Malang, MMI – Selama ini, materi tekanan sering kali identik dengan rumus dan hitung-hitungan. Padahal, konsep tekanan pada zat padat, cair, dan gas sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Melalui Pressure Learning KIT, siswa diajak tidak hanya menghitung tekanan, tetapi juga mencoba, mengukur, melihat data, dan menarik kesimpulan dari hasil percobaan mereka sendiri.
Pressure Learning KIT merupakan perangkat edukit sensor digital yang dikembangkan oleh tim Departemen Pendidikan IPA Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang (UM).
Adapun ketua penelitian yakni Eka Nurul Qomaliyah, S.Pd., M.Si., anggota penelitian Erni Yulianti, S.Pd., M.Pd., Ph.D.; Metri Dian Insani S.Si., M.Pd.; Afifatul Bariroh; Andyan Fatimah Azzahra; Anggun Yusgita.
Edukit ini dikembangkan melalui Penelitian Dana Internal UM Tahun 2026 dengan Nomor Kontrak 14.04.133/UN32.14.1/LT/2026, pada skema Inovasi Pembelajaran (Inobel) dengan judul “Pressure Learning KIT: Edukit Concept Exploration Berbasis STEM untuk Pembelajaran IPA Kontekstual”.
Lewat penelitian ini, siswa dapat mengeksplorasi tekanan zat padat dengan berbagai macam benda, mengisi wadah air untuk melihat tekanan zat cair, hingga memompa balon untuk mengamati tekanan gas.
Tiga Sensor dalam Satu Kit
Di dalam satu perangkat, terdapat tiga sensor yang digunakan untuk mengeksplorasi tekanan pada berbagai wujud zat. Sensor barometrik digunakan untuk membaca tekanan udara atau gas, load cell untuk mengukur tekanan pada zat padat, dan pressure transmitter untuk membaca tekanan zat cair.
Ketiga sensor tersebut terhubung dengan ESP32 sebagai pusat sistem. Hasil pengukuran dapat ditampilkan melalui LCD dan juga terhubung dengan laman website https://pressurelearn-web.vercel.app/.
Sehingga, siswa dapat mengakses perubahan nilai secara langsung, membandingkan hasil percobaan, kemudian mengolah data berdasarkan pengamatan.
Perangkat eksperimen dibuat dekat dengan aktivitas siswa. Untuk percobaan tekanan zat cair tersedia wadah dan tandon air. Percobaan tekanan gas dilengkapi balon dan pompa yang menarik siswa dalam belajar, sedangkan tekanan zat padat menggunakan beberapa beban dengan ukuran dan luas penampang yang berbeda.
Agar tidak terasa seperti sekadar perangkat elektronik, seluruh komponen dikemas dalam kotak akrilik yang dilengkapi taman mini. Terdapat pohon kecil, pagar, kursi, hingga lampu yang membuat tampilan kit lebih menarik dan dekat dengan suasana lingkungan sehari-hari.
![[Gambar 1. Media Pembelajaran Pressure Learning KIT]](https://mahasiswaindonesia.id/wp-content/uploads/2026/11/2-2.webp)
![[Gambar 2. Media Pembelajaran Pressure Learning KIT]](https://mahasiswaindonesia.id/wp-content/uploads/2026/11/2.-2.webp)
![[Gambar 3. Media Pembelajaran Pressure Learning KIT dan Box Media]](https://mahasiswaindonesia.id/wp-content/uploads/2026/11/2.1.webp)

Implementasi bersama siswa SMP
Pengembangan Pressure Learning KIT tidak berhenti pada pembuatan alat. Kit ini juga telah diimplementasikan secara langsung dengan siswa SMP, siswa diajak pembelajaran sambil bermain, melakukan percobaan, menggunakan sensor, mengamati hasil pengukuran, hingga membaca dan menganalisis data.
“Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya melihat alat, tetapi benar-benar mencoba dan berinteraksi dengan perangkat. Mereka bisa melihat sendiri bagaimana perubahan kondisi percobaan mempengaruhi nilai tekanan yang muncul,” jelas tim pengembang.
Implementasi Pressure Learning KIT ini sudah melibatkan sebanyak 257 siswa dan 8 guru SMP Malang Raya, di antaranya yang terlibat dalam pengimplementasian yakni SD Islam Mohammad Hatta, MI Raudlotut Tholibin, SMP 4 Kediri, SMPN 3 Malang, MTs Zainul Hasan, SMP Anak Saleh, SMA Unggulan Haf-Sa Zainul Hasan, SMP Lab UM, SMP Sriwedari, MA Alif Laam Miim Surabaya, dan SMA Shalahuddin.
Keterlibatan siswa dan guru dalam jumlah tersebut menjadi pengalaman penting bagi tim untuk melihat bagaimana kit diterima ketika digunakan dalam situasi pembelajaran secara langsung. Berbagai tanggapan yang diperoleh juga menjadi bahan evaluasi untuk menyempurnakan perangkat dan perangkat pembelajaran pendukungnya.

Baca Juga: Mengembangkan Kreativitas Siswa melalui Pembelajaran IPA yang Menyenangkan di Sekolah Dasar
Pressure Learning KIT pada Pameran Akademik UM
Tidak hanya dengan siswa SMP, Tim Pressure Learning KIT juga terlibat ke ruang yang lebih luas, yakni membawa inovasi ini dalam Pameran Akademik Universitas Negeri Malang yang berlangsung pada 26–30 Oktober 2026.
Melalui pameran tersebut, Pressure Learning KIT akan diperkenalkan kepada sivitas akademik dan pengunjung dari berbagai siswa SMP, SMA, Mahasiswa maupun masyarakat umum, sebagai salah satu inovasi pembelajaran yang dikembangkan di lingkungan UM.
Pengunjung dapat melihat secara langsung bentuk perangkat, mengenal cara kerja sensor, serta mengetahui bagaimana kit tersebut digunakan dalam pembelajaran IPA.
Keterlibatan dalam pameran ini sekaligus menjadi kesempatan bagi tim untuk memperkenalkan hasil penelitian kepada masyarakat yang lebih luas. Harapannya, inovasi yang dikembangkan tidak berhenti sebagai produk penelitian, tetapi dapat terus dikembangkan dan dimanfaatkan dalam pembelajaran IPA.

Belajar Tekanan dengan Data Nyata
Pressure Learning KIT bukan hanya menghadirkan perangkat dengan sensor digital. Namun, dirancang untuk mengubah pengalaman belajar siswa dari sekadar menghafal rumus menjadi pengalaman mengeksplorasi fenomena.
Ketika siswa melihat angka hasil pengukuran secara langsung, mereka memiliki data yang dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan, membandingkan kondisi, dan membuat kesimpulan.
Proses tersebut diharapkan dapat membantu siswa memahami bahwa konsep IPA tidak hanya ditemukan di buku, tetapi dapat diamati melalui berbagai kejadian sederhana di sekitar mereka.
Baca Juga: Pentingnya Pembelajaran IPA untuk Mengembangkan Pengetahuan Sains di Kehidupan Sehari-hari
Pengembangan Pressure Learning Kit berbasis sensor digital relevan sebagai media pembelajaran STEM untuk mendukung pembelajaran IPA SMP yang lebih kontekstual, berbasis data nyata, dan bermakna.
Inovasi ini selaras dengan SDG 4 melalui peningkatan kualitas pembelajaran IPA berbasis literasi sains, serta SDG 9 melalui pemanfaatan teknologi sensor dan inovasi media pembelajaran guna mendukung penguatan inovasi pendidikan dan keterampilan abad ke-21.
Melalui inovasi ini, tim Departemen Pendidikan IPA UM menunjukkan bahwa belajar tekanan tidak harus selalu dimulai dari rumus. Pembelajaran justru menjadi lebih bermakna ketika siswa diberi kesempatan untuk mencoba sendiri, melihat data, dan menemukan jawabannya dari pengalaman.
Penulis:
Ketua Peneliti: Eka Nurul Qomaliyah, S.Pd., M.Si.
Anggota:
1. Erni Yulianti, S.Pd., M.Pd., Ph.D.
2. Metri Dian Insani, S.Si., M.Pd.
3. Afifatul Bariroh
4. Andyan Fatimah Azzahra
5. Anggun Yusgita
Mahasiswa S1 Pendidikan IPA Universitas Negeri Malang
Dosen Pengampu: Eka Nurul Qomaliyah, S.Pd., M.Si.
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















