ABSTRACT
Drama is one form of literary work that portrays human life through dialogue, character actions, and conflict. This study aims to describe the intrinsic elements of the drama script “Mengejar Cita-Cita” published in an article on Ruangguru and written by Kenya Swawikanti. The approach used is the objective approach, which focuses on the literary work itself. The research method is descriptive qualitative, using reading and note-taking techniques to identify the elements contained in the drama script. The results of the analysis show that the drama script has the themes of striving to achieve dreams and friendship, with Adi and Anjas as the main characters, a forward plot, and an afternoon setting. The conflict concerns education and the future, while the moral messages emphasize perseverance, prayer, and the importance of friendship and support. The relationship between these intrinsic elements forms a unified story that portrays the struggles of two friends in determining their future.
Keywords: objective approach, drama, intrinsic elements, friendship, dreams.
ABSTRAK
Drama merupakan salah satu karya sastra yang menggambarkan kehidupan manusia melalui dialog, tindakan tokoh, dan konflik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan unsur intrinsik dalam naskah drama “Mengejar Cita-Cita” yang dimuat dalam artikel Ruangguru karya Kenya Swawikanti. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan objektif, yaitu pendekatan yang memusatkan perhatian pada karya sastra itu sendiri. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik membaca dan mencatat unsur-unsur yang terdapat dalam teks drama. Hasil analisis menunjukkan bahwa naskah drama ini memiliki tema perjuangan meraih cita-cita dan persahabatan, tokoh utama Adi dan Anjas, alur maju, latar waktu sore hari, konflik mengenai pendidikan dan masa depan, serta amanat tentang ketekunan, doa, dan pentingnya dukungan sahabat. Hubungan antarunsur intrinsik tersebut membentuk kesatuan cerita yang menggambarkan perjuangan dua sahabat dalam menentukan masa depan mereka.
Kata kunci: pendekatan objektif, drama, unsur intrinsik, persahabatan, cita-cita.
PENDAHULUAN
Secara etimologis, kata “drama” berasal dari bahasa Yunani draomai yang berarti ‘berbuat’, ‘berlaku’, ‘bertindak’, ‘bereaksi’, dan sebagainya (Harymawan, 1988: 1). Drama juga dapat diartikan sebagai karya sastra dan seni pertunjukan (Hassanuddin, 1996:7). Karena sastra termasuk cabang kesenian, drama merupakan bentuk kesenian juga. Drama sebagai seni pertunjukan dapat dinikmati penonton dalam bentuk pementasan di panggung. Sebagai bentuk kesenian, drama sering disebut seni pertunjukan (performing art). Pertunjukan tersebut dilakukan oleh aktor (pemain, pelaku, pemeran watak tokoh) di atas panggung.
Hakikatnya drama adalah seni gerak yang dipertunjukkan/dipentaskan oleh pemain/pelaku di atas panggung berdasarkan alur sebuah cerita yang ditonton oleh publik. Drama adalah cerita konflik manusia dalam bentuk dialog yang diproyeksikan pada pentas dengan menggunakan percakapan dan action di hadapan penonton (Harymawan, 1988:12). Drama adalah sebuah kesenian yang menggambarkan sifat dan sikap manusia dengan gerak. Tujuan mempelajari drama adalah memahami tokoh yang diperankan sebaik-baiknya dalam sebuah pementasan.
Sastra merupakan karya yang menggambarkan kehidupan manusia melalui bahasa dan berbagai bentuk pengungkapan. Salah satu bentuk karya sastra adalah drama. Drama menyampaikan cerita melalui dialog dan tindakan tokoh serta biasanya dipersiapkan untuk dipentaskan. Dalam sebuah naskah drama, terdapat unsur intrinsik yang membangun cerita, seperti tema, tokoh dan penokohan, alur, latar, dialog, konflik, dan amanat.
Salah satu naskah drama yang mengangkat kehidupan sehari-hari adalah “Mengejar Cita-Cita”. Naskah ini menceritakan dua sahabat bernama Adi dan Anjas yang bertemu kembali setelah lama berpisah. Mereka membicarakan rencana melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi serta kesulitan yang dihadapi dalam menentukan masa depan.Permasalahan dalam cerita muncul ketika Adi merasa kurang mampu dalam pelajaran fisika, sedangkan Anjas belum mengetahui bakat dan minatnya. Melalui percakapan, keduanya saling memberikan saran dan dukungan agar dapat menentukan pilihan pendidikan yang tepat. Untuk memahami hubungan unsur-unsur pembangun cerita tersebut, digunakan pendekatan objektif. Pendekatan objektif memusatkan analisis pada struktur internal karya sastra tanpa menjadikan biografi penulis atau kondisi di luar teks sebagai dasar utama penafsiran. Dengan demikian, analisis dilakukan berdasarkan bukti berupa narasi dan dialog yang terdapat dalam naskah. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan unsur intrinsik naskah drama “Mengejar Cita-Cita” dan menjelaskan hubungan antarunsurnya melalui pendekatan objektif.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Metode ini digunakan untuk mendeskripsikan unsur intrinsik dalam naskah drama berdasarkan data berupa kata, kalimat, narasi, dan dialog. Sumber data penelitian adalah naskah drama “Mengejar Cita-Cita” yang terdapat dalam artikel Kenya Swawikanti berjudul 20 Contoh Naskah Drama Pendek Berbagai Tema | Bahasa Indonesia Kelas 11 yang diterbitkan oleh Ruangguru pada 11 Februari 2025. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui pembacaan teks secara cermat dan pencatatan kutipan yang berkaitan dengan unsur intrinsik. Data kemudian dikelompokkan berdasarkan tema, tokoh dan penokohan, alur, latar, dialog, konflik, dan amanat. Analisis dilakukan dengan menjelaskan fungsi setiap unsur serta hubungannya dengan unsur lain. Penafsiran didasarkan pada bukti yang terdapat dalam teks, sesuai dengan prinsip pendekatan objektif.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Sinopsis Drama “Persahabatan dan Perjuangan Meraih Cita-Cita”
Menurut Moeliono, dalam (Ahmad, 2015 Hal. 113) sinopsis adalah ikhtisar karangan ilmiah yang biasanya diterbitkan bersamaan dengan karangan aslinya. Yang menjadi dasar dari sinopsis adalah ringkasan dan abstrak. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sinopsis adalah karangan ilmiah biasa yang digunakan bersamaan dengan karangan asli yang menjadi dasar sinopsis tersebut. Secara garis besar, sinopsis adalah ringkasan, abstraksi, atau ikhtisar karangan. Sinopsis adalah ringkasan cerita yang menggambarkan inti peristiwa dalam sebuah karya sastra. Sinopsis drama berisi gambaran umum mengenai tokoh, alur cerita, konflik, dan penyelesaian cerita.
Drama “Persahabatan dan Perjuangan Meraih Cita-Cita” menceritakan dua sahabat sejak kecil bernama Adi dan Anjas. Keduanya selalu bersama, tetapi harus berpisah ketika ayah Adi pindah bekerja. Setelah sekian lama berpisah, mereka akhirnya bertemu kembali dan berbincang mengenai rencana melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Dalam percakapan tersebut, Adi mengungkapkan keinginannya untuk kuliah di PIP dengan mengambil jurusan pelayaran. Namun, ia merasa khawatir karena lemah dalam pelajaran fisika. Anjas kemudian memberikan semangat kepada Adi agar belajar lebih giat, tidak mudah menyerah, dan selalu berdoa untuk mencapai cita-citanya.
Sebaliknya, Anjas juga meminta saran kepada Adi karena belum mengetahui bakat dan minatnya. Adi menyarankan agar Anjas mengikuti kata hati, mempertimbangkan bakat dan minatnya, serta meminta pendapat dari teman, guru, dan orang tua. Adi juga mengingatkan Anjas untuk berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Setelah percakapan tersebut, Adi dan Anjas semakin giat belajar. Seiring berjalannya waktu, mereka berhasil menyelesaikan ujian dan diterima di perguruan tinggi yang mereka impikan. Drama ini mengajarkan pentingnya persahabatan, semangat belajar, saling mendukung, dan berdoa dalam meraih cita-cita.
2. Pendekatan Objektif Menurut Abrams pada Drama “Persahabatan dan Perjuangan Meraih Cita-Cita”
Pendekatan objektif merupakan pendekatan yang memusatkan perhatian pada unsur-unsur intrinsik karya sastra. Pendekatan ini memandang karya sastra sebagai sesuatu yang berdiri sendiri, sehingga analisis dilakukan berdasarkan unsur pembangun yang terdapat di dalam karya, seperti tema, tokoh dan penokohan, alur, latar, konflik, serta amanat.
Dalam drama “Persahabatan dan Perjuangan Meraih Cita-Cita”, pendekatan objektif digunakan untuk menganalisis unsur-unsur intrinsik yang membangun cerita. Analisis tersebut meliputi tema, tokoh dan penokohan, alur, latar, konflik, dan amanat.
a. Tema
Tema merupakan gagasan utama yang mendasari sebuah cerita. Tema utama dalam naskah drama “Mengejar Cita-Cita” adalah perjuangan meraih cita-cita melalui usaha dan dukungan persahabatan. Hal tersebut terlihat dalam dialog berikut.
Adi: “Aku mau kuliah di PIP.”
Adi: “Pelayaran. Mau jadi kapten kapal dong hehehe.”
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa Adi mempunyai cita-cita melanjutkan pendidikan di bidang pelayaran dan menjadi kapten kapal. Keinginan tersebut menjadi salah satu dasar pengembangan cerita.
Tema persahabatan terlihat ketika Anjas memberikan semangat kepada Adi.
Anjas: “Kalau kamu belajar lebih giat lagi kamu pasti bisa. Teruslah berusaha, jangan menyerah. Kejar cita-cita kamu.”
Dialog tersebut memperlihatkan dukungan Anjas terhadap perjuangan Adi. Dengan demikian, tema cita-cita dan persahabatan saling berkaitan karena usaha tokoh dalam mencapai masa depan didukung oleh hubungan persahabatan mereka.
b. Tokoh dan Penokohan
Tokoh dalam karya sastra merupakan individu rekaan yang mengalami berbagai peristiwa di dalam cerita. Sementara itu, penokohan merupakan penggambaran sifat, sikap, dan karakter tokoh melalui dialog maupun tindakan.
Tokoh dalam drama “Persahabatan dan Perjuangan Meraih Cita-Cita” terdiri atas Adi dan Anjas. Keduanya menjadi tokoh utama karena terlibat langsung dalam keseluruhan peristiwa cerita. Adi dan Anjas memiliki karakter yang saling mendukung, terutama dalam menghadapi permasalahan mengenai pendidikan dan cita-cita.
- Tokoh Adi
Adi merupakan tokoh utama yang digambarkan sebagai sosok yang peduli, memiliki cita-cita, dan suka memberikan nasihat kepada sahabatnya. Hal tersebut terlihat ketika Adi menjelaskan keinginannya untuk melanjutkan pendidikan dalam kutipan berikut.
Adi: “Aku mau kuliah di PIP.”
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa Adi telah memiliki tujuan pendidikan yang ingin dicapai.
Sifat peduli Adi terhadap sahabatnya terlihat dalam kutipan berikut
Adi: “Kalau menurut aku sih lebih baik kamu ikuti kata hati kamu aja. Pastinya yang sesuai dengan bakat dan minat kamu juga.”
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa Adi berusaha membantu Anjas menentukan pilihan pendidikan yang sesuai dengan kemampuan dan keinginannya. Adi tidak hanya memikirkan cita-citanya sendiri, tetapi juga memberikan perhatian terhadap masa depan sahabatnya.
- Tokoh Anjas
Anjas merupakan tokoh utama yang digambarkan sebagai sosok yang peduli, memberikan motivasi, dan terbuka terhadap saran. Sifat pedulinya terlihat ketika ia memberikan semangat kepada Adi yang merasa kesulitan dalam pelajaran fisika.
Hal tersebut terdapat dalam kutipan berikut.
Anjas: “Teruslah berusaha, jangan menyerah. Kejar cita-cita kamu.”
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa Anjas berusaha memberikan dukungan agar Adi tetap semangat dalam mencapai cita-citanya. Selain itu, Anjas juga digambarkan sebagai tokoh yang menghargai pendapat orang lain. Hal ini terlihat dalam kutipan berikut.
Anjas: “Wah makasih ya, Adi, atas pendapat dan saran kamu. Aku akan coba ikuti saran kamu.”
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa Anjas menerima saran Adi dan bersedia mempertimbangkannya untuk menentukan masa depannya. Berdasarkan uraian tersebut, Adi dan Anjas memiliki karakter yang saling melengkapi. Adi memberikan saran kepada Anjas, sedangkan Anjas memberikan semangat kepada Adi. Hubungan tersebut menjadi bagian penting dalam perkembangan cerita.
c. Latar
Latar merupakan keterangan mengenai waktu, tempat, dan keadaan sosial yang menyertai peristiwa dalam cerita.
- Latar waktu
Menurut Waluyo (2006:23), setting atau latar merupakan tempat terjadinya peristiwa dalam cerita. Latar umumnya meliputi tiga dimensi, yaitu tempat, waktu, dan suasana. Latar mendukung dan memperkuat tindakan para tokoh dalam cerita.
Latar dalam drama “Persahabatan dan Perjuangan Meraih Cita-Cita” dapat dianalisis melalui percakapan dan peristiwa yang dialami Adi dan Anjas. Latar tempat tidak dijelaskan secara khusus dalam naskah, tetapi cerita menunjukkan adanya tempat pertemuan kedua tokoh untuk berbincang mengenai rencana kuliah. Latar waktu dapat diketahui melalui kutipan berikut.
Anjas: “Wah makasih ya, Adi, atas pendapat dan saran kamu. Aku akan coba ikuti saran kamu. Oh iya, udah sore, nih. Aku pulang, ya. Makasih Adi.”
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa percakapan kedua tokoh berlangsung hingga sore hari. Selain itu, cerita juga berlangsung dalam rentang waktu yang cukup panjang, mulai dari pertemuan kembali hingga mereka lulus ujian dan diterima di perguruan tinggi.
Latar suasana terlihat dari keadaan tokoh ketika membicarakan kesulitan dan cita-cita mereka. Hal tersebut ditunjukkan melalui kutipan berikut.
Anjas: “Duh jangan sedih dong, sudah enggak apa-apa. Kalau kamu belajar lebih giat lagi kamu pasti bisa.”
Kutipan tersebut menggambarkan suasana penuh perhatian dan semangat. Anjas berusaha menenangkan Adi agar tidak merasa putus asa ketika menghadapi kesulitan dalam pelajaran fisika. Dengan demikian, latar dalam drama ini mendukung perkembangan cerita dan memperlihatkan kedekatan persahabatan kedua tokoh.
e. Dialog
Dialog merupakan unsur penting dalam drama karena digunakan untuk menyampaikan pikiran, perasaan, dan karakter tokoh sekaligus mengembangkan konflik. Salah satu dialog yang menunjukkan dukungan persahabatan adalah:
Anjas: “Teruslah berusaha, jangan menyerah. Kejar cita-cita kamu.”
Dialog tersebut memperlihatkan sikap Anjas yang mendorong Adi agar tetap berusaha meskipun menghadapi kesulitan. Dialog lain yang memperlihatkan kepedulian adalah:
Adi: “Kalau menurut aku sih, soal bakat kamu sebaiknya minta pendapat ke orang lain. Misalnya, ke teman, guru, dan juga orang tua.”
Dialog tersebut menunjukkan bahwa Adi memberikan saran kepada Anjas untuk mencari pertimbangan dari orang-orang di sekitarnya. Kedua kutipan tersebut memperlihatkan bahwa dialog berfungsi membangun penokohan, mengembangkan tema, dan membantu penyelesaian masalah.
f. Konflik
Konflik merupakan persoalan yang dihadapi tokoh dalam cerita. Konflik utama dalam drama ini berkaitan dengan kesulitan belajar dan kebingungan menentukan pendidikan lanjutan. Konflik Adi terlihat dalam kutipan:
Adi: “Tapi aku lemah dengan pelajaran fisika.”
Kutipan tersebut memperlihatkan hambatan yang dirasakan Adi dalam mengejar cita-citanya.
Sementara itu, konflik Anjas terlihat dalam kutipan:
Anjas: “Aku belum tau nih bakat aku di mana.”
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa Anjas belum menemukan bakat yang dapat membantunya menentukan pilihan pendidikan. Kedua persoalan tersebut tidak berkembang menjadi pertengkaran antartokoh. Sebaliknya, konflik diselesaikan melalui percakapan dan pemberian saran. Penyelesaian tersebut sesuai dengan tema persahabatan yang mendasari cerita.
g. Amanat
Amanat merupakan pesan yang dapat dipahami melalui dialog, tindakan tokoh, dan penyelesaian cerita. Amanat pertama adalah pentingnya berusaha dan tidak mudah menyerah dalam meraih cita-cita. Hal ini terdapat dalam dialog Anjas:
Anjas: “Teruslah berusaha, jangan menyerah. Kejar cita-cita kamu.”
Kutipan tersebut menyampaikan bahwa kesulitan seharusnya dihadapi dengan ketekunan.
Amanat kedua adalah pentingnya memilih pendidikan berdasarkan bakat dan minat. Hal tersebut terlihat dalam dialog Adi:
Adi: “Pastinya yang sesuai dengan bakat dan minat kamu juga.”
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa seseorang perlu mempertimbangkan kemampuan dan minatnya ketika menentukan pilihan pendidikan.
Amanat ketiga adalah pentingnya dukungan dan nasihat dari orang lain. Hal tersebut terlihat ketika Anjas berkata:
Anjas: “Wah makasih ya, Adi, atas pendapat dan saran kamu. Aku akan coba ikuti saran kamu.”
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa Anjas menghargai saran yang diberikan oleh sahabatnya. Dengan demikian, cerita menyampaikan bahwa dukungan persahabatan dapat membantu seseorang menghadapi kebingungan dan menentukan keputusan.
- Hubungan Antarunsur Intrinsik
Berdasarkan pendekatan objektif, unsur-unsur intrinsik dalam naskah drama “Mengejar Cita-Cita” saling berhubungan dalam membangun kesatuan cerita.
Tema perjuangan meraih cita-cita terlihat melalui keinginan Adi menjadi kapten kapal dan kebingungan Anjas menentukan pilihan pendidikan. Tema tersebut diperkuat oleh penokohan kedua tokoh sebagai sahabat yang saling memberikan dukungan.
Alur maju menggambarkan perjalanan mereka dari pertemuan kembali, munculnya persoalan, pemberian saran, hingga keberhasilan diterima di perguruan tinggi. Dialog menjadi sarana untuk memperlihatkan karakter dan mengembangkan konflik, sedangkan latar sosial pendidikan memperjelas persoalan yang dihadapi kedua tokoh.
Hubungan antara usaha tokoh dan penyelesaian cerita terlihat dalam kutipan berikut.
“Setelah perbincangan tadi, mereka berdua menjadi lebih giat belajar.”
Kutipan tersebut menunjukkan perubahan tindakan tokoh setelah mereka saling memberikan saran.Perubahan itu kemudian berkaitan dengan akhir cerita.
“Berkat kegigihan yang dilakukan Adi dan Anjas, akhirnya mereka diterima di perguruan tinggi yang mereka impikan.”
Kutipan tersebut memperlihatkan hubungan sebab-akibat antara usaha tokoh dan keberhasilan mereka. Dengan demikian, tema, tokoh, alur, dialog, konflik, dan amanat saling mendukung dalam membentuk kesatuan cerita.
KESIMPULAN
Berdasarkan analisis menggunakan pendekatan objektif, naskah drama “Mengejar Cita-Cita” memiliki unsur intrinsik yang saling berkaitan. Tema perjuangan meraih cita-cita diperlihatkan melalui tokoh Adi dan Anjas yang menghadapi kesulitan dalam belajar dan menentukan pendidikan lanjutan.
Alur maju menggambarkan perjalanan kedua tokoh dari pertemuan kembali hingga keberhasilan mereka diterima di perguruan tinggi. Latar waktu sore hari ditunjukkan melalui dialog, sedangkan latar tempat tidak dijelaskan secara spesifik. Dialog berperan dalam memperlihatkan karakter, mengembangkan konflik, dan menyampaikan pesan cerita.
Amanat yang disampaikan meliputi pentingnya ketekunan, pemilihan pendidikan berdasarkan bakat dan minat, serta dukungan dalam persahabatan. Hubungan antarunsur tersebut membentuk kesatuan cerita yang memperlihatkan perjuangan dua sahabat dalam mempersiapkan masa depan.
Dengan demikian, pendekatan objektif membantu menjelaskan makna drama melalui unsur-unsur intrinsik dan hubungan antarunsur yang terdapat dalam teks, tanpa bergantung pada informasi di luar karya.
DAFTAR PUSTAKA
Swawikanti, Kenya. (2025, 11 Februari). 20 Contoh Naskah Drama Pendek Berbagai Tema | Bahasa Indonesia Kelas 11. Ruangguru. https://www.ruangguru.com/blog/contoh-teks-drama
Alim. 2000. “Analisis Perwatakan dan Penokohan dalam Naskah Drama ‘Abu’ Karya Bambang Soelarto”.
Departemen Pendidikan Nasional. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Endraswara, S. 2011. Metode Pembelajaran Drama: Apresiasi, Ekspresi, dan Pengkajian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sugiantomas dkk. 2017. “Analisis Tokoh dan Perwatakan serta Konflik Naskah Drama ‘Bapak’ Karya B. Soelarto dilihat dari Psikologi Komunikasi”. Artikel e-journal. Sumber: https://journal.uniku.ac.id/index.php/FON/article/view/1034.
Wellek, W. 1990. Teori Kesusastraan. Yogyakarta: Pustaka Pembelajaran.
Penulis
1. Ai Mursidah
2. Devi Novita
Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Universitas Pamulang (UNPAM)
Dosen Pengampu: Zaky Mubarak, S.S., M.Pd.
Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Alkafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















