Perkembangan teknologi digital telah membawa banyak perubahan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam cara seseorang mempelajari ilmu agama. Jika dahulu seseorang harus datang langsung ke masjid, musala, atau tempat pengajian untuk belajar membaca Al-Qur’an, sekarang proses belajar dapat dilakukan dengan lebih mudah melalui internet.
Berbagai platform media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube menyediakan banyak konten pembelajaran Al-Qur’an, mulai dari pengenalan huruf hijaiyah, hukum tajwid, hingga pembelajaran tahsin. Bahkan, video pendek yang hanya berdurasi beberapa detik hingga beberapa menit dapat memberikan contoh bagaimana suatu huruf Al-Qur’an harus diucapkan dengan benar.
Fenomena ini menunjukkan bahwa media digital memiliki peluang besar untuk membantu masyarakat belajar membaca Al-Qur’an. Banyak orang yang memiliki kesibukan dalam pekerjaan, pendidikan, maupun aktivitas lainnya sehingga tidak selalu mempunyai waktu untuk mengikuti kegiatan belajar mengaji secara langsung.
Melalui video pendek, seseorang dapat mempelajari materi tahsin kapan saja dan di mana saja. Ketika belum memahami cara pengucapan suatu huruf, video tersebut dapat diputar kembali berulang kali sampai pembelajar memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai cara membacanya.
Tahsin sendiri merupakan kegiatan memperbaiki dan memperindah bacaan Al-Qur’an agar sesuai dengan kaidah yang benar, baik dari segi makharijul huruf, sifat-sifat huruf, maupun hukum tajwid. Dalam pembelajaran tahsin, ketepatan pelafalan menjadi hal yang sangat penting karena setiap huruf hijaiyah memiliki tempat keluar dan karakteristik pengucapan yang berbeda.
Kesalahan kecil dalam mengucapkan huruf terkadang dapat memengaruhi ketepatan bacaan. Oleh karena itu, belajar tahsin tidak cukup hanya dengan mengetahui teori, tetapi juga membutuhkan latihan secara berulang dan pendampingan yang tepat.
Video pendek dapat menjadi salah satu media yang menarik untuk membantu proses tersebut. Misalnya, ketika seseorang ingin mempelajari perbedaan pengucapan huruf ع (‘ain) dan أ (hamzah), video pembelajaran dapat memberikan contoh suara dan penjelasan mengenai posisi keluarnya huruf.
Pembelajar bisa memperhatikan gerakan mulut pengajar, mendengarkan contoh bacaan, kemudian mencoba menirukannya. Keunggulan video adalah kemampuannya menyajikan materi dalam bentuk audio dan visual sehingga pembelajaran terasa lebih mudah dipahami dibandingkan hanya membaca penjelasan dalam buku.
Selain itu, video pendek juga dapat meningkatkan minat seseorang untuk belajar Al-Qur’an. Penyampaian materi yang singkat, sederhana, dan menarik membuat pembelajaran terasa tidak terlalu berat, terutama bagi pemula atau generasi muda yang terbiasa menggunakan media sosial.
Konten tahsin yang dikemas dengan contoh bacaan, penjelasan singkat, dan latihan sederhana dapat menjadi pengingat agar seseorang lebih rutin memperbaiki bacaannya. Dengan demikian, media sosial tidak hanya digunakan sebagai sarana hiburan, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk memperoleh pengetahuan dan meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an.
Meskipun demikian, kemudahan belajar melalui video pendek tidak berarti seseorang otomatis mampu membaca Al-Qur’an dengan benar. Ada satu hal penting yang sering terlupakan, yaitu video hanya memberikan contoh, tetapi tidak dapat secara langsung mengetahui apakah bacaan seseorang sudah tepat atau masih terdapat kesalahan.
Seseorang mungkin merasa sudah mampu mengucapkan huruf dengan benar karena telah mengikuti contoh dalam video. Padahal, bisa saja masih terdapat kesalahan pada makhraj huruf, panjang pendek bacaan, sifat huruf, atau penerapan hukum tajwid. Kesalahan tersebut terkadang sulit disadari apabila seseorang hanya belajar secara mandiri.
Di sinilah peran guru tahsin tetap dibutuhkan. Dalam pembelajaran Al-Qur’an dikenal metode talaqqi, yaitu proses belajar dengan cara membaca Al-Qur’an secara langsung di hadapan guru. Guru mendengarkan bacaan peserta didik, memperhatikan pengucapan setiap huruf, kemudian memberikan koreksi apabila ditemukan kesalahan.
Melalui metode ini, peserta didik tidak hanya mendengar dan meniru contoh bacaan, tetapi juga memperoleh penilaian serta arahan secara langsung. Hal tersebut menjadi keunggulan pembelajaran bersama guru yang belum sepenuhnya dapat digantikan oleh teknologi digital.
Penelitian yang dilakukan oleh Marisya, Solahudin, dan Tamami (2024) dalam artikel berjudul TikTok Sebagai Media Pembelajaran Tahsin Al-Qur’an: Analisis Konten pada Akun @kelastahsin menunjukkan bahwa konten video pendek TikTok memiliki potensi sebagai media pembelajaran tahsin. Penyajian materi melalui video, teks, efek visual, dan pengulangan dapat membantu masyarakat mengenal serta memahami materi tajwid.
Penelitian tersebut memperlihatkan bahwa media sosial dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi yang relevan dengan kebiasaan masyarakat saat ini. Namun, pemanfaatan media tersebut tetap perlu ditempatkan sebagai pendukung proses belajar, bukan sebagai satu-satunya sumber pembelajaran.
Hal serupa juga dibahas oleh Benny, Baroroh, dan Adawiyah (2024) dalam penelitian mengenai dampak positif penggunaan TikTok sebagai sarana pembelajaran tajwid dan tahsin Al-Qur’an. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa TikTok dapat membantu peserta didik memahami materi, menghafal, mempraktikkan bacaan, serta meningkatkan motivasi untuk belajar lebih lanjut.
Temuan ini menunjukkan bahwa teknologi digital sebenarnya dapat menjadi peluang untuk mendekatkan pembelajaran Al-Qur’an kepada masyarakat, khususnya generasi muda yang akrab dengan media sosial.
Lalu, bagaimana cara memanfaatkan video pendek agar pembelajaran tahsin menjadi lebih efektif? Salah satu caranya adalah dengan menjadikan video sebagai bahan latihan tambahan setelah atau sebelum mengikuti pembelajaran bersama guru.
Peserta didik dapat memilih konten dari pengajar yang memiliki kompetensi dalam bidang Al-Qur’an, memperhatikan contoh pelafalan, kemudian mencoba menirukannya. Setelah itu, bacaan yang telah dipelajari dapat dipraktikkan kembali di hadapan guru untuk mendapatkan koreksi. Dengan cara ini, teknologi membantu proses pengulangan materi, sedangkan guru memastikan ketepatan bacaan.
Selain itu, pengguna media sosial juga perlu lebih selektif dalam memilih konten pembelajaran. Tidak semua video yang terlihat menarik dan memiliki banyak penonton dapat dijadikan rujukan yang benar. Sebaiknya, pilihlah konten yang disampaikan oleh ustaz, ustazah, atau pengajar Al-Qur’an yang memiliki pemahaman dan kompetensi dalam bidang tahsin.
Materi juga sebaiknya dipelajari secara bertahap, mulai dari pengenalan makharijul huruf, sifat huruf, hukum tajwid, hingga penerapannya ketika membaca ayat-ayat Al-Qur’an.
Pada akhirnya, kemajuan teknologi seharusnya tidak dipandang sebagai pengganti metode pembelajaran tradisional, melainkan sebagai sarana untuk melengkapinya. Video pendek dapat membantu seseorang belajar dengan lebih fleksibel, mengulang materi, dan meningkatkan motivasi membaca Al-Qur’an.
Akan tetapi, kemampuan membaca Al-Qur’an dengan baik tetap membutuhkan latihan, kesabaran, dan bimbingan guru yang dapat mendengarkan serta memperbaiki bacaan secara langsung.
Belajar tahsin di era digital bukan berarti cukup dengan menonton video setiap hari. Hal yang lebih penting adalah bagaimana seseorang mempraktikkan ilmu yang diperoleh dan memastikan bacaannya sudah sesuai dengan kaidah yang benar. Oleh karena itu, mari manfaatkan teknologi sebagai teman belajar, tetapi jangan meninggalkan bimbingan guru. Sebab, teknologi dapat memperlihatkan bagaimana Al-Qur’an dibaca, sedangkan guru membantu memastikan bahwa kita membacanya dengan benar.
DAFTAR PUSTAKA
Sukmaningtyas, A. N. I., Nurrohim, A., Amatullah, A., Az-Zahra, F. S., Jundy, A. M., Lovely, T., & Haqq, M. S. (2024). Etika komunikasi Al-Qur’an dan relevansinya dengan komunikasi di zaman modern. Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu Al-Quran Dan Tafsir, 4(2), 556-576.
Ayuni, W., Nirwana, A., & Nurrohim, A. (2024). Bibliometric Analysis of the Development Map and Research Trends in Qur’anic Studies and Tafseer: A Scopus Database Exploration (1974-2023). Journal of Qur’an and Hadith Studies, 12(2), 95-116.
An, A. N., Nurrohim, A., Ash-Shiddiqi, I. J., Azizi, M., Agus, M., Lovely, T., … & Akhyar, S. (2023). Pelatihan Metode Tajdied Untuk Peningkatan Membaca Al-Qur’an Siswa SD Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat. Jurnal Pema Tarbiyah, 2(1), 50-68.
Sutrisno, A. D., Nurrohim, A., Nugroho, K., & Hafid, R. A. (2025). Konsep Qawwamah Dan Keadilan Gender Dalam Surah An-Nisa Ayat 34: Telaah Tafsir Maqasidi Ibnu Ashur. IMTIYAZ: Jurnal Ilmu Keislaman, 9(2), 392-405.
Benny, F. A., Baroroh, R. N., & Adawiyah, R. (2024). Dampak positif penggunaan media sosial (TikTok) sebagai sarana pembelajaran tajwid dan tahsin Al-Qur’an. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 9(3), 520–526.
Marisya, S. N., Solahudin, M., & Tamami, T. (2024). TikTok sebagai media pembelajaran tahsin Al-Qur’an: Analisis konten pada akun @kelastahsin. Khazanah Multidisiplin, 5(2).
Nurzannah, N., & Ginting, N. (2022). Improving the ability to read the Quran through the tahsin program based on the talaqqi method. Journal of Character Education Society, 5(2), 305–317.
Penulis: Eveline Brilliany
Mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an & Tafsir, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)
Editor: Darsono
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















