Kedudukan dan Hakikat Ilmu dalam Islam: Analisis Epistemologi dan Aksiologi Berdasarkan Paradigma Al-Qur’an

Ilmu dalam Islam
Kedudukan dan Hakikat Ilmu dalam Islam: Analisis Epistemologi dan Aksiologi Berdasarkan Paradigma Al-Qur'an. Sumber: MMI.

Pendahuluan

Ilmu merupakan salah satu konsep fundamental dalam ajaran Islam. Sejak wahyu pertama diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. melalui perintah iqra’, Islam telah menempatkan aktivitas membaca, memahami, dan mengembangkan pengetahuan sebagai bagian integral dari kehidupan manusia. Al-Qur’an tidak hanya berfungsi sebagai kitab petunjuk dalam aspek ritual keagamaan, tetapi juga menjadi sumber inspirasi bagi pengembangan ilmu pengetahuan, pembentukan peradaban, serta penguatan nilai moral dan spiritual manusia.

Dalam perkembangan sejarah modern, paradigma ilmu pengetahuan Barat cenderung dibangun di atas landasan empirisme dan rasionalisme yang memisahkan antara fakta ilmiah dengan nilai-nilai transendental. Paradigma tersebut melahirkan sekularisasi ilmu, yaitu pemisahan antara ilmu pengetahuan dan wahyu sebagai sumber kebenaran. Akibatnya, ilmu sering kali dipahami secara bebas nilai (value free), sehingga orientasi penggunaannya lebih diarahkan pada kepentingan pragmatis daripada kemaslahatan manusia secara menyeluruh.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Berbeda dengan paradigma tersebut, Islam memandang ilmu sebagai anugerah Allah Swt. yang harus digunakan untuk mengenal Sang Pencipta, membangun peradaban, serta mewujudkan kemaslahatan umat. Al-Qur’an menggambarkan bahwa manusia memiliki potensi untuk memperoleh dan mengembangkan ilmu dengan izin Allah melalui berbagai instrumen, seperti pancaindra, akal, dan hati.[1] Oleh karena itu, ilmu dalam perspektif Islam tidak hanya mencakup aspek empiris dan rasional, tetapi juga mengandung dimensi spiritual, moral, dan etis.

Al-Qur’an secara berulang menegaskan tingginya kedudukan orang-orang yang berilmu. Bahkan, proses penciptaan manusia pertama, Nabi Adam a.s., ditandai dengan pengajaran nama-nama oleh Allah sebagai simbol keunggulan ilmu dibandingkan makhluk lainnya.[2] Kedudukan tersebut menunjukkan bahwa ilmu menjadi syarat utama dalam menjalankan fungsi manusia sebagai khalifah di muka bumi.

Di tengah arus globalisasi dan perkembangan sains modern yang semakin pesat, diperlukan upaya untuk mengembalikan pemahaman tentang ilmu kepada paradigma Al-Qur’an. Rekonstruksi epistemologi Qur’ani menjadi penting agar pengembangan ilmu tidak kehilangan orientasi etik dan spiritualnya. Dengan demikian, integrasi antara ilmu, iman, dan amal dapat diwujudkan sebagai fondasi dalam membangun individu yang saleh sekaligus masyarakat yang berperadaban.

Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini penting dilakukan untuk mengkaji secara mendalam hakikat ilmu, sumber-sumber pengetahuan, kedudukan orang berilmu, serta dimensi aksiologis ilmu dalam perspektif Al-Qur’an melalui pendekatan epistemologis dan filosofis.

  1. Menjelaskan konsep epistemologi ilmu dalam pandangan Al-Qur’an, meliputi sumber, instrumen, dan metode perolehan ilmu.
  2. Menganalisis kedudukan ilmu serta eksistensi orang-orang berilmu dalam perspektif Al-Qur’an.
  3. Menganalisis integrasi antara ilmu, iman, dan etika (adab) dalam membentuk kesalehan individu maupun sosial.

Baca Juga: Adab Sebelum Ilmu: Pondasi Karakter dalam Pendidikan Islam

Pembahasan

A. Ontologi dan Epistemologi Ilmu dalam Al-Qur’an

1. Hakikat Ilmu dalam Perspektif Al-Qur’an

Al-Qur’an memandang ilmu sebagai sarana fundamental untuk memahami realitas kehidupan sekaligus mengenal Allah Swt. Berbeda dengan paradigma sains sekuler yang membatasi objek ilmu hanya pada fenomena empiris, Al-Qur’an menghadirkan konsep ilmu yang bersifat holistik. Realitas yang menjadi objek pengetahuan tidak hanya meliputi alam fisik yang dapat diindra, tetapi juga mencakup dimensi metafisik dan gaib yang hanya dapat diketahui melalui wahyu.

Pandangan ini menunjukkan bahwa ontologi ilmu dalam Islam bersifat integratif. Alam semesta dipandang sebagai ayat-ayat Allah (ayat kauniyah) yang harus diteliti, sementara wahyu menjadi petunjuk utama dalam memahami tujuan dan makna keberadaan manusia. Oleh karena itu, tidak terdapat dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum, karena seluruh ilmu pada hakikatnya berasal dari Allah Swt.

Nadi Afriani dan Alwizar menjelaskan bahwa konsep ilmu dalam Al-Qur’an memiliki cakupan yang luas, meliputi ilmu wahyu dan ilmu rasional yang harus disinergikan. Ilmu tidak hanya berfungsi memenuhi kebutuhan intelektual manusia, tetapi juga menjadi sarana mengenal Allah, memperbaiki akhlak, dan membangun peradaban.[3]

2. Sumber-Sumber Ilmu dalam Al-Qur’an

Berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an, sumber ilmu dapat diklasifikasikan menjadi empat.

a. Wahyu

Wahyu sebagai sumber pengetahuan tertinggi yang memberikan informasi mengenai aspek metafisik, nilai, serta petunjuk kehidupan dan juga Wahyu merupakan sumber ilmu yang berasal langsung dari Allah Swt. dan menjadi petunjuk bagi manusia. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah Swt.:

Al-‘Alaq [96]: 1–5

ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ ١

خَلَقَ ٱلْإِنسَـٰنَ مِنْ عَلَقٍ ٢

ٱقْرَأْ وَرَبُّكَ ٱلْأَكْرَمُ ٣

ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلْقَلَمِ ٤

عَلَّمَ ٱلْإِنسَـٰنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ ٥

Artinya:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” [4]

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah Swt. merupakan sumber segala ilmu pengetahuan. Melalui wahyu, manusia memperoleh pengetahuan yang tidak dapat dijangkau sepenuhnya oleh akal dan pengalaman empiris. Namun, wahyu tidak hanya memberikan petunjuk mengenai kebenaran, tetapi juga mendorong manusia untuk terus mencari dan mengembangkan ilmu pengetahuan melalui potensi akal yang telah dianugerahkan Allah. Oleh karena itu, ayat tersebut menekankan bahwa Allah adalah sumber segala ilmu sekaligus memerintahkan manusia untuk membaca, belajar, mengamati, dan mengembangkan pengetahuan. Dari prinsip inilah lahir perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk melalui pengamatan terhadap alam ciptaan Allah.

Selain itu, Al-Qur’an juga menegaskan fungsi wahyu sebagai sumber petunjuk dan penjelas bagi kehidupan manusia:

An-Nahl [16]: 89

وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِى كُلِّ أُمَّةٍۢ شَهِيدًا عَلَيْهِم مِّنْ أَنفُسِهِمْ ۖ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَىٰ هَـٰٓؤُلَآءِ ۚ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ ٱلْكِتَـٰبَ تِبْيَـٰنًۭا لِّكُلِّ شَىْءٍۢ وَهُدًۭى وَرَحْمَةًۭ وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ ٨٩

“Dan Kami turunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi orang-orang Muslim.” [5]

Ayat ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an merupakan sumber pengetahuan normatif yang memberikan prinsip-prinsip dasar bagi kehidupan manusia. Sementara itu, akal dan pengalaman empiris berperan dalam menjelaskan serta mengembangkan berbagai persoalan yang terus berkembang sesuai dengan tuntutan zaman. Oleh karena itu, dalam epistemologi Islam, Al-Qur’an berfungsi sebagai pedoman utama yang mengarahkan penggunaan akal dan ilmu pengetahuan agar tetap berada dalam koridor nilai-nilai ilahiah dan kemaslahatan umat.

Baca Juga: Ilmu Pendidikan Islam: Konsep, Landasan Filosofis, dan Manfaat Dunia-Akhirat

b. Alam Semesta

Alam semesta sebagai objek observasi ilmiah. Berbagai fenomena alam diperintahkan untuk dipelajari sebagai tanda kebesaran Allah. Al-Qur’an berulang kali memerintahkan manusia untuk mengamati, meneliti, dan merenungkan fenomena alam sebagai tanda-tanda (ayat) kebesaran Allah Swt. Alam semesta dipandang sebagai sumber pengetahuan yang dapat mengantarkan manusia kepada pemahaman tentang kekuasaan dan kebijaksanaan-Nya.

Ali ‘Imran [3]: 190–191

إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَـٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَـَٔايَـٰتٍۢ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَـٰبِ ١٩٠

ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَـٰمًۭا وَقُعُودًۭا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَـٰذَا بَـٰطِلًۭا سُبْحَـٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ ١٩١

Artinya:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau, maka lindungilah kami dari azab neraka.'” [6]

Ayat ini menunjukkan bahwa aktivitas berpikir dan mengkaji alam merupakan bagian dari proses memperoleh ilmu pengetahuan sekaligus sarana memperkuat keimanan kepada Allah Swt.

Al-Ghasyiyah [88]: 17–20

أَفَلَا يَنظُرُونَ إِلَى ٱلْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ ١٧

وَإِلَى ٱلسَّمَآءِ كَيْفَ رُفِعَتْ ١٨

وَإِلَى ٱلْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ ١٩

وَإِلَى ٱلْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ ٢٠

Artinya:

“Maka tidakkah mereka memperhatikan unta bagaimana diciptakan? Dan langit, bagaimana ditinggikan? Dan gunung-gunung, bagaimana ditegakkan? Dan bumi, bagaimana dihamparkan?” [7]

Ayat ini mengandung perintah untuk melakukan pengamatan terhadap berbagai fenomena alam. Oleh karena itu, ayat-ayat kauniyah menjadi landasan penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan melalui observasi, penelitian, dan refleksi ilmiah. Refleksi terhadap penciptaan unta, misalnya, mendorong manusia untuk memahami kemampuan adaptasi makhluk hidup terhadap lingkungan yang ekstrem, seperti ketahanan terhadap panas, efisiensi penggunaan air, dan struktur tubuh yang sesuai dengan kondisi padang pasir. Pengamatan tersebut kemudian melahirkan berbagai penelitian dalam bidang biologi, kedokteran, dan biomimikri, yaitu pengembangan teknologi yang meniru mekanisme alam. Demikian pula, pengamatan terhadap langit melahirkan ilmu astronomi untuk memahami peredaran benda-benda langit, sedangkan kajian terhadap gunung dan bumi berkembang menjadi ilmu geologi, geografi, dan ilmu kebumian yang bermanfaat dalam mitigasi bencana, pengelolaan sumber daya alam, serta perencanaan pembangunan. Dengan demikian, ayat ini menunjukkan bahwa Islam mendorong manusia menjadikan alam sebagai objek kajian ilmiah sekaligus sarana untuk mengenal kebesaran Allah Swt.

c. Sejarah Umat Terdahulu (qashash)

Sejarah umat terdahulu yang menjadi sumber pelajaran dan refleksi sosial. Al-Qur’an tidak hanya menyampaikan ajaran normatif, tetapi juga menghadirkan kisah-kisah umat terdahulu sebagai sarana pendidikan dan refleksi. Sejarah dalam perspektif Al-Qur’an berfungsi sebagai sumber pengetahuan yang memberikan pelajaran tentang keberhasilan, kegagalan, serta konsekuensi dari ketaatan maupun penyimpangan manusia terhadap petunjuk Allah Swt.

Yusuf [12]: 111

لَقَدْ كَانَ فِى قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌۭ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَـٰبِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًۭا يُفْتَرَىٰ وَلَـٰكِن تَصْدِيقَ ٱلَّذِى بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَىْءٍۢ وَهُدًۭى وَرَحْمَةًۭ لِّقَوْمٍۢ يُؤْمِنُونَ ١١١

Artinya:

“Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal. Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” [8]

Ayat ini menegaskan bahwa kisah-kisah dalam Al-Qur’an memiliki nilai edukatif dan menjadi sumber pembelajaran bagi manusia yang mau berpikir dan mengambil hikmah.

Ar-Rum [30]: 9)

أَوَلَمْ يَسِيرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ فَيَنظُرُوا۟ كَيْفَ كَانَ عَـٰقِبَةُ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۚ كَانُوٓا۟ أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةًۭ وَأَثَارُوا۟ ٱلْأَرْضَ وَعَمَرُوهَآ أَكْثَرَ مِمَّا عَمَرُوهَا وَجَآءَتْهُمْ رُسُلُهُم بِٱلْبَيِّنَـٰتِ ۖ فَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَـٰكِن كَانُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ ٩

Artinya:

“Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di bumi lalu memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka? Orang-orang itu lebih kuat daripada mereka, telah mengolah bumi dan memakmurkannya lebih banyak daripada yang mereka makmurkan. Rasul-rasul telah datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah tidak menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.” [9]

Ayat ini menunjukkan pentingnya mempelajari sejarah peradaban dan kehancuran umat terdahulu sebagai bahan refleksi dan pembelajaran sosial.

Al-Hasyr [59]: 2

هُوَ ٱلَّذِىٓ أَخْرَجَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنْ أَهْلِ ٱلْكِتَـٰبِ مِن دِيَـٰرِهِمْ لِأَوَّلِ ٱلْحَشْرِ ۚ مَا ظَنَنتُمْ أَن يَخْرُجُوا۟ ۖ وَظَنُّوٓا۟ أَنَّهُم مَّانِعَتُهُمْ حُصُونُهُم مِّنَ ٱللَّهِ فَأَتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبُوا۟ ۖ وَقَذَفَ فِى قُلُوبِهِمُ ٱلرُّعْبَ ۚ يُخْرِبُونَ بُيُوتَهُم بِأَيْدِيهِمْ وَأَيْدِى ٱلْمُؤْمِنِينَ فَٱعْتَبِرُوا۟ يَـٰٓأُو۟لِى ٱلْأَبْصَـٰرِ ٢

Artinya:

“Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara Ahli Kitab dari kampung halamannya pada saat pengusiran yang pertama. Kamu tidak menyangka bahwa mereka akan keluar, dan mereka pun yakin bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksa) Allah. Maka Allah mendatangi mereka dari arah yang tidak mereka sangka-sangka, dan Dia menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka. Mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan.” [10]

Ayat ini menegaskan bahwa peristiwa sejarah harus dijadikan ibrah (pelajaran) agar manusia mampu mengambil hikmah dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Selain itu, kisah-kisah dalam Al-Qur’an menempati porsi yang sangat besar. Para ulama Ulumul Qur’an menjelaskan bahwa sekitar sepertiga kandungan Al-Qur’an berisi kisah para nabi, umat terdahulu, tokoh-tokoh beriman, serta berbagai peristiwa sejarah yang mengandung pelajaran bagi kehidupan manusia.[11] Banyaknya kisah yang tersebar dan terkadang diulang dalam beberapa surah menunjukkan bahwa sejarah dalam Al-Qur’an bukan sekadar informasi masa lampau, melainkan sarana pendidikan (tarbiyah), penguatan keimanan, dan pembentukan karakter manusia.[12]

Kisah-kisah tersebut mengandung nilai-nilai moral, spiritual, dan sosial yang relevan bagi setiap generasi. Melalui kisah Nabi Yusuf a.s., misalnya, manusia diajarkan tentang kesabaran, kejujuran, dan kepemimpinan yang bijaksana. Kisah kaum ‘Ad, Tsamud, dan Fir’aun memberikan pelajaran bahwa kesombongan, kezaliman, serta penolakan terhadap kebenaran akan berujung pada kehancuran. Sebaliknya, kisah para nabi dan orang-orang saleh menunjukkan bahwa keimanan, keteguhan, dan ketaatan kepada Allah Swt. akan membawa keselamatan dan keberkahan. Oleh karena itu, sejarah dalam Al-Qur’an berfungsi sebagai media refleksi dan ibrah agar manusia mampu mengambil pelajaran dari pengalaman umat terdahulu, menghindari kesalahan yang sama, serta membangun peradaban masa kini dan masa depan berdasarkan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan.[13]

Baca Juga: Mengupas Tuntas Implementasi Ilmu Kalam Modern dalam Membangun Pendidikan Islam Moderat di Era Globalisasi

d. Diri Manusia (nafs)

Nafsa atau diri manusia yang mengandung potensi akal, hati, dan fitrah untuk memperoleh pengetahuan. Al-Qur’an menjelaskan bahwa manusia dibekali berbagai potensi untuk memperoleh pengetahuan, seperti pendengaran, penglihatan, akal, hati, dan fitrah. Potensi-potensi tersebut merupakan instrumen yang memungkinkan manusia memahami realitas, membedakan antara yang benar dan salah, serta mengenal Tuhannya.

An-Nahl [16]: 78

وَٱللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَـٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْـًۭٔا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَـٰرَ وَٱلْأَفْـِٔدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ ٧٨

Artinya:

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberikan kepadamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur.” [14]

Ayat ini menunjukkan bahwa manusia pada dasarnya lahir tanpa pengetahuan, kemudian Allah Swt. membekalinya dengan perangkat-perangkat epistemologis berupa pendengaran, penglihatan, dan hati untuk memperoleh ilmu pengetahuan.

Asy-Syams [91]: 7–8

وَنَفْسٍۢ وَمَا سَوَّىٰهَا ٧

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَىٰهَا ٨

Artinya:

“Demi jiwa serta penyempurnaannya, maka Dia mengilhamkan kepadanya jalan kejahatan dan ketakwaannya.” [15]

Ayat ini menjelaskan bahwa manusia memiliki potensi batin yang memungkinkan dirinya mengenali nilai moral, membedakan antara kebaikan dan keburukan, serta menentukan pilihan hidup berdasarkan petunjuk yang diberikan Allah Swt.

Ar-Rum [30]: 30

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًۭا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَـٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ ٣٠

Artinya:

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); sesuai fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” [16]

Ayat ini menegaskan bahwa setiap manusia memiliki fitrah, yaitu kecenderungan bawaan untuk mengenal dan menerima kebenaran. Fitrah tersebut menjadi salah satu dasar bagi manusia dalam memperoleh pengetahuan dan memahami nilai-nilai ketuhanan.

Dengan demikian, Al-Qur’an memandang diri manusia sebagai salah satu sumber ilmu yang penting. Melalui sinergi antara akal, hati, pancaindra, dan fitrah, manusia dapat memperoleh pengetahuan yang tidak hanya bersifat rasional, tetapi juga spiritual dan moral.

Retna Dwi Estuningtyas menyatakan bahwa Al-Qur’an memerintahkan manusia mempelajari alam, sejarah, bahkan kehancuran umat terdahulu agar memperoleh pelajaran dan hikmah melalui pendekatan keilmuan.[17]

Baca Juga: 10 Adab Murid Kepada Guru Menurut Islam demi Meraih Keberkahan Ilmu

3. Instrumen Perolehan Ilmu

Epistemologi Qur’ani menunjukkan bahwa manusia memperoleh ilmu melalui integrasi beberapa instrumen, yaitu pancaindra (al-nazhr), akal (al-fikr), dan hati (al-qalb).

Pancaindra berfungsi menangkap fenomena empiris. Akal digunakan untuk menganalisis, menghubungkan sebab-akibat, dan menarik kesimpulan. Adapun hati berfungsi sebagai pusat kesadaran spiritual yang mengarahkan ilmu agar tidak terlepas dari nilai ketuhanan.

Dengan demikian, Al-Qur’an menawarkan model epistemologi yang lebih komprehensif dibandingkan epistemologi Barat modern yang cenderung bertumpu pada empirisme dan rasionalisme semata.

B. Tipologi dan Klasifikasi Ilmu

Dalam tradisi intelektual Islam, ilmu dapat diklasifikasikan berdasarkan cara perolehannya menjadi dua bentuk utama, yaitu ilmu kasbi dan ilmu ladunni.

Ilmu kasbi merupakan ilmu yang diperoleh melalui proses belajar, penelitian, observasi, eksperimen, dan penggunaan akal. Jenis ilmu ini berkembang melalui usaha manusia dan menjadi dasar pengembangan sains serta teknologi.

Sebaliknya, ilmu ladunni merupakan ilmu yang diberikan secara langsung oleh Allah kepada hamba tertentu tanpa melalui proses pembelajaran biasa. Contohnya adalah ilmu yang diberikan kepada Nabi Khidir sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an.

Retna Dwi Estuningtyas menjelaskan bahwa menurut perspektif Al-Qur’an terdapat dua jenis ilmu, yaitu ilmu yang diperoleh melalui usaha manusia dan ilmu yang diperoleh tanpa usaha manusia yang dikenal dengan istilah ‘ilm ladunni.[18]

Meskipun berbeda dalam cara perolehannya, kedua bentuk ilmu tersebut tidak dapat dipertentangkan. Ilmu kasbi menunjukkan pentingnya ikhtiar manusia, sedangkan ilmu ladunni menegaskan keterbatasan manusia di hadapan Allah sebagai pemilik ilmu yang hakiki.

Dengan demikian, harmonisasi antara keduanya akan melahirkan sikap ilmiah yang rendah hati, terbuka terhadap kebenaran, serta menyadari bahwa seluruh pengetahuan pada akhirnya bersumber dari Allah Swt.

C. Kedudukan Ilmu dan Eksistensi Manusia

Al-Qur’an menempatkan ilmu sebagai fondasi utama yang menentukan kedudukan dan eksistensi manusia di muka bumi. Dalam pandangan Islam, keunggulan manusia tidak terletak pada aspek fisik, kekuatan, ataupun keturunan, melainkan pada kemampuan untuk menerima, memahami, dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Konsep ini tergambar secara jelas dalam kisah penciptaan Nabi Adam a.s. yang dijadikan sebagai khalifah di bumi. Ketika para malaikat mempertanyakan hikmah penciptaan manusia yang berpotensi menimbulkan kerusakan, Allah Swt. menunjukkan keistimewaan Adam melalui ilmu yang diberikan kepadanya.

Firman Allah Swt. dalam QS. Al-Baqarah [2]: 31–33 menyatakan:

وَعَلَّمَ ءَادَمَ ٱلْأَسْمَآءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى ٱلْمَلَـٰٓئِكَةِ فَقَالَ أَنۢبِـُٔونِى بِأَسْمَآءِ هَـٰٓؤُلَآءِ إِن كُنتُمْ صَـٰدِقِينَ ٣١

قَالُوا۟ سُبْحَـٰنَكَ لَا عِلْمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْعَلِيمُ ٱلْحَكِيمُ ٣٢

قَالَ يَـٰٓـَٔادَمُ أَنۢبِئْهُم بِأَسْمَآئِهِمْ ۖ فَلَمَّآ أَنۢبَأَهُم بِأَسْمَآئِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكُمْ إِنِّىٓ أَعْلَمُ غَيْبَ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنتُمْ تَكْتُمُونَ ٣٣

Artinya:

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia memperlihatkannya kepada para malaikat seraya berfirman, ‘Sebutkan kepada-Ku nama semua itu jika kamu benar!’ Mereka menjawab, ‘Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.’ Allah berfirman, ‘Wahai Adam! Beritahukanlah kepada mereka nama-nama itu.’ Setelah dia menyebutkan nama-nama itu, Allah berfirman, ‘Bukankah telah Aku katakan kepadamu bahwa Aku mengetahui rahasia langit dan bumi, dan Aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan?’” [19]

Ayat tersebut menunjukkan bahwa ilmu merupakan syarat utama bagi manusia untuk menjalankan fungsi kekhalifahan. Allah memberikan kemampuan intelektual kepada Nabi Adam untuk mengenali, memahami, dan mengelola realitas kehidupan. Kemampuan inilah yang menjadi dasar keunggulan manusia dibandingkan makhluk lainnya. Sejalan dengan itu, Retna Dwi Estuningtyas menjelaskan bahwa QS. Al-Baqarah ayat 30–33 menegaskan pentingnya ilmu sebagai modal utama manusia dalam mengemban amanah sebagai khalifah di bumi. [20]

Lebih lanjut, Al-Qur’an menegaskan bahwa orang-orang yang berilmu memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah Swt. Hal ini dinyatakan dalam firman-Nya:

Al-Mujadilah [58]: 11

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا۟ فِى ٱلْمَجَـٰلِسِ فَٱفْسَحُوا۟ يَفْسَحِ ٱللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُوا۟ فَٱنشُزُوا۟ يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَـٰتٍۢ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌۭ ١١

Artinya:

“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” [21]

Ayat ini menunjukkan adanya hubungan yang erat antara ilmu dan keimanan. Al-Qur’an tidak memisahkan keduanya, melainkan menempatkannya sebagai dua unsur yang saling melengkapi. Ilmu berfungsi mengarahkan manusia kepada pemahaman yang benar terhadap realitas dan ajaran agama, sedangkan iman menjadi landasan moral dan spiritual dalam penggunaan ilmu tersebut. Ilmu yang tidak disertai keimanan dapat melahirkan kesombongan, eksploitasi, dan penyalahgunaan kekuasaan. Sebaliknya, keimanan tanpa ilmu berpotensi menimbulkan sikap fanatisme, taklid buta, dan pemahaman agama yang sempit. Oleh karena itu, Islam memandang bahwa kesempurnaan manusia hanya dapat dicapai melalui integrasi antara ilmu dan iman.

Dengan demikian, berdasarkan paradigma Al-Qur’an, ilmu memiliki kedudukan yang sangat mulia karena menjadi dasar kekhalifahan manusia, sarana memperoleh kemuliaan di sisi Allah, serta instrumen untuk mewujudkan kehidupan yang adil, beradab, dan bertanggung jawab. Ilmu dan iman bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan dua pilar utama yang membentuk pribadi Muslim yang utuh dan mampu menjalankan tugasnya sebagai hamba sekaligus khalifah Allah di muka bumi.

Baca Juga: Resume Buku: Filsafat Ilmu Pengetahuan (Perspektif Barat dan Islam)

D. Dimensi Aksiologis: Etika dan Tanggung Jawab Ilmuwan

Aksiologi membahas tujuan dan manfaat ilmu pengetahuan. Dalam perspektif Islam, ilmu bukan sekadar instrumen untuk memuaskan rasa ingin tahu, tetapi amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Saifullah Idris dan Fuad Ramly menjelaskan bahwa filsafat ilmu tidak hanya membahas cara memperoleh ilmu, tetapi juga mempertanyakan nilai serta tujuan penggunaan ilmu pengetahuan.[22] Dengan demikian, pengembangan ilmu harus selalu mempertimbangkan aspek moral.

Salah satu prinsip penting dalam tradisi Islam adalah konsep “adab sebelum ilmu”. Seorang penuntut ilmu dituntut memiliki keikhlasan, kerendahan hati (tawadhu’), serta penghormatan terhadap otoritas keilmuan.

Kesadaran etis tersebut penting karena perkembangan sains modern sering kali menghasilkan berbagai kemajuan teknologi yang tidak selalu diikuti oleh kemajuan moral. Akibatnya, ilmu dapat digunakan untuk eksploitasi, kerusakan lingkungan, maupun dominasi terhadap sesama manusia.

Darwis A. Soelaiman mengkritik paradigma sains modern yang berkembang dalam kerangka sekularisme sehingga diperlukan pengembangan epistemologi Islam sebagai alternatif untuk membangun kembali peradaban yang berlandaskan nilai-nilai ketuhanan.[23]

Dengan demikian, ilmuwan Muslim tidak hanya bertugas menghasilkan pengetahuan baru, tetapi juga memastikan bahwa ilmu tersebut membawa kemaslahatan bagi umat manusia. Tanggung jawab moral akademisi adalah menjadikan ilmu sebagai sarana ibadah, pengabdian sosial, dan pembangunan peradaban yang berkeadaban.

Penutup

A. Kesimpulan

Berdasarkan paradigma Al-Qur’an, ilmu merupakan anugerah Allah Swt. yang bersumber dari wahyu, alam, sejarah, akal, hati, dan fitrah manusia. Ilmu memiliki kedudukan yang sangat mulia karena menjadi bekal utama manusia dalam menjalankan tugas kekhalifahan di bumi serta harus selalu disertai dengan keimanan. Dalam Islam, ilmu tidak hanya berfungsi untuk memenuhi kebutuhan intelektual, tetapi juga merupakan amanah yang harus dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat, pembangunan peradaban, dan pengabdian kepada Allah Swt. Oleh karena itu, Al-Qur’an menawarkan paradigma keilmuan yang holistik dan integratif, yang memadukan agama dan sains untuk membentuk manusia berilmu, berakhlak, dan bertakwa.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian, lembaga pendidikan Islam perlu mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu pengetahuan modern secara seimbang agar peserta didik memiliki kompetensi intelektual, spiritual, dan moral. Akademisi dan peneliti juga diharapkan menjadikan paradigma Al-Qur’an sebagai landasan pengembangan ilmu pengetahuan yang berorientasi pada nilai etika dan kemanusiaan. Selain itu, penelitian selanjutnya dapat mengkaji epistemologi Qur’ani melalui pendekatan interdisipliner. Dengan demikian, ilmu pengetahuan diharapkan tidak hanya mendorong kemajuan material, tetapi juga membentuk manusia yang beriman, berilmu, berakhlak, dan mampu membangun peradaban yang bermartabat.


Penulis:
1. Fahri Hidayat
2. Laksamana Haidar Ali
Mahasiswa Studi Agama-Agama Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta


Dosen Pengampu: Fitriana, M.A., M.Ed., Ph.D.


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Daftar Pustaka

Afriani, Nadi, dan Alwizar. “Konsep Ilmu Menurut Al-Qur’an: Kajian Pustaka atas Ayat-Ayat Keilmuan.” Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial & Hukum 3, no. 2 (2025): 1099–1110. https://doi.org/10.61104/alz.v3i2.1237.

Al-Dzahabi, Muhammad Husain. Al-Tafsir wa al-Mufassirun. Jilid I. Kairo: Maktabah Wahbah, 2000.

Al-Qaththan, Manna’ Khalil. Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an. Beirut: Mu’assasah al-Risalah, 1998.

Al-Zarqani, Muhammad Abdul Azim. Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an. Jilid II. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1996.

Estuningtyas, Retna Dwi. “Ilmu dalam Perspektif Al-Qur’an.” QOF 2, no. 2 (2018): 203–213.

Idris, Saifullah, dan Fuad Ramly. Dimensi Filsafat Ilmu dalam Diskursus Integrasi Ilmu. Yogyakarta: Darussalam Publishing, 2016.

Kementerian Agama Republik Indonesia. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2019.

Soelaiman, Darwis A. Filsafat Ilmu Pengetahuan Perspektif Barat dan Islam. Banda Aceh: Bandar Publishing, 2019.

Zakariya, Din Muhammad, dan Muhammad Hambal Shafwan. Studi Ilmu Qur’an: Kaedah Memahami dan Menafsirkan al-Qur’an. Gresik: Sahabat Pena Kita, 2024.

[1] Retna Dwi Estuningtyas, “Ilmu dalam Perspektif Al-Qur’an,” QOF 2, no. 2 (2018): 203–204.

[2] Saifullah Idris dan Fuad Ramly, Dimensi Filsafat Ilmu dalam Diskursus Integrasi Ilmu (Yogyakarta: Darussalam Publishing, 2016), 7.

[3] Nadi Afriani dan Alwizar, “Konsep Ilmu Menurut Al-Qur’an: Kajian Pustaka atas Ayat-Ayat Keilmuan,” Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial & Hukum 3, no. 2 (2025): 1099–1100.

[4] Kementerian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2019), QS. Al-‘Alaq [96]: 1–5.

[5] Kementerian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2019), QS. An-Nahl [16]: 89.

[6] Kementerian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2019), QS. Ali ‘Imran [3]: 190–191.

[7] Kementerian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2019), QS. Al-Ghasyiyah [88]: 17–20.

[8] Kementerian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2019), QS. Yusuf [12]: 111.

[9] Kementerian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2019), QS. Ar-Rum [30]: 9.

[10] Kementerian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2019), QS. Al-Hasyr [59]: 2.

[11] Manna’ Khalil al-Qaththan, Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an (Beirut: Mu’assasah al-Risalah, 1998), hlm. 306–320.

[12] Muhammad Husain al-Dzahabi, al-Tafsir wa al-Mufassirun, Jilid I (Kairo: Maktabah Wahbah, 2000), hlm. 37–40.

[13] Muhammad Abdul Azim al-Zarqani, Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an, Jilid II (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1996), hlm. 105–112.

[14] Kementerian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2019), QS. An-Nahl [16]: 78.

[15] Kementerian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2019), QS. Asy-Syams [91]: 7–8.

[16] Kementerian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2019), QS. Ar-Rum [30]: 30.

[17] Retna Dwi Estuningtyas, “Ilmu dalam Perspektif Al-Qur’an,” QOF 2, no. 2 (2018): 204.

[18] Retna Dwi Estuningtyas, “Ilmu dalam Perspektif Al-Qur’an,” 203.

[19] Kementerian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2019), QS. Al-Baqarah [2]: 31–33.

[20] Retna Dwi Estuningtyas, “Ilmu dalam Perspektif Al-Qur’an,” hlm. 204.

[21] Kementerian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2019), QS. Al-Mujadilah [58]: 11.

[22] Saifullah Idris dan Fuad Ramly, Dimensi Filsafat Ilmu dalam Diskursus Integrasi Ilmu (Yogyakarta: Darussalam Publishing, 2016), vii–x.

[23] Darwis A. Soelaiman, Filsafat Ilmu Pengetahuan Perspektif Barat dan Islam (Banda Aceh: Bandar Publishing, 2019), vi–vii.

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses