Pendahuluan
Sebagai mahasiswa yang sering menggunakan media sosial, saya sering melihat banyak orang membeli sesuatu bukan karena benar-benar membutuhkan produk tersebut, tetapi karena produk itu sedang viral atau banyak dibicarakan. Misalnya, seseorang membeli skincare, sepatu, tas, atau gadget hanya karena melihat banyak influencer menggunakan produk tersebut. Fenomena ini menunjukkan bahwa keputusan pembelian saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh harga dan kualitas produk, tetapi juga oleh kondisi psikologis konsumen.
Salah satu faktor psikologis yang sering dimanfaatkan oleh perusahaan adalah Fear of Missing Out atau FOMO. Secara sederhana, FOMO adalah rasa takut tertinggal dari sesuatu yang sedang populer, ramai dibicarakan, atau dianggap penting oleh orang lain. Dalam dunia pemasaran, perasaan ini sering dimanfaatkan untuk membuat konsumen merasa harus segera membeli produk sebelum kesempatan untuk mendapatkannya hilang.
FOMO sebenarnya bukan hal baru. Namun, perkembangan media sosial dan e-commerce membuat fenomena ini semakin mudah ditemukan. Konsumen sekarang bisa melihat berbagai informasi secara langsung, mulai dari promo diskon, jumlah stok yang tersisa, ulasan pembeli, hingga konten ulasan dari influencer. Kalimat seperti “stok tinggal 3”, “promo hanya berlaku hari ini”, atau “sudah dibeli lebih dari 10.000 orang” mungkin terlihat biasa saja, tetapi sebenarnya dapat memengaruhi keputusan seseorang untuk membeli.
Menurut saya, FOMO menjadi salah satu strategi pemasaran yang cukup kuat karena menyentuh sisi emosional konsumen. Perusahaan tidak hanya menjual produk, tetapi juga menjual rasa “jangan sampai ketinggalan”. Karena itu, artikel ini akan membahas bagaimana FOMO digunakan dalam pemasaran digital, pengaruhnya terhadap perilaku konsumen, serta mengapa penggunaannya tetap perlu dibatasi agar tidak berubah menjadi manipulasi.
FOMO sebagai Strategi Marketing
Menurut saya, FOMO cukup efektif digunakan dalam pemasaran karena dapat menciptakan rasa mendesak. Ketika konsumen melihat sebuah produk dengan stok terbatas atau promo yang hanya berlaku beberapa jam, mereka cenderung merasa harus segera mengambil keputusan. Rasa takut kehilangan kesempatan membuat konsumen tidak sempat berpikir terlalu lama.
Contoh yang paling sering kita temui adalah flash sale di aplikasi e-commerce. Biasanya, platform menawarkan diskon besar hanya dalam waktu tertentu, misalnya beberapa jam. Konsumen yang melihat promo tersebut akan merasa bahwa jika tidak membeli sekarang, harga akan kembali normal dan mereka akan kehilangan kesempatan mendapatkan produk dengan harga lebih murah. Kondisi ini membuat banyak orang akhirnya membeli tanpa terlalu mempertimbangkan apakah produk tersebut benar-benar dibutuhkan.
Selain flash sale, perusahaan juga sering menggunakan strategi stok terbatas. Tulisan seperti “hanya tersisa 2 unit” atau “hampir habis” membuat produk terasa lebih eksklusif. Konsumen akan berpikir bahwa produk tersebut sulit didapat sehingga merasa harus segera membelinya. Strategi ini juga sering digunakan pada produk limited edition, misalnya kolaborasi merek tertentu atau produk yang hanya diproduksi dalam jumlah kecil.
Peran influencer juga tidak bisa diabaikan. Ketika sebuah produk digunakan oleh banyak kreator konten atau tokoh terkenal, konsumen akan merasa produk tersebut sedang menjadi tren.
Akibatnya, muncul keinginan untuk ikut membeli agar tidak merasa tertinggal dari orang lain. Saya rasa hal ini sering terjadi, terutama pada produk kecantikan, fashion, dan makanan viral. Banyak orang membeli bukan karena membutuhkan, tetapi karena ingin merasakan pengalaman yang sama seperti yang ditunjukkan di media sosial.
Dari sudut pandang perusahaan, strategi ini memang menguntungkan karena dapat meningkatkan penjualan dalam waktu singkat. Namun, dari sisi konsumen, keputusan pembelian yang terlalu cepat terkadang membuat mereka menyesal setelah produk diterima. Ini menunjukkan bahwa FOMO memang efektif, tetapi juga memiliki dampak yang perlu diperhatikan.
Pengaruh FOMO terhadap Perilaku Konsumen
Pengaruh utama FOMO adalah mendorong pembelian impulsif. Pembelian impulsif adalah keputusan membeli yang dilakukan secara spontan tanpa perencanaan matang. Ketika konsumen merasa terburu-buru, mereka cenderung tidak sempat membandingkan harga, membaca ulasan, atau memikirkan apakah produk tersebut benar-benar diperlukan.
Sebagai contoh, seseorang mungkin awalnya hanya ingin melihat-lihat aplikasi belanja. Namun, setelah melihat promo yang akan berakhir dalam 15 menit dan stok yang tinggal sedikit, ia langsung memutuskan untuk membeli. Setelah beberapa hari, barang tersebut mungkin jarang digunakan atau bahkan tidak sesuai harapan. Kondisi seperti ini sering terjadi karena keputusan pembelian lebih didorong oleh emosi daripada kebutuhan.
FOMO juga membuat batas antara kebutuhan dan keinginan menjadi semakin tipis. Konsumen bisa merasa perlu membeli sesuatu, padahal sebenarnya hanya ingin mengikuti tren. Misalnya, seseorang mungkin sudah memiliki tas yang cukup, tetapi karena melihat tas edisi terbatas yang sedang viral, ia merasa harus memilikinya juga. Dalam kondisi ini, yang dibeli bukan hanya produknya, tetapi juga rasa ikut serta dalam tren.
Di satu sisi, hal ini menguntungkan perusahaan karena penjualan dapat meningkat dengan cepat. Namun, di sisi lain, jika konsumen sering merasa tertekan atau menyesal setelah membeli, mereka bisa kecewa terhadap merek tersebut. Menurut saya, masalah utama bukan pada penggunaan FOMO itu sendiri, melainkan pada cara perusahaan menerapkannya. Jika informasinya jujur, FOMO masih bisa diterima. Namun, jika perusahaan sengaja membuat kesan kelangkaan palsu, hal itu sudah termasuk praktik yang tidak etis.
FOMO dan Generasi Muda
Menurut saya, generasi muda, terutama Gen Z, merupakan kelompok yang paling terpengaruh oleh FOMO. Hal ini karena Gen Z sangat akrab dengan media sosial. Dalam satu hari, mereka bisa melihat banyak tren baru, rekomendasi produk, ulasan, dan promosi melalui TikTok, Instagram, atau platform lainnya.
Algoritma media sosial juga membuat fenomena ini semakin kuat. Ketika seseorang menonton satu video tentang produk tertentu, platform biasanya akan menampilkan konten serupa secara berulang. Akibatnya, konsumen merasa produk tersebut sedang populer di mana-mana. Padahal, produk tersebut mungkin hanya sering muncul di feed mereka karena algoritma.
Kondisi ini membuat konsumen muda lebih mudah terdorong untuk membeli. Mereka tidak hanya melihat produk, tetapi juga melihat bagaimana orang lain menggunakan dan menikmati produk tersebut. Lama-kelamaan, muncul perasaan bahwa mereka juga harus memiliki produk yang sama agar tidak ketinggalan.
Karena itu, saya pikir kesadaran konsumen sangat penting. Perusahaan memang boleh menggunakan strategi pemasaran, tetapi konsumen juga harus bisa menilai apakah keputusan membeli didasarkan pada kebutuhan atau hanya karena tekanan tren. Pertanyaan sederhana seperti “Apakah saya benar-benar membutuhkan ini?”, “Apakah anggaran saya cukup?”, dan “Apakah produk ini akan tetap berguna setelah trennya selesai?” bisa membantu konsumen mengambil keputusan yang lebih rasional.
FOMO yang Efektif tetapi Harus Etis
Dalam pemasaran, menciptakan rasa urgensi sebenarnya bukan hal yang salah. Perusahaan memang perlu mencari cara agar konsumen tertarik dan mau membeli produknya. Namun, strategi tersebut tetap harus dilakukan secara jujur.
Misalnya, jika sebuah produk memang hanya diproduksi dalam jumlah terbatas, penggunaan istilah “limited edition” masih masuk akal. Begitu juga jika promo memang hanya berlaku satu hari, batas waktu tersebut bisa menjadi daya tarik yang wajar. Konsumen tetap diberi kesempatan untuk memutuskan, tetapi informasi yang diberikan tidak menyesatkan.
Masalah muncul ketika perusahaan menciptakan kesan kelangkaan yang tidak nyata. Contohnya, menampilkan stok yang sebenarnya masih banyak, menggunakan hitungan waktu yang terus diatur ulang, atau mengatakan promo akan berakhir padahal promo yang sama akan muncul lagi besok. Strategi seperti ini mungkin berhasil meningkatkan penjualan sesaat, tetapi bisa merusak kepercayaan konsumen dalam jangka panjang.
Menurut saya, perusahaan sebaiknya tidak hanya fokus pada cara membuat konsumen cepat membeli, tetapi juga pada cara membuat konsumen puas setelah membeli. Jika konsumen merasa produknya berkualitas, informasinya jelas, dan pengalaman belanjanya menyenangkan, mereka akan lebih mungkin membeli lagi di masa depan. Kepercayaan konsumen jauh lebih berharga dibandingkan keuntungan sesaat.
Penutup
FOMO telah menjadi bagian dari strategi pemasaran digital. Melalui promo terbatas, stok terbatas, produk edisi khusus, konten viral, dan dukungan influencer, perusahaan dapat menciptakan rasa urgensi yang mendorong konsumen untuk segera membeli.
Namun, penggunaan FOMO tetap perlu dilakukan secara bijak. Strategi ini bisa efektif jika informasinya jujur dan produk yang ditawarkan memang bermanfaat. Sebaliknya, jika digunakan secara berlebihan atau menyesatkan, FOMO dapat menyebabkan pembelian impulsif, kekecewaan, dan hilangnya kepercayaan konsumen.
Pada akhirnya, pemasaran yang baik bukan hanya soal membuat konsumen takut kehilangan kesempatan, tetapi juga soal menciptakan nilai dan pengalaman yang membuat konsumen ingin kembali. Karena itu, FOMO sebaiknya digunakan sebagai salah satu bagian dari strategi pemasaran, bukan sebagai satu-satunya cara untuk menarik konsumen.
Penulis: Ratu Yola Aprilia
Mahasiswa Manajemen Digital Marketing, Universitas Pamulang
Dosen Pengampu: Risza Putri Elburdah
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















