Potensi Tersembunyi Kulit dan Sisik Ikan sebagai Bahan Skincare Antiaging

Kolagen Ikan untuk Kulit Sehat

Pernahkah Anda merasa kulit wajah lebih kering, kusam, atau muncul flek hitam setelah seharian beraktivitas di luar rumah? Paparan sinar matahari memang dapat memberikan dampak terhadap kesehatan kulit. Salah satu faktor yang berperan dalam proses penuaan kulit adalah sinar ultraviolet (UV).

Menariknya, bahan untuk membantu merawat kulit yang mengalami penuaan ternyata berpotensi berasal dari sumber alami di sekitar kita, termasuk kulit dan sisik ikan. Bagian ikan yang selama ini sering dianggap sebagai limbah ternyata dapat diolah menjadi sumber kolagen, protein yang memiliki peran penting dalam struktur dan elastisitas kulit. Bagaimana potensinya? Mari kita bahas.

Bumi Makin Panas, Kulit Makin Terancam?

Bumi memang mengalami peningkatan suhu. Organisasi Meteorologi Dunia atau World Meteorological Organization (WMO) mencatat bahwa 2024 menjadi tahun terpanas dalam sejarah pencatatan, dengan suhu rata-rata global sekitar 1,55°C lebih tinggi dibandingkan periode praindustri. WMO juga melaporkan bahwa sepuluh tahun terakhir menjadi sepuluh tahun terpanas dalam catatan pengamatan.

Peningkatan suhu tidak hanya membuat tubuh terasa gerah. Paparan sinar matahari juga melibatkan radiasi ultraviolet dan inframerah. Sinar UV diketahui berperan besar dalam kerusakan kulit akibat paparan matahari, sedangkan radiasi inframerah berkaitan dengan peningkatan suhu jaringan dan dapat memengaruhi proses biologis di dalam kulit.

Sebuah kajian dalam jurnal Clinical, Cosmetic and Investigational Dermatology menjelaskan bahwa radiasi inframerah berpotensi memengaruhi jaringan kulit melalui mekanisme stres oksidatif dan aktivitas enzim yang berkaitan dengan kerusakan matriks ekstraseluler. Matriks tersebut merupakan jaringan penyangga yang membantu mempertahankan struktur dan elastisitas kulit. Dengan demikian, paparan matahari dan panas lingkungan menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam menjaga kesehatan kulit.

Kondisi ini juga berkaitan dengan kebiasaan masyarakat beraktivitas di luar ruangan. Ketika suhu meningkat, sebagian orang mungkin menghabiskan lebih banyak waktu di luar ruangan atau mengenakan pakaian yang lebih terbuka. Akibatnya, paparan UV yang diterima kulit dapat meningkat. Keringat dan aktivitas fisik juga dapat mengurangi ketahanan tabir surya apabila produk tidak digunakan ulang sesuai petunjuk.

Indonesia yang berada di wilayah khatulistiwa memiliki potensi paparan UV yang tinggi. Informasi indeks UV dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa indeks UV di sejumlah wilayah Indonesia dapat mencapai kategori sangat tinggi hingga ekstrem. Kondisi tersebut dapat terjadi meskipun langit terlihat berawan. Oleh karena itu, perlindungan kulit tetap diperlukan, bukan hanya ketika cuaca terasa panas atau matahari terlihat terik.

Kenapa Kulit Kita Perlu Dilindungi?

Sinar UV merupakan salah satu faktor utama penyebab penuaan kulit akibat paparan matahari atau photoaging. Kajian dalam American Journal of Clinical Dermatology tahun 2021 menyebutkan bahwa sebagian besar tanda penuaan kulit wajah, seperti kerutan dan perubahan pigmentasi, berkaitan dengan paparan sinar UV.

Sinar UVB dapat menyebabkan kerusakan DNA sel kulit secara langsung, sedangkan UVA mampu menembus lebih dalam ke lapisan kulit dan berkontribusi terhadap pembentukan radikal bebas. Kondisi tersebut dapat memicu stres oksidatif serta meningkatkan aktivitas enzim yang merusak kolagen, salah satu protein utama penyusun struktur kulit.

Ketika kolagen mengalami kerusakan, kulit dapat kehilangan sebagian elastisitas dan kekencangannya. Dalam jangka panjang, kondisi ini berkontribusi terhadap munculnya kerutan, kulit kendur, dan perubahan tekstur kulit.

Masalah penuaan kulit juga semakin relevan seiring bertambahnya usia harapan hidup penduduk dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan jumlah penduduk berusia 60 tahun ke atas akan mencapai sekitar 2,1 miliar jiwa pada 2050. Di Indonesia, proporsi penduduk lanjut usia juga terus meningkat. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya menjaga kesehatan kulit sebagai bagian dari upaya mempertahankan kualitas hidup.

Skincare Bukan Sekadar Gaya

Kabar baiknya, sebagian dampak paparan sinar UV dapat dicegah melalui kebiasaan perlindungan kulit yang tepat. Kajian dalam American Journal of Clinical Dermatology menekankan pentingnya penggunaan tabir surya secara rutin untuk membantu mencegah kerusakan kulit akibat sinar matahari.

Beberapa langkah sederhana yang dapat diterapkan antara lain:

  1. Gunakan tabir surya setiap pagi. Pilih tabir surya berspektrum luas (broad spectrum) dengan SPF minimal 30. Oleskan dalam jumlah yang cukup dan ulangi pemakaian sekitar setiap dua jam, terutama setelah berkeringat, berenang, atau mengeringkan kulit dengan handuk.
  2. Gunakan pelembap. Pelembap membantu menjaga hidrasi kulit dan mendukung fungsi lapisan pelindung alami kulit.
  3. Batasi paparan matahari langsung. Usahakan menghindari paparan matahari ketika indeks UV tinggi. Gunakan topi, pakaian pelindung, atau payung ketika harus beraktivitas di luar ruangan.
  4. Terapkan prinsip Cek KLIK. Sebelum membeli kosmetik, periksa Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa produk.

Perawatan kulit tidak hanya bergantung pada penggunaan produk tertentu, tetapi juga pada kebiasaan melindungi kulit secara konsisten.

Potensi Kulit dan Sisik Ikan sebagai Bahan Skincare

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, salah satu bahan yang banyak dikaji dalam pengembangan produk antiaging adalah kolagen. Protein ini merupakan komponen penting dalam struktur jaringan kulit dan berperan dalam menjaga kekuatan serta elastisitasnya.

Menariknya, kolagen dapat diperoleh dari bagian ikan yang sering kali tidak dimanfaatkan, seperti kulit, sisik, tulang, dan bagian lainnya. Menurut kajian dalam jurnal Marine Drugs tahun 2021, pengolahan ikan menghasilkan berbagai jenis hasil samping yang berpotensi dimanfaatkan kembali. Jika tidak dikelola dengan baik, bagian-bagian tersebut dapat menjadi limbah yang menambah beban lingkungan.

Potensi ini cukup relevan bagi Indonesia, termasuk Bali yang memiliki aktivitas perikanan dan pengolahan hasil laut. ANTARA Bali melaporkan bahwa produksi tuna yang didaratkan di Pelabuhan Benoa mencapai 27.037 ton pada 2022. Besarnya aktivitas perikanan tersebut membuka peluang pemanfaatan hasil samping pengolahan ikan, termasuk kulit dan sisik, sebagai sumber bahan baku bernilai tambah.

Kolagen ikan atau kolagen laut (marine collagen) memiliki sejumlah keunggulan sebagai bahan baku. Selain memanfaatkan hasil samping perikanan, kolagen ikan dapat menjadi alternatif sumber kolagen selain dari hewan darat. Pemanfaatannya juga berpotensi mendukung pengurangan limbah dan pengembangan produk berbasis sumber daya laut.

Penelitian mengenai kolagen ikan terus berkembang. Kajian dalam jurnal Marine Drugs tahun 2024 membahas potensi kolagen laut untuk mendukung kesehatan kulit dan memperlambat tanda-tanda penuaan. Sejumlah penelitian klinis mengenai konsumsi peptida kolagen ikan juga menunjukkan potensi perbaikan hidrasi dan elastisitas kulit serta pengurangan tampilan kerutan.

Salah satu penelitian oleh Kim et al. (2018), misalnya, melibatkan 64 perempuan yang mengonsumsi 1.000 mg peptida kolagen dengan berat molekul rendah setiap hari selama 12 minggu. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbaikan hidrasi, elastisitas, dan tampilan kerutan kulit dibandingkan kelompok plasebo.

Di Bali, penelitian Dewi, Reisa, dan Sariningsih (2024) juga mengkaji potensi serum kolagen kulit ikan tuna sebagai bahan antiaging. Penelitian tersebut melaporkan adanya perubahan kedalaman kerutan pada hewan coba yang dipapar sinar UV setelah pemberian sediaan serum kolagen.

Temuan tersebut memberikan gambaran bahwa kulit dan sisik ikan memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi bahan baku produk perawatan kulit. Namun, hasil penelitian konsumsi kolagen secara oral tidak dapat langsung disamakan dengan efektivitas kolagen yang dioleskan pada kulit. Keduanya memiliki jalur penggunaan dan mekanisme yang berbeda sehingga membutuhkan bukti penelitian tersendiri.

Pelengkap, Bukan Pengganti

Meskipun memiliki potensi, kolagen ikan bukan pengganti tabir surya. Bukti mengenai kemampuan kolagen dalam melindungi kulit dari paparan UV masih terbatas, terutama untuk penggunaan topikal. Sejumlah penelitian praklinis memang menunjukkan potensi kolagen dalam mendukung hidrasi dan perbaikan jaringan kulit, tetapi hal tersebut tidak berarti kolagen dapat mencegah kerusakan akibat sinar UV secara langsung.

Penggunaan produk berbahan kolagen ikan juga perlu memperhatikan kemungkinan reaksi alergi, terutama pada individu yang memiliki alergi terhadap ikan atau produk laut. Jika memiliki riwayat alergi atau kondisi kulit tertentu, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau apoteker sebelum menggunakan produk tersebut.

Dengan demikian, kolagen ikan lebih tepat dipandang sebagai bahan potensial untuk mendukung perawatan kulit, bukan sebagai solusi tunggal untuk mengatasi penuaan dini.

Mulai dari Kebiasaan Kecil

Merawat kulit tidak harus selalu mahal atau rumit. Kebiasaan sederhana seperti menggunakan tabir surya, menjaga kelembapan kulit, dan memilih produk yang memiliki izin edar dapat menjadi langkah awal untuk mempertahankan kesehatan kulit.

Di sisi lain, kulit dan sisik ikan yang selama ini sering dianggap sebagai limbah ternyata menyimpan potensi ekonomi dan ilmiah. Melalui penelitian dan pengembangan yang tepat, hasil samping perikanan dapat diolah menjadi bahan baku bernilai tambah bagi industri kosmetik.

Siapa sangka, bagian ikan yang selama ini sering dibuang suatu hari dapat menjadi salah satu bahan dalam pengembangan produk skincare antiaging sekaligus mendukung pemanfaatan sumber daya laut secara lebih berkelanjutan.

Penulis: I Putu Arya Damar Wicaksana Putra

Mahasiswa Program Studi Sarjana Farmasi, Fakultas Farmasi, Universitas Mahasaraswati Denpasar

Pembimbing 1: Dr. apt. Ketut Agus Adrianta, S.Farm., M.Biomed.
Pembimbing 2: Dr. apt. Ni Nyoman Wahyu Udayani, S.Farm., M.Sc.

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *