Realitas Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Media Sosial TikTok Mahasiswa

penggunaan Bahasa Indonesia di TikTok mahasiswa
Realitas Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Media Sosial TikTok Mahasiswa. Sumber: MMI.

Perkembangan media sosial, khusunya TikTok, telah memengaruhi cara mahasiswa menggunakan Bahasa Indonesia. TikTok tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga menjadi tempat mahasiswa memperoleh informasi, berinteraksi, dan mengikuti berbagai tren.

Dalam konten yang beredar, sering ditemukan istilah baru, bahasa gaul, singkatan, serta perpaduan Bahasa Indonesia dengan bahasa asing. Kebiasaan melihat dan menggunakan bentuk bahasa tersebut dapat memengaruhi cara mahasiswa berkomunikasi, baik secara lisan maupun tulisan.

Penggunaan bahasa gaul di media sosial merupakan bagian dari perkembangan bahasa yang wajar. Bahasa santai dapat membuat komunikasi terasa lebih akrab dan sesuia dengan lingkungan pergaulan mahasiswa.

TikTok juga memberikan ruang bagi penggunannya untuk mengekspresikan diri secara kreatif melalui pilihan kata dan ungkapan yang menarik. Namun, bahasa informal tetap perlu disesuaikan dengan situasi.

Kebiasaan menggunakan singkatan atau penulisan kata yang tidak sesuai kaidah dapat menjadi persoalan apabila terbawa ke lingkungan akademik, seperti saat mengerjakan tugas, menyusun makalah, melakukan presentasi, atau berkomunikasi dengan dosen.

Penelitian berjudul Realitas Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Media Sosial TikTok Mahasiswa yang diterbitkan dalam Jurnal Pubmedia Sosial Sciences and Humanities pada Januari 2024 membahas pengaruh TikTok terhadap kebiasaan berbahasa mahasiswa.

Baca Juga: Gemini Wonderland Indonesia: Ketika Teknologi Menjadi Jembatan untuk Mengenal Indonesia

Penelitian tersebut menyoroti dampak positif dan negatif media sosial, termasuk kreativitas dalam menggunakan bahasa serta munculnya istilah baru. Di sisi lain, pengguna bahasa di media sosial juga perlu memperhatikan kesantunan dan dampaknya bagi orang lain.

Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan bahasa di media sosial tidak selalu memberikan pengaruh buruk, tetapi tetap memerlukan sikap bijak dari penggunanya.

Untuk menghadapi perubahan tersebut, mahasiswa tidak perlu menghindari TikTok atau berhenti mengikuti perkembangan tren digital. Yang lebih penting adalah menggunakan bahasa sesuai konteks.

Bahasa santai dapat digunakan dalam percakapan informal, sedangkan Bahasa Indonesia baku dan jelas perlu diutamakan dalam kegiatan akademik serta komunikasi resmi.

Mahasiswa juga dapat meningkatkan keterampilan berbahasa dengan membiasakan diri membaca buku, berita, dan artikel yang mengguanakan bahasa yang tepat.

Pada akhirnya, pengguna Bahasa Indonesia di era media sosial merupakan tanggung jawab bersama. TikTok dapat menjadi ruang untuk mengembangkan kreativitas dan memperluas komunikasi, tetapi penggunaannya perlu diimbangi dengan kesadaran berbahasa.

Baca Juga: Bahasa Inggris di Era Digital: Dari TikTok ke Ruang Kelas

Mahasiswa sebagai bagian dari lingkungan akademik perlu menempatkan bahasa sesuai kebutuhan dan situasi. Dengan demikian, perkembangan tren di media sosial tidak menjadi penghalang untuk menjaga kualitas Bahasa Indonesia, melainkan dapat berjalan berdampingan dengan upaya menggunakan bahasa secara baik, santun, dan tepat.


Penulis:
1. Siti Khalishah Zahra
2. Fitria Rahmadhani

Mahasiswa Akuntansi S1 Universitas Pamulang (Unpam)


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *