Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang berperan penting dalam menjaga kesehatan dan keberlangsungan hidup. Ketersediaan pangan yang cukup, aman, bergizi, dan terjangkau menjadi salah satu faktor utama dalam mewujudkan ketahanan pangan.
Namun, permasalahan yang masih dihadapi saat ini adalah tingginya jumlah makanan yang terbuang atau dikenal dengan istilah food waste. Permasalahan ini tidak hanya menyebabkan kerugian ekonomi, tetapi juga berdampak terhadap lingkungan dan pemanfaatan sumber daya alam.
Berdasarkan laporan Food Waste Index Report 2024 dari United Nations Environment Programme (UNEP), sekitar 1,05 miliar ton makanan terbuang di tingkat rumah tangga, layanan makanan, dan ritel sepanjang tahun 2022. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 19% makanan yang tersedia bagi konsumen.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pengurangan food waste merupakan langkah yang penting dalam menciptakan sistem pangan yang lebih efisien dan berkelanjutan (UNEP, 2024). Oleh karena itu, inovasi teknologi pangan diperlukan untuk mengurangi pemborosan makanan sekaligus mendukung ketahanan pangan.
Food waste merupakan kondisi ketika makanan yang sebenarnya masih layak dikonsumsi terbuang pada tahap penjualan, penyajian, atau konsumsi.
Permasalahan ini dapat terjadi karena berbagai faktor, seperti pembelian bahan pangan secara berlebihan, penyimpanan yang kurang tepat, ukuran porsi yang terlalu besar, serta kurangnya pemahaman mengenai pengelolaan makanan.
BACA JUGA: Layak di Atas Kertas, Rapuh di Lapangan: Mengapa AMDAL Harus Menentukan Kelayakan Bisnis?
Di sektor industri pangan, makanan juga dapat terbuang akibat kesalahan dalam pengolahan, kerusakan produk, dan ketidaksesuaian standar penampilan produk.
Dampak food waste tidak hanya berkaitan dengan hilangnya makanan, tetapi juga pemborosan air, energi, lahan, tenaga kerja, dan biaya produksi yang telah digunakan untuk menghasilkan pangan tersebut. Selain itu, makanan yang membusuk di tempat pembuangan dapat menghasilkan emisi gas rumah kaca.
Food and Agriculture Organization (FAO) menjelaskan bahwa kehilangan dan pemborosan pangan berdampak terhadap ketahanan pangan, gizi, lingkungan, serta perekonomian. Oleh sebab itu, pengurangan food waste perlu dilakukan melalui upaya yang melibatkan seluruh rantai pasok pangan, mulai dari produsen hingga konsumen (FAO, 2026).
Salah satu upaya untuk mengurangi food waste adalah melalui penerapan inovasi teknologi pangan. Teknologi pangan tidak hanya berfokus pada proses pembuatan produk, tetapi juga mencakup pengawetan, pengemasan, penyimpanan, dan pemanfaatan bahan pangan agar dapat digunakan secara optimal.
Pertama, teknologi pengawetan dapat membantu memperpanjang umur simpan makanan. Metode seperti pasteurisasi, pengeringan, pembekuan, dan fermentasi dapat diterapkan sesuai dengan karakteristik bahan pangan.
Sebagai contoh, buah yang jumlahnya melimpah dan berisiko mengalami kerusakan dapat diolah menjadi selai, sari buah, atau buah kering.
Pengolahan tersebut dapat meningkatkan nilai guna bahan pangan dan mengurangi jumlah buah yang terbuang. Meskipun demikian, proses pengawetan harus tetap memperhatikan keamanan pangan dan kandungan gizi produk.
Kedua, inovasi pengemasan berperan penting dalam menjaga mutu makanan. Kemasan yang memiliki sifat penghalang terhadap oksigen, uap air, atau cahaya dapat membantu memperlambat penurunan kualitas produk tertentu.
Selain itu, teknologi pengemasan aktif dan kemasan cerdas berpotensi membantu mempertahankan mutu serta memberikan informasi mengenai kondisi produk. Pemilihan jenis kemasan harus disesuaikan dengan karakteristik pangan, keamanan bahan kemasan, dan dampak lingkungannya agar tidak menimbulkan permasalahan baru berupa peningkatan sampah kemasan.
Ketiga, penerapan rantai dingin (cold chain) dapat mengurangi kerusakan bahan pangan yang mudah rusak, seperti ikan, daging, susu, buah, dan sayuran.
Rantai dingin merupakan sistem penyimpanan dan distribusi dengan pengendalian suhu yang sesuai sejak produk ditangani hingga sampai kepada konsumen. FAO (2023) menjelaskan bahwa sistem rantai dingin yang memadai dapat membantu mempertahankan kesegaran dan nilai gizi pangan lebih lama.
Penerapan teknologi ini sangat penting, terutama untuk produk yang membutuhkan suhu penyimpanan tertentu. Namun, penggunaannya perlu mempertimbangkan efisiensi energi dan pemilihan teknologi pendinginan yang lebih ramah lingkungan.
Keempat, teknologi pengolahan hasil samping pangan dapat menjadi alternatif untuk mengurangi limbah dari industri makanan. Bagian bahan pangan yang masih aman dan sesuai untuk diolah dapat dimanfaatkan menjadi produk bernilai tambah.
Sebagai contoh, ampas kedelai dari pembuatan tahu atau susu kedelai dapat dikembangkan menjadi bahan pangan tambahan yang kaya serat dan protein.
Kulit buah tertentu juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan tepung atau produk olahan lainnya setelah melalui pengujian keamanan dan mutu. Pemanfaatan tersebut perlu dilakukan secara tepat agar tidak sekadar memindahkan limbah dari satu bentuk ke bentuk lainnya.
Selain itu, teknologi digital dapat membantu pengelolaan persediaan dan distribusi pangan. Sistem pencatatan stok, pemantauan suhu, serta perkiraan permintaan menggunakan data dapat membantu produsen dan pelaku usaha menentukan jumlah produksi yang sesuai dengan kebutuhan.
Dengan demikian, kelebihan produksi dan penumpukan produk yang berisiko kedaluwarsa dapat dikurangi. Teknologi digital juga dapat mendukung penyaluran makanan berlebih yang masih layak konsumsi kepada pihak yang membutuhkan melalui kerja sama antara pelaku usaha, lembaga sosial, dan masyarakat.
Ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh jumlah pangan yang diproduksi, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat untuk memperoleh dan memanfaatkan pangan yang aman serta bergizi. Ketika makanan yang masih layak dikonsumsi terbuang, sumber daya yang digunakan untuk memproduksinya ikut terbuang.
Sebaliknya, apabila kehilangan dan pemborosan pangan dapat ditekan, ketersediaan pangan dapat dimanfaatkan secara lebih efisien.Pengurangan food waste juga mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.
Target 12.3 menetapkan upaya untuk mengurangi separuh limbah pangan per kapita di tingkat ritel dan konsumen serta mengurangi kehilangan pangan sepanjang rantai produksi dan pasokan pada tahun 2030 (UNEP, 2024).
Dalam konteks Indonesia, penerapan teknologi pangan dapat dikembangkan sesuai dengan potensi bahan pangan lokal. Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dapat memanfaatkan metode pengolahan dan pengemasan yang tepat untuk memperpanjang umur simpan produk.
BACA JUGA: Teknologi ‘Kapsul’ Makanan: Untuk Pangan yang Lebih Tahan Lama
Di sisi lain, konsumen dapat mendukung pengurangan food waste dengan merencanakan pembelian, menyimpan makanan sesuai petunjuk, mengambil porsi secukupnya, serta memanfaatkan sisa makanan yang masih aman. Dengan demikian, inovasi teknologi perlu berjalan bersama perubahan perilaku masyarakat dan pengelolaan pangan yang bertanggung jawab.
Walaupun menawarkan banyak manfaat, penerapan inovasi teknologi pangan masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti keterbatasan biaya, fasilitas penyimpanan, pengetahuan teknis, dan akses teknologi bagi pelaku usaha kecil. Oleh karena itu, diperlukan dukungan pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan masyarakat.
Penelitian dan pengembangan teknologi yang terjangkau serta pelatihan bagi pelaku UMKM dapat membantu memperluas penerapan inovasi tersebut. Keberhasilan pengurangan food waste tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi, tetapi juga pada kesesuaian teknologi dengan kebutuhan dan kemampuan penggunanya.
Pengurangan food waste merupakan langkah penting dalam mendukung ketahanan pangan berkelanjutan. Permasalahan ini dapat diatasi melalui berbagai inovasi teknologi pangan, seperti teknologi pengawetan, pengemasan, rantai dingin, pemanfaatan hasil samping pangan, dan sistem digital untuk pengelolaan persediaan.
Penerapan teknologi tersebut dapat membantu mempertahankan mutu pangan, memperpanjang umur simpan, meningkatkan nilai guna bahan pangan, serta mengurangi pemborosan sumber daya.
Namun, upaya tersebut perlu didukung oleh edukasi konsumen, peningkatan kemampuan pelaku usaha, dan kerja sama berbagai pihak. Dengan mengintegrasikan inovasi teknologi pangan dan perilaku konsumsi yang bertanggung jawab, Indonesia dapat membangun sistem pangan yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.
Penulis: Nadia Saqifa
Mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan, Universitas Muhammadiyyah Malang (UMM)
Dosen Pengampu: Musaffak, S.Pd., M.Pd.
Editor: Darsono. AR
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















