Integrasi Matematika dalam Islam di Masa Pandemi

matematika dalam Islam
Foto: Pixabay.com

Covid-19 telah mengubah banyak sekali aspek kehidupan masyarakat, mulai dari aspek ekonomi, sosial, kesehatan, sampai aspek pendidikan. Dalam aspek pendidikan khususnya banyak sekali perubahan mulai dari proses belajar mengajar di kelas, proses tatap muka secara langsung, sampai dengan proses transfer ilmu secara langsung. Itu semua terjadi akibat dari covid.19. lalu apakah tidak ada upaya keberlangsungan pembelajaran seperti biasa? Tentulah ada yaitu pembelajaran dilakukan secara online.

Namun pembelajaran seperti ini belum bisa dilakukan oleh semua kalangan pelajar karena berbagai kendala. Mulai dari kendala alat telekomunikasi, jaringan yang belum memadai, sampai dengan kurangnya pengetahuan guru akan teknologi seperti saat ini. Berbagai upaya dilakukan untuk menangani permasalahan tersebut yaitu dengan kerjasama antara pemerintah, sekolah, lingkungan keluarga sampai lingkungan masyarakat. Semua itu dilakukan agar proses belajar mengajar tetap berlangsung walaupun tidak dengan tatap muka secara langsung di kelas.

Bila dicermati begitu besar perhatian pemerintah serta keluarga terhadap anak-anak nya untuk mendapatkan ilmu pengetahuan demi bekal dimasa yang akan datang. Lalu apakah mereka juga memperhatikan tentang ilmu yang memberikan kontribusi untuk kehidupan akhirat khususnya ilmu agama. Ada sebuah kata bijak “ilmu tanpa agama buta dan agama tanpa ilmu pincang”. Sehingga keduanya harus menjadi fondasi dalam setiap pembelajaran. Fokus pembelajaran yang akan kita bahas yaitu pembelajaran matematika dengan ilmu agama.

Semua itu tidak lain demi tercapainya tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam UU No 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional yang berbunyi “pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokrasi serta bertanggung jawab.”

Untuk dapat mengintegrasikan matematika dan Islam dalam pembelajaran matematika maka lebih baik jika dikaji terlebih dahulu sifat-sifat matematika sebagai ilmu pengetahuan. Menurut Suparni (2011) sifat atau karakteristik dari matematika yaitu objek matematika abstrak, simbol yang kosong dari arti, kesepakatan dan pemikiran deduktif aksiomatik. Sehingga ketika pembelajaran berlangsung anak didik terbekali akan ilmu agama yang di satukan dengan pembelajaran matematika.

Sebagai contoh integrasi matematika dikaitkan dengan kejujuran dengan konsep perkalian.

  • , + * + = +, mengandung makna “jika ada suatu kebenaran dan kita katakan benar maka kita adalah golongan orang-orang yang benar.”
  • + * – = – , mengandung makna “jika ada sebuah kebenaran dan kita mengatakannya salah maka kita merupakan golongan orang yang salah”
  • + = – , apa artinya ” sesuatu yang salah kita katakan benar kitapun menjadi orang yang salah”
  • – = +, mengandung arti ” sesuatu yang salah kita katakan salah maka insya Alloh kita termasuk golongan orang-orang yang berjalan di atas kebenaran.”

Artinya “yang hak harus kita katakan hak dan yang batil harus kita katakan batil”, mungkin begitu sedikit arti matematika tentang kehidupan yang ingin saya tekankan disini bahwa ternyata metematika juga mengajarkan konsep “KEJUJURAN” dalam artian yang harus kita katakan hak dan yang bathil juga harus kita katakan batil sehingga kita termasuk golongan orang-orang yang menyeru pada kebenaran.

Disaat pandemi seperti saat ini peran orang tua dalam pembelajaran sangat menentukan dengan adanya referensi sedikit tentang penerapan nilai-nilai kejujuran dalam matematika dikaitkan dengan nilai Islam diharapkan selain anak didik belajar perkalian matematika tetapi juga belajar tentang akhlak sebagai penerapan dalam kehidupan bermasyarakat tentunya.

Sebagai penutup penulis mengajak kepada pembaca sekalian untuk tetap bisa mengimbangi antara ilmu pengetahuan dengan ilmu agama ke anak-anak kita sehingga ketika kita sudah tiada ada yang mendoakan kita disana. Ilmu itu luas maka jangan hanya karena covid.19 ini membuat kita tidak melangkah menimba ilmu pengetahuan baik umum maupun ilmu agama.

Hadiman

Editor : Muhammad Fauzan Alimuddin

Baca juga:
Mengapa Matematika Menjadi Tolok Ukur dari Kecerdasan Seseorang?
Pengaruh Kepribadian Guru dalam Membentuk Etika, Moral dan Akhlak Siswa
Implementasi Nilai-Nilai Pancasila Sebagai Penanaman Karakter Belajar Bagi Siswa SD dalam Pembelajaran Daring

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI