Tangerang Selatan, MMI – Di Pasar Ciputat, hampir semua harga masih bisa ditawar, kecuali cabai rawit.
Pengamatan dan wawancara terhadap pedagang kelapa, jahe, tempe, kangkung, dan cabai rawit menunjukkan satu pola: saat harga naik, pembeli jarang berhenti membeli, tetapi mengurangi takaran (Kelompok 4, 2026).
Harga Awal bukan Harga Akhir
Pedagang kelapa mematok harga sekitar Rp13.000 per butir.
Jika pembeli mengambil tiga butir, harga biasanya turun menjadi sekitar Rp12.000 per butir.
Pola serupa terjadi pada jahe: dari Rp35.000 menjadi sekitar Rp30.000 per kilogram untuk pembelian dua kilogram.
Pada kangkung, pembelian lima ikat dihargai Rp23.000, sedikit di bawah harga normal Rp4.000–Rp5.000 per ikat (Kelompok 4, 2026).
Cabai rawit menjadi pengecualian. Harganya berkisar Rp70.000–Rp80.000 per kilogram dan tidak bisa ditawar.
Pedagang menyebut harga cabai ditentukan oleh pasokan dan cuaca, bukan kemurahan hati penjual (Kelompok 4, 2026).
Angka lapangan itu sejalan dengan data resmi.
Pada 26 Maret 2026, Badan Pangan Nasional (Bapanas) memantau harga cabai rawit merah di Pasar Ciputat sekitar Rp60.000 per kilogram, mendekati Harga Acuan Penjualan (HAP) konsumen Rp57.000 per kilogram.
“Cabai rawit merah sekitar Rp60.000, ini turun sangat bagus,” kata Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa (Dewi, 2026).

Harga pangan yang berubah-ubah itu berdampak langsung pada keranjang belanja.
Pedagang cabai mengatakan pembeli mengurangi jumlah pembelian ketika harga melonjak, lalu kembali normal setelah harga stabil.
Kelapa dan tempe menunjukkan kecenderungan yang sama: harga naik, jumlah pembelian turun, dan sebaliknya (Kelompok 4, 2026).
Baca Juga: Melonjaknya Harga Cabai Akibat Cuaca yang Tidak Menentu
Pembeli Setia, Pengganti Siap Sedia
Pelanggan tetap menopang lapak. Pedagang kelapa mencatat sekitar sembilan pembeli tetap per hari, pedagang jahe sekitar 12 orang, dan pedagang tempe 10–15 orang.
Pelanggan kangkung dan cabai rawit didominasi ibu rumah tangga serta pedagang warung makan, dengan 10–20 pembeli per hari.
Banyak pembeli bertahan di lapak yang sama karena hubungan langganan dan pelayanan yang ramah (Kelompok 4, 2026).
Meski setia, pembeli punya jalan keluar saat harga naik. Santan instan sekitar Rp10.000 per kotak bisa menggantikan santan kelapa.
Kunyit sekitar Rp20.000 per kilogram menjadi pengganti jahe, sedangkan tahu menjadi pengganti tempe.
Untuk cabai rawit, pembeli bisa beralih ke cabai bubuk atau sambal instan (Kelompok 4, 2026).

Sifat permintaan tiap komoditas berbeda. Studi di Pondok Aren, Tangerang Selatan, menghitung elastisitas harga tempe sebesar 0,970.
Angka di bawah satu itu berarti permintaan tempe bersifat inelastis: kenaikan harga hanya sedikit menurunkan jumlah yang dibeli (Hanafi dkk., 2014).
Kangkung juga relatif stabil karena murah dan menjadi sayur harian.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kangkung sebagai sayuran yang paling banyak dikonsumsi pada 2024, yakni 0,072 kilogram per kapita per minggu (Alfathi, 2025).
Sementara itu, konsumen cabai di lapangan berpenghasilan sekitar Rp6 juta–Rp9 juta per bulan. Saat harga berubah, mereka cenderung memilih varian yang lebih murah (Kelompok 4, 2026).
Baca Juga: Rhizopus Oligosporus: Jamur yang Memperkuat Protein Nabati seperti Tempe Modern High-Protein
Dari Kebun ke Lapak, Pasokan yang Rapuh
Di balik harga di lapak, ada rantai pasok yang panjang.
Pedagang mengaku mengambil barang dari Pasar Induk Tanah Tinggi Tangerang, Pasar Induk Kramat Jati Jakarta, serta petani dan pengepul di sekitar Bogor dan Parung.
Kelapa tua berasal dari Banten, tepatnya Pandeglang dan Lebak, sedangkan tempe dipasok oleh produsen di Tanah Tinggi, Tangerang (Kelompok 4, 2026).
Untuk kelapa, tekanan datang dari luar negeri.
Ekspor kelapa bulat Indonesia pada Januari–Oktober 2025 naik 143,90% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menjadi US$208,2 juta.
China menjadi tujuan terbesar dengan nilai US$171,3 juta (Indraini, 2025).
Data itu tidak menunjukkan seberapa besar pasokan Ciputat terpengaruh.
Namun, besarnya ekspor membuat pasokan domestik layak dipantau.
Jahe menghadapi persoalan di hulu.
Produksi jahe nasional turun dari 190,26 ribu ton pada 2024 menjadi 168,97 ribu ton pada 2025, sedangkan luas panen menyusut dari 7,49 ribu menjadi 6,51 ribu hektare.
Dosen agribisnis IPB University, Anisa Dwi Utami, memperingatkan bahwa penurunan produksi bisa mendorong harga konsumen naik dan impor meningkat (IPB University, 2026).
Cabai rawit paling rentan terhadap cuaca.
Pedagang di Ciputat menyebut harga cabai dipengaruhi pasokan dan cuaca sehingga tidak bisa ditawar (Kelompok 1, 2026).
Di tingkat kebijakan, harga acuan seperti HAP menjadi patokan pemerintah.
Bapanas menilai harga Rp60.000 per kilogram pada Maret 2026 sudah mendekati batas tersebut (Dewi, 2026).
Baca Juga: Harga Pasar Naik, Bisnis Tercekik: Bagaimana Menyiasati Dampaknya pada Laporan Keuangan?
Apa Artinya bagi Pembeli?
Bagi rumah tangga, tawar-menawar dan hubungan langganan masih menjadi bantalan terhadap kenaikan harga.
Bantalan itu tidak berlaku untuk cabai rawit, yang harganya mengikuti pasokan dan cuaca.
Jika produksi jahe terus turun dan ekspor kelapa tetap tinggi, tekanan harga di lapak berpotensi menguat.
Perlu dicatat, temuan lapangan berasal dari pengamatan dan wawancara dengan dua pedagang untuk tiap komoditas sehingga tidak mewakili seluruh Pasar Ciputat.
Data nasional dan daerah digunakan sebagai konteks, bukan sebagai bukti langsung kondisi lapak.
Penulis: Kelompok 4
1. Akhdan Abrar Mubarak
2. Akmal Nazhir
3. Dipo Alam Prasetyo
4. Ilyasa Putra Barchmana
5. Muhammad Ibnu Bahari
6. Muhammad Rizki Fahmi
7. Muhammad Hanif Akbar
8. Muhammad Arsya Ramadhan
9. Muhammad Adnan Rahman
Mahasiswa Prodi Perbankan Syariah, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Dosen Pengampu: Dr. Rahmah Farahdita Soeyatno, S.P., M.Si.
Editor: Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Daftar Pustaka
- Alfathi, B. R. (2025, 14 Februari). Simak sayuran yang paling banyak dikonsumsi warga RI. GoodStats Data (sumber data: BPS, Pengeluaran untuk Konsumsi Penduduk Indonesia, Maret 2024). https://data.goodstats.id/statistic/simak-sayuran-yang-paling-banyak-dikonsumsi-warga-ri-vmqgS
- Dewi, F. S. (2026, 27 Maret). Bapanas klaim harga pangan turun usai sempat melonjak saat Lebaran. Bisnis.com. https://ekonomi.bisnis.com/read/20260327/12/1962523/bapanas-klaim-harga-pangan-turun-usai-sempat-melonjak-saat-lebaran
- Hanafi, F. I., Daris, E., & Rochaeni, S. (2014). Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan tempe di Kelurahan Jurangmangu Timur, Pondok Aren, Tangerang Selatan. Agribusiness Journal, 8(1), 45–58. https://doi.org/10.15408/aj.v8i1.5128
- Indraini, A. (2025, 1 Desember). Kelapa RI diincar China-Vietnam, ekspor melesat 143,90%. detikFinance. https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-8237382/kelapa-ri-diincar-china-vietnam-ekspor-melesat-143-90
- IPB University. (2026, 17 Juli). IPB University expert outlines strategy to restore national ginger production. https://www.ipb.ac.id/?p=103707
- Kelompok 4. (2026). Analisis permintaan komoditas pangan: Kelapa, jahe, tempe, kangkung, dan cabe rawit [Presentasi hasil pengamatan dan wawancara lapangan di Pasar Ciputat, tidak dipublikasikan].
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















