Di zaman yang sering terjadi fitnah, ada masa ketika seorang mukmin merasakan manisnya iman, indahnya ibadah, serta kemudahan dalam membaca Al-Qur’an dan semangat menghadiri majelis ilmu.
Namun, terkadang semangat itu melemah.
Bacaan Al-Qur’an semakin berkurang, kajian terasa menjemukan, dan hati terasa amat keras.
Kondisi ini disebut dengan istilah futur.
Pada zaman ini, tidak sedikit orang yang mengalami penurunan semangat tersebut.
Perlu diketahui bahwa rasa futur tidak boleh membuat kita putus asa.
Hal yang perlu diperiksa adalah apakah seseorang masih merasa nyaman atau tidak dengan kondisi tersebut.
Allah berfirman dalam Surah Al-Ankabut ayat 69:
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69)
Para ulama sering menjadikan ayat ini sebagai motivasi bagi orang yang sedang mengalami futur atau kelesuan spiritual.
Kata jihad di sini mencakup perjuangan melawan hawa nafsu, rasa malas, serta bisikan setan untuk kembali istiqamah di jalan Allah.
Futur merupakan salah satu penyakit yang dapat menimpa seorang hamba ketika menuju kepada Allah.
Futur juga dapat menimpa seseorang yang sedang menuntut ilmu dan membuatnya suka menunda-nunda kebaikan.
Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara kontinu.
Karena itu, jangan sampai amalan dan hubungan kita dengan Allah terputus; keduanya harus terus dijaga.
Kurangi beban amalan sunah jika diperlukan. Namun, futur jangan dijadikan alasan.
Kondisi ini dapat menjadi kesempatan untuk melawan hawa nafsu dan melakukan introspeksi diri.
Allah berfirman:
اَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْ تَخْشَعَ قُلُوْبُهُمْ لِذِكْرِ اللّٰهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ ۙ وَلَا يَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْاَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوْبُهُمْ ۗ وَكَثِيْرٌ مِّنْهُمْ فٰسِقُوْنَ
Artinya: “Apakah belum tiba waktunya bagi orang-orang yang beriman agar hati mereka khusyuk mengingat Allah dan apa yang turun dari kebenaran (Al-Qur’an). Janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Banyak di antara mereka adalah orang-orang fasik.”
Bahaya Futur
Bahaya futur di antaranya:
1. Dapat menyebabkan hati menjadi keras.
2. Futur dapat membuat seseorang meremehkan dosa. Sikap meremehkan dosa juga dikaitkan dengan sifat orang munafik.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
كَلَّا بَلْ ۜ رَا نَ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ مَّا كَا نُوْا يَكْسِبُوْنَ
“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifiin [83]: 14)
3. Futur dapat menyebabkan seseorang meninggalkan kewajiban, seperti salat fardu dan kewajiban lainnya.
Akibatnya, seseorang dapat mengikuti hawa nafsu hingga terjerumus dalam meninggalkan salat fardu.
Allah berfirman:
فَخَلَفَ مِنْۢ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ اَضَاعُوا الصَّلٰوةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوٰتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا
Artinya: “Kemudian, datanglah setelah mereka (generasi) pengganti yang mengabaikan salat dan mengikuti hawa nafsu. Mereka kelak akan tersesat.”
Jangan menunggu hati bersemangat untuk mengerjakan kewajiban. Selalulah meminta kepada Allah agar hati tenang dan tenteram.
4. Futur dapat menyebabkan seseorang kehilangan kebiasaan beribadah.
5. Futur membuka jalan bagi dominasi hawa nafsu.
6. Futur dapat menjauhkan seseorang dari lingkungan yang saleh. Seseorang yang sebelumnya rajin beribadah dan sering menghadiri majelis ilmu, tetapi kemudian tidak lagi tampak di majelis ilmu ketika mengalami futur, menunjukkan salah satu bahaya kondisi tersebut.
7. Futur yang berkepanjangan dapat membuat seseorang menunda taubat hingga ajal datang.
Penyebab Futur
Penyebab terjadinya futur antara lain:
1. Tidak ikhlas dalam menjalankan niat, seperti menghadiri majelis ilmu dan melaksanakan kewajiban lainnya dalam kehidupan sehari-hari.
Allah berfirman:
وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ
“Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istiqamah).”
2. Ghuluw atau berlebihan dalam agama dan ibadah sehingga seseorang terputus dari ibadah tersebut.
3. Maksiat dan menjauh dari ilmu. Jika tidak segera bertaubat, hal ini dapat membuat seseorang semakin malas dan hatinya tidak tergerak untuk menjalankan ibadah, seperti salat dan menghadiri majelis ilmu.
Kesimpulan
Futur bukanlah tanda bahwa Allah membenci kita, tetapi tanda bahwa iman kita sedang butuh di-charge kembali.
Jangan biarkan futur membawa kita kembali ke masa jahiliah.
Jadikan futur sebagai momentum untuk muhasabah dan kembali kepada Allah dengan semangat yang baru.
Orang yang cerdas bukanlah yang tidak pernah futur, melainkan orang yang ketika futur tetap berada di atas rel Sunah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Futur tidak mengenal latar belakang ekonomi dan dapat melanda siapa saja.
Bahkan, ada seseorang yang masuk Islam kemudian menjadi murtad dan kufur ketika mengalami futur ini.
Semoga tabligh akbar ini menjadi wasilah bagi kita semua untuk keluar dari jurang futur dan kembali bersemangat dalam beribadah hingga ajal menjemput dalam keadaan husnul khatimah.
Wallahu Ta’ala A’lam.
Penulis: Teuku Muhammad Fauzan Robbani, S.Li.
Mahasiswa Magister Ilmu Al Qur’an dan Tafsir, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Editor: Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Daftar Pustaka
- Al-Huwaary, A. Z. (2023). Jalan Keluar Dari Futur dan Malas Ibadah. Bekasi: Pustaka Muadz.
- Al-Munajjid, M. S. (2020). Dzahirah Adh-Dha’f fil Iman – Fenomena Lemahnya Iman. Riyadh: Dar Al-Wathan.
- Al-Imam Ahmad bin Hanbal. (1995). Musnad Al-Imam Ahmad. Hadis No. 6958 tentang Futur.
- Fauzan, A. (2024). Manajemen Hati: Strategi Mengatasi Burnout Ibadah (Futur) dalam Perspektif Sunnah. Jurnal Tazkiyatun Nafs, 2(2), 112–125.
- Husain, M. S. (2022). Al-Futur: Mazhahiruhu wa Asbabuhu wa ‘Ilajuhu – Fenomena Futur, Gejala, Penyebab dan Solusinya. Kairo: Darul Wathan. (Kitab rujukan utama tentang futur).
- Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. (2021). Ighatsatul Lahafan min Mashayid Asy-Syaithan – Tips Jitu Mengusir Futur dari Godaan Setan. Jakarta: Ummul Qura.
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















