi media, dan cara pandang hitam-putih di ruang digital (Septiana, 2026; Mandala dkk., 2024). Karena itu, contoh dari sejarah dapat menjadi bahan pembelajaran yang berharga.
Berdasarkan uraian tersebut, artikel ini membahas empat pertanyaan pokok: (1) siapa saja tokoh yang umum dikenal sebagai Wali Sanga dan apa peran utama masing-masing; (2) strategi dakwah apa yang digunakan Wali Sanga dalam menyebarkan Islam di Jawa, dan bagaimana perbedaan model dakwah antartokoh; (3) bagaimana masyarakat Jawa merespons dakwah tersebut dan bagaimana sumbernya perlu dibaca secara kritis; dan (4) apa nilai dan pelajaran dari strategi tersebut bagi dakwah, moderasi beragama, dan pendidikan Islam masa kini. Artikel ini juga dimaksudkan sebagai bahan bacaan pendukung bagi pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam, khususnya materi peran Wali Sanga dalam penyebaran Islam di Indonesia.
2. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka (library research). Data diperoleh dari sumber tertulis berupa buku sejarah, buku kajian dakwah, dan artikel jurnal ilmiah yang membahas Wali Sanga, Islamisasi di Jawa, strategi dakwah, dan relevansinya bagi pendidikan serta moderasi beragama. Sumber-sumber tersebut dipilih berdasarkan kesesuaiannya dengan topik serta keterbacaannya sebagai rujukan akademik.
Analisis data dilakukan secara deskriptif-analitis melalui beberapa tahap. Pertama, data dikumpulkan dan dikelompokkan berdasarkan topik, yaitu profil tokoh, wilayah dakwah, strategi dakwah, respons masyarakat, dan relevansi masa kini. Kedua, data dibandingkan antarsumber untuk melihat kesamaan dan perbedaan informasi. Ketiga, hasilnya disintesiskan menjadi pembahasan yang menjawab rumusan masalah. Karena penelitian ini berbasis kajian pustaka, temuan yang disajikan merupakan sintesis atas penelitian dan tulisan terdahulu dan bukan hasil penelusuran sumber primer berupa naskah atau situs secara langsung.
Sumber dipilih dengan tiga pertimbangan, yaitu (1) relevansi dengan tema peran dan strategi dakwah Wali Sanga, (2) kejelasan identitas penerbit atau jurnal sehingga dapat ditelusuri kembali, dan (3) keragaman jenis sumber, mulai dari karya sejarah klasik, buku kajian dakwah, hingga artikel jurnal ilmiah terbuka. Setiap sumber yang dikutip dalam artikel ini dicantumkan pada daftar pustaka beserta tautan penelusurannya, baik berupa tautan DOI, halaman jurnal, maupun katalog perpustakaan, agar pembaca dapat memeriksa kembali informasi yang dirujuk.
3. Hasil dan Pembahasan
3.1 Konteks Masyarakat Jawa dan Kedatangan Islam
Sebelum Islam berkembang luas, masyarakat Jawa hidup dalam tatanan budaya yang banyak dipengaruhi tradisi Hindu-Buddha yang berpadu dengan kepercayaan asli setempat. Pengaruh tersebut tampak dalam kesenian, upacara, dan pandangan hidup masyarakat, termasuk kegemaran pada pertunjukan seperti wayang. Kondisi inilah yang dihadapi para penyebar Islam. Dakwah yang menafikan seluruh unsur budaya yang ada berpotensi menimbulkan penolakan, sehingga diperlukan pendekatan yang lebih luwes (Saksono, 1995).
Islam sendiri telah dikenal di pesisir Nusantara melalui jalur perdagangan sebelum masa Wali Sanga. Lombard (1996) menggambarkan Jawa sebagai wilayah persilangan budaya yang terhubung dengan jaringan Asia, sehingga pelabuhan-pelabuhan pesisir utara Jawa menjadi tempat bertemunya pedagang dari berbagai bangsa.
Pada abad ke-15 hingga ke-16, pusat-pusat kekuasaan Islam mulai tumbuh di pesisir, dan Demak dikenal sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa (de Graaf dan Pigeaud, 2003). Dalam konteks inilah Wali Sanga berperan sebagai tokoh agama yang dekat dengan masyarakat sekaligus dengan pusat kekuasaan yang sedang berkembang.
Dengan latar tersebut, proses Islamisasi di Jawa umumnya dipahami berlangsung melalui beberapa saluran yang saling berkaitan. Jalur perdagangan membuka perjumpaan antara pendatang Muslim dan penduduk setempat di pelabuhan. Jalur perkawinan dan hubungan kekerabatan memperluas jaringan sosial para pendakwah. Jalur pendidikan dan pembinaan melalui lembaga seperti pesantren melahirkan generasi baru penyebar Islam.
Adapun jalur kesenian dan budaya memberi ruang bagi nilai-nilai Islam untuk diungkapkan dalam bentuk yang akrab di telinga masyarakat. Maziyah dan Amaruli (2020) merangkum pola ini sebagai pendekatan kultural yang meliputi bidang sosial-ekonomi, pendidikan, perkawinan, seni, dan politik.
Penting dicatat bahwa Wali Sanga tidak datang ke ruang kosong. Mereka bekerja dalam jaringan yang lebih luas dan melanjutkan perintisan para pendakwah sebelumnya. Sebutan “wali” dalam tradisi Jawa juga memuat penghormatan masyarakat terhadap kedalaman ilmu dan kesalehan, yang menjelaskan mengapa makam para tokoh ini hingga sekarang masih sering diziarahi (Maziyah dan Amaruli, 2020).
Pemahaman terhadap konteks inilah yang membuat dakwah Wali Sanga lebih tepat dipandang sebagai proses sosial-budaya yang panjang, bukan peristiwa tunggal.
3.2 Tokoh dan Peran Wali Sanga
Daftar nama anggota Wali Sanga yang paling lazim dikenal terdiri atas sembilan tokoh sebagaimana ringkasan pada Tabel 1. Perlu dicatat bahwa daftar tersebut tidak sepenuhnya seragam di setiap sumber. Sunyoto (2012), misalnya, menyajikan kajian yang memadukan penelusuran sejarah dan jejak peninggalan di situs-situs pesisir utara Jawa, dan ulasan atas bukunya menyebutkan adanya perbedaan komposisi tokoh dibandingkan daftar yang populer di masyarakat (NU Online, t.t.). Oleh karena itu, tabel di bawah ini disusun sebagai gambaran umum berdasarkan daftar yang paling banyak dikenal.
Tabel 1. Ringkasan tokoh Wali Sanga yang umum dikenal
| No | Tokoh (nama kecil) | Wilayah dakwah yang dikenal | Ciri peran dan pendekatan |
| 1 | Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim) | Gresik | Perintis dakwah melalui perdagangan, pertanian, dan pengobatan |
| 2 | Sunan Ampel (Raden Rahmat) | Ampel Denta, Surabaya | Mendirikan pesantren dan membina kader dakwah |
| 3 | Sunan Bonang (Makhdum Ibrahim) | Tuban | Dakwah melalui gamelan dan tembang; putra Sunan Ampel |
| 4 | Sunan Drajat (Raden Qasim) | Wilayah pesisir Lamongan | Menekankan kepedulian sosial kepada fakir miskin |
| 5 | Sunan Giri (Raden Paku) | Giri, Gresik | Pendidikan dan pesantren sebagai pusat pembinaan |
| 6 | Sunan Kalijaga (Raden Said) | Demak dan sekitarnya | Dakwah melalui wayang, suluk, dan tradisi lokal |
| 7 | Sunan Kudus (Ja’far Shadiq) | Kudus | Bijak dalam berinteraksi dengan masyarakat beragama Hindu |
| 8 | Sunan Muria (Raden Umar Said) | Gunung Muria, sekitar Kudus | Dakwah di wilayah pedesaan dan pegunungan |
| 9 | Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) | Cirebon dan Banten | Dakwah dan pembinaan masyarakat di Jawa Barat |
Sumber: disintesiskan dari Saksono (1995), Sunyoto (2012), dan Maziyah dan Amaruli (2020). Daftar nama dan rincian wilayah dapat berbeda antarsumber.
Maziyah dan Amaruli (2020) mencatat bahwa sebagian besar wilayah dakwah Wali Sanga berada di Jawa Timur, kemudian Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Pola ini sejalan dengan persebaran para tokoh dalam Tabel 1 yang banyak berpusat di kawasan pesisir utara Jawa, yaitu wilayah pelabuhan yang menjadi simpul perdagangan dan pertemuan budaya. Kajian yang sama juga menyimpulkan bahwa para tokoh Wali Sanga merupakan keturunan pendatang dari berbagai negeri Islam, dan bahwa mereka mampu mendekati pemerintahan Jawa pada masanya.
Dari ragam peran tersebut tampak adanya pembagian corak dakwah. Sebagian tokoh menonjol sebagai pendidik dan pendiri pesantren seperti Sunan Ampel dan Sunan Giri; sebagian lain menonjol dalam bidang seni dan budaya seperti Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga; sebagian menekankan kepedulian sosial seperti Sunan Drajat; dan sebagian berinteraksi erat dengan lingkungan kekuasaan dan masyarakat lintas keyakinan seperti Sunan Kudus dan Sunan Gunung Jati. Keragaman ini memperlihatkan bahwa dakwah Wali Sanga bukan satu metode tunggal, melainkan rangkaian pendekatan yang saling melengkapi.
Secara ringkas, peran beberapa tokoh dapat diuraikan lebih lanjut berdasarkan tradisi yang paling umum dikenal. Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim dikenal sebagai perintis dakwah di wilayah Gresik yang berinteraksi dengan masyarakat melalui perdagangan, pertanian, dan pengobatan, sehingga kehadirannya dirasakan manfaatnya secara langsung.
Sunan Ampel atau Raden Rahmat dikenal sebagai pendidik yang membina santri dan kader dakwah di Ampel Denta, Surabaya, dan dari lingkungannya dikenal pula sejumlah tokoh lain dalam daftar Wali Sanga. Sunan Giri atau Raden Paku dikenal karena pusat pendidikan di Giri, Gresik, yang menjadi tempat belajar dan rujukan keagamaan bagi masyarakat di sekitarnya.
Sunan Bonang atau Makhdum Ibrahim, putra Sunan Ampel, dikenal memanfaatkan gamelan dan tembang sebagai sarana menyampaikan pesan keagamaan. Sunan Kalijaga atau Raden Said dikenal melalui pendekatan wayang, suluk, dan tradisi lokal, dan tradisi masyarakat juga menisbatkan sejumlah karya budaya kepadanya.
Sebagian besar kisah tentang karya-karya tersebut berasal dari tradisi lisan, sehingga penisbatannya perlu dipahami sebagai tradisi dan bukan selalu sebagai fakta yang terdokumentasi kuat. Sunan Drajat atau Raden Qasim dikenal karena kepeduliannya kepada fakir miskin dan masyarakat lemah, yang menjadikan dakwah sebagai gerakan sosial.
Sunan Kudus atau Ja’far Shadiq dikenal bijak dalam berinteraksi dengan masyarakat yang beragama Hindu di Kudus, dan strategi dakwahnya menjadi salah satu objek kajian tersendiri (Arif, 2014). Sunan Muria atau Raden Umar Said dikenal berdakwah di daerah pedesaan dan pegunungan, sehingga menjangkau lapisan masyarakat yang berbeda dari para wali di kawasan pelabuhan.
Adapun Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah dikenal sebagai tokoh yang menyebarkan Islam di Cirebon dan Banten serta berperan dalam pembinaan masyarakat di Jawa bagian barat. Keseluruhan uraian ini menunjukkan pembagian peran yang kurang lebih menjangkau pesisir, pedalaman, pusat pendidikan, hingga lingkungan kekuasaan.
3.3 Tiga Model Dakwah: Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, dan Sunan Giri
Selain gambaran umum pada Tabel 1, kajian pustaka terkini sering membandingkan tiga tokoh yang merepresentasikan tiga model dakwah yang saling melengkapi, yaitu Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, dan Sunan Giri (Septiana, 2026). Pembandingan ini membantu pembaca melihat bahwa “dakwah kultural” tidak berarti satu cara tunggal, melainkan mencakup jalur budaya, jalur spiritual, dan jalur kelembagaan.
- Sunan Kalijaga: dakwah melalui seni dan simbol budaya. Abbas dkk. (2023) memotret lanskap dakwah Islam kultural Sunan Kalijaga di Jawa, sementara Pratama dkk. (2025) menekankan pendekatan kulturalnya melalui akulturasi budaya. Wayang menjadi contoh yang paling sering dikaji. Nasif dan Wilujeng (2018) membahas wayang sebagai medium dakwah menurut Sunan Kalijaga. Sebagaimana dirangkum Septiana (2026), tokoh-tokoh wayang diisi kembali dengan makna etis yang bernuansa Islam dan alur cerita diarahkan pada pesan tauhid, tanpa menghilangkan bentuk seni yang sudah dikenal masyarakat. Contoh lain adalah tembang Ilir-ilir yang dinisbatkan kepada Sunan Kalijaga. Mulyono (2020) mengkajinya sebagai sarana pendidikan Islam dan strategi dakwah berbasis budaya karena menyampaikan nilai melalui simbol yang akrab bagi masyarakat Jawa. Sebagaimana catatan pada Bagian 3.2, penisbatan karya budaya kepada tokoh tertentu perlu dibaca sebagai tradisi.
- Sunan Bonang: dakwah sufistik melalui gamelan, tembang, dan sastra. Umam (2020) mengkaji metode dakwah Sunan Bonang melalui musik gamelan. Dalam rangkuman Septiana (2026), gamelan dimainkan lebih dahulu untuk menciptakan suasana yang akrab sebelum pokok ajaran disampaikan, sehingga masyarakat tertarik tanpa merasa identitas budayanya terancam. Mufidah (2025) juga menelaah sejarah dan metode dakwah Sunan Bonang dalam penyebaran Islam. Karya sastra suluk, seperti Suluk Wujil yang dalam tradisi dinisbatkan kepadanya, menunjukkan sisi sufistik dakwah ini, yakni mengantar pendengar kepada pengenalan kepada Allah (ma’rifatullah) melalui bahasa yang akrab di telinga masyarakat Jawa.
- Sunan Giri: dakwah melalui pendidikan dan kaderisasi. Jalil (2025) mengkaji sistem pendidikan Sunan Giri di Gresik sebagai jalan dakwah. Pusat pendidikan Giri disebut menjadi tempat kaderisasi penyebar Islam yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga pembinaan sosial; ringkasan ini sejalan dengan gambaran Septiana (2026) tentang dakwah institusional yang berkelanjutan. Pendekatan ini bersifat jangka panjang karena yang dibangun adalah lembaga dan generasi penerus, bukan sekadar pertunjukan atau ceramah.
Tabel 2. Perbandingan tiga model dakwah
| Aspek | Sunan Kalijaga | Sunan Bonang | Sunan Giri |
| Corak | Kultural (akulturasi seni dan simbol) | Sufistik (musik dan sastra) | Kelembagaan (pendidikan dan kaderisasi) |
| Media utama | Wayang, tembang (Ilir-ilir), tradisi lokal | Gamelan, tembang, suluk | Pesantren dan pusat pendidikan Giri |
| Nilai yang ditekankan | Tauhid dan etika dalam bentuk budaya yang dikenal | Pengenalan batin kepada Allah dan kehalusan budi | Keilmuan, kaderisasi, dan keberlanjutan |
| Rujukan utama dalam artikel ini | Abbas dkk. (2023); Nasif dan Wilujeng (2018); Mulyono (2020); Pratama dkk. (2025) | Umam (2020); Mufidah (2025) | Jalil (2025); Septiana (2026) |
Sumber: sintesis penulis berdasarkan rujukan pada baris terakhir.
Jika dirangkai, ketiga model ini menunjukkan tiga kerangka dakwah yang saling menguatkan: budaya sebagai pintu masuk komunikasi, spiritualitas sebagai pendalaman makna, dan pendidikan sebagai penjamin keberlanjutan (Septiana, 2026).
3.4 Strategi Dakwah Wali Sanga
Maziyah dan Amaruli (2020) menyimpulkan bahwa Wali Sanga menggunakan pendekatan kultural dalam berdakwah, yang dijalankan melalui bidang sosial-ekonomi, pendidikan, perkawinan, seni, dan politik. Berdasarkan temuan tersebut dan kajian-kajian pendukung, strategi dakwah Wali Sanga dapat dikelompokkan sebagai berikut.
- Perdagangan dan ekonomi. Wilayah pesisir utara Jawa merupakan jalur perdagangan yang ramai. Para wali berinteraksi langsung dengan masyarakat di pelabuhan dan pasar, dan kejujuran dalam bermuamalah menjadi sarana memperkenalkan akhlak Islam secara nyata. Pendekatan ekonomi juga tampak pada peran Sunan Gresik yang dikenal melalui kegiatan perdagangan, pertanian, dan pengobatan. Dakwah melalui keteladanan dalam transaksi ini tidak memerlukan perdebatan, karena nilai-nilai Islam diperlihatkan melalui perilaku sehari-hari.
- Pendidikan dan pesantren. Pesantren menjadi pusat pembinaan umat sekaligus tempat pengkaderan dai. Pesantren Ampel Denta di Surabaya dan pusat pendidikan di Giri, Gresik, sering disebut sebagai contoh lembaga yang melahirkan penyebar Islam yang kemudian melanjutkan dakwah ke berbagai daerah. Pendekatan ini bersifat jangka panjang karena bertumpu pada pembentukan kader dan jaringan keilmuan, bukan semata-mata pada penyampaian ajaran secara lisan di ruang publik.
- Seni dan budaya. Wayang, gamelan, tembang, dan suluk digunakan sebagai media menyampaikan nilai-nilai tauhid dan akhlak. Karena kesenian tersebut telah akrab dengan masyarakat, pesan keagamaan dapat diterima tanpa menimbulkan penolakan yang tajam. Dalam pendekatan ini, unsur budaya tidak dibuang seluruhnya, tetapi diisi dengan muatan nilai Islam. Pola ini yang sering disebut sebagai dakwah kultural, yakni dakwah yang menjadikan budaya sebagai jembatan, bukan penghalang.
- Pendekatan sosial. Para wali hadir di tengah masyarakat, membantu kebutuhan mereka, dan menunjukkan kepedulian terhadap kelompok lemah. Perhatian Sunan Drajat pada fakir miskin merupakan contoh yang sering dikutip. Pendekatan sosial ini menegaskan bahwa dakwah tidak hanya berupa penyampaian pengetahuan, tetapi juga pelayanan kepada masyarakat sehingga Islam dirasakan manfaatnya secara langsung.
- Hubungan dengan kekuasaan dan kekerabatan. Sebagian wali menjalin hubungan dengan kerajaan dan keluarga bangsawan, termasuk melalui ikatan perkawinan. Maziyah dan Amaruli (2020) menyebut perkawinan dan politik sebagai bagian dari pendekatan kultural para wali. Kedekatan dengan lingkungan kekuasaan memberi dukungan yang lebih luas bagi dakwah, terutama pada masa tumbuhnya pusat-pusat kekuasaan Islam di pesisir seperti Demak.
Kelima strategi tersebut tidak berdiri sendiri. Dalam praktiknya, satu tokoh dapat menggunakan beberapa pendekatan sekaligus, dan satu pendekatan saling menguatkan pendekatan lain. Misalnya, pesantren sebagai lembaga pendidikan juga berfungsi sebagai pusat kegiatan sosial, sementara kegiatan perdagangan membuka jalan bagi jaringan kekerabatan. Tabel 3 merangkum hubungan antara strategi, contoh penerapan, nilai utama, dan padanannya pada konteks masa kini.
Tabel 3. Strategi dakwah Wali Sanga dan padanannya pada masa kini
| Strategi | Contoh penerapan | Nilai utama | Padanan masa kini |
| Perdagangan dan ekonomi | Interaksi di pelabuhan dan pasar; kegiatan dagang, tani, dan pengobatan | Kejujuran dan manfaat nyata | Etika bisnis Islami dan kewirausahaan santri |
| Pendidikan dan pesantren | Pesantren Ampel Denta dan pusat pendidikan Giri | Keilmuan dan pengkaderan | Pesantren, madrasah, dan sekolah Islam |
| Seni dan budaya | Wayang, gamelan, tembang, dan suluk | Kearifan lokal dan komunikasi yang akrab | Media kreatif dan konten digital edukatif |
| Pendekatan sosial | Kepedulian kepada fakir miskin dan masyarakat lemah | Empati dan pelayanan | Program sosial dan pemberdayaan masyarakat |
| Kekuasaan dan kekerabatan | Hubungan dengan kerajaan dan keluarga bangsawan | Dukungan dan jaringan luas | Kolaborasi dengan pemangku kepentingan |
Sumber: sintesis penulis berdasarkan Maziyah dan Amaruli (2020), Saksono (1995), dan Hatmansyah (2015).
3.5 Karakter Dakwah: Bertahap, Damai, dan Berkearifan Lokal
Dari kelima strategi di atas, dapat dilihat tiga karakter utama dakwah Wali Sanga. Pertama, dakwah dilakukan secara bertahap. Perubahan keyakinan dan kebiasaan masyarakat tidak dituntut sekaligus, melainkan dibimbing sesuai kesiapan mereka. Prinsip ini sering dikaitkan dengan metode tadarruj atau bertahap dalam pembinaan umat. Kedua, dakwah dilakukan secara damai. Pendekatan yang bersifat merangkul, seperti yang tampak pada kebijaksanaan Sunan Kudus dalam berinteraksi dengan masyarakat Hindu, menghindarkan dakwah dari konfrontasi yang tidak perlu. Penelitian tentang toleransi Sunan Kalijaga juga menyoroti bagaimana sikap menghargai budaya setempat berkontribusi pada Islamisasi masyarakat Jawa (Santosa dan Armansyah, 2013; Arif, 2014). Ketiga, dakwah dilakukan dengan memperhatikan kearifan lokal. Para wali memahami bahwa masyarakat Jawa memiliki sistem nilai dan ekspresi budaya yang kuat. Alih-alih menempatkan budaya sebagai lawan, mereka menggunakannya sebagai saluran komunikasi. Dalam kajian komunikasi dakwah, pola ini dipandang sebagai strategi yang memperhatikan karakter komunikan agar pesan dapat diterima secara efektif (Tajuddin, 2014; Hatmansyah, 2015). Anita (2014) dalam kajian pustakanya tentang Walisongo juga menempatkan proses Islamisasi Jawa sebagai upaya yang ditempuh dengan memperhatikan kondisi masyarakat setempat.
3.6 Akulturasi Budaya dan Respons Masyarakat Jawa
Keberhasilan dakwah Wali Sanga tidak dapat dilepaskan dari cara masyarakat Jawa merespons pendekatan tersebut. Masyarakat Jawa pada masa itu hidup dalam struktur kepercayaan yang telah berlapis selama berabad-abad: tradisi Hindu-Buddha menghadirkan dunia simbol yang kaya dan hierarki spiritual yang kuat, sedangkan kepercayaan terhadap roh, leluhur, dan kekuatan alam melekat secara emosional dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kondisi seperti ini, dakwah yang frontal dan normatif cenderung memicu resistensi karena dapat dirasakan sebagai ancaman terhadap identitas bersama (Septiana, 2026).
Pendekatan akulturatif menjawab persoalan tersebut. Tradisi tidak serta-merta dihapus, tetapi dipertahankan bentuknya dan diberi tafsir Islam. Pada pertunjukan wayang, misalnya, bentuk seni tradisionalnya tetap dikenali, sedangkan maknanya diarahkan pada nilai tauhid dan akhlak.
Karena masyarakat merasakan kesinambungan dengan budaya mereka sembari menerima ajaran Islam secara bertahap, dakwah berlangsung relatif damai (Pratama dkk., 2025; Septiana, 2026). Kajian tentang Islam di pedalaman Jawa dalam memori babad juga memperlihatkan bahwa dakwah yang bersentuhan dengan tradisi lokal cenderung lebih mudah diterima ketika tidak memutus ingatan budaya masyarakat, melainkan menafsirkannya kembali secara religius (Surur, 2024, sebagaimana dirangkum Septiana, 2026).
Dalam kajian antropologi, pola ini kerap dibaca sebagai proses penyaringan simbol: simbol lama dipertahankan, tetapi diisi makna baru. Pembacaan semacam itu berkaitan dengan diskusi panjang tentang hubungan Islam dan budaya Jawa, termasuk pemikiran Clifford Geertz yang ditelaah secara kritis oleh Muhid dan Syah (2020). Hal penting bagi pembaca adalah bahwa istilah akulturasi dan sinkretisme sering dipakai dengan penilaian yang berbeda-beda, sehingga penggunaannya dalam pembelajaran perlu disertai penjelasan yang jernih.
3.7 Kesesuaian dengan Prinsip Dakwah dalam Al-Qur’an
- An-Nahl [16]: 125 menyebutkan tiga pendekatan dakwah, yaitu hikmah, nasihat yang baik (mau’izhah hasanah), dan dialog dengan cara yang terbaik (mujadalah billati hiya ahsan). Jika dibandingkan, ketiga prinsip itu tercermin dalam praktik Wali Sanga. Hikmah tampak pada kemampuan membaca kondisi masyarakat dan memilih sarana yang tepat, seperti memanfaatkan wayang dan gamelan. Nasihat yang baik tampak pada keteladanan akhlak dalam perdagangan, pelayanan sosial, dan pendidikan. Dialog yang baik tampak pada sikap tidak konfrontatif terhadap masyarakat yang berbeda keyakinan. Dengan demikian, strategi Wali Sanga dapat dipahami sebagai penerapan kontekstual atas prinsip dakwah yang bersumber dari Al-Qur’an.
Ketiga model pada Bagian 3.3 juga dapat dipetakan pada ayat ini. Pendekatan budaya Sunan Kalijaga dan pendekatan gamelan serta suluk Sunan Bonang dapat dibaca sebagai wujud hikmah, karena memilih bentuk penyampaian yang paling dekat dengan audiens. Pendidikan dan kaderisasi Sunan Giri dapat dibaca sebagai wujud mau’izhah hasanah yang berkelanjutan. Adapun sikap saling menghormati dalam perjumpaan dengan masyarakat berbeda keyakinan mencerminkan semangat mujadalah billati hiya ahsan.
3.8 Warisan Wali Sanga bagi Masyarakat dan Kebudayaan
Pengaruh Wali Sanga tidak berhenti pada masa hidup mereka. Salah satu wujud yang paling terlihat adalah tradisi ziarah ke makam para wali yang hingga kini masih ramai dikunjungi, sebagaimana dicatat Maziyah dan Amaruli (2020). Tradisi ini memperlihatkan bahwa para tokoh tersebut masih menempati posisi terhormat dalam kesadaran keagamaan masyarakat Jawa. Dalam kajian antropologi, kedekatan emosional itu dipandang sebagai salah satu bukti keberhasilan pendekatan kultural dalam membangun ikatan yang bertahan lintas generasi.
Warisan lain tampak pada kelembagaan pendidikan dan seni. Tradisi pesantren yang dikembangkan sejak masa Wali Sanga terus berlanjut sebagai salah satu pilar pendidikan Islam di Indonesia. Sementara itu, pemanfaatan seni pertunjukan dan tembang sebagai media pesan moral masih dikenal dalam kebudayaan Jawa. Namun, sebagaimana dicatat pada bagian sebelumnya, penisbatan karya atau tradisi tertentu kepada tokoh tertentu sering bersumber dari tradisi lisan, sehingga perlu disampaikan dengan sikap kehati-hatian.
Dari sisi perbedaan pandangan, kajian tentang dakwah kultural lazim memunculkan diskusi mengenai batas antara adaptasi budaya dan kemurnian ajaran. Sebagian kalangan memandang pendekatan Wali Sanga sebagai contoh dakwah yang bijaksana karena mengisi budaya dengan nilai tauhid dan akhlak, sedangkan sebagian lain menekankan pentingnya menjaga kejelasan ajaran. Artikel ini tidak bermaksud menyelesaikan perdebatan tersebut, tetapi menunjukkan bahwa pendekatan Wali Sanga layak dikaji sebagai salah satu model dakwah yang berorientasi pada hikmah dan kemaslahatan, sambil tetap membuka ruang dialog ilmiah.
3.9 Catatan Kritis terhadap Sumber dan Historiografi
Pembahasan tentang Wali Sanga perlu disertai kehati-hatian terhadap sumbernya. Banyak informasi tentang kehidupan para wali berasal dari babad, hikayat, dan tradisi lisan yang ditulis atau dibukukan jauh setelah masa hidup mereka. De Graaf dan Pigeaud (2003) menunjukkan betapa kajian sejarah Islam awal di Jawa harus memadukan sumber-sumber lokal semacam itu dengan sumber lain secara kritis. Hal ini menjelaskan mengapa rincian nama, silsilah, dan komposisi anggota Wali Sanga dapat berbeda antarsumber.
Upaya penyusunan sejarah yang lebih sistematis, seperti yang dilakukan Sunyoto (2012) melalui penelusuran data tertulis dan peninggalan di lapangan, memperlihatkan bahwa kajian tentang Wali Sanga masih terus berkembang. Adib (2023) juga mengajak pembaca menelaah kerangka berpikir Walisongo secara historis pada masa peralihan abad ke-15 dan ke-16, bukan sekadar mengulang narasi populer. Bagi pembelajaran sejarah, hal ini mengajarkan sikap ilmiah yaitu membedakan antara fakta yang didukung banyak sumber, tradisi yang diyakini masyarakat, dan tafsir yang masih diperdebatkan.
Sebagai ilustrasi, tiga lapis informasi berikut dapat dibedakan dalam membaca materi Wali Sanga. Pertama, hal yang relatif kuat didukung banyak sumber, misalnya bahwa pesisir utara Jawa merupakan simpul perdagangan dan Demak tumbuh sebagai pusat kekuasaan Islam (Lombard, 1996; de Graaf dan Pigeaud, 2003). Kedua, tradisi yang diyakini masyarakat, misalnya penisbatan tembang atau karya sastra tertentu kepada seorang wali. Ketiga, tafsir yang masih diperdebatkan, misalnya batas antara akulturasi yang bijak dan percampuran yang dikhawatirkan mengaburkan ajaran.
3.10 Dakwah Kultural dan Penguatan Moderasi Beragama
Nilai dakwah Wali Sanga sering dikaitkan dengan moderasi beragama. Wildan dan Nahar (2021) membahas konsep dakwah kultural Walisongo sebagai upaya memperkuat moderasi beragama. Sikap tidak memaksa, kesediaan memahami budaya setempat, dan kesabaran dalam membimbing masyarakat sejalan dengan ciri moderasi, yaitu jalan tengah yang menghindari sikap ekstrem, baik yang terlalu longgar maupun yang terlalu keras.
Moderasi beragama tidak berhenti sebagai gagasan normatif. Basid dan Halimi (2023) menunjukkan bahwa moderasi dapat dipraktikkan dalam kehidupan kampus keagamaan, sehingga pendidikan Islam menjadi salah satu ruang penting penguatannya. Di ruang digital, Mandala dkk. (2024) membahas moderasi beragama berbasis digital sebagai upaya menyaring konten radikalisme dan ekstremisme. Rangkaian temuan ini memperlihatkan bahwa semangat Wali Sanga, yakni merangkul dan tidak menghakimi, dapat diterjemahkan dalam bentuk pendidikan, komunikasi publik, dan literasi digital.
Meski demikian, hubungan antara dakwah Wali Sanga dan moderasi beragama perlu dirumuskan secara berhati-hati. Moderasi tidak berarti mengaburkan prinsip. Sebagaimana ditegaskan pada Bagian 3.11, pendekatan hikmah dan dialog menempatkan prinsip dalam bahasa dan sarana yang dapat dipahami lawan bicara, bukan meniadakan prinsip itu.
3.11 Relevansi bagi Dakwah dan Pendidikan Masa Kini
Nilai-nilai dakwah Wali Sanga tetap relevan bagi generasi sekarang. Pertama, memahami konteks audiens: dakwah dan pembelajaran akan lebih efektif bila memperhatikan latar budaya, usia, dan kebutuhan peserta didik. Kedua, mengutamakan akhlak dan keteladanan: perilaku jujur, peduli, dan santun sering lebih meyakinkan daripada argumentasi semata. Ketiga, memanfaatkan sarana yang dekat dengan kehidupan masyarakat: bila Wali Sanga memakai wayang dan gamelan, dakwah masa kini dapat memanfaatkan media digital dengan tetap menjaga kualitas isi dan etika bermedia.
Septiana (2026) merumuskan relevansi ini ke dalam tiga arah. Model kultural Sunan Kalijaga dapat diwujudkan dalam konten kreatif berbasis budaya, seperti film pendek, animasi, ilustrasi, dan musik religi. Model kelembagaan Sunan Giri dapat diwujudkan dalam pendidikan keagamaan digital yang menekankan literasi dan cara berpikir kritis. Model spiritual Sunan Bonang dapat dihidupkan melalui ruang-ruang refleksi yang menawarkan kedalaman makna. Rumusan ini bersifat gagasan dan perlu diuji lebih lanjut dalam penelitian lapangan, tetapi menunjukkan arah yang masuk akal bagi penerapan nilai Wali Sanga.
Relevansi tersebut juga menghadirkan tantangan. Dakwah dan pembelajaran masa kini berlangsung di tengah arus informasi yang cepat, keragaman pandangan, dan kecenderungan sebagian orang untuk menilai sesuatu secara hitam-putih. Dalam situasi ini, sikap Wali Sanga yang menempatkan hikmah dan dialog di depan konfrontasi dapat menjadi pengingat bahwa cara menyampaikan sering sama pentingnya dengan isi yang disampaikan. Pendekatan tersebut tidak berarti mengabaikan ketegasan prinsip, tetapi menempatkan prinsip dalam bahasa dan sarana yang dapat dipahami lawan bicara.
Selain itu, teladan Wali Sanga mengajarkan pentingnya pengkaderan. Dakwah yang bertumpu pada satu tokoh akan berhenti ketika tokoh itu tiada, sedangkan dakwah yang menyiapkan kader melalui pendidikan akan berkelanjutan. Prinsip ini relevan bagi lembaga pendidikan Islam yang bertugas menyiapkan generasi yang berilmu, berakhlak, dan mampu berperan di tengah masyarakat yang majemuk. Di sisi lain, penggunaan media modern perlu disertai kehati-hatian agar pesan keagamaan tidak berubah menjadi sekadar hiburan atau disampaikan tanpa dasar keilmuan yang memadai.
Dalam pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam, peserta didik tidak cukup diarahkan untuk menghafal nama tokoh, tetapi juga diajak menganalisis strategi dan menarik pelajaran darinya. Pendekatan ini sejalan dengan tuntutan pembelajaran yang menumbuhkan pemahaman dan sikap, yaitu meneladani semangat dakwah yang santun, inklusif, dan membawa kemaslahatan bagi lingkungan sekitar.
3.12 Implikasi bagi Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam
Materi peran Wali Sanga dalam penyebaran Islam di Indonesia umumnya mencakup dua pokok bahasan, yaitu kisah perjalanan hidup para wali dan strategi dakwah serta peran mereka. Berdasarkan kajian di atas, beberapa implikasi dapat dirumuskan bagi pendidik. Pertama, pembelajaran sebaiknya tidak berhenti pada hafalan nama, asal, dan wilayah tokoh, tetapi mengarahkan peserta didik untuk menganalisis alasan di balik strategi yang dipilih, misalnya mengapa seni dan pendidikan menjadi saluran dakwah yang efektif pada masyarakat Jawa.
Kedua, pendidik dapat menggunakan Tabel 1, Tabel 2, dan Tabel 3 sebagai kerangka diskusi. Peserta didik dapat diminta mencocokkan strategi dengan tokoh dan contoh penerapannya, lalu mencari padanan strategi tersebut pada kehidupan sekarang. Kegiatan ini melatih keterampilan berpikir analitis sekaligus menumbuhkan sikap meneladani akhlak para wali. Ketiga, karena sumber tentang Wali Sanga banyak berasal dari tradisi lisan, pendidik dapat memanfaatkannya untuk melatih literasi sejarah, yaitu membedakan antara informasi yang didukung banyak sumber, tradisi yang diyakini masyarakat, dan tafsir yang masih diperdebatkan. Keempat, penilaian dapat dikembangkan tidak hanya berupa soal pengetahuan, tetapi juga tugas proyek seperti membuat peta wilayah dakwah, infografis strategi, atau presentasi tentang nilai keteladanan salah satu tokoh. Untuk memudahkan penerapan, berikut contoh rancangan kegiatan yang dapat disesuaikan dengan alokasi waktu dan jenjang peserta didik.
Tabel 4. Contoh kegiatan pembelajaran dan penilaian
| Kegiatan | Deskripsi singkat | Keterampilan yang dilatih | Bentuk penilaian |
| Mencocokkan strategi dan tokoh | Peserta didik memasangkan lima strategi dengan tokoh dan contoh penerapannya berdasarkan Tabel 1 dan Tabel 3 | Analisis dan pemahaman konsep | Lembar kerja dan diskusi kelompok |
| Peta wilayah dakwah | Membuat peta pesisir utara Jawa lengkap dengan lokasi tokoh dan corak dakwahnya | Literasi spasial dan sejarah | Produk peta dan presentasi singkat |
| Telaah tiga lapis informasi | Memilah pernyataan menjadi fakta yang kuat, tradisi, dan tafsir yang diperdebatkan | Literasi sumber dan berpikir kritis | Tugas tertulis dengan rubrik |
| Proyek infografis atau konten edukatif | Mengemas satu strategi dakwah menjadi infografis atau video pendek dengan etika bermedia yang benar | Kreativitas, komunikasi, dan literasi digital | Rubrik produk dan refleksi |
| Refleksi keteladanan | Memilih satu nilai (kejujuran, kepedulian, atau hikmah) dan menuliskan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari | Sikap dan karakter | Jurnal refleksi dan observasi |
Sumber: rancangan penulis berdasarkan Bagian 3.2 sampai 3.11.
Pendidik juga perlu berhati-hati dalam dua hal. Pertama, pemanfaatan konten digital sebagai bahan ajar harus disertai verifikasi sumber agar tidak menyebarkan kisah yang tidak terdokumentasi sebagai fakta. Kedua, pembahasan tentang akulturasi hendaknya ditempatkan sebagai kajian sejarah dan dakwah, dengan tetap membuka ruang bagi peserta didik untuk memahami adanya perbedaan pandangan.
4. Kesimpulan
Wali Sanga berperan penting dalam proses Islamisasi di Pulau Jawa pada abad ke-15 hingga ke-16 melalui dakwah yang bersifat kultural. Strategi yang digunakan mencakup perdagangan dan ekonomi, pendidikan pesantren, seni dan budaya, pendekatan sosial, serta hubungan dengan kekuasaan dan kekerabatan. Pembandingan tiga tokoh memperlihatkan tiga corak yang saling melengkapi: dakwah kultural Sunan Kalijaga, dakwah sufistik Sunan Bonang, dan dakwah kelembagaan Sunan Giri. Strategi tersebut memperlihatkan karakter dakwah yang bertahap, damai, dan menghargai kearifan lokal, serta sejalan dengan prinsip hikmah, nasihat yang baik, dan dialog dalam QS. An-Nahl ayat 125.
Kajian ini juga menunjukkan bahwa informasi tentang Wali Sanga perlu dibaca secara kritis karena banyak bersandar pada babad dan tradisi lisan, sehingga perbedaan nama dan rincian antarsumber merupakan hal yang wajar. Nilai-nilai dakwah Wali Sanga relevan bagi penguatan moderasi beragama dan dakwah di ruang digital, selama prinsip tetap dijaga dan penyajiannya didasarkan pada keilmuan yang memadai. Bagi praktisi pendidikan, kajian ini menyarankan agar materi Wali Sanga disajikan secara kontekstual, yaitu dengan mengaitkan strategi dakwah masa lalu dengan persoalan yang dekat dengan kehidupan peserta didik, serta dengan memperkenalkan sikap kritis terhadap sumber sejarah.
Penelitian ini memiliki keterbatasan karena bersifat kajian pustaka dan belum menelaah sumber primer secara langsung, serta sebagian rujukan tentang tokoh tertentu dirangkum dari kajian sekunder. Penelitian lanjutan disarankan menelaah sumber primer berupa naskah, inskripsi, dan situs peninggalan, serta meneliti penerapan nilai dakwah Wali Sanga dalam pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di madrasah dan sekolah.
Daftar Pustaka
Abbas, N., Suparman, F., Suryanto, L., dan Wafa, M. C. A. 2023. “Landscape Dakwah Islam Kultural Sunan Kalijaga di Jawa.” Amorti: Jurnal Studi Islam Interdisipliner 2(2): 98–107. Tautan: https://doi.org/10.59944/amorti.v2i2.95
Adib, M. 2023. “Kerangka Berpikir Walisongo dan Islamisasi Jawa pada Peralihan Abad XV dan XVI.” Jurnal Pusaka: Media Kajian dan Pemikiran Islam 13(2): 192–205. Tautan: https://doi.org/10.35897/ps.v13i02.1319
Al-Qur’an al-Karim. QS. An-Nahl [16]: 125. Tautan: https://quran.com/16/125
Anita, Dewi Evi. 2014. “Walisongo: Mengislamkan Tanah Jawa (Suatu Kajian Pustaka).” Wahana Akademika 1(2): 243–266. Tautan: https://doi.org/10.21580/wa.v1i2.81510
Arif, Syaiful. 2014. “Strategi Dakwah Sunan Kudus.” Addin 8(2): 245–267. Tautan: https://media.neliti.com/media/publications/54564-ID-strategi-dakwah-sunan-kudus.pdf
Basid, A., dan Halimi. 2023. “Praktik Kehidupan Moderasi Beragama di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri di Indonesia.” Kontekstualita: Jurnal Sosial Keagamaan 38(1): 11–20. Tautan: https://repository.uin-malang.ac.id/19176/1/19176.pdf
De Graaf, H. J., dan Pigeaud, Th. G. Th. 2003. Kerajaan Islam Pertama di Jawa: Tinjauan Sejarah Politik Abad XV dan XVI (cetakan ke-5). Jakarta: Pustaka Utama Grafiti. Tautan katalog: https://opac-lib.ums.ac.id/bib/38444
Hatmansyah. 2015. “Strategi dan Metode Dakwah Walisongo.” Al-Hiwar 3(5): 10–17. Tautan: https://jurnal.uin-antasari.ac.id/index.php/alhiwar/article/view/1193
Jalil, A. 2025. “Pendidikan Bebas sebagai Jalan Dakwah: Studi Kritis terhadap Sistem Pendidikan Sunan Giri di Gresik.” AJMIE: Alhikam Journal of Multidisciplinary Islamic Education 6(1): 46–53. Tautan: https://doi.org/10.32478/0bygme70
Lombard, Denys. 1996. Nusa Jawa: Silang Budaya, Kajian Sejarah Terpadu, Bagian II: Jaringan Asia (edisi revisi). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Tautan katalog: https://opac-lib.ums.ac.id/bib/72375
Mandala, I., Witro, D., dan Juraidi. 2024. “Transformasi Moderasi Beragama Berbasis Digital 2024: Sebagai Bentuk Upaya Memfilter Konten Radikalisme dan Ekstremisme di Era Disrupsi.” Jurnal Bimas Islam 17(1). Tautan: https://doi.org/10.37302/jbi.v17i1.1242
Maziyah, Siti, dan Amaruli, Rabith Jihan. 2020. “Walisanga: Asal, Wilayah dan Budaya Dakwahnya di Jawa.” Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi 3(2): 232–239. Tautan: https://doi.org/10.14710/endogami.3.2.232-239
Mufidah, Z. 2025. “Kisah Inspiratif Sunan Bonang: Menggali Sejarah dan Metode Dakwahnya dalam Penyebaran Agama Islam.” Maliki Interdisciplinary Journal (MIJ) 3(2): 540–548. Tautan: https://urj.uin-malang.ac.id/index.php/mij/article/view/13232
Muhid, A., dan Syah, M. F. I. 2020. “Telaah Kritis Pemikiran Clifford Geertz tentang Islam dan Budaya Jawa (Literature Review).” Sumbula: Jurnal Studi Keagamaan, Sosial dan Budaya 5(1): 98–126. Tautan: https://doi.org/10.32492/sumbula.v5i1.571
Mulyono. 2020. “Islamic Education and Da’wah Strategies Based on Culture in the Ilir-ilir Song of Sunan Kalijaga.” Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam 14(1): 176–198. Tautan: https://repository.uin-malang.ac.id/7625/
Nasif, H., dan Wilujeng, M. P. 2018. “Wayang as Da’wah Medium of Islam according to Sunan Kalijaga.” Kalimah: Jurnal Studi Agama-Agama dan Pemikiran Islam 16(2): 252–264. Tautan: https://doi.org/10.21111/klm.v16i2.2871
NU Online. t.t. “Tonggak Penyebaran Islam Nusantara.” Tautan: https://nu.or.id/nasional/tonggak-penyebaran-islam-nusantara-NUsIS (diakses 18 Oktober 2026).
Pratama, Y. A., Hasanah, U., dan Nabilla. 2025. “Pendekatan Kultural Sunan Kalijaga dalam Dakwah Islam melalui Akulturasi Budaya.” Qulubana: Jurnal Manajemen Dakwah 6(1): 45–73. Tautan: https://doi.org/10.54396/qlb.v6i1.1876
Saksono, Widji. 1995. Mengislamkan Tanah Jawa: Telaah atas Metode Dakwah Walisongo. Bandung: Mizan. Tautan katalog: https://opac-lib.ums.ac.id/bib/6853
Santosa, dan Armansyah, Yudi. 2013. “Prinsip Toleransi Sunan Kalijaga dan Kontribusinya dalam Islamisasi Masyarakat Jawa.” Kontekstualita 28(1): 34–46. Tautan: https://media.neliti.com/media/publications/146050-ID-none.pdf
Septiana, NurAyu. 2026. “Rekontekstualisasi Metode Dakwah Walisongo: Studi Komparatif Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, dan Sunan Giri di Era Digital.” Maliki Interdisciplinary Journal (MIJ) 4(7): 680–687. Tautan: https://urj.uinmalang.ac.id/index.php/mij/article/download/22185/8055
Sunyoto, Agus. 2012. Atlas Wali Songo: Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo sebagai Fakta Sejarah. Depok: Pustaka IIMaN. Tautan katalog (cetakan ke-2, 2016): https://perpus.petra.ac.id/catalog/site/detail?id=140091
Surur, M. 2024. “Benturan Islam di Pedalaman Jawa dalam Memori Babad Alit dan Babade Nagara Patjitan.” Agastya: Jurnal Sejarah dan Pembelajarannya 14(1): 66–84. Tautan: https://repository.uin-malang.ac.id/18193/
Tajuddin, Yuliyatun. 2014. “Walisongo dalam Strategi Komunikasi Dakwah.” Addin 8(2): 367–390. Tautan: http://journal.stainkudus.ac.id/index.php/Addin/article/view/602
Umam, Mun’izul. 2020. “Dakwah Sunan Bonang: Studi terhadap Metode Dakwah melalui Seni Musik Gamelan.” Hudan Lin-Naas: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora 1(2): 93–100. Tautan: https://ejournal.unia.ac.id/index.php/hudanlinnaas/article/download/328/268
Wildan, A., dan Nahar, K. 2021. “Konsep Kultural Dakwah Walisongo Memperkuat Moderasi Beragama.” Muasarah: Jurnal Kajian Islam Kontemporer 5(2): 85–92. Tautan: https://doi.org/10.18592/msr.v5i2.11665
Penulis
1. Sani Jamilatus Solihah
2. Naisyila Desnita Cahayani Saputra
3. Diah Novita Fardani
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam, Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta
Dosen Pengampu: Diah Novita Fardan
Editor: Darsono. AR
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















