Rumah untuk Alie merupakan karya novel Lenn Liu yang diangkat menjadi sebuah film Indonesia dan disutradarai oleh Herwin Novianto.
Film ini menceritakan narasi perjuangan seorang gadis remaja bernama Alie Ishala Samantha yang merupakan anak bungsu dari pernikahan Abimanyu dan Gianla. Alie harus menghadapi nasib berat traumanya dan perlakuan kurang baik dari keluarganya, Alie justru merasa terperangkap dalam suatu ruang yang di dalamnya berisi rasa bersalah.
Permasalahan ini terjadi karena adanya kejadian yang menimpa keluarga Alie. Kejadian itu merupakan kecelakaan tragis yang disebabkan dari ketidaksengajaan Alie sendiri, sehingga membuat mereka kehilangan seorang ibu.
Tak henti rasa sakit itu kian datang terus menimpa Alie dengan serangan kekerasan fisik dan emosi yang amat besar. Tak hanya itu saja, Alie juga mendapati perundungan dari kakak kelas di sekolahnya. Trauma ini yang akhirnya membentuk Alie untuk terus berusaha kuat.
Film berdurasi 95 menit ini, dengan sangat berani mengekspos segala bentuk kekerasan yang dialami Alie, dengan kekerasan emosional dan verbal.
Meski begitu Alie tetap kuat ketika dia dicaci maki dan diabaikan keluarganya, ayahnya yang masih tidak terima kehilangan seorang istri pun, menyalurkan kemarahannya melalui penolakan kasar terhadap Alie, yang di mana dulu adalah anak yang Ayahnya manjakan.
Baca Juga: Jogja Film Academy Short Film Festival (JOFAFEST) 5: “Tumbuh” Bersama Sinema Muda Indonesia
Kakak laki-lakinya memandang Alie sebagai anak pembawa sial, tetapi tidak dengan Natta kakak satu-satunya yang masih peduli pada Alie.
Alie tidak pernah menaruh benci pada keluarganya sendiri, ia dikarakterkan menjadi anak yang sangat sabar dan kuat di situasi manapun. Yang Alie yakini adalah tempat yang bukan hanya bangunan, tetapi juga ruang aman baginya dipenuhi oleh kasih sayang yang teramat dalam.
Alie juga tidak tinggal diam, karena ia ingin tetap berusaha mengembalikan memori ketulusan dan kasih sayang pada kehidupan keluarganya dulu, meski yang kian ia hadapi kini terus dirundung oleh 3 kakak laki-lakinya.
Inti dari penderitaan yang Alie alami adalah kegagalan yang sangat besar pada keluarganya, terutama sang Ayah yang harus kehilangan istrinya. Yang dirasakan dari film tersebut bukan persoalan kekerasan yang dialaminya saja, tetapi melainkan bagaimana keluarga Alie menolak secara terus menerus dan bersikap kejam.
Bisa diingat bahwa, film ini mengingatkan kita untuk tidak bersikap kasar dan tidak terus menyalahi kejadian yang sudah jelas itu takdir yang Tuhan kasih pada kita.
Rumah untuk Alie dinominasikan sebagai seruan tentang rasa kemanusiaan. Dari perjuangan Alie mendapatkan penerimaan, serta rasa ihklas dapat mengajarkan kita tentang rasa untuk menahan dengan hati sabar yang luas luar biasa, tidak pernah terpikirkan di pikiran Alie untuk mematahkan harapannya, meskipun harapan yang ia jalani selalu dipatahkan berkali-kali.
Baca Juga: STOP! Dampak Negatif Menonton Film Biru (Film Dewasa & Film Porno)
Opini yang bisa dikutip oleh saya sendiri, film ini dikatakan “rumah” bukan tentang atap, dinding beserta isi-isinya. tetapi ini melainkan tentang bagaimana rasa aman, nyaman, dan dapat dijadikan ruang untuk bernafas tenang tanpa ketakutan.
Dan film ini dapat dijadikan edukasi publik untuk tetap kuat ketika mendapati kekerasan emosional di dalam keluarga.
Penulis: Keisha Al Misky Putri Raindra
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Kebangsaan Republik Indonesia
Dosen Pengampu: Drs. Didin Sabaruddin, M. Si.
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













