Mencari jawaban kini terasa semakin mudah. Ketika ingin memahami suatu topik, mengerjakan tugas, atau sekadar menjawab rasa penasaran, kita bisa membuka chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI) dan mengetikkan pertanyaan. Dalam hitungan detik, jawaban yang rapi dan mudah dipahami sudah tersedia. Kita bahkan bisa meminta penjelasan tambahan tanpa harus memulai pencarian dari awal.
Namun, pernahkah kita berhenti sejenak untuk bertanya: apakah jawaban tersebut benar?
AI generatif memang membantu kita menemukan informasi dengan lebih praktis. Teknologi ini dapat menjelaskan istilah yang sulit, merangkum bacaan, dan memberikan gambaran awal tentang suatu persoalan. Meski demikian, jawaban yang terdengar meyakinkan belum tentu sepenuhnya akurat. Informasi yang keliru pun dapat disampaikan dengan bahasa yang lancar dan terstruktur.
Perubahan ini bukan hanya tentang teknologi yang semakin canggih. Cara kita menemukan, mengakses, dan menggunakan informasi juga ikut berubah. Karena itu, di tengah kemudahan yang ditawarkan AI, literasi informasi justru semakin penting.
Mendapatkan Jawaban Belum Tentu Memahami Persoalan
Salah satu hal yang membuat AI generatif menarik adalah kemampuannya menyajikan jawaban secara langsung. Jika mesin pencari biasanya mengarahkan pengguna ke berbagai halaman untuk ditelusuri, chatbot AI dapat memberikan penjelasan dalam satu percakapan. Bagi pelajar, mahasiswa, maupun masyarakat umum, kemudahan ini tentu bermanfaat.
Akan tetapi, jawaban yang tersedia dengan cepat tidak selalu menyelesaikan persoalan yang sebenarnya. AI dapat menghasilkan informasi yang keliru, memberikan penjelasan yang kurang lengkap, atau mencantumkan referensi yang tidak sesuai dengan sumber aslinya. Tanpa pemeriksaan lebih lanjut, pengguna bisa saja menerima informasi tersebut sebagai fakta.
Dalam Guidance for Generative AI in Education and Research, UNESCO menekankan pentingnya pendekatan yang berpusat pada manusia dalam penggunaan AI untuk pendidikan dan penelitian. Teknologi perlu dimanfaatkan dengan mempertimbangkan etika, privasi, keamanan, serta kepentingan pembelajaran. Dengan kata lain, AI seharusnya membantu manusia belajar, bukan membuat manusia berhenti memeriksa dan mempertimbangkan informasi.
Kita juga perlu membedakan antara memperoleh jawaban dan memahami suatu persoalan. Membaca penjelasan dari AI mungkin membuat sebuah topik terasa lebih mudah dipahami. Namun, pemahaman yang lebih mendalam tetap membutuhkan proses: membandingkan penjelasan, memeriksa bukti, dan mempertanyakan hal-hal yang belum jelas.
AI dapat menjadi titik awal untuk belajar. Namun, keputusan untuk menerima suatu informasi sebagai sesuatu yang benar tetap membutuhkan penilaian dari penggunanya.
Ketika Cara Mencari Informasi Berubah
Perubahan perilaku pencarian informasi juga mulai terlihat dalam lingkungan perpustakaan akademik. Hal ini menarik karena perpustakaan selama ini menyediakan berbagai sumber yang membantu mahasiswa menemukan bahan untuk belajar dan melakukan penelitian.
Dalam penelitian berjudul Changing Patterns of Research Guide Use in the Era of Generative AI, Yoo Young Lee dan Allison Smith (2026) menganalisis data kunjungan ke panduan penelitian digital milik perpustakaan University of Ottawa. Mereka menemukan bahwa kunjungan ke panduan tersebut mulai menurun sejak 2023, setelah sebelumnya meningkat selama beberapa tahun. Dari 210 panduan yang dianalisis dalam perbandingan periode sebelum dan sesudah peluncuran ChatGPT, sebagian besar mengalami penurunan kunjungan. Pada saat yang sama, akses yang berasal dari platform AI generatif menunjukkan peningkatan.
Temuan ini memberi gambaran bahwa perubahan akibat AI bukan hanya berkaitan dengan bagaimana jawaban disusun, tetapi juga dengan jalur yang ditempuh seseorang untuk memperoleh informasi. Seseorang mungkin dahulu membuka panduan perpustakaan atau menelusuri sejumlah situs, tetapi kini memulai pencariannya melalui chatbot AI.
Meski begitu, penelitian Lee dan Smith tidak membuktikan bahwa AI menjadi satu-satunya penyebab penurunan kunjungan. Peneliti juga mempertimbangkan faktor lain, seperti perubahan pola penggunaan layanan digital setelah pandemi. Selain itu, penelitian tersebut berfokus pada satu lingkungan perpustakaan akademik, sehingga hasilnya tidak dapat langsung dianggap mewakili semua perpustakaan.
Terlepas dari keterbatasan itu, penelitian tersebut mengangkat pertanyaan penting: jika orang semakin sering memperoleh jawaban langsung dari AI, apakah mereka masih menelusuri sumber asli yang mendasari jawaban tersebut?
Pertanyaan ini patut diperhatikan. Sebab, informasi yang mudah ditemukan belum tentu memberikan gambaran lengkap tentang suatu persoalan. Ketika pengguna hanya menerima ringkasan, mereka mungkin kehilangan kesempatan untuk membaca konteks, membandingkan sudut pandang, atau menilai kualitas bukti yang tersedia.
Literasi Informasi Bukan Sekadar Kemampuan Mencari
Literasi informasi terkadang dianggap sebagai kemampuan menggunakan mesin pencari atau menemukan bahan bacaan di internet. Padahal, cakupannya jauh lebih luas. Seseorang perlu mampu mengenali informasi yang dibutuhkan, menemukan sumber yang relevan, menilai kredibilitasnya, serta menggunakan informasi secara tepat dan bertanggung jawab.
Association of College and Research Libraries (ACRL), melalui kerangka Framework for Information Literacy for Higher Education, membahas berbagai konsep penting dalam literasi informasi, termasuk otoritas sumber, proses penciptaan informasi, dan penelitian sebagai proses pencarian jawaban. Kerangka tersebut mengingatkan kita bahwa informasi tidak dapat dinilai hanya berdasarkan tampilannya. Kita juga perlu mempertimbangkan siapa yang membuatnya, bagaimana informasi itu dihasilkan, dan dalam konteks apa informasi tersebut digunakan.
Prinsip ini tetap berlaku ketika kita berhadapan dengan jawaban AI. Bahasa yang formal, susunan kalimat yang rapi, atau penjelasan yang panjang tidak otomatis membuat suatu informasi lebih dapat dipercaya. Begitu pula, banyaknya informasi yang disajikan tidak menjamin bahwa penjelasannya lengkap atau mewakili berbagai sudut pandang.
Karena itu, literasi informasi bukan hanya kebutuhan mahasiswa ketika menyusun tugas kuliah. Kemampuan ini juga diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya ketika membaca berita, mengikuti perbincangan di media sosial, atau mencari informasi sebelum mengambil keputusan.
Di era AI, kemampuan mencari informasi perlu berjalan beriringan dengan kemampuan mengevaluasinya. Kita tidak cukup hanya mengetahui cara mendapatkan jawaban; kita juga perlu memahami alasan untuk mempercayai atau meragukannya.
Membiasakan Diri Menggunakan AI secara Kritis
Literasi informasi tidak harus dimulai dari langkah yang rumit. Ada beberapa kebiasaan sederhana yang dapat diterapkan ketika menggunakan AI.
Pertama, jadikan jawaban AI sebagai titik awal, bukan kesimpulan akhir. Ketika memperoleh penjelasan tentang suatu topik, gunakan jawaban tersebut untuk menentukan hal-hal yang perlu dipelajari lebih lanjut. Jika ada klaim penting, jangan langsung menerimanya tanpa pemeriksaan.
Kedua, telusuri sumber aslinya. Jika AI menyebutkan suatu penelitian atau dokumen, cobalah menemukan publikasi tersebut melalui situs penerbit, katalog perpustakaan, atau pangkalan data ilmiah. Dengan membaca sumber asli, kita dapat memeriksa apakah informasi yang diberikan benar-benar sesuai dengan isi dokumen.
Ketiga, bandingkan informasi dengan sumber lain yang relevan. Membuka beberapa sumber bukan sekadar mencari sebanyak mungkin jawaban yang sama, melainkan menilai apakah suatu klaim didukung bukti yang memadai. Perhatikan siapa yang menerbitkan informasi, kapan informasi itu dibuat, dan apakah sumber tersebut memiliki keahlian yang sesuai.
Keempat, biasakan diri untuk tidak langsung percaya hanya karena sebuah jawaban terdengar masuk akal. Cobalah mencari sudut pandang lain dan mengenali informasi yang mungkin belum dibahas. Sikap kritis bukan berarti harus mencurigai semua hal, melainkan bersedia memeriksa sebelum mengambil kesimpulan.
Terakhir, gunakan AI dengan tetap memperhatikan privasi dan etika. Hindari memasukkan data pribadi atau informasi rahasia tanpa memahami risiko penggunaannya. Dalam lingkungan pendidikan, penggunaan AI juga perlu disesuaikan dengan aturan yang berlaku, termasuk ketentuan mengenai kejujuran akademik.
Kebiasaan tersebut dapat dikembangkan melalui pembelajaran dan latihan yang berkelanjutan. Pustakawan dan pendidik dapat membantu masyarakat menemukan sumber terpercaya, memeriksa kredibilitas informasi, serta memahami cara memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab. Perpustakaan pun dapat terus menyesuaikan layanan dan panduan penelitiannya agar tetap mudah ditemukan dan bermanfaat bagi pengguna yang semakin terbiasa dengan AI.
Teknologi Membutuhkan Pengguna yang Kritis
Perkembangan AI tidak harus dipandang sebagai sesuatu yang sepenuhnya mengancam cara manusia mencari informasi. Teknologi ini dapat membantu seseorang memahami topik baru, menemukan arah penelusuran, dan memulai proses belajar yang sebelumnya terasa sulit. Namun, manfaat tersebut akan lebih berarti apabila pengguna memahami keterbatasannya.
Kita tidak perlu menolak setiap jawaban AI, tetapi juga tidak seharusnya menerima semuanya tanpa pemeriksaan. Perubahan cara mencari informasi menuntut kita untuk lebih sadar terhadap sumber yang digunakan, bukti yang mendasari suatu klaim, dan konteks yang mungkin terlewatkan.
Pada akhirnya, tantangan di era AI bukan hanya tentang seberapa canggih teknologi yang kita gunakan. Tantangannya juga terletak pada kemampuan kita untuk tetap menjadi pengguna informasi yang bijaksana. Sebab, memperoleh jawaban dengan cepat memang memudahkan kita, tetapi memahami apakah jawaban itu layak dipercaya adalah tanggung jawab yang tidak dapat diserahkan begitu saja kepada teknologi.
DAFTAR PUSTAKA
ACRL Board of Directors. (2026). Framework for Information Literacy for Higher Education. In ALA American Library Association (Vols. 378–379).
Lee, Y. Y., & Smith, A. (2026). Changing Patterns of Research Guide Use in the Era of Generative AI. Evidence Based Library and Information Practice, 21(3), 31–46. https://doi.org/10.18438/eblip31049
UNESCO. (2023). Guidance for generative AI in education and research. In Guidance for generative AI in education and research. https://doi.org/10.54675/ewzm9535
Penulis: Rise Annisa Melani Putri
Mahasiswi Universitas Negeri Padang (UNP)
Editor: Darsono
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















