Nilai Bagus Saja Tidak Cukup: Dua Skill yang Menentukan Hidup Anak SMA

pasar modal syariah
Nilai Bagus Saja Tidak Cukup: Dua Skill yang Menentukan Hidup Anak SMA. Sumber: MMI.

Pernahkah kita melihat teman sekelas yang sebenarnya punya banyak ide bagus, tetapi memilih diam karena takut salah atau ditertawakan?

Di sisi lain, ada juga teman yang uang sakunya selalu habis sebelum akhir bulan, padahal ia sendiri tidak tahu uangnya digunakan untuk apa. Kedua hal ini mungkin terlihat sederhana, tetapi sebenarnya cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa SMA.

Menurut saya, masalah tersebut menunjukkan bahwa nilai akademik saja belum cukup untuk mempersiapkan kita menghadapi kehidupan setelah sekolah. Kita juga perlu belajar berkomunikasi dengan baik dan mengelola uang secara bijak.

Dua kemampuan ini mungkin terlihat sepele, tetapi manfaatnya akan terasa ketika kita mulai kuliah, bekerja, atau menjalani kehidupan yang lebih mandiri.

Berani Bicara Bukan Berarti Harus Banyak Bicara

Banyak orang menganggap bahwa orang yang pandai berbicara adalah orang yang selalu aktif, percaya diri, dan berani tampil di depan banyak orang. Padahal, kemampuan berbicara bukan hanya soal seberapa sering kita menyampaikan pendapat, melainkan juga bagaimana kita mengungkapkan pikiran dengan jelas, sopan, dan tepat.

Bagi siswa SMA, kemampuan ini bisa dimulai dari hal sederhana, seperti berani bertanya kepada guru, menyampaikan pendapat saat diskusi kelompok, atau mempresentasikan tugas di depan kelas. Meskipun awalnya terasa gugup, kebiasaan tersebut dapat membantu kita menjadi lebih percaya diri.

Nantinya, kemampuan ini akan berguna ketika mengikuti wawancara kerja, berdiskusi dengan rekan kerja, atau membangun hubungan dengan orang lain.

Pentingnya komunikasi juga terlihat dalam survei NACE Job Outlook 2026 Spring Update. Survei tersebut menunjukkan bahwa pemberi kerja menilai komunikasi, kerja sama tim, profesionalisme, dan kemampuan berpikir kritis sebagai keterampilan penting bagi lulusan baru.

Namun, kemampuan lulusan dalam beberapa aspek tersebut masih dinilai perlu ditingkatkan. Walaupun survei ini berfokus pada lulusan perguruan tinggi di Amerika Serikat, hasilnya tetap bisa menjadi bahan refleksi bagi pelajar di Indonesia.

Artinya, kita tidak cukup hanya menuliskan bahwa kita mampu berkomunikasi atau bekerja sama dalam CV. Kita juga perlu membuktikannya melalui pengalaman nyata. Misalnya, ketika mengikuti organisasi sekolah, mengerjakan tugas kelompok, atau menjadi ketua sebuah kegiatan.

Dari pengalaman tersebut, kita belajar menyampaikan ide, mendengarkan pendapat orang lain, dan mencari solusi bersama.

Baca Juga: Investasi Bukan Sekadar Mencari Untung: Mengenal Pasar Modal Syariah

Uang Saku Adalah Latihan Pertama Mengambil Keputusan

Selain kemampuan berbicara, ada satu keterampilan lain yang sering dianggap belum penting oleh sebagian pelajar, yaitu mengatur uang. Padahal, kebiasaan mengelola keuangan sebaiknya mulai dibangun sejak kita masih menerima uang saku dari orang tua.

Saat ini, membeli makanan, memesan barang secara online, dan melakukan pembayaran menggunakan dompet digital sudah menjadi hal yang biasa bagi anak muda.

Kemudahan tersebut memang membantu, tetapi juga bisa membuat kita lebih mudah mengeluarkan uang tanpa berpikir panjang. Apalagi jika ada diskon, promosi, atau barang yang sedang tren di media sosial.

Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang diumumkan OJK, LPS, dan BPS, indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia tercatat sebesar 69,57 persen.

Sementara itu, kelompok usia 15–17 tahun memiliki indeks literasi keuangan sebesar 56,04 persen, lebih rendah dibandingkan kelompok usia 18–25 tahun yang mencapai 73,32 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa pemahaman mengenai keuangan masih perlu diperkuat sejak usia sekolah.

Sebenarnya, belajar mengatur uang tidak harus dimulai dari jumlah yang besar. Misalnya, jika kita menerima uang saku Rp500.000 setiap bulan, kita bisa mulai membaginya untuk kebutuhan sehari-hari, tabungan, hiburan, dan dana cadangan. Jumlah untuk setiap kebutuhan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Kita juga bisa membiasakan diri mencatat pengeluaran selama satu minggu. Dari sana, kita dapat mengetahui apakah uang lebih banyak digunakan untuk kebutuhan atau justru untuk hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting.

Kebiasaan menunda pembelian selama 24 jam sebelum membeli barang yang tidak mendesak juga bisa membantu kita berpikir lebih matang. Menurut saya, kemampuan mengatur uang bukan berarti kita tidak boleh menikmati hasil uang saku sendiri.

Kita tetap boleh membeli sesuatu yang disukai, asalkan tahu batasnya dan tidak mengorbankan kebutuhan yang lebih penting. Dengan begitu, kita belajar bertanggung jawab atas setiap keputusan yang diambil.

Baca Juga: 6 Ide Usaha Mahasiswa Minim Modal yang Menjanjikan dan Fleksibel 

Dua Skill Sederhana dengan Dampak Besar

Jika diperhatikan lebih jauh, kemampuan berbicara dan mengatur uang ternyata memiliki hubungan yang cukup erat. Keduanya sama-sama membutuhkan keberanian, pemikiran yang matang, dan tanggung jawab.

Dalam kegiatan Global Money Week pada 16 Maret 2026, Annamaria Lusardi dari Stanford University menekankan pentingnya literasi keuangan bagi anak muda serta perlunya membangun kebiasaan membicarakan uang secara terbuka dan wajar.

Hal ini mengingatkan kita bahwa belajar tentang keuangan bukan sesuatu yang perlu dianggap tabu. Kita bisa berdiskusi dengan orang tua atau teman mengenai cara menabung, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta menghindari kebiasaan boros.

Di sisi lain, kemampuan berkomunikasi membantu kita menyampaikan pendapat, bertanya ketika tidak memahami sesuatu, dan menjelaskan alasan di balik keputusan yang kita ambil. Sementara itu, kemampuan mengelola uang membantu kita mempertimbangkan pilihan berdasarkan kebutuhan dan kemampuan yang dimiliki.

Bayangkan seorang siswa yang pandai berbicara, tetapi selalu menghabiskan uangnya tanpa perencanaan. Ia mungkin memiliki banyak kesempatan, tetapi kesulitan ketika harus mengatur kebutuhan sendiri.

Sebaliknya, siswa yang pandai mengatur uang tetapi tidak berani menyampaikan pendapat bisa kehilangan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan yang dimilikinya. Karena itulah, kedua keterampilan ini sebaiknya dilatih bersama.

Kita tidak harus langsung menjadi orang yang sangat percaya diri atau ahli dalam mengatur keuangan. Yang terpenting adalah mau mencoba dan memperbaiki kebiasaan sedikit demi sedikit.

Mulai dari Tantangan Tujuh Hari

Lalu, bagaimana cara mulai melatih kedua kemampuan tersebut? Menurut saya, kita bisa mencoba tantangan sederhana selama tujuh hari.

Setiap hari, cobalah menyampaikan setidaknya satu pendapat, baik ketika berdiskusi di kelas maupun saat berbicara dengan keluarga. Tidak perlu langsung berbicara di depan banyak orang. Mulailah dari situasi yang terasa nyaman, kemudian tingkatkan keberanian secara bertahap.

Pada saat yang sama, catat setiap uang yang dikeluarkan, sekecil apa pun jumlahnya. Setelah tujuh hari, periksa kembali catatan tersebut dan lihat pengeluaran mana yang sebenarnya bisa dikurangi.

Kita juga bisa membagikan satu hal yang dipelajari tentang mengelola uang kepada teman atau orang tua agar pengetahuan tersebut semakin mudah diterapkan.

Baca Juga: Peran Inovasi Produk dalam Mempertahankan Pangsa Pasar pada Industri Manufaktur

Tantangan ini memang sederhana dan bukan jaminan bahwa kita akan langsung berubah dalam seminggu. Namun, kebiasaan baik sering kali tumbuh dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.

Sekolah memang penting untuk membantu kita memahami pelajaran dan mendapatkan nilai yang baik. Namun, kehidupan setelah sekolah akan menghadirkan banyak situasi yang tidak selalu bisa diselesaikan hanya dengan mengandalkan nilai rapor. Kita perlu mampu menyampaikan gagasan, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas pilihan sendiri.

Pada akhirnya, menjadi siswa yang berhasil bukan hanya tentang siapa yang mendapatkan nilai tertinggi di kelas. Lebih dari itu, keberhasilan juga ditentukan oleh bagaimana kita mempersiapkan diri menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Jadi, mulai sekarang, jangan hanya mengejar nilai bagus. Belajarlah untuk berani berbicara dan bijak mengatur uang, karena dua kemampuan sederhana ini bisa menjadi bekal penting untuk masa depan.


Penulis: Jhose Mariano Payong (NIM : 231010502470)
Mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Universitas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang


Dosen Pengampu: Risza Putri Elburdah, S.Pt., M.M.


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Referensi

  • NACE. (2026, 20 April). Employers say new grads are largely prepared for work, with room to improve (Job Outlook 2026 Spring Update). NACE.
  • NACE. (2026, 23 April). The high impact skills college students should showcase on their resumes. NACE.
  • OJK, LPS, & BPS. (2026, Agustus). Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026.
  • Lusardi, A. (2026, 16 Maret). Keynote address, Global Money Week launch. Stanford Institute for Digital Financial Technology (IFDM).

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *