Fatherless: Terdapat Sosoknya, tetapi Kemana Perannya?

fatherless dan peran ayah
Fatherless: Terdapat Sosoknya, tetapi Kemana Perannya? Sumber: MMI.

Pada banyak rumah tangga di Indonesia, terdapat pembagian peran yang jarang dipertanyakan. Seorang ibu mengemban tanggung jawab untuk mengurus rumah dan anggota keluarganya, sementara ayah bertugas untuk mencari nafkah. Ketika ayah pulang larut, anak sudah terlelap, kala ayah berangkat pagi, anak belum bangun.

Kebanyakan orang menyebutnya sebagai pengorbanan, namun di balik kata “pengorbanan” terdapat sesuatu yang menghilang, yaitu waktu yang seharusnya dihabiskan dengan keluarga. Hilangnya waktu tersebut menyebabkan anak kehilangan separuh orang tuanya dan menjadi awal dari fenomena fatherless.

Menurut Arsyia Fajarrini dan Aji Narul Umam (2023) fatherless diartikan sebagai suatu fenomena ketika seorang anak yang memiliki ayah namun ayahnya tidak hadir secara maksimal dalam proses tumbuh kembang anaknya. Fenomena tersebut dapat muncul karena adanya budaya lokal dalam memandang pengasuhan pada anak.

Sehingga muncul stereotipe bahwa seorang laki-laki tidak seharusnya merawat serta tidak terlibat dalam proses pengasuhan anak.

Menurut Juliana Sinaga (2025), fenomena tersebut disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama kematian ayah karena penyakit atau kecelakaan dapat menyebabkan tidak adanya kehadiran ayah. Kedua, perceraian kedua orang tua sering menghasilkan konflik dan kelalaian selanjutnya terhadap anak.

Ketiga, ayah yang pergi untuk bekerja di luar kota tanpa menjaga komunikasi yang berkelanjutan, hal itu akan menimbulkan rasa kehilangan bagi anak-anak mereka. Keempat, perilaku menyimpang yang dilakukan sang ayah, seperti penyalahgunaan narkoba atau keterlibatan dalam tindak kejahatan, semakin mengganggu stabilitas keluarga.

Data BKKBN menunjukkan bahwa 20,9 persen anak Indonesia yang ada di Indonesia tumbuh tanpa peran ayah yang aktif atau fatherless dan menyebabkan hambatan dalam perkembangan emosi, sosial, dan kognitif (Satu, 2025).

Pada penelitian Dzakiyah (2026) menegaskan bahwa kondisi tersebut meningkatkan risiko terjadinya gangguan emosi, rendahnya  kepercayaan  diri,  kesulitan  sosial,  hingga  risiko  perilaku  negatif  pada  masa remaja dan dewasa akan meningkat.

Dampak yang ditimbulkan oleh fenomena fatherless tidak berhenti pada pribadi setiap anak, tetapi juga mengancam keberlanjutan dari hidup anak tersebut serta generasi yang akan datang.

Anak-anak yang tumbuh tanpa adanya figur seorang ayah cenderung lebih rentan terhadap perilaku negatif pada masa remaja, seperti kenakalan, penyalahgunaan narkoba atau bahkan ikut terlibat dalam dunia kriminal.

Jika 20,9 persen anak Indonesia mengalami fenomena fatherless tumbuh dalam kondisi tersebut, maka saat ini kita sedang mempertaruhkan kualitas dari sumber daya manusia yang kelak akan memimpin Indonesia.

Baca Juga: Ilusi Sang Tulang Punggung: Dekonstruksi Psikologis terhadap Peran Breadwinner dan Implikasinya bagi Kesejahteraan Keluarga

Indonesia emas 2045 bukan hanya sebuah slogan, sehingga untuk mencapai tujuan tersebut Indonesia membutuhkan generasi muda yang percaya diri serta berkarakter. Sehingga adanya fenomena fatherless berpotensi menghambat pencapaian tujuan tersebut.

Di sisi lain, seorang anak yang tumbuh dengan peran atau figur ayah yang hadir akan belajar bahwa kasih sayang, kepedulian, dan tanggung jawab bukan hanya urusan satu gender.

Sehingga ketika anak melihat ayahnya mengerjakan pekerjaan rumah tangga, anak akan memandang pekerjaan domestik bukan ‘tugas wanita’, melainkan sebuah pekerjaan yang dapat dilakukan secara bersama-sama.

Memberi contoh secara langsung adalah sebuah pendidikan yang paling efektif, dengan membagi tugas di rumah, anak dapat belajar secara langsung mengenai kesetaraan gender dan menghargai antara satu sama lain.

Namun, apabila ayah hanya mendapat posisi sebagai ‘pembantu’ ibu dalam pengasuhan, anak akan belajar bahwa tanggung jawab mengurus keluarga adalah beban yang seharusnya ditanggung oleh perempuan.

Oleh sebab itu, kita juga harus berhenti memandang pengasuhan sebagai sebuah bantuan yang diberikan oleh ayah kepada ibu, dan mulai memandangnya sebagai tanggung jawab yang setara.

Untuk menghindari fenomena fatherless, memberikan edukasi kepada ayah sudah kurang efektif karena fenomena tersebut bukan hanya masalah moral pada individu, hal tersebut merupakan hasil dari stereotipe yang memaksa ayah untuk memilih antara nafkah dan keluarga.

Saat ini fatherless sendiri membutuhkan reformasi kebijakan untuk menanganinya. Beberapa solusi nyata yang membutuhkan reformasi antara lain, reformasi cuti ayah, budaya kerja ramah keluarga dan program parenting yang terstruktur.

Saat ini, ayah di Indonesia memperoleh cuti selama dua sampai tiga hari ketika istri melahirkan. Angka tersebut berbeda jauh dengan negara lain seperti Swedia yang memberikan jatah cuti khusus bagi ayah hingga 90 hari (Sandi, 2022).

DPR RI yang sadar akan hal tersebut mendesak agar cuti ayah diperpanjang hingga 40 hari melalui RUU Kesejahteraan Ibu dan Anak. Adanya cuti tersebut semestinya tidak digunakan sebagai hari ‘libur’, melainkan upaya negara untuk membangun emotial bonding antara ayah dan anak di fase awal kehidupan anak.

Selain itu, perusahaan juga perlu menerapkan jam kerja yang fleksibel, larangan bekerja lembur yang berlebihan, dan menyediakan fasilitas ramah anak di tempat kerja.

Selain itu, pemerintah dapat menggelar program parenting yang terstruktur untuk memberikan edukasi lebih lanjut kepada ayah seperti menyediakan kelas pengasuhan khusus ayah di puskesmas, dan sekolah.

Program seperti Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) yang dikembangkan oleh BKKBN juga perlu diperluas Pemerintah juga perlu mengadakan program mentoring dan konseling psikologis yang diperuntukkan bagi anak-anak yang telah tumbuh tanpa peran ayah yang mendampinginya.

Baca Juga: Menjawab Fenomena Fatherless di Indonesia dengan Konseling Multibudaya

Fatherless bukan hanya masalah kecil di lingkup keluarga yang dapat diselesaikan di ruang makan tiap keluarga. Fenomena tersebut terlahir karena adanya budaya yang menempatkan seorang ayah untuk mencari nafkah, terlebih sistem kerja yang kerap tidak memberikan ruang kepada ayah juga turut berkontribusi memicu munculnya fenomena tersebut.

Oleh karenanya, perubahan harus dimulai dengan pemberian cuti yang memadai bagi ayah, budaya bekerja yang lebih ramah keluarga, hingga program parenting yang menjangkau seluruh ayah di tiap daerah. Namun perubahan kebijakan tidak akan cukup apabila masyarakat tidak mengiringinya dengan perubahan cara pandang.

Pengasuhan merupakan hal yang menjadi tanggung jawab kedua orang tua, bukan sekedar ‘bantuan’ ayah kepada ibu.

Setiap anak memiliki hak untuk tumbuh dengan kehadiran kedua orang tuanya, dan jika hari ini kita memilih untuk memperbaiki budaya tersebut, anak-anak akan tumbuh dengan lebih baik tanpa perlu merasakan fenomena fatherless. Sehingga di masa yang akan datang anak-anak itulah yang akan membawa Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.


Penulis: Raisa Lintang Putri Danarjati (NIM: 14020126130140)
Mahasiswa Administrasi Publik Universitas Diponegoro (UNDIP)


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Daftar Pustaka

Arsyia Fajarrinia, A. N. (2023). DAMPAK FATHERLESSTERHADAP KARAKTERANAK DALAM PANDANGAN ISLAM. ABATA Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, 20-28.

Dzakiyah, N. (2026). Dampak fatherless terhadap perkembangan anak dan faktor penyebab dalam keluarga di indonesia. Maliki Interdisciplinary Journal (MIJ), 287-292.

Juliana Sinaga, R. (2025). Fatherlessness in the Social Life of Street Children on Krakatau Ujung Street, Medan Deli District. International Journal of Education and, 314-318.

Sandi, F. (2022, Juni 24). Gokil! Cuti Melahirkan Suami-Istri di Negara Ini 480 Hari. Retrieved from CNBC Indonesia: https://www.cnbcindonesia.com/news/20220621173245-4-349074/gokil-cuti-melahirkan-suami-istri-di-negara-ini-480-hari

Satu, H. K. (2025, Juli 11). 20,9 persen anak Indonesia tumbuh tanpa peran ayah. Retrieved from kemendukbangga: https://www.kemendukbangga.go.id/posts/737049fd-fc6e-4047-87d6-2265f3fd6eaf-20-9-persen-anak-indonesia-tumbuh-tanpa-peran-ayah

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *