Ketika menonton serial anime IDOLiSH7, kita tidak hanya melihat cerita tentang berbagai kelompok grup idola yang bernyanyi dan menari untuk menghibur para penggemar. Kilau panggung menyimpan kisah mendalam tentang pertumbuhan pribadi, pembelajaran emosional, dan transformasi kepribadian.
Menurut alur cerita yang terdapat dalam serial anime, IDOLiSH7 sendiri merupakan grup idola yang beranggotakan 7 orang yaitu Iori Izumi, Yamato Nikaido, Mitsuki Izumi, Tamaki Yotsuba, Sogo Osaka, Nagi Rokuya, dan Riku Nanase.
Grup idola IDOLiSH7 berasal dari waralaba multimedia dengan nama yang sama, yang secara resmi memulai peluncurannya pada 20 Agustus 2015 oleh Bandai Namco Entertainment, di dalamnya terdapat grup idola di antaranya IDOLiSH7, TRIGGER, Re:vale, ŹOOĻ, serta grup sub unit dari IDOLiSH7 yakni MEZZO”.
Pada tahun 2018, rilis adaptasi anime dengan penayangan dua episode pertama pada 1 Januari 2018 dilanjutkan episode 3 dan seterusnya pada 7 Januari 2018.
Salah satu karakter yang cerita perkembangannya paling menyentuh adalah Tamaki Yotsuba, member grup idola IDOLiSH7 yang tumbuh di tengah trauma keluarga yang kompleks namun berhasil menemukan identitas dirinya yang utuh melalui dukungan komunitas.
Mengenal Tamaki Yotsuba IDOLiSH7 dan Latar Belakang Kehidupan Masa Kecilnya
Tamaki Yotsuba, seorang laki-laki muda yang tergabung dalam grup idola IDOLiSH7, dikenal sebagai anggota yang bersemangat, tulus, ekspresif, dan terkadang impulsif. Tamaki memiliki alasan kuat untuk menjadi idola yaitu untuk menemukan adiknya, Aya Yotsuba, yang telah terpisah darinya sejak kecil.
Laki-laki kelahiran 1 April itu memang memulai hidupnya dengan beban yang sangat berat. Sewaktu kecil, ayahnya yang memiliki kebiasaan buruk seperti mabuk-mabukan, kemudian kabur meninggalkannya dan keluarganya. Tidak lama, beberapa waktu kemudian, ibunya meninggal dunia ketika ia masih di usia taman kanak-kanak.
Setelah ditinggalkan orang tuanya, Tamaki hanya memiliki Aya sebagai teman perjalanan hidupnya. Mereka menghabiskan waktu bersama di sebuah panti asuhan, saat itu Tamaki berusia sekitar tiga tahun.
Akan tetapi, Tamaki kembali mengalami pengalaman pahit ditinggalkan anggota keluarganya. Pasalnya, Aya, adiknya, dibawa pergi oleh seseorang yang melihat potensi dari Aya untuk menjadi idola di masa depan.
Baca Juga: Salah Satu Anime Underrated Tahun Ini: Dr Stone Season 4
Dampak dari Kehidupan Masa Kecil terhadap Perkembangan Kepribadian Tamaki Yotsuba
Pengalaman masa kecil Tamaki menunjukkan rangkaian kehilangan yang terjadi secara berulang pada fase perkembangan awal kehidupan.
Ayahnya yang meninggalkan keluarga, ibunya yang meninggal dunia ketika ia masih usia taman kanak-kanak, serta perpisahan dengan satu-satunya figur kelekatan yang tersisa yakni adiknya, Aya, membentuk kondisi psikososial yang rentan.
Dalam perspektif psikologi perkembangan, pengalaman kehilangan berulang pada usia dini berpotensi memengaruhi kepribadian secara perlahan.
Menurut teori perkembangan psikososial Erik Erikson, masa kanak-kanak awal merupakan fase penting dalam pembentukan rasa percaya (trust) dan rasa aman dasar (basic trust).
Ketika figur pengasuh utama tidak konsisten atau hilang dalam membentuk kepercayaan kepada anak-anaknya, individu berisiko mengembangkan rasa tidak aman, ketidakstabilan emosi, dan kesulitan mengelola frustasi.
Kondisi ini dapat terlihat pada Tamaki dalam beberapa episode serial anime, ia yang sudah beranjak remaja usia 17 tahun masih menunjukkan perilaku impulsif, mudah tersulut emosi, dan sulit bersikap sabar.
Kehilangan figur orang tua dan adik pada usia yang dikatakan sangat muda juga dapat berdampak pada pola regulasi emosi. Tamaki tumbuh tanpa pendampingan emosional yang memadai untuk belajar mengenali, menamai, dan mengelola perasaan secara sehat.
Akibatnya, respons emosionalnya menjadi kurang terkontrol bahkan cenderung spontan ketika dihadapkan dengan suatu tekanan atau konflik.
Sikap kekanak-kanakan yang ia tunjukkan bukan semata-mata cerminan ketidakdewasaan, melainkan bentuk mekanisme bertahan hidup (coping mechanism) yang terbentuk sejak kecil untuk menghadapi rasa kehilangan dan ketidakberdayaan.
Selain itu, keterpisahan dengan Aya memiliki dampak motivasional yang kuat terhadap pembentukan identitas Tamaki di masa remaja. Pada usia 17 tahun, Tamaki berada pada fase pencarian identitas diri, sebagaimana dijelaskan dalam tahap identity vs role confusion oleh Erik Erikson.
Keputusan Tamaki untuk menjadi idola tidak hanya didorong oleh minat atau ambisi pribadi, tetapi juga oleh kebutuhan untuk menemukan kembali adiknya. Hal ini menunjukkan bahwa identitas dirinya berkembang dengan muatan emosional yang kuat, di mana tujuan hidupnya sangat terikat dengan relasi masa lalu yang terputus.
Baca Juga: Cara Pandang terhadap Difabel dalam Anime ‘A Sign of Affection’ dan di Indonesia
Lingkungan Sosial sebagai Perubahan Kepribadian Tamaki Yotsuba
Pengalaman masa kecil Tamaki yang penuh kehilangan tidak selamanya membentuk kepribadian negatif pada dirinya sendiri.
Salah satu episode serial anime menampilkan Tamaki yang mengalami perubahan kepribadiannya setelah mengikuti masa pelatihan (training) sampai pada akhirnya resmi menjadi anggota grup idola IDOLiSH7, yang awalnya dirinya impulsif, egois, sulit mengelola emosi, dan enggan mendengarkan perkataan orang lain, tumbuh menjadi individu yang tulus, memiliki empati tinggi, serta sangat menghargai hubungan sosial.
Perubahan kepribadian Tamaki ini sesuai dengan hakikat manusia menurut Erik Erikson bahwa manusia merupakan makhluk yang terus berkembang sepanjang rentang kehidupannya.
Sebagai anggota termuda di grup, ia mendapat banyak pelajaran berharga dari anggota yang lebih tua darinya, terutama mengenai pentingnya bersikap sopan santun kepada orang lain. Selain itu, Tamaki juga memperoleh keterikatan emosional yang kuat terhadap anggota lainnya.
Dari sini dapat dikatakan bahwa grup idola IDOLiSH7 seolah-olah merupakan keluarga pengganti Tamaki. Kekeluargaan dalam grup yang terbentuk relatif aman dan suportif ini menjadi faktor yang memungkinkan Tamaki belajar mengembangkan aspek kepribadian yang lebih adaptif seperti kerja sama, rasa tanggung jawab, dan kepedulian terhadap orang lain.
Bisa dibayangkan apabila ke depannya terdapat alur cerita serial bahwa Tamaki sudah berusia dewasa, ia akan berhasil melewati tahap perkembangan psikososial Erik Erikson pada tahap intimacy vs isolation.
Penutup
Perjalanan Tamaki Yotsuba mengajarkan kita bahwa masa lalu yang retak tidak menjadikan masa depannya hancur. Melalui keberaniannya untuk terbuka dalam grup idola IDOLiSH7, ia membuktikan bahwa luka masa kecil dapat disembuhkan melalui koneksi sosial yang sehat dan tulus.
Sosok Tamaki bukan sekadar karakter fiksi dalam industri idola, melainkan sebuah simbol harapan bagi siapa pun yang sedang berjuang melawan trauma. Dukungan keluarga yang tepat pada setiap individu memberikan kekuatan untuk bertumbuh melampaui rasa sakitnya dan menemukan kilau jati diri yang sesungguhnya.
Penulis: Vannissa Nur Meilandani
Mahasiswa Bimbingan dan Konseling Universitas Sebelas Maret Surakarta
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












