Novel Salah Asuhan karya Abdul Muis adalah salah satu karya paling penting dalam sastra Indonesia yang mengangkat tema pertentangan budaya, identitas, dan pembentukan watak dalam bayang-bayang kolonialisme.
Tokoh Hanafi tampil sebagai pusat konflik psikologis dan kultural, yang sejak kecil telah memasuki lingkungan keluarga Eropa dan kemudian menumbuhkan sikap superioritas terhadap bangsanya sendiri.
Dalam diri Hanafi, pembaca disuguhkan gambaran manusia terjepit: seorang Bumiputra yang terdidik dalam tata nilai Eropa, lalu tumbuh dengan perasaan ingin melepaskan diri dari akar budaya asalnya.
Salah satu bagian yang paling kuat dalam novel ini adalah dialog antara Hanafi dan Corrie, yang memperlihatkan dengan gamblang bagaimana Hanafi menolak identitas kebumiputeraannya.
Ketika Corrie mengingatkan bahwa dirinya juga berdarah Bumiputra dari pihak ibu, Hanafi justru membalas dengan nada yang menunjukkan kehinaan terhadap golongan Bumiputra. “Aku tahu betul, bahwa aku hanyalah Bumiputra saja, Corrie! Janganlah kauulang-ulang juga”.
Pada bagian tersebut terlihat jelas bahwa Hanafi bukan hanya tidak nyaman dengan identitas lahiriahnya, tetapi juga merasa terancam bila disamakan dengan kelompok sosial asalnya.
Ia lebih memilih berpegang pada identitas Eropa yang menurutnya lebih “tinggi”, meskipun ia sendiri sadar bahwa itu bukan identitas yang sepenuhnya dapat diterimanya.
Hanafi hidup dalam tarik-menarik identitas yang tidak pernah tuntas. Ia ingin menjadi seperti bangsa Eropa, tetapi sistem sosial kolonial tidak memberinya pintu penuh untuk diterima. Kondisi tersebut melahirkan kegelisahan psikis yang menjelma menjadi sikap angkuh, kasar, dan kerap merendahkan sesama Bumiputera.
Sikap ini bukan hanya bentuk keangkuhan pribadi, tetapi juga tanda dari kehancuran konsep diri akibat sentuhan budaya Barat yang tidak sepenuhnya dipahami atau diterima lingkungan sosialnya.
Yang menarik, Abdul Muis tidak pernah menggambarkan secara mendetail kehidupan Hanafi ketika ia tinggal bersama keluarga Eropa atau saat ia sekolah di lingkungan Barat.
Ketidakhadiran latar pembentuk ini pada satu sisi dapat dianggap sebagai kelemahan naratif, karena pembaca tidak dapat menyaksikan secara langsung proses internalisasi nilai yang menyebabkan Hanafi berubah demikian jauh. Namun pada sisi lain, justru karena itulah pembacaan terhadap Hanafi menjadi lebih luas.
Ia bukan sekadar tokoh dengan riwayat pribadi yang khusus, melainkan simbol dari fenomena sosial yang melanda masyarakat terjajah kala itu. Keinginan untuk “naik derajat” dengan mengadopsi nilai kolonial dan menolak identitas sendiri.
Dengan demikian, ketidaklengkapan riwayat itu memperkuat tokoh Hanafi sebagai representasi umum dari kegelisahan manusia terpelajar di era kolonial, bukan hanya sebagai tokoh individu.
Baca Juga: Resensi Novel: Laut Bercerita
Relasi Hanafi dengan ibunya menjadi titik kontras yang penting. Ibunya digambarkan sebagai sosok baik, sabar, dan berhati kuat. Ia memahami perubahan sikap anaknya, tetapi tidak pernah bersikap keras atau memaksa.
Ia membiarkan anaknya mengatur rumah seperti rumah Belanda, berbicara dengan cara yang tidak lagi halus, bahkan bersikap kasar. Namun ia terus menasihati, meski ia sendiri berkali-kali terluka oleh tindakan Hanafi. Pada titik ini, penulis menunjukkan bahwa sang ibu sama sekali bukan penyebab dari apa yang disebut “salah asuhan”.
Ia justru menjadi figur yang paling tersakiti oleh perubahan Hanafi. Lewat karakter sang ibu, penulis menegaskan bahwa kegagalan moral Hanafi bukan disebabkan oleh kasih sayang yang keliru, tetapi oleh pergeseran nilai akibat lingkungan sosial yang lebih besar daripada urusan keluarga.
Bagian lain yang sangat menonjol dalam novel ini ialah dialog mengenai pernikahan campuran antara bangsa Barat dan Timur. Penulis menampilkan bagaimana masyarakat kolonial memandang rendah perempuan Eropa yang menikah dengan laki-laki Bumiputra.
Mereka dianggap menurunkan derajat bangsa Eropa, bahkan kehilangan haknya sebagai orang Eropa. Sebaliknya, laki-laki Eropa yang mengambil perempuan lokal sebagai “nyai” justru dianggap tidak melanggar apa pun.
Perbedaan perlakuan ini digambarkan sebagai hasil dari “penyakit kesombongan bangsa”, yang memandang bangsa Timur sebagai golongan yang lebih rendah.
Dialog ini memberikan pembaca gambaran betapa timpangnya struktur sosial di bawah kolonialisme dan bagaimana aturan itu membentuk mental manusia seperti Hanafi yang akhirnya terjebak ingin menjadi “bagian dari bangsa tinggi”, tetapi secara hukum dan sosial tidak pernah benar-benar diterima.
Dilema Corrie menjadi penting karena ia berada di tengah-tengah dua dunia. Ayah Eropa dan ibu Bumiputra membuatnya memiliki perspektif yang lebih luas, tetapi sekaligus menempatkannya dalam kegamangan ketika harus merespons perasaan Hanafi.
Ia mengetahui bahwa masyarakat Eropa memandang rendah perempuan campuran yang menikah dengan laki-laki Timur. Oleh sebab itu, keinginannya untuk menerima Hanafi terhalang oleh sistem sosial yang tidak memihak.
Di sisi lain, Hanafi sendiri ternyata telah dijodohkan dengan Rapiah, perempuan Bumiputra yang keluarganya berjasa membiayai pendidikannya.
Keberadaan Rapiah menambah ironi tragis: Hanafi yang merasa dirinya “lebih Eropa”, justru terikat oleh tanggung jawab kultural dan moral pada orang-orang yang ia hina. Ketegangan inilah yang menggerakkan konflik batin Hanafi semakin jauh.
Kekuatan utama novel ini terletak pada cara Abdul Muis memakai dialog untuk menyingkap konflik batin, perbedaan nilai, dan tekanan sosial. Banyak gagasan penting justru muncul melalui percakapan, bukan narasi panjang.
Namun pada saat yang sama, ketiadaan detail mengenai proses pendidikan Hanafi membuat pembaca tidak dapat menelusuri dengan lengkap bagaimana struktur nilai Eropa dan Timur bekerja dalam dirinya.
Baca Juga: Estetika Moralitas dalam Novel “Ikhlas Penuh Luka” Karya Boy Candra
Walaupun demikian, hal ini dapat dimaknai sebagai pilihan artistik yang menyembunyikan biografi personal demi menonjolkan Hanafi sebagai fenomena sosial, bukan tokoh individu.
Pada akhirnya, penulis sebenarnya tidak menyalahkan kebudayaan Barat itu sendiri. Yang digambarkan oleh Abdul Muis adalah dampak psikologis dan sosial dari pergaulan seseorang dengan budaya yang berbeda tanpa adanya kesiapan identitas.
Sikap Hanafi merupakan gambaran klasik dari culture shock sebuah kondisi ketika seseorang hidup dalam budaya baru lalu secara perlahan menganggap dirinya bagian dari budaya tersebut, tetapi pada saat yang sama tidak sepenuhnya diterima oleh budaya baru maupun budaya asalnya.
Culture shock inilah yang memunculkan sikap baru, yang kadang negatif, merendahkan, bahkan bertentangan dengan nilai awal seseorang. Fenomena ini bukan hanya terjadi pada masa kolonial, tetapi masih sangat relevan pada masa sekarang, ketika banyak orang hidup berpindah budaya dan menghadapi benturan nilai yang serupa.
Dengan demikian, Hanafi bukan hanya tokoh fiksi yang mengalami “salah asuhan”, tetapi juga representasi manusia modern yang tengah mencari tempat di antara dua dunia. Novel ini mengingatkan kita bahwa identitas tidak bisa dibangun hanya dengan meniru budaya lain atau meninggalkan akar sendiri.
Pergeseran nilai tanpa pemahaman mendalam dapat menimbulkan kegelisahan, kehilangan arah, dan krisis moral, sebagaimana yang dialami Hanafi dan sebagaimana yang masih menjadi persoalan masyarakat kita hari ini.
Penulis: Salma Nur Aisyah
Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Padang (UNP)
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












