Santri Taruna Juara Semarakkan Gerakan Semangat Literasi dengan Mengadakan Diskusi Bedah Buku serta Learning Center di Perpustakaan Buku Akik Yogyakarta

Perpustakaan Buku Akik Yogyakarta
Santri Rumah Tahfidz Taruna Juara dalam Diskusi Bedah Buku dan Learning Center di Perpustakaan Buku Akik Yogyakarta (Foto: Dok. Penulis)

Pada hari Sabtu 31 Januari 2026, santri Rumah Tahfidz Taruna Juara mengadakan kegiatan diskusi bedah buku dan learning center di Perpustakaan Buku Akik Yogyakarta.

Kegiatan bedah buku ini merupakan agenda rutin bulanan yang diadakan setiap akhir bulan, namun kali ini kami ingin mengusung konsep yang berbeda dari sebelumnya.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Jika sebelumnya kegiatan bedah buku hanya dilaksanakan di aula Rumah Tahfidz Taruna Juara, maka pada kesempatan ini, kegiatan tersebut dilaksanakan di perpustakaan buku dengan tujuan meningkatkan semangat literasi di kalangan para santri.

Selain melakukan diskusi terkait buku yang di-review, para santri juga melakukan kegiatan membaca buku bersama-sama.

Dengan didampingi secangkir kopi, mereka juga ditugaskan untuk menuliskan review berdasarkan buku yang telah mereka baca.

Kami membuka kegiatan ini dengan melakukan diskusi bedah buku yang disampaikan oleh Al-Fatta Budi Atmaja (Mahasiswa UGM jurusan peternakan) dengan judul buku How to be creative karya Panji Pranowo.

Menurutnya, dalam buku tersebut dijelaskan bahwasannya salah satu kunci sukses adalah menjadi kreatif. Kreatif dapat dirangsang dari hal-hal kecil yang ada dalam keseharian kita.

Kreatif itu tidak selalu tentang “sesuatu” apa yang kita hasilkan, akan tetapi kreatif juga merujuk pada hal-hal sederhana terkait apa yang telah kita perbaiki.

Kekuatan pikiran selalu berdampingan dengan jalannya kreativitas. Teruslah berpikir, dan sadarilah bahwa kita masih hidup.

Setelah melakukan diskusi yang lumayan hangat selama 1 jam lebih, kami melanjutkan kegiatan untuk membaca buku bersama-sama.

Baca Juga: Resensi Buku Rintangan adalah Jalan

Setelah itu, kami bersama-sama menuliskan review singkat terkait buku yang telah dibaca. Adapun berikut adalah Kumpulan review buku yang telah dituliskan oleh para santri:

Pertama, Aldi Wahyu Purnomo (Mahasiswa Instiper jurusan Pertanian) me-review buku dengan judul Hidup Damai Tanpa Berpikir Berlebihan karya Tsuneko Nakamura dan Himori Okuda (2021).

Menurutnya, dalam buku tersebut dijelaskan bahwa terlalu banyak tuntutan untuk “melakukan ini” dan “melakukan itu” sering kali membuat kita kewalahan.

Beberapa tuntutan membutuhkan kesabaran sampai batas tertentu dan membuat kita dibebani pikiran yang berlebihan.

Dalam buku laris dari Jepang yang telah diterbitkan di beberapa negara ini, dokter Tsuneko Nakamura (seorang psikiater yang berkarir selama hampir 70 tahun) berpendapat bahwa solusinya ada pada bagaimana kita mengompromikan perasaan dengan kenyataan.

Kedua, Auli Robby Finaldy (Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga jurusan Ilmu Al-Qur’an Tafsir) me-review buku berjudul IMAGINE John Lennon karya Hendi Triono (2010).

Dalam buku tersebut dikisahkan bahwa John Lennon merupakan salah satu tokoh musisi dari grup band terkenal yakni The Beatles.

Ia tidak hanya berkiprah di bidang musik, gagasan ia juga banyak menyoroti aktivitas politik yang terjadi di dunia.

Salah satu gagasan John Lennon yang familiar dalam buku tersebut adalah gerakan John Lennon yang ingin menghubungkan mimpi dengan realitas, khususnya mengenai perdamaian dan penentangannya terhadap perang Vietnam.

Kutipan tersebut berbunyi, “Jika ada satu orang yang bermimpi, maka tetaplah mimpi. Tapi jika ada dua orang memiliki mimpi yang sama, itulah realitas. Yaitu mimpi tentang Love Peace No War.”

Konteks kutipan tersebut diucapkan oleh John Lennon untuk menentang kebijakan perang Amerika terhadap Vietnam.

Meskipun John Lennon banyak berkiprah di berbagai bidang, akhir hidupnya berakhir tragis karena ia ditembak mati pada 8 Desember 1980 oleh penggemarnya sendiri yakni Mark David Chapman karena dorongan psikologis setelah mendengar pernyataan John Lennon yang sangat kontroversial, yakni “Ajaran Kristen akan musnah, dan yang jelas The Beatles lebih populer ketimbang Yesus.”

Baca Juga: 10 Rekomendasi Buku untuk Mahasiswa dari Berbagai Bidang Ilmu

Ketiga, Fuad Miftahul Arifin (Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga jurusan Psikologi) me-review buku Naruto, Breaking the Seal yang ditulis oleh Masashi Kishimoto.

Buku tersebut menceritakan tentang kisah Naruto Uzumaki yang melancarkan rentetan serangan dahsyat menggunakan kekuatan sage mode yang luar biasa, hingga berhasil memojokkan Pain dalam pertarungan yang menentukan nasib desa Konoha.

Namun, situasi berbalik drastis ketika ia justru terjebak dalam jeratan kekuatan tak terbatas milik pemimpin Akatsuki tersebut, yang membuatnya tak berkutik di bawah tekanan yang begitu besar.

Di tengah keputusasaan itu, Naruto kini dihadapkan pada ujian batin yang berat yakni jawaban apa yang akan ia berikan kepada Pain, seorang musuh yang bersikeras memaksakan konsep keadilannya sendiri demi menghentikan lingkaran setan kebencian di dunia Shinobi?

Keempat, Muhammad Imam Syafi’i (Alumni Magister Ilmu Al-Qur’an Tafsir UIN Sunan Kalijaga). Ia me-review buku yang berjudul How to Ikigai yang ditulis oleh Tim Tamashiro.

Buku ini membahas konsep hidup khas Jepang tentang ikigai, yaitu alasan seseorang bangun setiap pagi dan menjalani hidup dengan makna.

Buku ini menjelaskan bahwa ikigai lahir dari pertemuan antara apa yang kita cintai, apa yang kita kuasai, apa yang dibutuhkan dunia, dan apa yang dapat memberi nilai (termasuk penghidupan), serta dikuatkan oleh kebiasaan hidup sederhana, konsistensi, dan kesadaran penuh (mindfulness).

Melalui kisah masyarakat Okinawa yang berumur panjang dan bahagia, buku ini menekankan bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu berasal dari pencapaian besar, melainkan dari proses, hubungan sosial yang hangat, kerja yang bermakna, dan kemampuan menikmati hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Bandung Lautan Literasi: Cerita di Balik Riuhnya Bandung Book Party

Kelima, Mulya Adi Putra (Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga jurusan Informatika). Ia me-review buku yang berjudul Manusia Yang Asyik Dengan Dirinya karya Friedrich Nietzsche.

Buku ini menarik karena menyajikan pandangan subversif, sinis, namun reflektif mengenai seni, asmara, dan pencarian makna diri sendiri.

Gaya tulisannya dirangkai dengan aforisme pendek yang menggigit dan menantang pemikiran konvensional, membuatnya menyegarkan dan mudah dipahami meski bertema filosofis berat.

Buku tersebut juga menyajikan refleksi terhadap diri sendiri yang mengajak pembaca untuk tidak sekadar mengikuti rutinitas, tetapi bersikap kritis terhadap diri sendiri dan lingkungan.

Salah satu kutipan yang menarik dalam buku tersebut adalah “Berbahagialah dalam semua keadaan”, kutipan tersebut berakar pada konsep filosofis Amor Fati (mencintai takdir) yang bukan berarti pasrah secara pasif, melainkan sebuah bentuk afirmasi kehidupan yang radikal di mana seseorang merangkul, menerima, dan mencintai semua kejadian baik suka maupun duka. 

Keenam, M Fakthurrahman Farid (Mahasiswa UGM jurusan Alat Berat) me-review buku berjudul Pyschology of Money karya Morgan Housel.

Salah satu kutipan menarik dalam buku tersebut adalah “Tiap pekerjaan itu kelihatan gampang bila bukan kamu yang mengerjakannya.”

Kutipan ini mengingatkan kita untuk tidak mudah menghakimi orang lain misalnya, “gitu aja kok gak bisa”. Apa yang terlihat sederhana dari luar, sering kali membutuhkan disiplin dan konsistensi tinggi saat dilakukan sendiri.

Kutipan tersebut juga mengingatkan kita untuk menghargai kerumitan pekerjaan orang lain dan memahami bahwa kesuksesan baik dalam karir maupun finansial memerlukan perjuangan yang tidak selalu terlihat oleh mata orang lain.

Baca Juga: Resensi Buku: Nadira Karya Leila S. Chudori

Ketujuh, Abdul Malik (Mahasiswa UGM jurusan Teknik Mesin) menuliskan review buku berjudul MAHADATA (Bagaimana Revolusi Informasi Mengubah Hidup Kita) karya Brian Clegg.

Buku tersebut mengajak kita untuk melihat satu kisah sukses zaman mahadata: Netflix.

Perusahaan yang dulunya persewaan DVD itu mengalami transformasi akibat mahadata dan perubahannya bukan hanya pindah dari DVD ke internet.

Menyediakan layanan video sesuai permintaan pasti melibatkan pengelolaan banyak data. Namun, persewaan DVD juga begitu.

DVD sekadar penyimpanan banyak data dalam cakram optik. Dalam keduanya, kita sama-sama menghadapi pengolahan data berskala besar.

Namun, mahadata memiliki cakupan yang lebih luas yakni soal penggunaan seluruh kisaran data yang tersedia untuk mentransformasikan suatu layanan atau organisasi.

Kedelapan, Mohammad Fadlan Mutaqin (Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga jurusan Ilmu Al-Qur’an Tafsir) mengulas buku  Loneliness Is My Best Friend yang ditulis oleh Alvi syahrin.

Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa kesepian merupakan hal yang normal, rasa itu muncul saat tidak ada yang mampu memahami rasa yang kau miliki.

Dalam buku tersebut setidaknya ada 45 bab yang membahas mulai dari apa itu kesepian hingga di akhir membahas refleksi untuk bagaimana berdamai dengan kesepian.

Dapat kita lihat dari sudut pandang lain bahwa kesepian tak selalu dipandang sebagai hal negatif, mungkin rasa ini datang dari Allah Swt agar kita kembali mengingat-Nya, dan Dia tak pernah sekalipun meninggalkan hambanya.

Baca Juga: Menumbuhkan Jiwa Entrepreneur di Lingkungan Pesantren: Santri Mandiri untuk Kemandirian Ekonomi Umat

Kesembilan, M Rehan As Syifa Hibatullah (Mahasiswa UII jurusan Pendidikan Agama Islam) me-review buku berjudul Filosofi Teras yang ditulis oleh Henry Manampiring.

Selayang pandang dari buku Filosofi Teras, yakni mengajak kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk hidup, lalu bertanya dengan jujur.

Mengapa kita sering lelah, marah, dan kecewa? Buku tersebut memperkenalkan Stoicisme, sebuah cara pandang yang menenangkan, dengan satu kunci sederhana, tidak semua hal berada dalam kendali kita.

Banyak luka batin muncul karena kita memaksakan diri mengatur hal-hal di luar kuasa, misalnya pendapat orang lain, masa lalu, atau hasil akhir yang belum tentu sesuai harapan.

Padahal, yang benar-benar bisa kita jaga hanyalah pikiran, sikap, dan cara kita merespons keadaan.

At least, kita harus senantiasa belajar menerima kenyataan tanpa kehilangan ikhtiar, mengelola emosi tanpa menekannya, serta mencintai takdir sebagai bagian dari proses bertumbuh.

Filosofi Teras bukan tentang hidup tanpa masalah, melainkan tentang menjadi manusia yang lebih kokoh atau lebih kuat dalam menghadapi hiruk pikuk problematika kehidupan, dengan hati yang lebih lapang dan pikiran yang lebih jernih.

Kesepuluh, Rhadika Syahbana Hadi FJ (Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga jurusan Sosiologi Agama) me-review buku berjudul Ayat-Ayat Setan karya Salman Rushdie.

Buku Ayat-Ayat Setan menceritakan tentang Gibril dan Saladin yang selamat dari kecelakaan pesawat. Setelah kejadian itu, hidup mereka berubah total. 

Gibril sering mengalami mimpi dan penglihatan tentang malaikat, wahyu, dan tokoh-tokoh agama, sampai batas antara mimpi dan kenyataan jadi kabur.

Sementara itu, Saladin justru mengalami perubahan yang bikin dia makin dijauhi orang, seolah-olah dia berubah jadi simbol “setan”.

Di tengah ceritanya, ada juga kisah-kisah simbolik tentang nabi, kota fiktif, dan masyarakat yang lagi ribut soal kepercayaan.

Lewat cerita yang loncat-loncat dan sedikit absurd ini, buku tersebut juga membahas soal iman, keraguan, kekuasaan, dan pencarian jati diri manusia. Isinya penuh makna, namun tidak mudah dipahami dalam sekali baca saja.

Baca Juga: Review Film Spaceman (2024): Sci-Fi Sunyi yang Menggugah Emosi Manusia

Terakhir, Leo Pandean (Mahasiswa UII dalwa jurusan Management Pendidikan Islam) me-review buku berjudul Jatuh Cinta Kepadanya karya Fahruddin Faiz.

Menurutnya manusia merupakan makhluk spiritual. Ada sebuah kalimat yang sangat populer dalam buku tersebut yakni “We are not human beings having a spiritual experience, we are spiritual beings having a human experience.

Kalimat ini menyiratkan bahwa hakikat manusia bukanlah hanya sekadar makhluk manusiawi yang mengalami aspek spiritual, melainkan sejatinya kita adalah makhluk spiritual yang sedang menjalani pengalaman sebagai manusia.

Dari berbagai review yang telah dituliskan oleh para santri di atas, setidaknya menunjukkan kepedulian santri Taruna Juara untuk membangkitkan semangat literasi di Indonesia di Tengah gempuran konten berbasis digital.

Aktivitas tersebut juga diharapkan bisa mendorong generasi kaum muda kedepannya untuk berpartisipasi aktif dalam ruang diskusi, meningkatkan minat baca, serta kemampuan menganalisis sebuah karya agar dapat melahirkan generasi anak bangsa yang cerdas, berwawasan luas, kritis, dan kreatif.    


Penulis: Auli Robby Finaldy, dkk.
Mahasiswa Doktor Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses