Indonesia sering disebut negara agraris. Tanahnya subur, lautnya luas, dan hasil buminya beragam. Namun, ada pertanyaan sederhana yang jarang kita renungkan: siapa yang sebenarnya paling banyak menikmati keuntungan dari hasil pertanian kita?
Jawabannya sering kali bukan petani yang menanam, melainkan pihak yang mengolahnya menjadi produk jadi.
Ekspor Naik, tetapi Pertanian Tertinggal
Data tahun ini memberi gambaran menarik. Kementerian Perdagangan mencatat nilai ekspor Indonesia pada April 2026 mencapai US$25,30 miliar, naik 12,32 persen dibandingkan bulan sebelumnya dan 21,98 persen dibandingkan tahun lalu.
Sayangnya, kabar baik itu tidak dinikmati secara merata. Secara kumulatif pada Januari–April 2026, ekspor sektor pertanian justru turun 26,27 persen.
Artinya, ketika perdagangan nasional bergerak naik, pertanian masih rentan tertinggal.
Salah satu penyebabnya adalah kita terlalu sering menjual komoditas dalam bentuk mentah. Harga bahan mentah mudah berubah mengikuti pasar dunia, sedangkan produk olahan memiliki nilai jual lebih tinggi dan lebih stabil.
Agroindustri: Jembatan dari Ladang ke Pasar
Di sinilah agroindustri berperan. Agroindustri adalah industri yang mengolah hasil pertanian menjadi produk bernilai tambah, misalnya biji kopi menjadi kopi bubuk kemasan, singkong menjadi tepung, atau buah menjadi sari buah.
Agroindustri menjadi jembatan antara petani di hulu dan konsumen di hilir. Dengan pengolahan, margin keuntungan tidak lagi habis di tangan pembeli bahan mentah, tetapi bisa mengalir lebih besar kepada petani dan pelaku usaha di desa.
Pemerintah sudah membaca arah ini. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh lagi mengekspor bahan mentah karena nilai tambahnya harus dinikmati di dalam negeri.
Kementerian Pertanian bahkan menjalankan hilirisasi perkebunan dengan alokasi sekitar Rp9,5 triliun.
Dari sisi industri, Kementerian Perindustrian menilai hilirisasi agro berpotensi membantu Indonesia mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2028. Kementerian Ketenagakerjaan pun berharap agroindustri ikut membuka lapangan kerja formal.
Tantangan yang Tidak Boleh Diabaikan
Meski begitu, membangun pabrik saja tidak cukup. Pabrik pengolahan membutuhkan pasokan bahan baku yang konsisten. Chief Executive Officer Center for Indonesian Policy Studies, Anton Sulaiman, menyebut pemenuhan bahan baku dan bahan penolong masih menjadi kendala utama industri hilir.
Di sisi lain, ekonom LPEM UI mendesak pemerintah segera menyusun peta jalan hilirisasi sektor agro agar momentum ekspor tidak terbuang.
Pelajaran pentingnya: hulu dan hilir tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Petani, pemasok, investor, dan pelaku industri harus terhubung dalam satu rantai nilai.
Tanpa kepastian pasokan, pabrik berhenti. Tanpa pabrik yang membeli, petani kembali menjual murah.
Peran Anak Muda dan Kampus
Hilirisasi juga membutuhkan sumber daya manusia yang memahami pengolahan pangan. Menteri Pertanian sendiri mengajak perguruan tinggi memperkuat hilirisasi.
Sebagai mahasiswa Teknologi Pangan, saya melihat ajakan ini sebagai panggilan nyata.
Inovasi pengolahan, pengawetan, dan pengendalian mutu dapat mengubah hasil panen yang mudah rusak menjadi produk pangan yang aman, bergizi, dan memiliki daya saing.
Saatnya Berhenti Menjual Mentah
Indonesia tidak kekurangan hasil bumi. Yang kita butuhkan adalah keberanian dan kerja sama untuk mengolahnya sendiri.
Jika agroindustri dibangun dengan pasokan yang terjamin, dukungan kebijakan yang jelas, dan keterlibatan generasi muda, pertanian tidak hanya menjadi penyedia bahan baku bagi negara lain, tetapi juga menjadi sumber kesejahteraan bagi petani kita.
Jangan jual mentah lagi.
Sumber data: Kontan (4 Agustus dan 16 Oktober 2026), JournalArta (17 Oktober 2026), Republika (20 Maret 2026), Antara (7 Juni dan 13 Agustus 2026).
Penulis: Niswah Shofa Fadiyah
Mahasiswa Teknologi Pangan, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















