Mengapa Konsumen Membeli Barang Hanya karena Viral atau Banyak Digunakan Orang Lain?

konsumen membeli barang viral
Ilustrasi Barang Viral di Sosial Media

Perkembangan media sosial membuat tren baru muncul hampir setiap hari.

Kita sering melihat makanan, pakaian, skincare, gadget, atau barang lainnya tiba-tiba menjadi viral dan banyak dibicarakan.

Menariknya, ketika suatu produk mulai banyak digunakan orang, semakin banyak pula konsumen yang tertarik untuk membelinya.

Padahal, sebelumnya mereka mungkin tidak pernah mengenal atau bahkan tidak membutuhkan produk tersebut.

Fenomena ini menunjukkan bahwa keputusan konsumen dalam membeli suatu barang tidak selalu didasarkan pada kebutuhan.

Lingkungan sosial dan informasi yang muncul di media sosial juga dapat memengaruhi keputusan pembelian.

Ketika melihat banyak orang menggunakan produk yang sama, muncul anggapan bahwa produk tersebut pasti bagus, menarik, atau layak untuk dicoba.

Baca Juga: Produk Viral Ditiru dalam Hitungan Hari: Di Mana Etika dalam Persaingan Bisnis?

Social Proof dan FOMO dalam Keputusan Pembelian

Salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut adalah social proof.

Secara sederhana, social proof merupakan kecenderungan seseorang untuk mengikuti pilihan orang lain ketika menentukan suatu keputusan.

Misalnya, ketika sebuah produk makanan memiliki antrean panjang dan banyak orang mengunggah pengalaman mereka di media sosial, konsumen dapat menganggap bahwa makanan tersebut memang enak dan layak dicoba.

Banyaknya orang yang menggunakan produk menjadi semacam bukti bahwa produk tersebut memiliki nilai di mata konsumen.

Selain itu, ada juga faktor FOMO atau Fear of Missing Out.

Istilah ini menggambarkan rasa takut ketinggalan sesuatu yang sedang ramai atau menjadi tren.

Media sosial membuat kondisi tersebut semakin mudah terjadi karena konsumen dapat melihat apa yang sedang dilakukan orang lain secara terus-menerus.

Ketika teman atau orang-orang yang mereka ikuti sudah menggunakan produk tertentu, muncul keinginan untuk ikut memiliki agar tidak merasa tertinggal.

Baca Juga: FOMO dalam Marketing: Ketika Rasa Takut Ketinggalan Menjadi Strategi Penjualan

Peran Media Sosial dan Influencer dalam Membentuk Tren

Media sosial juga memiliki peran besar dalam membuat sebuah produk menjadi viral.

Algoritma platform digital dapat membuat konten tentang produk tertentu muncul berulang kali di hadapan pengguna.

Awalnya, seseorang mungkin hanya melihat satu video, tetapi kemudian melihat video lain yang membahas produk yang sama.

Semakin sering produk tersebut muncul, semakin familiar produk tersebut bagi konsumen.

Rasa familiar ini kemudian dapat berubah menjadi rasa penasaran dan keinginan untuk mencoba.

Pengaruh influencer juga tidak dapat diabaikan.

Ketika seorang influencer yang memiliki banyak pengikut menggunakan atau merekomendasikan suatu produk, pengikutnya dapat ikut tertarik.

Konsumen sering kali merasa lebih percaya ketika produk diperkenalkan melalui seseorang yang mereka kenal atau ikuti di media sosial.

Bahkan, cara influencer menggunakan produk tersebut dapat membuat konsumen merasa bahwa produk itu sesuai dengan gaya hidup yang ingin mereka miliki.

Dampak Viralitas bagi Konsumen dan Perusahaan

Namun, membeli barang hanya karena viral juga memiliki sisi lain.

Produk yang sedang ramai belum tentu benar-benar dibutuhkan oleh konsumen.

Tidak jarang seseorang membeli suatu barang karena terbawa tren, tetapi setelah membelinya justru jarang digunakan.

Ada juga kemungkinan kualitas produk tidak sesuai dengan ekspektasi yang terbentuk dari media sosial.

Bagi perusahaan, fenomena ini tentu menjadi peluang yang besar.

Produk yang viral dapat membantu perusahaan meningkatkan kesadaran merek dan menarik perhatian calon konsumen dengan cepat.

Strategi pemasaran melalui media sosial juga dapat membuat produk lebih mudah dikenal tanpa harus mengandalkan promosi secara konvensional.

Meski begitu, perusahaan tidak bisa hanya mengandalkan viralitas.

Produk yang ramai dibicarakan mungkin dapat membuat konsumen melakukan pembelian pertama, tetapi kualitas produk akan menentukan apakah konsumen akan membeli kembali.

Jika produk tidak sesuai dengan harapan, popularitas yang awalnya menjadi keuntungan justru dapat memunculkan komentar dan ulasan negatif.

Baca Juga: Hubungan antara Intensitas Paparan Media Sosial dengan Keputusan Pembelian Produk Viva Cosmetics pada Aplikasi TikTok

Mempertimbangkan Kebutuhan sebelum Mengikuti Tren

Pada akhirnya, fenomena konsumen membeli barang karena viral atau banyak digunakan orang lain merupakan bagian dari perubahan perilaku konsumen di era digital.

Keputusan pembelian tidak hanya dipengaruhi oleh kebutuhan dan harga, tetapi juga oleh lingkungan sosial, tren, media sosial, influencer, dan keinginan untuk tidak tertinggal.

Mengikuti tren sebenarnya bukan sesuatu yang salah.

Namun, konsumen tetap perlu mempertimbangkan apakah produk tersebut memang dibutuhkan, memiliki manfaat, memiliki kualitas yang baik, dan sesuai dengan kemampuan untuk membelinya.

Dengan begitu, keputusan pembelian tidak hanya didasarkan pada keinginan untuk mengikuti tren atau karena banyak orang sudah memilikinya, tetapi juga pada pertimbangan bahwa produk tersebut memang dibutuhkan dan memberikan manfaat bagi diri sendiri.


Penulis:
1. Hanifah
2. ⁠Anisah Fitriyanti
3. ⁠Lola Azahwa Afilia
4. ⁠Nurul Ramadaya
5. ⁠Putri Angelia
6. ⁠Vinkan Amelda Oktapia
Mahasiswa Prodi Manajemen, Universitas Pamulang

Dosen Pengampu: Mutmainnah, S.E., M.M.


Editor: Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *