Demo: Ujian Kualitas Berbangsa dan Bernegara

demo sebagai ujian demokrasi
Ilustrasi Demo: Ujian Kualitas Berbangsa dan Bernegara (Sumber: MMI Arts)

Setiap orang yang mengalami ujian pasti berharap bisa lulus ujian karena setelah lulus ujian ia akan memiliki tingkat kualitas yang lebih baik dari sebelum ujian.

Demo adalah ujian kedewasaan hidup berbangsa dan bernegara.

Demo mencerminkan apakah bangsa ini sudah dewasa dalam berdemokrasi atau belum.

Di satu sisi, demo adalah hak konstitusional masyarakat dan katup pengaman (emergency exit) dari kebuntuan komunikasi.

Lewat demo, aspirasi rakyat yang tersumbat bisa lolos sampai ke meja DPR.

Tanpa tekanan massa, banyak kebijakan jalan di tempat.

Di sinilah demo menjadi alternatif alat perbaikan berbangsa dan bernegara.

Di sisi lain, demo juga bisa menjadi ujian yang gagal.

Ketika tuntutan berubah jadi ambisi pribadi atau golongan, ketika respons tidak segera diberikan oleh penguasa, ketika lapangan diisi banyak provokator, ketika terjadi bakar-bakaran dan lempar-lemparan, maka yang lahir bukan solusi, tetapi luka.

Korban berjatuhan, ekonomi terganggu, dan kepercayaan di antara anak bangsa retak.

Demo seperti itu sudah beberapa kali kita alami.

Alhamdulillah semuanya telah meningkatkan kualitas kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara walaupun masih selalu ada catatan merah.

Ada korban yang luka hingga ada yang harus meninggal dunia, termasuk kerugian karena kerusakan fasilitas umum.

Hampir semua demo itu memiliki pola yang sama, rusuh dulu baru direspons.

Demo menjadi rusuh berarti gagal ujian, sedangkan demo yang segera direspons berarti lulus ujian.

Sehingga bisa disimpulkan bahwa kualitas kehidupan berbangsa dan bernegara kita belum sepenuhnya dewasa.

Masih diperlukan korban untuk naik kelas.

Adakah pola demo berikutnya yang lebih dewasa?

Demo yang dewasa memiliki ciri tuntutan merupakan aspirasi rakyat banyak, disampaikan dengan tertib, ada komando yang kuat, cepat direspons, dan terjadi dialog.

Ini terjadi saat Demo 212.

Demo 212 adalah demo tentang penistaan agama yang dinilai sangat berisiko karena menyangkut kerukunan umat beragama.

Demo 212 yang dikomandani oleh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI mengerahkan jutaan massa dari berbagai daerah di Indonesia.

Mereka berkumpul di Masjid Istiqlal, Monas, hingga Bundaran HI.

Tujuan demo jelas, yaitu menuntut hukuman yang adil bagi penista agama.

Ada komando demo yang kuat. Ada pembagian kerja di antara demonstran, mulai dari koordinasi, transportasi, kesehatan, hingga kebersihan.

Terjadi dialog, perundingan, dan komitmen yang win-win setelah Presiden dan Kapolri merespons dengan cepat.

Dengan demikian, demo bisa berlangsung bersih tanpa kerusakan dan korban.

Demo yang gagal mendewasakan kehidupan berbangsa dan bernegara bercirikan tuntutan demonstran yang kabur dan berubah-ubah, tujuannya cenderung membuat keributan, dan hanya menguntungkan kelompok tertentu.

Yang didemo menolak merespons dan cenderung menghalau demonstran.

Terjadi provokasi massa dengan suara-suara makian dan bakar-bakar di jalanan.

Ketegangan terjadi antara demonstran dengan pihak keamanan hingga memuncak menjadi kekerasan yang menimbulkan korban.

Ini akan menimbulkan luka dan dendam yang berkepanjangan.

Arah demo sebenarnya bisa diprediksi.

Ia akan menuju perbaikan atau malah menuju perburukan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Demo akan menuju perbaikan jika aspirasinya logis, jelas, dan disertai dengan bukti dan argumentasi yang logis.

Di samping itu, DPR, Pemerintah, atau pihak mana saja yang didemo cepat merespons dengan dialog, berunding, dan tindak lanjut nyata.

Demo akan menuju perburukan jika aspirasi diabaikan dan hanya dijawab dengan kekerasan.

Kali ini, Demo 27 Agustus 2026 adalah ujian terbaru kita.

Di saat Aliansi GERAM (Gerakan Rakyat Menggugat) dan AMPB (Aliansi Masyarakat Pati Bersatu), serta ARIB (Aliansi Rakyat Indonesia Bersatu) membawa tuntutan masing-masing, dan Pimpinan DPR menyatakan siap menerima, bangsa ini diuji: Mampukah kita mengubah teriakan dan olok-olok di jalan menjadi kesepakatan di meja perundingan tanpa harus ada korban lagi? Semoga tetap jaya, aman, damai, dan sejahtera Indonesiaku.

Kesimpulan

Demo bukan musuh negara, tapi ujian demokrasi.

Yang menjadi ujian adalah kualitas kehidupan berbangsa dan bernegara kita semua.

Kedewasaan demonstran untuk tertib dan membawa data saat demo.

Kedewasaan penguasa untuk mendengar, bernegosiasi, memutuskan, dan menindaklanjuti tuntutan.

Kedewasaan bangsa untuk menjadikan perbedaan sebagai bahan bakar kemajuan, bukan perpecahan.

Bangsa yang dewasa tidak diukur dari seberapa sering demonya, tapi dari seberapa cepat ia menemukan solusi setelah demo.


Penulis: Mokh Suef
Dosen Departemen Teknik Sistem dan Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses