Di era digital seperti sekarang, hampir semua orang memiliki kesempatan untuk berbicara kepada publik. Jika dahulu seseorang harus berdiri di atas panggung, mengikuti seminar, atau berada di sebuah forum untuk menyampaikan pendapat, kini sebuah telepon genggam sudah cukup untuk membuat suara seseorang didengar oleh ratusan, bahkan jutaan orang.
Media sosial telah mengubah cara manusia berkomunikasi. Melalui konten, podcast, siaran langsung, maupun kolom komentar, setiap orang dapat menyampaikan ide, opini, pengalaman, bahkan kritik terhadap berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat.
Menurut saya, perkembangan tersebut merupakan sebuah peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, media sosial memberikan ruang yang luas bagi masyarakat untuk berekspresi. Namun di sisi lain, kebebasan tersebut menuntut adanya tanggung jawab.
Kemampuan berbicara di era digital tidak lagi cukup hanya dengan memiliki suara yang lantang, penampilan yang menarik, atau rasa percaya diri yang tinggi. Lebih dari itu, seseorang perlu memiliki kemampuan menyampaikan pesan secara jelas, bijak, etis, dan berdasarkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Semua Orang Kini Bisa Menjadi Pembicara
Public speaking selama ini sering dipahami sebagai kemampuan berbicara di depan banyak orang. Padahal, di era digital, makna tersebut menjadi jauh lebih luas.
Seseorang yang membuat video TikTok, melakukan live streaming, menjadi pembicara dalam podcast, membuat konten edukasi di Instagram, atau menyampaikan pendapat melalui YouTube pada dasarnya juga sedang melakukan komunikasi publik.
Perubahan ini menunjukkan bahwa public speaking bukan lagi keterampilan yang hanya dibutuhkan oleh seorang pembawa acara, motivator, dosen, atau pemimpin. Mahasiswa membutuhkan kemampuan berbicara ketika melakukan presentasi, mengikuti organisasi, maupun memasuki dunia kerja.
Seorang pekerja membutuhkan public speaking ketika menyampaikan ide dalam rapat, melakukan negosiasi, atau berkomunikasi dengan klien. Bahkan masyarakat umum membutuhkan kemampuan komunikasi ketika ingin menyampaikan pendapat tanpa menimbulkan kesalahpahaman.
Artinya, kemampuan berbicara telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Persoalannya bukan lagi apakah seseorang memiliki kesempatan untuk berbicara, melainkan apakah ia mampu menggunakan kesempatan tersebut dengan baik.
Ketika Berbicara Lebih Mengejar Viral daripada Makna
Salah satu fenomena yang menurut saya perlu diperhatikan adalah budaya berbicara demi mendapatkan perhatian. Di media sosial, sesuatu yang kontroversial, berlebihan, atau mengundang perdebatan sering kali lebih cepat mendapatkan respons daripada informasi yang disampaikan secara tenang dan objektif.
Akibatnya, tidak sedikit orang yang sengaja menggunakan pernyataan provokatif agar kontennya mendapatkan lebih banyak penonton, komentar, dan dibagikan oleh pengguna lain.
Dalam kondisi seperti ini, tujuan komunikasi dapat bergeser. Berbicara bukan lagi untuk memberikan informasi atau menyampaikan gagasan, tetapi semata-mata untuk mendapatkan popularitas.
Masalahnya, sesuatu yang viral belum tentu benar. Informasi yang mendapatkan jutaan views juga belum tentu memiliki dasar yang kuat.
Bahkan, sebuah pernyataan yang awalnya hanya ditujukan untuk menarik perhatian dapat berkembang menjadi kesalahpahaman yang lebih besar ketika dipotong, dikutip di luar konteks, dan disebarkan kembali.
Di sinilah kemampuan public speaking perlu dibarengi dengan kemampuan berpikir kritis. Seorang pembicara harus memahami bahwa setiap kata yang disampaikan kepada publik memiliki kemungkinan untuk memengaruhi cara berpikir dan tindakan orang lain.
AI dan Tantangan Baru dalam Komunikasi
Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) juga semakin memperkuat tantangan dalam komunikasi digital. AI saat ini mampu membantu manusia membuat teks, gambar, video, suara, hingga berbagai bentuk konten lainnya.
Teknologi tersebut tentu memberikan banyak manfaat dan dapat membantu manusia berkomunikasi secara lebih cepat dan kreatif.
Namun, kemajuan teknologi juga membawa risiko. Kemampuan AI untuk menghasilkan suara dan video yang menyerupai manusia dapat dimanfaatkan untuk membuat konten palsu atau manipulatif.
Masyarakat dapat semakin sulit membedakan mana informasi yang benar-benar berasal dari seseorang dan mana yang merupakan hasil rekayasa teknologi.
Dalam kondisi seperti ini, kemampuan berbicara saja tidak cukup. Seorang komunikator juga membutuhkan integritas. Sebelum menyampaikan suatu informasi, seseorang harus memastikan bahwa informasi tersebut memiliki sumber yang jelas dan tidak sengaja menyesatkan orang lain.
Menurut saya, semakin canggih teknologi yang digunakan untuk membuat informasi, semakin tinggi pula tanggung jawab manusia dalam menggunakannya.
Baca Juga: Takut Salah Bicara: Hambatan Terbesar Mahasiswa dalam Belajar Public Speaking
Public Speaking Harus Berjalan Bersama Literasi Digital
Kemampuan public speaking di era digital tidak dapat dipisahkan dari literasi digital. Seseorang yang mampu berbicara dengan lancar tetapi tidak mampu membedakan informasi yang benar dan salah tetap dapat menjadi sumber masalah.
Sebelum menyampaikan sebuah informasi, pembicara seharusnya melakukan pengecekan terlebih dahulu. Dari mana informasi tersebut berasal? Apakah sumbernya dapat dipercaya? Apakah informasi tersebut masih sesuai dengan konteks? Apakah ada data yang mendukung pernyataan tersebut?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itu penting untuk diajukan sebelum seseorang berbicara kepada publik.
Terlebih lagi, algoritma media sosial turut memengaruhi informasi yang muncul di hadapan masyarakat. Konten yang mendapatkan banyak interaksi cenderung lebih mudah mendapatkan perhatian.
Kondisi ini dapat membuat masyarakat lebih sering melihat informasi yang sesuai dengan minat atau emosinya, bukan selalu informasi yang paling akurat.
Karena itu, menjadi komunikator di era digital berarti juga harus menjadi pengguna informasi yang kritis.
Berani Berbicara Harus Diikuti dengan Berani Bertanggung Jawab
Kebebasan berpendapat merupakan hal yang penting dalam kehidupan masyarakat. Namun, kebebasan tersebut tidak seharusnya dipahami sebagai kebebasan untuk mengatakan apa pun tanpa memikirkan akibatnya.
Menurut saya, etika merupakan bagian yang tidak boleh dipisahkan dari public speaking. Seorang pembicara harus mampu membedakan antara menyampaikan kritik dan menghina, antara menyampaikan pendapat dan menyebarkan kebencian, serta antara membagikan informasi dan menyebarkan informasi yang belum terbukti kebenarannya.
Public speaking yang bertanggung jawab sebenarnya dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Pembicara perlu memahami materi yang disampaikan, menggunakan bahasa yang mudah dipahami, menyertakan fakta atau data yang relevan, menghargai perbedaan pendapat, serta menghindari kata-kata yang sengaja digunakan untuk memprovokasi.
Selain itu, seorang pembicara juga harus siap menerima kritik. Tidak semua orang akan setuju dengan apa yang kita sampaikan. Perbedaan pendapat merupakan sesuatu yang wajar. Justru kemampuan menerima kritik menunjukkan bahwa seseorang tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga mampu berkomunikasi secara dewasa.
Baca Juga: Paradoks Komunikasi Digital: Degenerasi Kemampuan Retorika Lisan di Ruang Publik
Generasi Muda dan Tanggung Jawab dalam Berkomunikasi
Generasi muda memiliki posisi yang sangat penting dalam perkembangan komunikasi digital. Mereka bukan hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga menjadi pembuat dan penyebar informasi.
Satu video yang dibuat oleh seorang anak muda dapat ditonton oleh ribuan orang dalam waktu singkat. Satu komentar dapat memengaruhi opini orang lain. Bahkan, satu pernyataan dapat berkembang menjadi sebuah perdebatan besar di media sosial.
Karena itu, generasi muda perlu melihat public speaking sebagai keterampilan yang lebih luas daripada sekadar tampil percaya diri. Public speaking seharusnya menjadi kemampuan untuk menyampaikan gagasan secara terstruktur, membangun komunikasi yang positif, dan memberikan pengaruh yang bermanfaat.
Kemampuan tersebut juga dapat digunakan untuk melawan penyebaran informasi yang salah. Seseorang yang mampu menjelaskan sebuah persoalan dengan bahasa sederhana dapat membantu orang lain memahami suatu informasi secara lebih baik.
Dengan komunikasi yang tepat, masyarakat dapat diajak untuk tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum jelas kebenarannya.
Bukan Sekadar Pandai Bicara
Pada akhirnya, perkembangan teknologi telah membuat batas antara pembicara dan penonton menjadi semakin tipis. Dahulu, hanya orang-orang tertentu yang memiliki akses untuk berbicara kepada publik. Sekarang, hampir semua orang dapat melakukannya.
Menurut saya, kondisi tersebut merupakan kesempatan yang sangat besar, terutama bagi generasi muda. Namun, kesempatan tersebut harus disertai dengan kesadaran bahwa setiap perkataan memiliki dampak.
Di tengah maraknya konten viral, perkembangan AI, dan derasnya arus informasi di media sosial, masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara.
Kita membutuhkan komunikator yang mampu berpikir sebelum berbicara, memeriksa sebelum menyebarkan, dan mempertimbangkan dampak sebelum menyampaikan sesuatu kepada publik.
Pada akhirnya, public speaking bukan hanya tentang keberanian untuk membuka suara, tetapi juga keberanian untuk bertanggung jawab atas suara yang kita keluarkan. Sebab kata-kata yang disampaikan dengan bijak dapat memberikan inspirasi dan perubahan positif.
Sebaliknya, kata-kata yang disampaikan tanpa pertimbangan dapat menimbulkan dampak yang jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.
Di era ketika semua orang memiliki kesempatan untuk berbicara, tantangan terbesar kita bukan lagi sekadar bagaimana agar didengar, tetapi bagaimana agar suara kita layak untuk didengar.
Penulis: Tya Amelia
Mahasiswa Manajemen Universitas Pamulang (Unpam)
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















