Ilusi Sang Tulang Punggung: Dekonstruksi Psikologis terhadap Peran Breadwinner dan Implikasinya bagi Kesejahteraan Keluarga

istri tulang punggung
Ilusi Sang Tulang Punggung: Dekonstruksi Psikologis terhadap Peran Breadwinner dan Implikasinya bagi Kesejahteraan Keluarga. Sumber: MMI.

Dalam panggung besar kehidupan keluarga, ada sebuah naskah tak tertulis yang telah diwariskan dari generasi ke generasi: naskah tentang peran pria sebagai pencari nafkah utama, sang tulang punggung keluarga.

Gambaran ini begitu mengakar dalam budaya populer (dari film hingga iklan) sehingga kita sering menerimanya sebagai sebuah kebenaran mutlak. Secara formal, model male breadwinner ini didefinisikan sebagai sebuah tatanan di mana seorang pria adalah satu-satunya, atau pencari nafkah utama dalam sebuah keluarga.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Sementara itu, wanita atau ibu sepenuhnya ditopang sebagai pengasuh non-pasar yang berbasis di rumah, atau sebagian ditopang sebagai pencari nafkah sekunder (Broomhill & Sharp, 2005).

Dalam perspektif psikologi, ekspektasi ini dikenal sebagai skema peran gender (gender role script), yaitu kerangka kognitif yang membentuk persepsi kita tentang bagaimana laki-laki dan perempuan seharusnya berperilaku.

Esai ini akan memberikan gambaran kritis mengenai peran tersebut dari sudut pandang psikologi, menelusuri jejak sejarahnya, menganalisis beban mentalnya, hingga membandingkannya dengan berbagai model keluarga alternatif dari berbagai budaya.

Esai ini berargumen bahwa ekspektasi sosial bahwa pria harus menjadi pencari nafkah utama bukanlah takdir psikologis atau biologis, melainkan sebuah skrip peran gender yang dikonstruksi secara sosio-historis.

Dari sudut pandang psikologi, skrip kaku ini terbukti menciptakan beban mental yang signifikan bagi pria, membatasi otonomi psikologis wanita, dan pada akhirnya mengurangi ketahanan (resilience) serta kesejahteraan psikologis keluarga dalam menghadapi tantangan era modern.

Asal-Usul Peran “Breadwinner”: Adaptasi Historis, Bukan Takdir Psikologis

Penting untuk dipahami bahwa peran ini tidak lahir dari superioritas atau “naluri” alami pria, melainkan dibentuk oleh kondisi eksternal yang spesifik dalam sejarah.

Teori Peran Sosial (Social Role Theory) dalam psikologi sosial menjelaskan bahwa perbedaan perilaku antara gender lebih banyak disebabkan oleh pembagian kerja yang berbeda di masyarakat.

Sejarah Revolusi Industri di Inggris menjadi bukti nyata dari teori ini. Sebelum era mekanisasi, model ekonomi keluarga seringkali lebih egaliter di mana perempuan memberikan kontribusi finansial yang signifikan melalui pekerjaan dari rumah (Humphries & Schneider, 2021).

Namun, kemunculan teknologi mesin secara masif menghancurkan sumber pendapatan perempuan ini, menciptakan “perangkap teknologi” yang secara efektif mendorong mereka keluar dari pasar kerja (Horrell & Humphries, 1997).

Baca Juga: Peran Suami-Istri dalam Membentuk Keluarga Sakinah yang Bahagia

Selain faktor teknologi, peran ini juga diperkuat oleh kebijakan pemerintah dan perusahaan. Sebagai contoh, di Jerman pasca perang, meskipun ideologi resmi di Jerman Timur mendorong perempuan bekerja, ideologi breadwinner tetap bertahan di level kebijakan upah dan persepsi masyarakat (von Oertzen & Rietzschel, 1997).

Serupa dengan itu, di Belanda, inisiatif perusahaan pada pertengahan abad ke-20 secara sadar mengarahkan perempuan yang sudah menikah ke pekerjaan paruh waktu untuk menjaga model breadwinner tetap utuh (de Groot, 2023).

Peran yang awalnya merupakan adaptasi ekonomi ini, seiring waktu diinternalisasi dan mengeras menjadi norma psikologis, yang menantang gagasan esensialisme biologis, keyakinan bahwa perbedaan peran gender adalah akibat alamiah dari perbedaan biologis (Pinho & Gaunt, 2024).

Beban Mental di Balik Status “Tulang Punggung”

Meskipun sering dianggap sebagai posisi yang istimewa, status sebagai pencari nafkah tunggal ternyata membawa beban psikologis yang berat. Dari perspektif psikologi kesehatan, tuntutan untuk selalu berhasil secara finansial dapat menjadi sumber stres kronis.

Ketika identitas dan harga diri (self-esteem) seorang pria secara eksklusif dilekatkan pada performa ekonominya, ia menjadi rentan terhadap kecemasan kinerja (performance anxiety) dan depresi saat menghadapi kegagalan finansial seperti kehilangan pekerjaan.

Tekanan ini tidak hanya dirasakan secara individu tetapi juga berdampak pada dinamika keluarga. Studi tentang keluarga penambang di Inggris menunjukkan bahwa upah tinggi yang diterima pria seringkali ditopang oleh kerja domestik perempuan yang luar biasa berat dan tidak diakui, menciptakan sebuah ilusi bahwa pria bekerja sendiri (Humphries & Thomas, 2023). Hal ini melanggengkan dinamika kekuasaan yang tidak seimbang.

Beban mental juga dirasakan oleh pria yang tidak mampu memenuhi ekspektasi peran tradisional ini. Studi terhadap para ayah di Indonesia yang ditinggal istri bekerja sebagai TKI menunjukkan bahwa mereka sering merasa “gagal” dan “malu” karena tidak bisa menafkahi keluarga, meskipun mereka mengambil peran pengasuhan anak (Lam & Yeoh, 2018). Ini menunjukkan betapa kuatnya internalisasi peran breadwinner dalam membentuk identitas maskulin.

Di sisi lain, perempuan yang berada dalam posisi ketergantungan finansial dapat mengalami penurunan otonomi. Seperti yang ditunjukkan dalam konteks Pakistan, tekanan budaya seringkali memaksa perempuan mengorbankan karier demi peran domestik, yang menyebabkan stres dan ketidakpuasan (Zulfiqar et al., 2024).

Dengan demikian, peran breadwinner yang kaku menciptakan sistem yang membebani pria, baik yang berhasil maupun yang “gagal” memenuhinya, sambil membatasi potensi wanita.

Baca Juga: Menjawab Fenomena Fatherless di Indonesia dengan Konseling Multibudaya

Fleksibilitas Peran sebagai Kunci Ketahanan Psikologis Keluarga

Berlawanan dengan gagasan bahwa keluarga yang “ideal” harus mengikuti model breadwinner yang kaku, bukti dari berbagai periode sejarah dan lintas budaya justru menunjukkan hal sebaliknya.

Keluarga yang sehat secara fungsional dan mampu bertahan dalam krisis adalah keluarga yang menunjukkan fleksibilitas dan kemampuan adaptasi dalam peran ekonominya.

Sejarah penuh dengan contoh model keluarga alternatif yang berhasil. Di Spanyol abad ke-19, para perempuan pekerja pabrik rokok (cigarreras) seringkali menjadi pencari nafkah utama (Gálvez-Muñoz, 1997). Di Inggris awal abad ke-20, kontribusi ekonomi remaja kelas pekerja sangat vital (Todd, 2007).

Di era modern, kita dapat menemukan lansia di Thailand yang menjadi tulang punggung ekonomi bagi cucu mereka (Hongthai & Jongudomkarn, 2021), atau keluarga TKI di Indonesia di mana ibu menjadi pencari nafkah utama (Lam & Yeoh, 2018).

Studi tentang keluarga modern dengan peran terbalik (ayah pengasuh, ibu bekerja) juga menunjukkan model ini dapat berfungsi baik (Pinho & Gaunt, 2024).

Dari sudut pandang psikologi, semua contoh ini adalah bukti plastisitas psikologis dan ketahanan (resilience). Kesejahteraan keluarga tidak ditentukan oleh siapa yang mencari nafkah, melainkan oleh kemampuan anggota keluarga untuk bernegosiasi, saling mendukung, dan beradaptasi. Kemampuan bertukar peran saat dibutuhkan adalah tanda kekuatan.

Hambatan Psikologis dan Sosial dalam Perubahan Peran

Jika model breadwinner terbukti membebani dan banyak model alternatif yang berhasil, mengapa ideologi ini masih bertahan begitu kuat? Jawabannya terletak pada hambatan psikologis dan sosial yang kuat.

Salah satunya adalah esensialisme biologis, keyakinan bahwa perbedaan peran adalah “kodrat” (Pinho & Gaunt, 2024). Keyakinan ini berfungsi sebagai jalan pintas mental (mental shortcut) yang membuat kita enggan mempertanyakan norma.

Hambatan lainnya adalah tekanan konformitas sosial. Dalam psikologi sosial, diketahui bahwa manusia memiliki kebutuhan mendasar untuk diterima kelompoknya. Mempertahankan peran tradisional seringkali merupakan cara menjaga identitas sosial (“pria sejati”, “ibu yang baik”) dan menghindari stigma.

Studi di Australia menunjukkan ideologi male breadwinner tetap kuat secara budaya meskipun partisipasi perempuan di pasar kerja meningkat (Broomhill & Sharp, 2005).

Menariknya, studi tentang ayah yang ditinggal istri TKI di Indonesia menunjukkan bahwa meskipun praktik peran sudah berubah (ayah mengasuh), ideologi gender tradisional “lebih sulit untuk berubah” (Lam & Yeoh, 2018).

Baca Juga: Penyebab Mengapa Jumlah Single Parent Ibu Lebih Banyak daripada Ayah

Para ayah ini secara psikologis masih berusaha mempertahankan citra sebagai kepala keluarga, misalnya dengan menekankan bahwa istri mereka bekerja atas “izin” mereka. Hal ini menunjukkan betapa dalamnya ideologi ini tertanam, bahkan ketika realitas ekonomi memaksakan perubahan perilaku.

Keyakinan ini juga sering diperkuat oleh wanita melalui fenomena maternal gatekeeping (Pinho & Gaunt, 2024). Kombinasi bias internal dan tekanan eksternal inilah yang membuat skrip peran gender ini sulit diubah.

Kesimpulan

Analisis dari perspektif psikologi secara tegas menegaskan kembali bahwa peran pria sebagai “tulang punggung” adalah sebuah ilusi, konstruksi sosio-historis yang diinternalisasi menjadi skrip peran gender yang kaku dengan biaya psikologis yang nyata.

Jauh dari citra idealnya, peran ini terbukti membebani pria dengan stres kronis, membatasi otonomi wanita, dan mengurangi fleksibilitas yang esensial bagi ketahanan keluarga.

Berdasarkan temuan ini, rekomendasi yang dapat diajukan adalah perlunya intervensi di berbagai level. Di level individu, para profesional kesehatan mental dapat membantu klien, terutama pria, untuk memisahkan harga diri mereka dari status finansialnya.

Di level sosial, kampanye publik yang menormalisasi keragaman model keluarga dan fleksibilitas peran sangat diperlukan untuk mengubah persepsi. Serta di level kebijakan, dukungan struktural seperti cuti ayah (paternity leave) yang memadai dapat mendorong pembagian peran yang lebih seimbang.

Pada akhirnya, membongkar “ilusi sang tulang punggung” bukanlah tentang merendahkan peran pria, melainkan tentang membebaskan semua anggota keluarga dari ekspektasi usang.

Ini adalah langkah esensial untuk membangun fondasi keluarga yang tidak hanya lebih setara, tetapi juga lebih sehat secara mental, di mana setiap individu memiliki ruang untuk bertumbuh secara utuh.

Penulis: Syah Akbar (G1C124061)
Mahasiswa Psikologi Universitas Jambi (UNJA)

Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

Daftar Pustaka

Broomhill, R., & Sharp, R. (2005). The Changing Male Breadwinner Model in Australia: a New Gender Order?. Labour and Industry: A journal of the social and economic relations of work, 16(1), 103-127. https://doi.org/10.1080/10301763.2005.10722033

de Groot, T. J. (2023). Part-Time Employment in the Breadwinner Era: Dutch Employers’ Initiatives to Control Female Labor Force Participation, 1945–1970. Enterprise & Society, 24(3), 784–810. https://doi.org/10.1017/eso.2022.12

Gálvez-Muñoz, L. (1997). Breadwinning Patterns and Family Exogenous Factors: Workers at the Tobacco Factory of Seville During the Industrialization Process, 1887-1945. International Review of Social History, 42(S5), 87-128. https://doi.org/10.1017/S0020859000114804

Hongthai, K., & Jongudomkarn, D. (2021). A phenomenological study on older persons as a breadwinner of A skipped-generation family: day by day coping journey in Thai context. International Journal of Qualitative Studies on Health and Well-being, 16(1), 1967260. https://doi.org/10.1080/17482631.2021.1967260

Horrell, S., & Humphries, J. (1997). The Origins and Expansion of the Male Breadwinner Family: The Case of Nineteenth-Century Britain. International Review of Social History, 42(S5), 25-64. https://doi.org/10.1017/S0020859000114786

Humphries, J., & Schneider, B. (2021). Gender equality, growth, and how a technological trap destroyed female work. Economic History of Developing Regions, 36(3), 428-438. https://doi.org/10.1080/20780389.2021.1929606

Humphries, J., & Thomas, R. (2023). ‘The Best Job in the World’: Breadwinning and the Capture of Household Labor in Nineteenth and Early Twentieth-Century British Coalmining. Feminist Economics, 29(1), 97-140. https://doi.org/10.1080/13545701.2022.2128198

Lam, T., & Yeoh, B. S. A. (2018). Migrant mothers, left-behind fathers: the negotiation of gender subjectivities in Indonesia and the Philippines. Gender, Place & Culture, 25(1), 104-117. https://doi.org/10.1080/0966369X.2016.1249349

Pinho, M., & Gaunt, R. (2024). Biological essentialism, gender ideologies, and the division of housework and childcare: comparing male carer/female breadwinner and traditional families. The Journal of Social Psychology, 164(1), 59-75. https://doi.org/10.1080/00224545.2021.1983508

Todd, S. (2007). Breadwinners and Dependants: Working-Class Young People in England, 1918-1955. International Review of Social History, 52(1), 57-87. https://doi.org/10.1017/S0020859006002781

von Oertzen, C., & Rietzschel, A. (1997). Comparing the Post-War Germanies: Breadwinner Ideology and Women’s Employment in the Divided Nation, 1948-1970. International Review of Social History, 42(S5), 175-196. https://doi.org/10.1017/S002085900011483X

Zulfiqar, A., Kuskoff, E., Povey, J., & Baxter, J. (2024). Homemaker or breadwinner: labour force participation of Pakistani women. Community, Work & Family, 1-21. https://doi.org/10.1080/13668803.2024.2336031

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses