Cantik itu Relatif, Lantas Siapa yang Membentuk Standar Kecantikan di TikTok?

Standar Kecantikan di TikTok
Standar Kecantikan di TikTok (Sumber: MMI)

Semua orang, termasuk kita, pasti sering sekali melihat perempuan cantik di beranda TikTok. Namun, sebenarnya apa sih itu cantik? Berkulit putih, badan langsing, hidung mancung, wajah halus, atau memiliki campuran ras? Orang-orang kerap sekali berkomentar bahwa cantik harus terlihat seperti ini dan itu. Tanpa kita sadari, kita jadi percaya bahwa penampilan seperti itulah yang disebut cantik. Padahal, kecantikan tidak bisa dilihat hanya pada satu hal saja, dan tidak ada aturan yang berkata bahwa cantik harus sesuai dengan kriteria tertentu.

Setiap perempuan berhak menentukan bagaimana ia ingin mengekspresikan diri dan kecantikannya. Namun, masalah selalu muncul ketika salah satu penampilan menjadi ukuran utama untuk menilai kecantikan perempuan.

Tren-tren di TikTok kerap menjadi wadah untuk membandingkan perempuan, sementara promosi produk di TikTok ikut menyebarkan gambaran tentang penampilan perempuan yang ideal. Maka, pertanyaannya bukan lagi sekadar “Apakah perempuan akan dibilang cantik kalau sesuai standar TikTok?”, melainkan siapa yang membentuk standar kecantikan tersebut dan mengapa kita mudah memercayainya.

Sejumlah penelitian juga memperlihatkan bagaimana standar kecantikan direpresentasikan di TikTok. Mufidah dkk. (2025) meneliti 51 video endorsement produk kecantikan di TikTok yang diunggah antara September 2023 dan September 2024. Hasilnya, sebesar 90,2% influencer dalam sampel berwarna kulit kuning langsat.

Hal ini menunjukkan bahwa warna kulit tertentu lebih banyak ditampilkan dalam konten promosi produk kecantikan. Namun, angka tersebut tentu tidak berarti bahwa semua pengguna TikTok berpikir hal yang sama. Hal ini dapat menunjukkan bahwa satu tampilan fisik bisa sangat mendominasi konten promosi kecantikan. Lalu, di mana ruang bagi perempuan dengan warna kulit, wajah, dan bentuk tubuh yang berbeda?

Pertanyaan itu juga muncul dalam kajian Ifa, Sudrajat, dan Tedjomurti (2025), yang menunjukkan bahwa kulit putih masih menempati posisi istimewa, sementara perempuan dengan kulit sawo matang harus berjuang untuk dianggap cantik. Menurut penulis, hal ini tidak benar dan patut dikritisi. Warna kulit adalah karakteristik alami manusia, bukan sebuah tolok ukur nilai seseorang. Jika kulit cerah dipandang sebagai simbol kecantikan, perempuan lain akan merasa dirinya kurang, padahal tidak ada alasan untuk menilai kecantikan dengan ukuran sesempit itu.

Sara Mills (2004) mengajak kita melihat bahwa teks ataupun konten bukan hanya sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga menunjukkan siapa yang memiliki kuasa untuk membentuk pandangan masyarakat dan siapa yang justru menjadi sasaran penilaian tersebut.

Dalam konten endorsement, perempuan sering menjadi objek yang dinilai dan dibandingkan. Sementara itu, narasi, kreator, komentar, dan sistem rekomendasi dalam platform ikut memengaruhi makna “cantik”. Mills juga menyoroti posisi pembaca. Audiens perempuan diajak melihat dirinya sendiri lewat kacamata iklan; ada “kekurangan” yang harus diperbaiki dan ada produk yang menjadi jawabannya. Dalam skema ini, perempuan jarang diberi ruang untuk menentukan definisi kecantikan versinya sendiri.

Naomi Wolf (1990) dalam The Beauty Myth memperkuat kritik ini dan menyebut tuntutan kecantikan sebagai alat sosial yang membuat perempuan sibuk menilai tubuhnya sendiri, sementara kemampuan dan pencapaiannya kurang diperhatikan.

Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Tripalupi (2024) bahwa dalam budaya patriarki, perempuan kerap diposisikan sebagai objek kecantikan semata, sehingga nilainya diukur dari tampilan fisik tanpa memerhatikan faktor lainnya. Dampaknya tidak sepele. Ketika standar yang sempit terus dinormalisasi, perempuan didorong untuk membandingkan diri setiap kali menggulir layar.

Yang dikejar akhirnya bukan lagi rasa nyaman dengan diri sendiri, melainkan persetujuan dari penonton yang tidak dikenal. Ketika satu penampilan terus dipuji, penampilan lain selalu dijadikan bahan ejekan, dan dari hal ini kita bisa melihat standar kecantikan diproduksi bersama-sama.

Memang tidak ada yang memaksa, tetapi banyak perempuan di luar sana yang merasa standar kecantikan memang seperti itu dan mereka merasa harus berubah sesuai standar yang mereka anggap benar. Padahal, kenyataannya, semua perempuan dengan kulit yang beragam warnanya, bentuk tubuh yang berbeda, mau berjerawat, memiliki tahi lalat, ataupun tidak, mereka semua akan selalu cantik.

Meski begitu, TikTok bukan satu-satunya biang keladi. Pandangan tentang kecantikan sebenarnya sudah dibentuk oleh lingkungan, budaya, keluarga, dan media jauh sebelum aplikasi TikTok ada. TikTok tidak hanya mempercepat penyebarannya, tetapi juga membuka ruang perlawanan.

Penelitian milik Salma dan Hariyanti (2025) serta Wilmanda dan Hariyanti (2025) membahas akun @Juliarimbaa dan @cadburylemonade yang membuat konten untuk menentang ataupun mengkritik standar kecantikan yang selama ini dinormalisasikan oleh masyarakat. Artinya, media sosial seperti TikTok bisa menjadi tempat untuk mempertahankan standar kecantikan yang dipercaya oleh masyarakat sejak lama, tetapi juga bisa menjadi sarana untuk mengubah sudut pandang masyarakat tentang kecantikan.

Kita juga tidak boleh menutup mata terhadap kepentingan ekonomi. Jufianto dkk. (2026) menemukan bahwa iklan produk perawatan tubuh di TikTok, lewat visual sebelum-sesudah dan istilah pemutihan, menempatkan kulit putih sebagai hasil akhir yang ideal.

Di sini, kita perlu membedakan kebutuhan merawat diri dari pesan pemasaran yang dapat membuat seseorang merasa penampilannya belum cukup baik. Produk kecantikan boleh dijual, tetapi konsumen tidak boleh dibuat percaya bahwa warna kulitnya menurunkan harga dirinya.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Menurut penulis, kita perlu memahami bahwa di dalam media sosial tidak semua hal seperti yang kita pikirkan. Maka dari itu, kita perlu meningkatkan literasi digital, seperti mengetahui bahwa filter, pencahayaan, penyuntingan, dan strategi promosi dapat membentuk apa yang tampak “ideal dan sempurna”. Persoalan ini tidak bisa dibebankan pada audiensnya saja.

Menurut penulis, kreator dan pengiklan perlu menghadirkan perempuan dengan keragaman warna kulit dan bentuk tubuh. Platform dan lembaga pengawas periklanan perlu lebih tegas mengawasi klaim “pemutihan” dan visual sebelum-sesudah yang menyesatkan. Perubahan baru terasa jika yang menentukan standar tidak lagi hanya segelintir pihak.

Pada akhirnya, standar kecantikan yang kita lihat di TikTok bukan gambaran mutlak tentang kecantikan. Ada kebiasaan dari lingkungan, pilihan visual, dan kepentingan ekonomi yang ikut membentuknya.

Bagi penulis, setiap perempuan berhak menentukan dirinya untuk berekspresi seperti apa tanpa terikat pada sebuah standar. Kecantikan seharusnya menjadi ruang untuk mengekspresikan diri, bukan hal yang bisa disetir oleh orang lain. Kita mungkin tidak bisa menghapus seluruh standar kecantikan, tetapi kita bisa mulai mempertanyakan benar atau salahnya dan berhenti menjadikannya sebagai ukuran kecantikan seseorang.


Penulis: Tabina Auriel Fredelina
Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *