Menyelami Tasawwuf melalui Dimensi Sosial dalam Buku Futuwwah Karya Rizqa Ahmadi

Dimensi Sosial Tasawuf
Menyelami Tasawwuf melalui Dimensi Sosial dalam Buku Futuwwah Karya Rizqa Ahmadi. Sumber: MMI.

Judul Buku: Futuwwah: Dimensi Sosial Tasawuf

Penulis: Rizqa Ahmadi

Penerbit: CV. Bildung Nusantara

Tahun Terbit: 2026

Jumlah Halaman: 241

Banyak yang mengira bahwa tasawuf itu soal bagaimana seseorang menyendiri dan menjauhi hiruk-pikuk kehidupan dunia. Melalui Buku yang berjudul Futuwwah: Dimensi Sosial Tasawuf, karya Rizqa Ahmadi ini hadir sebagai solusi dalam upaya menjembatani kesenjangan antara kesalehan individual dan kesalehan sosial. Dengan konsep futuwwah yang digaungkan, penulis menunjukkan bahwa tasawuf tidak hanya berbicara tentang kedekatan hamba dengan tuhannya, tetapi bagaimana nilai-nilai spiritual tersebut kemudian diwujudkan dalam rasa kepedulian, tanggung jawab, dan pengabdian kepada sesama manusia.

Pada bagian awal, buku ini menjelaskan tasawuf dari segi bahasa serta berbagai sudut pandang oleh para pakar telah dicantumkan mengenai asal usul kata tersebut. Satu garis besar yang penulis tarik dalam bukunya adalah bahwa istilah tersebut tidak memiliki akar kata linguistik yang valid, melainkan murni merupakan sebuah laqab atau julukan yang melekat pada orang-orang yang menyandang karakter dan perilaku seorang sufi. Penulis menilai bahwa mengartikan tasawuf sebagai laqab merupakan pendekatan yang paling objektif dan tepat guna menghindari polemik kebahasaan yang masih diperselisihkan oleh para ahli. Pandangan ini sejalan dengan argumen Muhammad Fauqi Hajjaj dalam bukunya Tasawwuf al-Islami wal-Akhlaq.

Setelah menjelaskan panjang lebar terkait pengertian tasawuf, buku ini kemudian mengembangkan konsep Tasawuf Sosial dan Sufisme Dialogis sebagai bentuk pengembangan praktik tasawuf yang lebih kontekstual. Tasawuf versi ini dipahami sebagai bentuk spiritualitas yang aktif, fungsional, dan transformatif, sehingga kesalehan tidak lagi dimaknai sebagai sikap menjauh dari kehidupan sosial, melainkan diwujudkan lewat kontribusi nyata dalam membangun masyarakat dan mengatasi berbagai persoalan kemanusiaan.

Gagasan ini kemudian diperkaya melalui konsep Sufisme Dialogis yang dikembangkan oleh Fethullah Gülen dan dikaji oleh Heon Choul Kim. Sufisme dialogis adalah sebuah gerakan yang menyatukan ego individu ke dalam satu kesadaran kolektif (shakhsi menavi). Kesadaran kolektif ini tidak berhenti pada tatanan teori saja, melainkan langsung diwujudkan dalam bentuk pelayanan nyata bagi kemanusiaan (hizmet) guna sebagai solusi atas berbagai permasalahan. Melalui orientasi praktis tersebut, gerakan ini melampaui perdebatan teologis yang rumit dan berhasil mentransformasikan tasawuf menjadi aktivisme sosial yang saleh (pietistic activism) serta terorganisir secara modern dan profesional (organized sufism).

Baca Juga: Spiritualitas Sufistik sebagai Fondasi Makna Hidup pada Generasi Z: Kajian Literatur Psikologi Tasawuf

Salah satu bagian yang paling menarik dalam buku ini ialah pembahasan tentang lima tanggung jawab sosial seorang sufi. Mengutip pada pemikiran Amin Syukur, penulis menjelaskan bahwa kualitas spiritual seseorang tidak hanya diukur dari kedekatannya dengan Tuhan, tetapi bagaimana nilai-nilai spiritual tersebut tercermin dalam sikap dan tindakannya dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu, seorang sufi idealnya memiliki rasa tanggung jawab dalam aspek spiritual, etika, politik, pluralisme, dan intelektual. Melalui penjelasan tersebut, penulis ingin menegaskan bahwa kesalehan spiritual harus berjalan beriringan dengan kepedulian sosial.

Lebih jauh lagi, buku ini menjelaskan bahwa tasawuf bertransformasi menjadi gerakan sosial yang berpacu pada tiga langkah utama. Pertema, memahami makna zuhud tidak sebagai sikap menjauhi dunia, melainkan kemampuan untuk mengendalikan harta dan kehidupan dunia agar dapat memberi manfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Kedua, yaitu melalui sistem etika sosial futuwwah, ītsār, dan shuhbah, yang menuntut seseorang menjadi ksatria tangguh, mengutamakan kepentingan orang lain, dan membangun persaudaraan tulus demi melahirkan pelayanan nyata di tengah masyarakat. Ketiga, penulis mengingatkan akan pentingnya melepas sikap hubbud dunyā (cinta dunia secara berlebihan). Dengan begitu, dunia dipandang sebagai sarana untuk berbuat baik dan meraih rida Allah, bukan sebagai tujuan hidup semata.

Pada bagian akhir, buku ini menjelaskan bahwa spiritualitas Islam kontemporer berdiri di atas tiga hal penting yang saling berkaitan. Pertama, zikir berfungsi sebagai pelindung jiwa agar manusia tidak merasa cemas atau hampa dalam menghadapi era yang serba digital dan materialistis. Kedua, ajaran tasawwuf dibawa ke rana sosial yang melalui kepedulian nyata terhadap kaum disabilitas dan pelestarian lingkungan. Ketiga, gagasan-gagasan di atas kemudian dijelaskan melalui kearifan lokal Nusantara tentang futuwwah. Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai spiritual yang universal dapat diterapkan secara nyata melalui budaya dan tradisi lokal.

Baca Juga: Peran Muhasabah dalam Pengembangan Kesadaran Diri: Perspektif Psikologi Tasawuf

Secara keseluruhan, buku ini sangat rekomended untuk dibaca, karena buku ini menawarkan sudut pandang tasawwuf yang universal dan inklusif. Selain itu, pembahasannya tidak hanya menekankan pada aspek spiritualnya, tetapi juga solutif terhadap berbagai persoalan sosial masyarakat modern. Buku akan sangat bermanfaat bagi mahasiswa, akademisi, santri, maupun masyarakat umum yang ingin memperdalam kajian tasawuf.


Penulis: Muhammad Taqwin Chalik
Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung (UIN SATU Tulungagung)


Dosen Pengampu: Dr. Rizqa Ahmadi, Lc., MA.


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses