Salah Asuhan: Perempuan, Adat, dan Kuasa Kolonial

novel salah asuhan karya abdul muis
Salah Asuhan: Perempuan, Adat, dan Kuasa Kolonial. Sumber: MMI.

Menurut saya, novel Salah Asuhan karya Abdul Muis merupakan salah satu karya sastra yang memperlihatkan bagaimana perempuan, adat, dan kuasa kolonial saling berhubungan dan membentuk pengalaman hidup bagi tokohnya.

Novel ini tidak hanya menampilkan tragedi pribadi Hanafi, tetapi juga mengungkap bagaimana perempuan menjadi pihak yang paling terdampak oleh tekanan budaya dan sistem sosial kolonial.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Melalui tokoh Rapiah dan Corrie, pengarang berhasil menggambarkan posisi perempuan yang berada dalam pusaran pertentangan nilai antara adat tradisional, modernitas, dan kekuasaan kolonial yang mengatur kehidupan masyarakat pada masa itu.

Tokoh  Rapiah adalah gambaran perempuan adat yang hidup dalam batas sosial yang sangat ketat. Sebagai perempuan Minang, ia dituntut untuk taat, sabar, dan menjaga kehormatan keluarga. Rapiah menerima perjodohan dengan Hanafi tanpa suara, bahkan ketika pernikahannya berubah menjadi penderitaan.

Sikap pasif Rapiah bukan semata-mata karena karakternya, tetapi karena kultur adat yang menempatkannya sebagai pihak yang harus tunduk dan menerima segala keputusan keluarga.

Melalui sosok Rapiah, novel ini menyingkap bagaimana adat sering kali membatasi ruang gerak perempuan, dan menjadikan mereka simbol kesetiaan sekaligus korban dari patriarki seorang laki-laki yang dilegalkan oleh budaya.

Kritik sosial muncul dari kenyataan bahwa Rapiah tidak diberi ruang untuk mengambil keputusan atas hidupnya sendiri.

Sebaliknya, tokoh Corrie du Bussee memperlihatkan perempuan yang berada di antara dua dunia Barat dan pribumi yang sama-sama tidak memberinya tempat untuk bersuara. Corrie digambarkan sebagai perempuan modern, mandiri, dan berpendidikan.

Namun kebebasan tersebut dibatasi oleh sistem kolonial yang menganggapnya lebih rendah karena mempunyai darah keturunan Indonesianya. Ia tidak diterima sepenuhnya oleh masyarakat Eropa, tetapi juga tidak dapat masuk ke dunia pribumi.

Melalui Corrie, Abdul Muis mengkritik keras struktur kolonial yang mendefinisikan nilai seseorang berdasarkan ras. Perkawinannya dengan Hanafi ternyata tidak membawa kebahagiaan, karena relasi mereka selalu dinaungi oleh ketidaksetaraan, diskriminasi, dan prasangka.

Menurut saya, kedua tokoh perempuan ini menunjukkan bagaimana perempuan menjadi korban dari tiga kekuatan besar, yaitu adat, patriarki, dan kolonialisme. Rapiah terjebak dalam adat yang membatasi kebebasannya, sedangkan Corrie terpaksa menghadapi dampak kolonialisme yang membentuk hierarki ras yang merugikan posisinya.

Baca Juga: Superioritas yang Membusuk: Kritik Identitas dan Kolonialisme dalam Novel Salah Asuhan

Perempuan adat dan perempuan Indonesia sama-sama tidak memiliki kesempatan untuk menentukan nasib mereka sendiri; keduanya terpaksa tunduk pada aturan sosial yang ditentukan oleh struktur kekuasaan patriarki dan kolonial.

Di sisi lain, tokoh Hanafi memperkuat gambaran bahwa kolonialisme tidak hanya menindas secara politis, tetapi juga merusak cara pandang laki-laki terhadap perempuan serta identitas budaya mereka.

Hanafi menghina Rapiah karena dianggap “kampungan,” namun pada saat yang sama ia mengikuti Corrie demi mencapai status di dunia Barat. Sikap Hanafi mencerminkan kerusakan mental yang ditimbulkan oleh kolonialisme, yaitu kehilangan rasa hormat terhadap adat, sekaligus tidak pernah benar-benar diterima oleh budaya Barat.

Novel Salah Asuhan dengan jelas menunjukkan bahwa kolonialisme memiliki dampak yang kompleks terhadap hubungan sosial, khususnya dalam kaitannya dengan perempuan.

Perempuan dalam novel ini menjadi simbol dari benturan identitas, mulai dari karakter Rapiah yang mewakili adat tradisional hingga Corrie yang mencerminkan modernitas yang lemah.

Abdul Muis mengkritik bahwa modernitas yang datang melalui kolonialisme tidak selalu memberikan kebebasan, tetapi justru menambahkan bentuk penindasan baru terhadap perempuan.

Dengan melalui konflik yang terjadi antar tokoh, novel ini berhasil menggambarkan bagaimana perempuan sering kali dianggap sebagai objek, bukan subjek, dalam dinamika sosial yang diakibatkan oleh kolonialisme.

Salah Asuhan adalah karya yang mengkritik dengan kuat struktur kekuasaan yang membuat perempuan berada dalam posisi yang paling rentan. Novel ini menunjukkan bahwa adat, modernitas, dan kolonialisme bisa membatasi kebebasan perempuan dengan cara-cara berbeda.

Dengan menceritakan perjalanan Rapiah dan Corrie, Abdul Muis menjelaskan bahwa dalam masyarakat kolonial, perempuan berada di tengah persimpangan identitas yang sulit menemukan jalan keluar.

Novel ini bukan hanya menceritakan kisah cinta yang tragis, tetapi juga menjadi cermin bagaimana perempuan menjadi korban dari sistem sosial yang tidak memberi mereka ruang untuk menentukan hidupnya sendiri.

Hubungan antara ketiga unsur ini yaitu, perempuan, adat, dan kolonialisme tidak bisa dipisahkan dalam bacaan novel ini. Ketiganya membentuk sistem kekuasaan yang saling memengaruhi satu sama lain.

Perempuan menjadi tempat uji coba nilai adat, tempat di mana kolonialisme dipertanyakan, dan juga tempat di mana patriarki menunjukkan wajahnya yang paling nyata.

Novel ini mengungkap bahwa baik Rapiah maupun Corrie, meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda, keduanya menghadapi tekanan struktural yang membatasi pilihan hidup mereka.

Baca Juga: Resensi Novel: What’s So Wrong About Your Self Healing Mengungkap Makna Mendalam tentang Penyembuhan Diri

Perempuan tidak diberi ruang untuk menentukan nasib sendiri, justru mereka digunakan untuk menjaga kehormatan adat atau menjadi korban penilaian rasial dari sistem kolonial.

Yang membuat novel ini lebih menarik adalah cara Abdul Muis menggabungkan kritik sosial dengan konflik dalam rumah tangga. Hubungan antara Hanafi dan Corrie tidak hanya sekadar hubungan suami istri, melainkan tempat di mana ideologi kolonial dan adat bertanding.

Corrie merasa ia berhak hidup dengan posisi setara, tetapi Hanafi, yang secara mental terjajah, malah memperlakukan Corrie dengan cara yang mencerminkan ketidaknyamanannya. Meski Hanafi ingin tampil seperti laki-laki Barat, ia tidak memiliki ekonomi atau status sosial yang bisa mendukung identitas baru itu.

Kondisi ini membuatnya menyalurkan frustrasinya kepada perempuan, baik kepada Corrie yang dipaksa menyesuaikan diri, maupun kepada Rapiah yang dianggap rendah. Dalam konteks ini, perempuan menjadi korban dari egonya yang dibentuk oleh pengaruh kolonialisme.

Tokoh Rapiah adalah simbol kekuatan yang tenang tapi penuh luka. Ia mewakili perempuan adat yang terus menerima penderitaan tanpa mengeluh, seakan kesabarnya adalah tugas yang harus dilakukannya. Novel ini membuka sisi gelap dari adat yang biasanya tidak pernah diperhatikan dalam pembacaan biasa.

Adat memang bertugas menjaga martabat dan sistem sosial, tetapi dalam banyak kasus, adat justru membatasi perempuan sampai-sampai mereka tidak bisa menyuarakan kepribadian mereka. Rapiah tidak memiliki hak untuk memilih suami, mempertahankan nama baik, atau menentang ketidakadilan yang dialaminya.

Ia menjadi contoh perempuan yang harus tunduk pada budaya, meskipun budaya itu justru tidak melindungi dia. Di sini terlihat kritik sosial yang kuat dari Abdul Muis bahwa adat yang tidak memberi ruang bagi perempuan adalah adat yang memposisikan separuh masyarakat dalam situasi yang tidak aman.

Penulis: Muthia Selvi Elsa
Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Padang (UNP)

Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses