Lamongan, MMI – Limbah kulit singkong yang selama ini dianggap sebagai sampah ternyata memiliki potensi untuk dimanfaatkan menjadi produk yang lebih bernilai.
Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat, dosen dan mahasiswa UPN “Veteran” Jawa Timur memperkenalkan inovasi pengolahan limbah kulit singkong menjadi bioplastik ramah lingkungan kepada masyarakat Desa Meluwur, Kecamatan Glagah, Kabupaten Lamongan.
Desa Meluwur merupakan salah satu wilayah yang sebagian besar masyarakatnya bekerja sebagai petani.
Singkong menjadi salah satu hasil pertanian yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat.
Namun, di balik pemanfaatan singkong sebagai bahan pangan, terdapat bagian yang belum termanfaatkan, yaitu kulitnya.
Jika tidak dikelola dengan baik, kulit singkong dapat menumpuk dan menjadi limbah yang mengganggu lingkungan.
Berdasarkan kondisi permasalahan yang ada, tim pengabdian masyarakat UPN “Veteran” Jawa Timur melihat adanya peluang untuk mengubah limbah tersebut menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.
Masyarakat diajak untuk tidak lagi memandang kulit singkong hanya sebagai sisa yang harus dibuang, tetapi sebagai bahan yang masih dapat diolah menjadi produk inovatif.
Kegiatan ini dipimpin oleh AR Yelvia Sunarti, S.T., M.T., dosen Program Studi Teknik Kimia UPN “Veteran” Jawa Timur, bersama Ardika Nurmawati, S.T., M.T., dosen Program Studi Teknik Kimia, dan Nenni Mona Aruan, S.Pd., M.Si., dosen Program Studi Fisika.
Kegiatan tersebut juga melibatkan tiga mahasiswa, yaitu Fauzi Adi Mahendra, Salsabillah Isabel, dan Aditya Alvarel Raka Ardhana.
Program pengabdian dengan tema “Optimalisasi Potensi Limbah Kulit Singkong Menjadi Bioplastik Berbasis Pemberdayaan Masyarakat Desa di Desa Meluwur, Kecamatan Glagah, Kabupaten Lamongan” dilaksanakan pada Kamis, 13 Agustus 2026, bertempat di Balai Desa Meluwur.
Kegiatan diikuti oleh perangkat desa, kelompok tani, Karang Taruna, dan ibu-ibu PKK Desa Meluwur.

Kegiatan berlangsung dengan suasana yang interaktif.
Setelah pembukaan, peserta mendapatkan penjelasan mengenai permasalahan limbah plastik sekaligus potensi limbah kulit singkong sebagai bahan untuk membuat bioplastik.
Tim pengabdian juga menjelaskan bahan-bahan yang digunakan, prinsip pembuatan, tahapan proses, serta peluang pemanfaatan bioplastik dalam kehidupan sehari-hari.
Tidak hanya mendengarkan penjelasan, peserta juga diajak melihat secara langsung proses pembuatan bioplastik.
Kulit singkong terlebih dahulu dikumpulkan dan dibersihkan untuk menghilangkan kotoran yang masih menempel.
Setelah itu, kulit singkong dipotong menjadi bagian yang lebih kecil dan diolah untuk mendapatkan bahan yang dapat dimanfaatkan dalam pembuatan bioplastik.
Bahan tersebut kemudian dicampurkan dengan bahan pendukung sesuai formulasi dan dipanaskan sambil terus diaduk.
Proses ini dilakukan hingga campuran menjadi homogen dan membentuk adonan yang siap dicetak.
Adonan selanjutnya dituangkan ke dalam cetakan, diratakan, dan dikeringkan hingga menghasilkan lembaran bioplastik.
Bagi masyarakat, proses tersebut menjadi pengalaman baru.
Bahan yang sebelumnya dianggap tidak berguna ternyata dapat diolah melalui tahapan yang cukup sederhana menjadi material alternatif.
Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang mahal atau sulit ditemukan.
Potensi tersebut justru dapat berasal dari bahan yang ada di sekitar masyarakat.
Pemanfaatan kulit singkong sebagai bahan bioplastik juga menjadi salah satu upaya untuk mengenalkan alternatif terhadap penggunaan plastik konvensional.
Selain memanfaatkan limbah pertanian, kegiatan ini mendorong masyarakat untuk lebih peduli terhadap persoalan sampah dan pentingnya penggunaan bahan yang lebih ramah lingkungan.
Tim pengabdian juga mengajak peserta untuk melihat peluang yang lebih luas dari kegiatan tersebut.
Jika dikembangkan dengan baik, pemanfaatan limbah kulit singkong tidak hanya dapat membantu mengurangi limbah, tetapi juga berpotensi menjadi bagian dari kegiatan produktif masyarakat berbasis potensi lokal.
Antusiasme peserta terlihat selama kegiatan berlangsung.
Peserta aktif mengikuti demonstrasi, mengajukan pertanyaan, dan berdiskusi mengenai kemungkinan pemanfaatan bioplastik serta pengolahan limbah kulit singkong di lingkungan mereka.
Peserta juga dapat melihat secara langsung hasil bioplastik yang telah dibuat sehingga memperoleh gambaran mengenai produk yang dihasilkan.
Kegiatan ini juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk saling bertukar pengalaman mengenai pengelolaan limbah yang selama ini dilakukan di lingkungan Desa Meluwur.
Keterlibatan perangkat desa, kelompok tani, Karang Taruna, dan ibu-ibu PKK diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk membangun kebiasaan baru dalam memanfaatkan limbah dan menjaga lingkungan.
Setelah rangkaian kegiatan selesai, acara ditutup dengan penyerahan cendera mata dan foto bersama.
Momen tersebut menjadi penutup kegiatan sekaligus bentuk apresiasi kepada masyarakat yang telah berpartisipasi aktif dalam kegiatan pengabdian.

Melalui kegiatan ini, tim UPN “Veteran” Jawa Timur berharap masyarakat Desa Meluwur semakin memahami bahwa limbah pertanian memiliki potensi untuk diolah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.
Kulit singkong yang selama ini hanya dianggap sebagai sisa dapat menjadi bahan untuk mengenalkan inovasi bioplastik sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.
Dari limbah kulit singkong, masyarakat Desa Meluwur belajar bahwa sesuatu yang sederhana di sekitar mereka pun dapat menjadi awal dari sebuah inovasi.
Penulis:
1. AR Yelvia Sunarti, S.T., M.T.
2. Ardika Nurmawati, S.T., M.T.
3. Nenni Mona Aruan, S.Pd., M.Si.
Dosen Fakultas Teknik dan Sains, UPN Veteran Jawa Timur
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













