Penguatan Literasi Membaca dan Literasi Budaya Siswa untuk Mendukung Merdeka Belajar di Sekolah Dasar

literasi budaya siswa
Foto: Dok. MMI

Ringkasan

Kurikulum Merdeka Belajar hadir sebagai sebuah inovasi transformasional dalam sistem pendidikan Indonesia, yang dirancang dengan filosofi inti untuk menghormati dan memaksimalkan keunikan setiap peserta didik.

Berbeda dengan pendekatan kurikulum yang seragam, kurikulum ini memberikan keleluasaan dan otonomi yang signifikan bagi siswa. Hal ini memungkinkan mereka untuk menjelajahi dan mengembangkan kompetensi secara lebih mendalam, sesuai dengan profil kemampuan, kecenderungan minat, dan bakat alamiah yang mereka miliki.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil literasi membaca dan literasi budaya di sekolah dasar sebagai bagian dari implementasi Kurikulum Merdeka. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif, yang memungkinkan peneliti untuk menggambarkan secara mendalam kondisi literasi siswa dan guru di lapangan.

Subjek penelitian terdiri dari 26 siswa kelas IV dan kelas V sekolah dasar serta 8 guru. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, tes literasi, dan angket yang dirancang untuk mengukur tingkat pemahaman, minat, serta penerapan literasi dalam kegiatan belajar mengajar.

Hasil penelitian diperoleh literasi membaca siswa paling unggul pada indikator Personal (88.5%) yaitu dengan kategori sangat tinggi. Sedangkan literasi budaya pada indikator Basis Budaya Sekolah menunjukkan kategori tinggi, yaitu dengan persentase 82.3%. Saran yang dapat diajukan dalam penelitian ini yaitu meningkatkan partisipasi orang tua dan masyarakat dalam penerapan literasi.

Kata Kunci: Literasi Membaca, Literasi Budaya, Kurikulum Merdeka

Pendahuluan

1.1 Analisis Situasi

Kekuatan sistem Pendidikan di Indonesia terletak pada SDM yang unggul (Primayana, 2019). Kebijakan merdeka belajar merupakan langkah untuk mentransformasikan pendidikan demi terwujudnya SDM unggul.

Implementasi kurikulum Merdeka memiliki tujuan yaitu mempersiapkan individu agar memiliki pribadi yang produktif, kritis, kreatif dan inovatif (Lince, 2022).

Sehingga Kurikulum Merdeka ini menekankan pada penguatan profil pelajar Pancasila serta penguatan literasi. Literasi dijadikan sebagai prioritas nasional adalah wujud untuk membentuk masyarakat yang literat (Laura, et.al., 2007).

Literasi tersebut dapat dicapai apabila pembelajaran dirancang secara tepat dan dapat mengakomodasi berbagai kompetensi yang dimiliki oleh siswa.

Literasi merupakan kemampuan dasar yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan belajar (kemampuan memahami, menggunakan, dan mengevaluasi teks tertulis).

Beberapa fakta dan beragam survei di tingkat nasional dan internasional secara konsisten, dari tahun ke tahun, menunjukkan bidang tersebut tidak mengalami peningkatan signifikan bahkan cenderung menurun. 

Pengembangan literasi di sekolah dasar sangat penting karena menjadi dasar bagi pembelajaran seumur hidup dan kesuksesan akademis. Kecakapan literasi individu perlu ditumbuhkembangkan mulai sejak dini.

Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang masuk sekolah dasar dengan kemampuan literasi awal yang kuat memiliki kemungkinan lebih besar untuk berhasil secara akademis (Taş & Minaz, 2022). 

Hal ini dapat dicapai melalui program-program yang ditargetkan yang berfokus pada kesadaran fonemik, pengembangan kosa kata, dan strategi pemahaman.

Kegiatan seperti sesi membaca nyaring, di mana guru mencontohkan cara membaca yang lancar dan melibatkan siswa dalam diskusi tentang teks, telah terbukti meningkatkan kemampuan literasi secara signifikan (Rini, 2018; Nurkaetiet al., 2019).

Literasi membaca merupakan salah satu yang menjadi fokus utama yang diukur dalam pembelajaran di sekolah. Literasi membaca merupakan hal yang penting dalam kehidupan sehari-hari.

Ini adalah persyaratan dasar penggunaan teks untuk tujuan pendidikan pribadi, informasi dan hiburan, dan pada akhirnya memungkinkan partisipasi sosial. Oleh karena itu, literasi membaca menjadi tujuan pendidikan terpenting di sekolah.

Meskipun demikian, penelitian skala besar secara konsisten menunjukkan bahwa banyak siswa mengalami kesulitan mencapai tujuan tersebut, dan proporsinya meningkat setiap tahun (Nora Heyne, et.al., 2023).

Berbagai strategi dan upaya telah diimplementasikan untuk meningkatkan literasi membaca siswa di sekolah. Strategi tersebut mencakup integrasi kegiatan literasi dalam kurikulum, peningkatan kompetensi guru dalam pembelajaran berbasis literasi, serta pengoptimalan lingkungan belajar yang mendukung budaya membaca.

Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan kemampuan literasi siswa dapat berkembang secara komprehensif, baik dari aspek pemahaman teks maupun kemampuan berpikir kritis.

Sejak tahap paling fundamental dalam perjalanan akademik seorang anak, yaitu sekolah dasar, institusi pendidikan memikul peran yang amat strategis dan krusial dalam menanamkan beragam fondasi literasi.

Di samping literasi baca-tulis dan numerasi yang telah lama menjadi fokus, saat ini literasi budaya mulai mencuat sebagai pilar utama yang tidak kalah pentingnya dalam proses pembelajaran. Integrasi literasi budaya ke dalam kurikulum dan kegiatan belajar-mengajar bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan sebuah kebutuhan mendesak.

Hal ini dilandasi oleh realitas yang memprihatinkan: pengetahuan dan pemahaman siswa mengenai kekayaan budaya lokal di daerahnya sendiri menunjukkan tren penurunan yang signifikan.

Di tengah gempuran arus globalisasi yang tak terbendung, pengaruh budaya asing dengan mudahnya menyusup ke dalam kehidupan sehari-hari generasi muda melalui media sosial, platform streaming film, dan konten internet yang serba instan.

Akibatnya, tidak jarang kita jumpai siswa-siswa yang lebih fasih menyanyikan lagu-lagu populer dari mancanegara, lebih mengidolakan bintang film luar, dan lebih mengenal tradisi asing dibandingkan dengan seni, lagu daerah, cerita rakyat, serta adat istiadat bangsanya sendiri.

Kondisi ini bukannya tanpa risiko; ia menimbulkan kekhawatiran yang mendalam akan semakin pudarnya nilai-nilai luhur budaya lokal dan terkikisnya identitas kebangsaan, yang pada akhirnya dapat melonggarkan ikatan sosial dan nasionalisme di kalangan generasi penerus.

Oleh karena itu, upaya sistematis untuk memperkenalkan dan menanamkan nilai-nilai budaya lokal Indonesia harus dimulai sedini mungkin, tepatnya pada jenjang sekolah dasar. Pada fase emas inilah karakter dan jati diri anak mulai terbentuk.

Tujuannya tidak hanya sekadar agar siswa mengetahui nama-nama tarian atau rumah adat, tetapi lebih dari itu, agar mereka dapat menghargai, melestarikan, dan pada akhirnya merasa bangga terhadap warisan budaya yang merupakan khazanah tak ternilai milik bangsa.

Ruang lingkup literasi budaya pun bersifat multidimensi; ia tidak hanya mencakup pengetahuan faktual tentang kesenian, upacara adat, pakaian tradisional, atau bahasa daerah, tetapi juga menjadi media untuk menanamkan sikap-sikap terpuji seperti toleransi, semangat gotong royong, rasa hormat, dan cinta tanah air.

Dengan bekal pemahaman yang mendalam tentang budayanya sendiri, siswa diharapkan tidak menjadi tertutup, melainkan justru mampu bersikap terbuka, kritis, dan selektif dalam menerima pengaruh budaya lain tanpa harus kehilangan jati diri sebagai warga negara Indonesia.

Lebih jauh lagi, literasi budaya memiliki kaitan yang erat dan sinergis dengan literasi kewargaan. Literasi budaya dapat dipahami sebagai kemampuan individu untuk memahami, mengapresiasi, dan berperilaku selaras dengan nilai-nilai kebudayaan Indonesia yang menjadi salah satu pilar utama identitas bangsa.

Sementara itu, literasi kewargaan adalah kemampuan untuk memahami hak dan kewajiban, serta peran aktif sebagai warga negara dalam konteks kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kedua literasi ini bagai dua sisi mata uang yang saling melengkapi dan memperkuat.

Literasi budaya memberikan “jiwa” dan “roh” kebangsaan, sementara literasi kewargaan memberikan “kerangka” dan “tanggung jawab” dalam bernegara.

Bersama-sama, keduanya menuntun setiap individu untuk menjadi pribadi yang bijaksana, bertanggung jawab, dan mampu berpartisipasi secara aktif dan positif dalam membangun masyarakat.

Literasi budaya dan kewargaan menjadi hal yang penting untuk dikuasai di abad ke-21. Hal ini dikarenakan keberagaman suku bangsa, bahasa, kebiasaan, adat istiadat mulai diusik oleh sebagai kaum atau kelompok yang tidak menginginkan adanya perbedaan dan ingin mengurai kekayaan budaya yang dimiliki oleh bangsa ini.

Literasi budaya dan kewargaan dapat juga menjadi toleransi pemahaman akan perbedaan-perbedaan yang menjadi ciri tak terhindarkan dari bangsa Indonesia.

Dengan kata lain, literasi budaya dan kewargaan akan mendorong terciptanya masyarakat Indonesia yang menganut paham multikulturalisme seutuhnya, yaitu masyarakat yang berlandaskan pada kesadaran untuk menghargai dan menghormati perbedaan.

Literasi budaya dan kewargaan sedang diupayakan pemerintah agar dapat diimplementasikan dalam pendidikan Indonesia. 

Harapannya, seluruh elemen yang terlibat yaitu siswa, guru, orang tua, serta seluruh masyarakat mampu bekerja sama dalam mengembangkan berbagai aspek dari literasi budaya dan kewargaan, salah satunya aspek keterampilan sosial bagi siswa sekolah dasar (Ahsani & Nur, 2021).

Pada saat ini siswa sekolah dasar harus memiliki kemampuan dalam mengenal budaya dari mana mereka berasal, agar mampu menyesuaikan diri terhadap kebudayaan yang ada, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh kebudayaan bangsa lain.

Selain itu, literasi budaya dan kewargaan juga diharapkan mampu memberikan pendidikan karakter terhadap siswa sekolah dasar.

Karena sekolah dasar merupakan jenjang pendidikan formal pertama yang akan menentukan arah pengembangan siswa, maka pendidikan karakter sangat penting diberikan agar siswa memiliki bekal perilaku yang baik pada jenjang berikutnya (Wuryandani Wuri, et al., 2021).

Upaya pemerintah dan sekolah dalam menumbuhkan literasi budaya dan kewargaan diintegrasikan dalam berbagai kegiatan (Safitri & Zaka, 2022).

Beberapa kegiatan yang telah dilakukan yaitu menyediakan buku bacaan yang berisi tentang cerita rakyat, membentuk komunitas kebudayaan, menggunakan pakaian adat pada hari tertentu, mengintegrasikan dalam pembelajaran di kelas, mengenalkan berbagai kebudayaan pada kegiatan pentas seni, dan lain sebagainya.

Kemampuan untuk mengetahui keragaman dan kewajiban sebagai masyarakat dari suatu bangsa ialah kecekatan yang layak dikuasai oleh setiap individu di zaman modernisasi. 

Oleh sebab itu, literasi budaya sangat penting diberikan di sekolah, literasi budaya bukan sekadar melindungi dan mengembangkan budaya nasional dan lokal, melainkan membentuk individualitas bangsa Indonesia di tengah masyarakat, supaya tetap menyayangi dan melestarikan budaya literasi (Sari & Supriyadi, 2021).

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui profil literasi membaca dan literasi budaya siswa sekolah dasar dalam mendukung kurikulum Merdeka belajar sehingga dapat diketahui kegiatan di sekolah yang sudah dilakukan apakah mampu mendukung Gerakan Literasi Sekolah yang sudah dicanangkan oleh pemerintah.

1.2 Permasalahan Mitra

Berdasarkan analisis situasi diatas maka ditemukan beberapa permasalahan mitra yaitu:

  1. Minat membaca dan kemampuan memahami teks siswa yang masih rendah
  2. Menurunnya pengetahuan tentang budaya lokal dikarenakan kegiatan literasi yang dilakukan di sekolah masih terbatas
  3. Dukungan yang diberikan oleh keluarga dan masyarakat bagi siswa masih kurang.

Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui profil literasi membaca dan literasi budaya siswa sekolah dasar dalam mendukung kurikulum merdeka belajar sehingga dapat diketahui kegiatan di sekolah yang sudah dilakukan apakah mampu mendukung Gerakan Literasi Sekolah yang sudah dicanangkan oleh pemerintah.

Solusi dan Target Luaran

Solusi yang Ditawarkan

Untuk mengatasi setiap permasalahan dihadapi oleh para guru-guru SD Swasta HKBP Teladan Medan, Untuk meningkatkan kemampuan dan minat membaca siswa, beberapa langkah strategis dapat dilakukan, antara lain: Membangun budaya membaca di lingkungan sekolah, Meningkatkan kompetensi guru dalam pembelajaran literasi, Mengintegrasikan literasi membaca ke dalam semua mata Pelajaran, dan Melibatkan orang tua dan masyarakat dalam mendukung budaya literasi.

Hal ini sejalan beberapa hasil riset terdahulu yang relevan atau berhubungan dengan judul PKM yang dilakukan oleh tim PKM yaitu Tety Nur Cholifah dengan Judul “Profil Literasi Membaca dan Literasi Budaya Siswa dalam Mendukung Penerapan Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar” dengan hasil penelitian yang menunjukkan persentase ketercapaian yang tinggi dalam pelaksanaan literasi membaca dan literasi budaya.

Dengan adanya pengabdian ini diharapkan sekolah lebih memperbanyak kegiatan-kegiatan literasi dan mendukung secara penuh.

Mengingat penguatan literasi membaca dan literasi budaya di sekolah dasar merupakan bagian integral dari pelaksanaan Kurikulum Merdeka yang berorientasi pada pembentukan peserta didik yang mandiri, bernalar kritis, kreatif, dan berkarakter Pancasila.

Melalui strategi yang terarah serta dukungan dari guru, orang tua, dan masyarakat, diharapkan tercipta ekosistem sekolah yang kaya akan budaya literasi dan menjadi fondasi kuat bagi generasi penerus bangsa.

Target Luaran

Target luaran yang akan dihasilkan dari kegiatan pengabdian ini yaitu:

Bidang Literasi Target Luaran Jangka Panjang
Literasi Membaca – Terbentuknya budaya membaca yang berkelanjutan di sekolah.
– Peningkatan kemampuan berpikir kritis, analitis, dan reflektif siswa.
– Sekolah menjadi lingkungan literasi yang aktif dan inspiratif.
Literasi Budaya – Terbentuknya generasi muda yang bangga terhadap identitas budaya bangsa.
– Sekolah menjadi pusat pelestarian dan pengembangan budaya lokal.
– Penguatan karakter dan nilai kebangsaan di kalangan siswa.

Metode Pelaksanaan

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2025 di Sekolah SDS HKBP Teladan Medan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif sederhana.

Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas 4 dan kelas 5 sekolah dasar di SDS HKBP Teladan Medan. Sampel penelitian adalah 25 orang siswa dan guru sekolah dasar sebanyak 8 orang.

Desain penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar wawancara, soal tes literasi membaca dan angket literasi budaya.

Indikator literasi membaca terdapat pada Tabel 1. Sedangkan indikator untuk literasi budaya terdapat pada Tabel 2. Analisis data menggunakan analisis deskriptif kuantitatif untuk mengolah data yang diperoleh dalam bentuk persentase. Data yang telah terkumpul kemudian dilakukan penilaian (setiap pertanyaan memiliki skor 0-4).

Setelah penskoran dilakukan kemudian dilakukan analisis dalam bentuk persentase dengan tujuan untuk memudahkan penentuan dominasi siswa dalam literasi membaca dan literasi budaya dengan menggunakan rumus berikut:

Tabel 1. Indikator Literasi Membaca

No. Indikator Uraian
1. Teks Informasi Teks yang bertujuan untuk memberikan fakta, data, dan informasi dalam rangka pengembangan wawasan serta ilmu pengetahuan yang bersifat ilmiah
2. Teks Fiksi Teks yang bertujuan untuk memberikan pengalaman mendapatkan hiburan, menikmati cerita, dan melakukan perenungan kepada pembaca
3. Menemukan informasi Mencari, mengakses, serta menemukan informasi tersurat dari bacaan
4. Interpretasi dan integrasi Memahami informasi tersurat dan tersirat, memadukan interpretasi antarbagian teks untuk menghasilkan inferensi
5. Evaluasi dan refleksi Menilai kredibilitas, kesesuaian maupun keterpercayaan teks serta mampu mengaitkan isi teks dengan hal lain di luar teks
6. Personal Berkaitan dengan kepentingan diri secara pribadi

Tabel 2. Indikator Literasi Budaya dan Kewargaan di Sekolah

No Indikator Sub Indikator
1.  Basis Kelas
  1. Jumlah pelatihan tentang literasi budaya dan kewargaan untuk kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan 
  2. Intensitas pemanfaatan dan penerapan literasi budaya dan kewargaan dalam pembelajaran 
  3. Jumlah produk budaya yang dimiliki dan dihasilkan sekolah
2.  Basis Budaya Sekolah
  1. Jumlah dan variasi bahan bacaan bertema budaya dan kewargaan 
  2. Frekuensi peminjaman buku bertemakan budaya dan kewargaan di perpustakaan 
  3. Jumlah kegiatan sekolah yang berkaitan dengan budaya 
  4. Terdapat kebijakan sekolah yang dapat mengembangkan literasi budaya dan nilai-nilai kewargaan sekolah 
  5. Terdapat komunitas budaya di sekolah 
  6. Tingkat ketertiban siswa terhadap aturan sekolah 
  7. Tingkat toleransi siswa terhadap keberagaman yang ada di sekolah 
  8. Tingkat partisipasi aktif siswa dalam kegiatan sekolah
3.  Basis Masyarakat
  1. Jumlah sarana dan prasarana yang mendukung literasi budaya dan kewargaan 
  2. Tingkat keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam mengembangkan literasi budaya dan kewargaan

Data persentase yang telah diperoleh melalui analisis deskriptif dilakukan untuk memberikan gambaran secara umum mengenai profil literasi membaca dan literasi budaya siswa sekolah dasar.

Hasil perhitungan persentase keseluruhan komponen agar dapat memberikan makna dan pengambilan keputusan digunakan ketetapan yang terdapat pada Tabel 3 sebagai berikut.

Tabel 3. Kriteria Literasi Membaca dan Literasi Budaya

Tingkat Persentase (%) Kualifikasi
86-100 Sangat tinggi
76-86 Tinggi
60-75 Sedang
55-59 Rendah
≤54 Sangat rendah

Purwanto (2008)

Hasil dan Pembahasan

Hasil

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh yang terjadi pada table 4 dan 5 berikut. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas 4 dan 5 dan jumlah keseluruhan adalah 26 siswa beserta 8 guru. 

Tabel 4. Rekap Skor Total per Indikator (0–4 per siswa)

No Indikator Skor Diperoleh Persentase
1. Teks Informasi 82 78.8%
2. Teks Fiksi 86 82.7%
3. Menemukan Informasi 74 71.2%
4. Interpretasi & Integrasi 69 66.3%
5. Evaluasi & Refleksi 58 55.8%
6. Personal 92 88.5%

Dari data diatas dapat diinterpretasikan bahwa siswa paling unggul pada indikator Personal (88.5%, sangat tinggi) menunjukkan bahwa mereka sangat mampu mengaitkan bacaan dengan pengalaman pribadi. Kemampuan memahami teks fiksi dan teks informasi berada pada kategori tinggi (78–82%).

Kemampuan evaluasi dan refleksi termasuk rendah (55.8%), artinya kemampuan menilai kredibilitas teks masih lemah. Dan Interpretasi dan integrasi serta menemukan informasi berada pada kategori sedang, menunjukkan kemampuan memahami isi bacaan masih perlu latihan. 

Selanjutnya hasil analisis literasi budaya pada tabel 5 dibawah ini adalah sebagai berikut:

Tabel 5. Rekap Skor Literasi Budaya

Indikator Skor Diperoleh Persentase
1. Basis Kelas 104 76.5%
2. Basis Budaya Sekolah 112 82.3%
3. Basis Masyarakat 88 64.7%

Dari data diatas dapat kita interpretasikan yaitu Basis Budaya Sekolah menunjukkan kategori tinggi, artinya sekolah sudah menyediakan bahan bacaan budaya, kegiatan budaya, serta aturan yang mendukung nilai-nilai budaya.

Basis Kelas juga berada pada kategori tinggi, menunjukkan guru cukup intens menerapkan literasi budaya dalam pembelajaran.

Dan Basis Masyarakat berada pada kategori sedang; dukungan orang tua dan masyarakat masih kurang maksimal.

Hasil penelitian berdasarkan data pada Tabel 4, profil kemampuan literasi baca siswa dapat yaitu Kekuatan Utama: Siswa menunjukkan kemampuan terbaik pada indikator Personal (88,5%/sangat tinggi).

Hal ini mengindikasikan bahwa mereka sangat terampil dalam menghubungkan isi bacaan dengan pengalaman, perasaan, dan kehidupan pribadi mereka.

Hal ini sejalan dengan tingginya kemampuan mengaitkan teks dengan pengalaman pribadi sesuai dengan penelitian Kemendikbud (2017) dalam Panduan Gerakan Literasi Nasional, yang menyebutkan bahwa pendekatan personal adalah pintu masuk yang efektif untuk membangun minat baca siswa.

Kemampuan Memadai: Pemahaman pada Teks Fiksi (82,7%) dan Teks Informasi (78,8%) berada pada kategori tinggi, menunjukkan fondasi membaca yang cukup baik.

Area Perlu Penguatan: Beberapa indikator kritis justru menunjukkan hasil yang perlu ditingkatkan: a) Evaluasi & Refleksi (55,8%/rendah) menjadi titik lemah terbesar. Ini mengungkapkan bahwa kemampuan siswa dalam menilai kredibilitas, ketepatan, dan dampak dari sebuah teks masih sangat terbatas. b) Interpretasi & Integrasi (66,3%) dan Menemukan Informasi (71,2%) yang berada di kategori sedang mencerminkan bahwa kemampuan analisis mendalam dan penyaringan informasi inti dari bacaan masih memerlukan latihan yang lebih terstruktur.

Hal ini sejalan dengan temuan OECD dalam PISA (2018) yang mengidentifikasi bahwa siswa di banyak negara, termasuk Indonesia, sering kali kesulitan dalam menilai kualitas dan kebenaran informasi, sebuah keterampilan yang krusial di era informasi digital.

Data dari Tabel 5 mengenai literasi budaya memberikan gambaran yaitu Dukungan Internal Kuat: Basis Budaya Sekolah (82,3%/tinggi) dan Basis Kelas (76,5%/tinggi) menunjukkan bahwa sekolah telah berupaya menciptakan ekosistem yang mendukung literasi budaya melalui ketersediaan bahan bacaan, integrasi dalam pembelajaran, dan kegiatan-kegiatan bernuansa budaya.

Dan dukungan Eksternal Terbatas: Basis Masyarakat (64,7%/sedang) merupakan indikator dengan skor terendah. Temuan ini mengisyaratkan bahwa peran serta orang tua dan masyarakat sekitar dalam memperkuat nilai-nilai budaya di luar sekolah belum optimal dan menjadi tantangan.

Pola di mana dukungan institusi sekolah kuat tetapi peran masyarakat lemah memperkuat argumen Sutarno (2018) dalam penelitiannya tentang Pembudayaan Literasi.

Ia menyimpulkan bahwa keberhasilan literasi budaya sering terhambat oleh kurangnya sinergi antara tripusat pendidikan (sekolah, keluarga, masyarakat). Penelitian ini di SDS HKBP Teladan Medan menjadi contoh nyata dari fragmentasi tersebut.

Biaya dan Jadwal

Biaya

No Mata Anggaran Uraian Jumlah (Rp)
1. Honorarium Honorarium untuk Narasumber dan pelaksana kegiatan (sesuai dengan ketentuan maksimum 15%) Rp400.000
2. Pembelian bahan habis pakai Berupa komponen dan/atau material dasar untuk bahan pembuatan alat/mesin/produk teknologi lainnya (minimal 60%) Rp250.000
3. Belanja Perjalanan Lainnya Perjalan untuk sosialisasi/pelatihan/pendampingan, akomodasi-konsumsi, lumsum, transportasi Bukan untuk Perjalan Luar Negeri (maksimum 15%) Rp250.000
4. Belanja Lain- lain. Sewa peralatan, publikasi, pembelian ATK, Fotocopy, Cetak, Penjilid dan sewa lahan untuk demlot (10%) Rp100.000
Jumlah Rp1.000.000

Jadwal

Jadwal pelaksanaan Penelitian disusun dengan mengisi langsung tabel berikut dengan memperbolehkan penambahan baris sesuai banyaknya kegiatan.

No Nama Kegiatan Tahun 2026 Tahun 2025
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1. Pembuatan Proposal Penelitian
2. Persiapan Bahan dan Alat
3. Pelaksanaan Kegiatan Penelitian
4. Laporan Hasil Kegiatan

Penulis:
1. Karmila Bru Sebayang
2. Eni Yusnita Br Pardede
3. Ernita Simatupang
4. Atria Swandi Manihuruk
Dosen dan Mahasiswa Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Quality


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Daftar Pustaka

Ahsani, Eva Luthfi Fakhru, And Nur Rufidah Azizah. “Implementasi Literasi Budaya Dan Kewargaan Untuk Mengembangkan Keterampilan Sosial Siswa Madrasah Ibtidaiyah Di Tengah Pandemi.” Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan 11, No. 01 (June 3, 2021). Https://Doi.Org/10.20527/Kewarganegaraan.V11i01.10317.

Cholifah, Tety Nur. (2024). Profil Literasi Membaca dan Literasi Budaya Siswa dalam Mendukung Penerapan Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar. Al-Madrasah: Jurnal Ilmiah Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah, Vol. 8, No. 1, 2024, 10.35931/am.v8i1.2941

Heyne, Nora, Timo Gnambs, Kathrin Lockl, And Nora Neuenhaus. “Predictors Of Adolescents’ Change In Reading Literacy: The Role Of Reading Strategies, Reading Motivation, And Declarative Metacognition.” Current Psychology 42, No. 36 (December 2023). https://Doi.Org/10.1007/S12144-022-04184-7.

Laura Pinto, Megan Boler, and Trevor Norris, “Literacy Is Just Reading and Writing, Isn’t It? The Ontario Secondary School Literacy Test and Its Press Coverage,” Policy Futures in Education 5, no. 1 (March 1, 2007), https://doi.org/10.2304/pfie.2007.5.1.84.

Lince, Leny. “Implementasi Kurikulum Merdeka Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Pada Sekolah Menengah Kejuruan Pusat Keunggulan.” Prosiding Seminar Nasional Fakultas Tarbiyah Dan Ilmu Keguruan Iaim Sinjai 1, No. 1 (May 19, 2022): 38–49. https://Doi.Org/10.47435/Sentikjar.V1i0.829.

Primayana, K. H. (2019). Menciptakan Pembelajaran Berbasis Pemecahan Masalah Dengan Berorientasi Pembentukan Karakter Untuk Mencapai Tujuan Higher Order Thinking Skills (Hots) Pada Anak Sekolah Dasar. Purwadita: Jurnal Agama Dan Budaya, 3(2), 85–92. http://Jurnal.Stahnmpukuturan.Ac.Id/Index.Php/Purwadita

Purwanto. Metodologi Penelitian Kuantitatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008.

Safitri, Syelviana, And Zaka Hadikusuma Ramadan. “Implementasi Literasi Budaya Dan Kewargaan Di Sekolah Dasar.” Mimbar Ilmu 27, No. 1 (April 25, 2022). https://Doi.Org/10.23887/Mi.V27i1.45034.

Sari, Dwi Arum, And Supriyadi Supriyadi. “Penguatan Literasi Budaya Dan Kewargaan Berbasis Sekolah Di Sekolah Menengah Pertama.” Jurnal Citizenship: Media Publikasi Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan 4, No. 1 (January 31, 2021). https://Doi.Org/10.12928/Citizenship.V4i1.19409.

Wuryandani, Wuri, Bunyamin Maftuh, Sapriya, And Dasim Budimansyah. “Pendidikan Karakter Disiplin Di Sekolah Dasar.” Jurnal Cakrawala Pendidikan 2, No. 2 (August 17, 2014). https://Doi.Org/10.21831/Cp.V2i2.2168.

Gambaran Iptek

Penguatan literasi membaca dan budaya di sekolah dasar telah berevolusi dengan mengintegrasikan Ilmu Pengetahuan (IP) dan Teknologi (TEK) dalam sebuah kerangka yang holistik.

Peran Ilmu Pengetahuan membentuk fondasi berpikir kritis dan analitis, di mana siswa tidak hanya sekadar membaca, tetapi juga dilatih untuk mengolah informasi secara logis, membedakan fakta dan opini, serta memahami nilai-nilai budaya secara rasional sebagai hasil proses peradaban manusia.

Sementara itu, Teknologi berperan sebagai sarana yang mentransformasi kegiatan literasi menjadi lebih menarik, kontekstual, dan kolaboratif di era digital, melalui pemanfaatan e-book, aplikasi interaktif, kreasi konten budaya digital, serta platform pembelajaran daring.

Integrasi IPTEK ini selaras dengan semangat Kurikulum Merdeka, yang mendukung pembelajaran berdiferensiasi dan proyek berbasis Profil Pelajar Pancasila.

Sinergi antara IP dan TEK ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis-kreatif, menumbuhkan komunikasi digital yang positif, dan sekaligus menguatkan karakter serta identitas kebangsaan siswa.

Pada akhirnya, kolaborasi ini memberikan manfaat konkret: bagi literasi membaca, teknologi mempermudah akses dan melatih keterampilan membaca kritis yang adaptif; bagi literasi budaya, teknologi menjadi media modern untuk dokumentasi, apresiasi, dan pelestarian warisan budaya; dan bagi proses pembelajaran secara keseluruhan, IPTEK menghadirkan pengalaman belajar yang fleksibel, mandiri, kreatif, dan bermakna.

Peta Lokasi Mitra Sasaran

Lokasi mitra berada di Jl. Sempurna No.30 Medan, Medan Teladan Barat, Kec. Medan Kota, Kota Medan, Sumatera Utara.

literasi budaya siswa

Lampiran

1. Biodata Ketua dan Anggota Pengabdian

Ketua 
Nama

NIDN

Jabatan Fungsional

Jenis Kelamin

Tempat/Tanggal Lahir

No. HP

Email

: Karmila Bru Sebayang, S.Pd., M.Pd

: 0106069801

: –

: Perempuan

: Gunung Tinggi, 06 Juni 1998

: 082294097169

: sebayangkarmila21@gmail.com

Anggota 
Nama

NIDN

Jabatan Fungsional

Jenis Kelamin

Tempat/Tanggal Lahir

No. HP

: Eni Yusnita Br Pardede, S.Pd., M.Pd

: 0110069003

: –

: Perempuan

: Bukit Mas , 10- Juni – 1990

: 081360318355

Nama

NPM

Jabatan 

Jenis Kelamin

Tempat/Tanggal Lahir

No. HP

: Ernita Simatupang

: 2305030209

: Mahasiswa Universitas Quality

: Perempuan

: Jakarta, 20 Januari 2004

: 082287156694

Nama

NPM

Jabatan Fungsional

Jenis Kelamin

Tempat/Tanggal Lahir

No. HP

: Atria Swandi Manihuruk

: 2305030326

: Mahasiswa Universitas Quality

: Laki-laki 

: Tanjung Beringin, 17 November 2004

: 081265717870

2. Susunan Organisasi Tim Pengabdian dan Pembagian Tugas

No. Nama/NIDN/NPM Program Studi Uraian Tugas
1. Karmila Bru Sebayang, S.Pd., M.Pd/ 0106069801 PGSD Melakukan pelaksanaan seluruh program pengabdian mulai dari persiapan pengabdian, penentuan informan, pengumpulan data, penulisan draf laporan, hingga penyusunan laporan akhir.
2. Eni Yusnita Br Pardede, S.Pd., M.Pd/0110069003 PGSD Membantu pelaksanaan seluruh program pengabdian mulai dari persiapan pengabdian, penentuan informan, pengumpulan data, penulisan draf laporan, hingga penyusunan laporan akhir.
3. Ernita Simatupang /2305030209 PGSD Membantu pelaksanaan seluruh program pengabdian mulai dari persiapan pengabdian, penentuan informan, pengumpulan data, penulisan draf laporan, hingga penyusunan laporan akhir.
4. Atria Swandi Manihuruk / 2305030326 PGSD Membantu pelaksanaan seluruh program pengabdian mulai dari persiapan pengabdian, penentuan informan, pengumpulan data, penulisan draf laporan, hingga penyusunan laporan akhir.

Dokumentasi

literasi budaya siswa

literasi budaya siswa

literasi budaya siswa

literasi budaya siswa

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses