Ada dua nasihat dalam Islam yang menunjukkan betapa pentingnya adab murid kepada guru menurut Islam. Tanpa adab, ilmu tidak akan membawa keberkahan, bahkan bisa menjerumuskan pemiliknya pada kesombongan.
Dua nasehat yang sangat terkenal itu diucapkan oleh ulama besar Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, “Sesungguhnya adab lebih tinggi daripada ilmu.” Dan nasehat kedua dari perkataan Ali bin Abi Thalib, “Aku lebih menghargai orang yang beradab daripada orang yang berilmu.”
Di dalam Islam, guru yang mencapai level ulama memiliki kedudukan yang sangat mulia karena mereka adalah pewaris para nabi. Nabi Muhammad ﷺ mengajarkan bahwa menuntut ilmu harus diiringi dengan akhlak dan sopan santun, terutama kepada sang guru.
Ilmu agama yang mulia hanya akan bermanfaat jika murid menjaga adab, berakhlak terpuji, dan menghormati gurunya. Karena itu, setiap murid wajib memahami 10 adab murid kepada guru agar ilmunya menjadi berkah, bermanfaat, dan mengangkat derajat di sisi Allah ﷻ.
Baca juga: Adab dan Sosial dalam Islam: Larangan Mengolok dan Bergunjing
1. Adab Pertama: Memuliakan Guru Sepenuh Hati
Di dalam Islam, guru memiliki kedudukan yang tinggi karena gurunya adalah orang yang membimbing murid menuju cahaya ilmu.
Imam al-Ghazali dalam kitabnya menegaskan bahwa adab terhadap guru adalah syarat utama agar ilmu yang dipelajari menjadi bermanfaat. Tanpa sikap memuliakan sang guru, keberkahan ilmu akan sulit diperoleh.
Memuliakan guru bukan hanya ketika berada di dalam majelis ilmu, tetapi juga di luar kegiatan belajar mengajar.
Seorang murid hendaknya menunjukkan akhlak yang mulia dalam setiap interaksi. Misalnya, dengan berbicara sopan, tidak mendahului bicara, serta menggunakan kata-kata adab sopan santun.
Sikap murid terhadap gurunya juga tidak boleh bersikap kasar atau meremehkan, sebab itu mencerminkan kurangnya akhlak.
Guru menurut Imam al-Ghazali merupakan aspek penting dalam perjalanan menuntut ilmu. Karena itu, seorang murid perlu menjaga adab kepada guru dengan penuh ketulusan.
Sikap sederhana seperti memberi salam, mendengarkan penjelasan dengan tenang, serta tidak berbicara keras sudah menjadi bentuk penghormatan yang besar.
Bahkan ulama salaf mengajarkan agar murid tidak berjalan di depan guru sebagai tanda rendah hati.
Ketika berada di sekolah, ustadz atau guru dalam kelas perlu diperlakukan dengan penuh rasa hormat.
Memuliakan guru juga berarti menjaga sikap di luar kelas, termasuk saat berkomunikasi melalui pesan singkat. Dengan adab yang baik, ilmu yang diajarkan akan lebih mudah melekat dalam hati.
Sopan santun dalam adab seorang murid mencerminkan kesungguhan dalam mencari ilmu.
Maka, memuliakan guru sepenuh hati adalah pintu pertama menuju keberkahan ilmu yang akan mengangkat derajat seorang murid di dunia dan akhirat.
Allah ﷻ berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَرْفَعُوٓا۟ أَصْوَٰتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ ٱلنَّبِىِّ وَلَا تَجْهَرُوا۟ لَهُۥ بِٱلْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَن تَحْبَطَ أَعْمَٰلُكُمْ وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari. (QS. Al-Hujurat: 2)
Ayat ini menunjukkan pentingnya menjaga sikap dan suara di hadapan orang yang memiliki kedudukan ilmu, termasuk guru.
Baca juga: Adab Bertamu: Jangan Lakukan ini saat Kamu Bertamu!
2. Adab Kedua: Ikhlas dalam Menuntut Ilmu dan Berkhidmat
Adab murid yang kedua adalah menjaga niat ikhlas dalam menuntut ilmu serta berkhidmat kepada gurunya.
Imam al-Ghazali menekankan bahwa ilmu hanya akan bermanfaat jika dicari karena Allah ﷻ, bukan untuk sekadar mencari pujian, kedudukan, atau keuntungan dunia.
Jika seorang murid belajar hanya demi nilai atau gengsi, maka ilmunya akan hampa dari keberkahan.
Ikhlas berarti menerima setiap perintah guru dengan lapang dada selama tidak bertentangan dengan syariat.
Murid tidak boleh merasa terbebani atau mengeluh ketika mendapat tugas. Justru, kepatuhan terhadap perintah guru menunjukkan rasa hormat dan cinta kepada ilmu yang sedang dipelajari.
Selain itu, berkhidmat kepada guru adalah salah satu adab yang sangat dianjurkan oleh para ulama.
Berkhidmat bukan berarti merendahkan diri, melainkan bentuk bakti dan penghormatan.
Contoh sederhana adalah membantu guru memerlukan bantuan sewaktu-waktu, seperti membawa buku, menyiapkan alat tulis, atau membantu kebutuhan kecil saat kegiatan belajar mengajar di kelas.
Sikap ini menunjukkan kepedulian sekaligus rasa terima kasih atas ilmu yang diberikan.
Guru menurut Imam al-Ghazali adalah orang tua rohani yang membimbing murid menuju cahaya kebenaran. Oleh karena itu, seorang murid yang beradab hendaknya tidak merasa malu untuk melayani gurunya.
Dalam sejarah para ulama salaf, banyak murid yang rela melakukan perjalanan jauh dan melayani kebutuhan gurunya demi mendapatkan keberkahan ilmu.
Ikhlas dan berkhidmat adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Dengan keduanya, murid akan merasakan manisnya menuntut ilmu serta mendapatkan keberkahan yang berlipat ganda.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niat, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari & Muslim)
Hadis ini mengingatkan murid agar selalu ikhlas dalam belajar, bukan karena dunia.
Baca juga: Kronologi Sejarah Peradaban Dunia
3. Adab Ketiga: Patuh dan Taat Terhadap Perintah Guru
Salah satu adab paling penting bagi murid terhadap guru adalah patuh dan taat. Dalam Islam, ketaatan kepada guru selama tidak bertentangan dengan syariat termasuk bagian dari akhlak terpuji.
Adab terhadap guru dalam Islam bukan hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga melaksanakan perintah guru dengan penuh tanggung jawab.
Ketika guru memberikan arahan, murid seharusnya tidak langsung menyangkal penjelasan guru.
Jika memang ada pendapat yang berbeda, maka murid bisa menyampaikan dengan sopan dan penuh hormat. Ulama salaf mengajarkan agar seorang murid tidak mendebat gurunya dengan cara yang kasar. Sebab, sikap itu bisa menghilangkan keberkahan ilmu.
Kadang, dalam proses belajar, murid menemukan fulan berbeda dengan pendapat gurunya.
Hal ini wajar, sebab para ulama pun sering memiliki perbedaan pandangan. Namun, perbedaan tersebut harus disikapi dengan adab. Murid hendaknya menghargai pendapatnya guru lebih dulu, lalu menyampaikan perbedaan dengan lembut jika memang diperlukan.
Taat kepada perintah guru juga berarti menerima nasihat dengan ikhlas. Tidak jarang guru memberikan perintah atau arahan untuk kebaikan jangka panjang murid.
Di dalam banyak kisah, ulama salaf rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan perjalanan panjang demi menaati gurunya. Mereka meyakini bahwa keberkahan ilmu lahir dari sikap patuh.
Dengan bersikap taat, murid menunjukkan penghormatan yang tulus. Adab seorang murid yang sabar dan rendah hati akan membuka pintu keberkahan ilmu. Sebaliknya, murid yang membangkang hanya akan kehilangan manfaat dari ilmu yang ia pelajari.
Allah ﷻ berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَٰزَعْتُمْ فِى شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An-Nisa: 59)
Guru termasuk dalam lingkaran orang yang berwenang dalam ilmu. Selama perintah guru tidak bertentangan dengan syariat, maka wajib ditaati.
Baca juga: Pentingnya Mempersiapkan Guru pada Strategi Pembelajaran Berbasis TIK
4. Adab Keempat: Beradab dalam Bertanya dan Berdiskusi
Bertanya adalah bagian penting dalam proses belajar. Namun, seorang murid harus menjaga adab ketika mengajukan pertanyaan kepada guru.
Tidak sopan jika murid memotong pembicaraan atau mendahului gurunya. Sebaliknya, murid hendaknya menunggu dengan sabar hingga guru selesai menjelaskan, baru kemudian mengajukan pertanyaan dengan sopan.
Dalam adab Islam, murid hendaknya tidak mengajukan pertanyaan yang berlebihan atau keluar dari topik yang sedang dibahas.
Terlalu sering mengajukan banyak pertanyaan yang membutuhkan penjelasan panjang bisa membuat suasana belajar terganggu.
Imam al-Ghazali menasihati agar seorang murid memilih waktu dan cara yang tepat dalam bertanya.
Ada kalanya pertanyaan yang diajukan membutuhkan jawaban pelik. Jika itu terjadi, murid sebaiknya bersabar dan memberi waktu kepada guru untuk menjelaskan secara perlahan.
Ingatlah bahwa guru pun manusia, yang bisa saja membutuhkan jeda sebelum memberikan jawaban yang sesuai.
Sejarah mencatat bagaimana ulama terdahulu begitu sabar menjawab pertanyaan para tolibul ilmu. Mereka menghargai murid yang beradab dalam bertanya, karena menunjukkan kerendahan hati dan rasa hormat.
Begitu pula murid yang berakhlak baik akan menunggu giliran, mengangkat tangan dengan tenang, dan menggunakan kata-kata yang lembut saat berdiskusi.
Diskusi yang sehat harus dilandasi adab. Murid tidak boleh langsung menyangkal penjelasan guru, apalagi menyinggung dengan kata-kata kasar.
Jika memang ada penjelasan yang berbeda, sampaikan dengan rendah hati dan penuh penghormatan. Dengan cara itu, ilmu yang diperoleh akan semakin mudah masuk ke hati dan membawa keberkahan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya di antara tanda kebagusan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi)
Murid hendaknya tidak mengajukan pertanyaan yang sia-sia atau berlebihan, cukup yang bermanfaat dan sesuai dengan adab.
5. Adab Kelima: Menjaga Rahasia dan Kehormatan Guru
Salah satu bentuk adab murid terhadap guru adalah menjaga rahasia dan kehormatan gurunya.
Di dalam Islam, guru memiliki kedudukan mulia karena mereka adalah orang yang membimbing murid menuju ilmu agama yang mulia.
Oleh sebab itu, tidak pantas seorang murid membuka aib atau membicarakan keburukan gurunya di depan orang lain.
Menjaga rahasia berarti melindungi marwah sang guru dari hal-hal yang bisa merendahkan kedudukannya.
Jika seorang guru pernah menegur atau menasihati dengan tegas, maka murid hendaknya tidak menyebarkannya sebagai bahan ejekan.
Sebaliknya, ia harus mengambil hikmah dan menjadikannya pelajaran. Inilah salah satu contoh adab terhadap guru yang sering diabaikan murid zaman sekarang.
Akhlak mulia seorang murid akan terlihat dari bagaimana ia menghormati gurunya, baik di dalam maupun di luar kelas.
Menjaga adab bukan hanya soal sikap saat berhadapan langsung, tetapi juga bagaimana murid berbicara tentang gurunya di belakang. Murid yang benar-benar beradab tidak akan menjatuhkan nama baik guru, meskipun dalam bercanda sekalipun.
Para ulama salaf juga mengajarkan pentingnya menjaga kehormatan guru. Mereka tidak hanya menutup aib gurunya, tetapi juga selalu berusaha menampilkan kebaikan gurunya di depan orang lain.
Dengan begitu, guru tetap dihormati dan ilmu yang diajarkan akan semakin berkesan di hati murid.
Seorang murid yang menjaga kehormatan gurunya berarti ia sedang menjaga keberkahan ilmunya sendiri.
Sebab, adab kepada guru adalah cerminan akhlak dan rasa syukur seorang murid atas bimbingan yang telah diterimanya.
Allah ﷻ berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُوا۟ خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا۟ بِٱلْأَلْقَٰبِ ۖ بِئْسَ ٱلِٱسْمُ ٱلْفُسُوقُ بَعْدَ ٱلْإِيمَٰنِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS. Al-Hujurat: 11)
Ayat ini menegaskan larangan merendahkan atau membuka aib orang lain, termasuk guru.
Baca juga: Upaya Profesionalisasi melalui Sertifikasi Guru Berkala Lima Tahun yang Dianggap Memberatkan
6. Adab Keenam: Mendoakan Guru
Salah satu adab paling indah yang sering dilupakan adalah mendoakan guru. Menghormati guru bukan hanya ditunjukkan dengan sikap sopan saat kegiatan belajar mengajar di kelas, tetapi juga dengan menyebut namanya dalam doa.
Para ulama menekankan bahwa doa murid kepada gurunya adalah bentuk bakti yang akan mengalirkan pahala berlipat.
Adab menghormati guru bisa diwujudkan dengan doa agar Allah ﷻ menjaga kesehatan, melapangkan rezeki, dan memberi keberkahan pada hidup sang guru.
Doa semacam ini adalah hadiah terbaik yang bisa diberikan murid, karena guru telah mengorbankan waktu dan tenaganya untuk membimbing murid menuju ilmu agama yang mulia.
Banyak puisi tentang akhlak kepada guru yang menggambarkan betapa doa seorang murid menjadi tanda cinta yang tulus.
Seperti seorang anak yang berterima kasih kepada orang tuanya, murid pun seharusnya menunjukkan rasa syukur kepada gurunya melalui doa.
Bahkan setelah lulus atau tidak lagi bertemu, murid tetap dianjurkan untuk mendoakan gurunya.
Menghormati guru dengan doa juga menjadi salah satu cara menjaga adab yang paling sederhana, namun sangat bermakna.
Nabi Muhammad ﷺ mengajarkan agar umatnya selalu mendoakan orang-orang yang berjasa dalam hidup mereka. Guru jelas termasuk di dalamnya, karena ia adalah pewaris para nabi.
Seorang murid yang selalu mendoakan gurunya akan merasakan ikatan batin yang kuat. Ilmu yang dipelajari akan lebih mudah diamalkan, dan keberkahannya akan terus mengalir sepanjang hidup.
Inilah salah satu rahasia mengapa doa menjadi bagian penting dari adab seorang murid terhadap guru.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa tidak berterima kasih kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi)
Mendoakan guru adalah bentuk syukur atas jasa besar yang telah diberikan.
Baca juga: Panduan Lengkap Penerbitan Artikel di Media Massa untuk Mahasiswa, Dosen, Guru dan Pelajar
7. Adab Ketujuh: Mengamalkan Ilmu yang Telah Diberikan
Ilmu yang tidak diamalkan ibarat pohon tanpa buah. Dalam Islam, salah satu adab terpenting bagi murid adalah mengamalkan ilmu yang telah diberikan gurunya.
Ilmu agama yang mulia baru akan terasa manfaatnya jika dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika hanya berhenti pada ucapan tanpa amal, maka ilmu tersebut tidak akan membawa keberkahan.
Seorang murid yang berakhlak baik akan berusaha menerapkan ajaran yang dipelajari, baik di sekolah, rumah, maupun lingkungan masyarakat.
Inilah bentuk rasa terima kasih kepada guru. Adab pada guru bukan hanya dengan menghormati ketika belajar, tetapi juga dengan menjaga amanah ilmu yang telah diajarkan.
Kata kata adab dan ilmu dari para ulama sering mengingatkan bahwa adab mendahului ilmu.
Artinya, ilmu tidak akan bertahan lama jika tidak diikat dengan adab dan akhlak. Karena itu, mengamalkan ilmu sekaligus menjaga budi pekerti adalah wujud nyata seorang murid yang beradab.
Dalam sejarah Islam, para ulama salaf menjadi teladan karena mereka tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga mencontohkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari.
Guru akan merasa bangga jika muridnya mengamalkan apa yang diajarkan, sebab itu menjadi bukti keberhasilan pendidikan.
Seorang murid yang benar-benar menghargai gurunya akan menunjukkan hasil nyata melalui akhlak dan amal perbuatannya.
Dengan begitu, ilmu yang dipelajari bukan hanya memberi manfaat bagi dirinya, tetapi juga bagi orang lain. Inilah hakikat adab seorang murid yang ingin meraih keberkahan ilmu dari gurunya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah.” (HR. Ad-Dailami)
Hadis ini mempertegas bahwa mengamalkan ilmu adalah adab yang wajib dijaga oleh setiap murid.
Baca juga: Perlukah Guru BK di Sekolah Dasar?
8. Adab Kedelapan: Sabar saat Ditegur dan Dinasihati
Setiap murid pasti pernah mendapat teguran dari gurunya. Teguran itu bukanlah bentuk kebencian, melainkan tanda kasih sayang. Oleh karena itu, seorang murid yang beradab harus menerima nasihat dengan sabar dan lapang dada.
Akhlak terhadap guru akan terlihat jelas ketika ia tidak marah atau tersinggung saat dinasihati.
Guru menegur bukan untuk merendahkan murid, tetapi untuk memperbaiki sikap agar murid bisa menjadi lebih baik.
Dalam banyak hadis, dijelaskan bahwa Nabi Muhammad ﷺ selalu sabar membimbing sahabat yang berbuat salah dengan kelembutan.
Inilah teladan yang harus dicontoh oleh seorang guru, dan murid pun harus menerimanya dengan hati terbuka.
Kata kata orang berilmu tapi tak beradab sering menggambarkan betapa ilmu tanpa sikap rendah hati akan sia-sia.
Murid yang menolak nasihat berarti ia kehilangan kesempatan memperbaiki diri. Sebaliknya, murid yang sopan terhadap guru saat ditegur akan semakin dihormati, baik oleh gurunya maupun teman-temannya.
Dalam kehidupan sehari-hari, teguran bisa hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari ucapan singkat hingga nasihat panjang.
Murid sebaiknya membalas teguran dengan sikap hormat, seperti menundukkan kepala, diam mendengarkan, dan tidak membantah. Itulah bagian dari kata kata adab sopan santun yang selalu diajarkan dalam Islam.
Dengan bersabar menerima teguran, seorang murid menunjukkan kesungguhan dalam memperbaiki diri.
Teguran adalah pintu menuju perbaikan akhlak dan pengingat agar tidak mengulangi kesalahan. Maka, jadikan setiap teguran dari guru sebagai hadiah berharga untuk meningkatkan kualitas diri.
Allah ﷻ berfirman:
ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ
Artinya: (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. Ali Imran: 134)
Ayat ini mendorong murid untuk bersabar dan berlapang dada saat mendapat teguran.
9. Adab Kesembilan: Tidak Sombong dan Senantiasa Rendah Hati
Kesombongan adalah penghalang terbesar dalam menuntut ilmu. Seorang murid yang merasa lebih pandai dari gurunya akan kehilangan keberkahan ilmu. Karena itu, salah satu adab yang sangat penting adalah menjaga hati agar tetap rendah.
Sikap tawadhu’ atau rendah hati adalah cermin akhlak yang terpuji.
Dalam adab Islam, murid tidak diperbolehkan berjalan di depannya ketika bersama guru, karena hal itu dianggap kurang sopan.
Sebaliknya, murid sebaiknya mengikuti dari belakang dengan penuh hormat. Bahkan dalam beberapa riwayat, ulama salaf mengajarkan agar murid duduk lebih rendah dari posisi gurunya sebagai tanda penghormatan.
Senyum yang tulus juga termasuk bagian dari adab seorang murid kepada guru. Murid yang berwajah ramah dan tidak menunjukkan keangkuhan akan lebih mudah mendapatkan kasih sayang gurunya.
Hal ini sederhana, tetapi sangat berpengaruh dalam membangun hubungan yang penuh keberkahan.
Selain itu, seorang murid hendaknya memperhatikan sikapnya ketika berada di majelis. Jangan sampai murid lebih suka bercanda dengan teman duduknya ketika guru sedang berbicara. Tindakan seperti itu menunjukkan kurangnya adab.
Murid harus fokus mendengarkan penjelasan, lalu mencatat dengan baik agar ilmu benar-benar melekat.
Ketika guru berdiri dari posisi duduk, murid hendaknya ikut berdiri sebagai tanda hormat. Ini adalah kebiasaan ulama terdahulu yang selalu menghormati gurunya dengan cara penuh adab. Sikap ini menunjukkan kerendahan hati sekaligus penghargaan terhadap jasa sang guru.
Rendah hati membuat seorang murid lebih mudah menerima nasihat dan ilmu. Sebaliknya, kesombongan hanya akan menjauhkan murid dari keberkahan.
Karena itu, menjaga adab dengan kerendahan hati adalah syarat utama agar ilmu yang dipelajari membawa manfaat dunia dan akhirat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan sebesar biji sawi.” (HR. Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa rendah hati adalah kunci keberkahan, termasuk saat berhadapan dengan guru.
10. Adab Kesepuluh: Tidak Melupakan Jasa Guru
Adab terakhir yang harus dijaga oleh seorang murid adalah tidak pernah melupakan jasa gurunya. Setelah ilmu diterima, bukan berarti hubungan antara murid dan guru selesai.
Justru, keberkahan ilmu akan terus mengalir jika murid tetap menjaga silaturahmi dan menghormati gurunya seumur hidup.
Para ulama sering mengingatkan bahwa salah satu tanda murid yang beradab adalah tetap mendoakan dan mengunjungi gurunya meskipun sudah lama tidak belajar bersama.
Banyak kisah para ulama salaf yang rela menempuh perjalanan hingga guru mereka hanya untuk sekadar bersalaman, memohon doa, atau memperbarui ikatan hati.
Adab ini juga berlaku dalam hal kecil sehari-hari. Jika seorang guru hendak berdiri dari posisi duduk, murid sebaiknya ikut berdiri sebagai bentuk penghormatan.
Bahkan ketika guru sampai di rumah setelah mengajar, seorang murid dianjurkan untuk tetap mendoakan keselamatan dan kesehatannya. Tindakan sederhana ini menunjukkan rasa terima kasih yang tulus.
Dalam catatan sejarah, murid yang benar-benar menghormati gurunya tidak pernah melupakan jasa meskipun telah menjadi ulama besar.
Mereka tetap merendah di hadapan gurunya dan menegaskan bahwa ilmu yang dimiliki adalah berkat doa serta bimbingan sang guru. Inilah yang disebut keberkahan dari 10 adab murid kepada guru.
Maka, setiap murid harus menjaga hati agar tidak menjadi seperti kacang lupa kulitnya. Ilmu akan terasa lebih bermakna jika disertai sikap mulia yang menghargai jasa guru.
Dengan begitu, 10 adab murid akan sempurna dan membawa keberkahan dunia dan akhirat.
Allah ﷻ berfirman:
وَٱخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرًا
Artinya: Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (QS. Al-Isra: 24)
Ayat ini ditujukan kepada orang tua, namun para ulama menegaskan bahwa guru memiliki kedudukan serupa dalam hal penghormatan dan doa.
Baca juga: Menjadi Guru Abad 21
Kesimpulan: Pentingnya Menjaga Adab untuk Meraih Keberkahan Ilmu
Menjaga adab dengan guru adalah kunci utama untuk meraih ilmu yang bermanfaat dan penuh keberkahan.
Ulama terdahulu selalu menekankan bahwa adab mendahului ilmu. Seperti yang dikatakan oleh Imam al-Ghazali, seorang murid yang tidak beradab akan sulit mendapatkan manfaat dari ilmu yang dipelajarinya.
Bahkan Syekh Abdul Qodir Jailani menegaskan bahwa adab lebih tinggi daripada ilmu.
Nabi Muhammad ﷺ ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan bahwa menghormati guru sama dengan menghormati orang tua, karena guru merupakan pewaris para nabi.
Hadis-hadis tentang pentingnya akhlak menegaskan bahwa ilmu hanya akan bercahaya jika ditopang dengan sikap rendah hati, sopan santun, dan rasa hormat.
Kata kata tentang adab yang sering kita dengar bukan sekadar ungkapan, tetapi peringatan agar murid menjaga perilaku di hadapan gurunya. Karena itu, pentingnya menghormati guru tidak boleh dianggap sepele.
Seorang murid yang berilmu tapi tidak beradab, ibarat wadah kosong yang tidak bisa menampung manfaat.
Sebaliknya, murid yang menjaga akhlak, beradab, dan sopan santun akan mudah meraih keberkahan.
Seperti kata bijak yang dinukil dari Ali bin Abi Thalib, “Saya lebih menghargai orang yang beradab daripada berilmu.” Kalimat ini mengingatkan kita bahwa adab adalah fondasi dari segala ilmu.
Ringkasan 10 Adab Murid Kepada Guru Menurut Islam
- Memuliakan Guru Sepenuh Hati dengan cara menghormati guru di dalam dan luar majelis, berbicara dengan sopan, tidak mendahului.
- Ikhlas dalam Menuntut Ilmu dan Berkhidmat dengan cara menjaga niat hanya karena Allah ﷻ, membantu guru ketika memerlukan bantuan sewaktu-waktu.
- Patuh dan Taat Terhadap Perintah Guru dengan cara tidak langsung menyangkal penjelasan guru, menghormati pendapatnya meskipun ada pendapat yang berbeda.
- Beradab dalam Bertanya dan Berdiskusi dengan cara murid hendaknya tidak mengajukan banyak pertanyaan yang membutuhkan jawaban pelik, bersabar menunggu giliran.
- Menjaga Rahasia dan Kehormatan Guru dengan cara tidak menyebarkan aib, menjaga marwah gurunya.
- Mendoakan Guru dengan cara menghormati guru dengan doa, bahkan setelah kegiatan belajar mengajar di kelas berakhir.
- Mengamalkan Ilmu yang Telah Diberikan dengan cara menjadikan ilmu agama yang mulia sebagai amal nyata, disertai budi pekerti.
- Sabar saat Ditegur dan Dinasihati dengan cara menerima teguran dengan lapang dada, tidak tersinggung, sopan terhadap guru.
- Tidak Sombong dan Senantiasa Rendah Hati dengan cara tidak berjalan di depannya, memberi senyum, memperhatikan adab ketika guru berdiri dari posisi duduk.
- Tidak Melupakan Jasa Guru dengan cara menjaga silaturahmi, mendoakan setelah guru sampai di rumah, menghormati jasa sepanjang hidup.
Demikianlah 10 adab murid kepada guru. Dengan menjaga kesepuluh adab ini, seorang murid tidak hanya mendapatkan ilmu yang berilmu, tetapi juga keberkahan yang akan mengangkat derajatnya di dunia dan akhirat.
Penulis: Fikri A Rokhman
Aktif di Himpunan Mahasiswa Fisika STKIP Al Hikmah Surabaya
Editor : Muhammad Fauzan Alimuddin
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












