Mengintip Pesona Oro-Oro Ombo Lewat Kegiatan KKL: Desa Wisata dengan Potensi yang Terus Berkembang

Desa Wisata Oro-Oro Ombo

Bukan Sekadar Desa Wisata, Oro-Oro Ombo Tunjukkan Cara Desa Menggerakkan Ekonomi Masyarakat

Batu — Apa yang membuat sebuah desa mampu berkembang menjadi desa mandiri? Bukan hanya soal pemandangan atau potensi wisata, tetapi juga bagaimana masyarakat dan pemerintah desa mampu mengelola potensi tersebut menjadi kekuatan ekonomi. Selasa (06/10/2026)

Gambaran itulah yang ditemui mahasiswa Program Studi Akuntansi UIN Sunan Ampel Surabaya saat melaksanakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di Desa Oro-Oro Ombo, Kota Batu.

Berada di kawasan pegunungan dengan potensi pertanian, peternakan, dan pariwisata, Oro-Oro Ombo memiliki perjalanan pembangunan yang cukup menarik. Desa ini bahkan ditetapkan sebagai Desa Mandiri pada 2021 setelah melalui berbagai upaya pembenahan tata kelola dan optimalisasi potensi lokal.

Dari Desa hingga Menjadi Destinasi yang Bernilai Ekonomi

Kegiatan KKL yang berlangsung di BUMDes Panderman diawali dengan penyambutan dan pembukaan bersama pihak desa. Setelah menyanyikan Indonesia Raya dan Hymne UIN Sunan Ampel Surabaya, kegiatan dilanjutkan dengan sambutan Kaprodi Akuntansi UINSA, Mazro’atus Sa’adah. M.Ag, dan Kepala Desa Oro-Oro Ombo, Wiweko.

Penandatanganan MoU antara Program Studi Akuntansi UINSA dan Desa Oro-Oro Ombo turut menjadi bagian penting dalam pembukaan. Setelah itu, mahasiswa diperkenalkan lebih jauh dengan desa melalui video profil sebelum memasuki sesi utama kegiatan.

Bagi mahasiswa, kunjungan ini bukan sekadar perjalanan ke destinasi wisata. Oro-Oro Ombo menjadi ruang belajar untuk melihat bagaimana sebuah desa mengubah potensi lokal menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.

BACA JUGA: Mahasiswa IAT UIN Salatiga Pelajari Harmoni Islam dan Budaya Tengger di Kawasan Bromo

Ketika Potensi Lokal Dikelola dengan Serius

Dalam sesi materi, mahasiswa mendapatkan gambaran mengenai perjalanan Oro-Oro Ombo dalam mengembangkan desa wisata dan membangun kemandirian ekonomi. Salah satu penggeraknya adalah keberadaan BUMDes Panderman yang menjadi bagian dari pengembangan ekonomi desa.

Pengelolaan desa juga tidak berhenti pada pengembangan wisata. Pemerintah desa melakukan perencanaan dan penganggaran sesuai kebutuhan serta memanfaatkan SISKEUDES dalam pengelolaan keuangan. Transparansi turut menjadi perhatian agar masyarakat dapat mengetahui penggunaan anggaran sekaligus ikut mengawasi pengelolaan keuangan desa.

Desa juga memanfaatkan aset dan potensi yang dimiliki melalui kerja sama dengan berbagai pihak. Kerja sama tersebut menghasilkan sumber pendapatan bagi desa sekaligus membuka kesempatan bagi masyarakat untuk ikut terlibat dalam aktivitas ekonomi dan pariwisata.

Bagi mahasiswa Akuntansi, hal tersebut menjadi gambaran nyata bahwa akuntansi tidak hanya berbicara mengenai angka. Di balik pencatatan, penganggaran, dan laporan keuangan, terdapat keputusan mengenai bagaimana sebuah desa mengelola aset dan sumber dayanya untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

Desa Wisata Oro-Oro Ombo

Melihat Potensi Desa dari Dekat

Setelah mendapatkan pemahaman melalui materi dan diskusi, mahasiswa diajak melihat potensi desa secara langsung. Kunjungan dilakukan ke kebun strawberry dan rest area yang menjadi bagian dari aktivitas ekonomi dan wisata di kawasan tersebut.

Di kebun strawberry, mahasiswa dapat melihat bagaimana potensi lingkungan dan pertanian dapat menjadi daya tarik wisata. Sementara itu, kunjungan ke rest area memberikan gambaran mengenai bagaimana kawasan yang berada di jalur wisata dapat dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas ekonomi.

Pengalaman tersebut membuat kegiatan KKL terasa berbeda dari pembelajaran di ruang kelas. Mahasiswa tidak hanya mendengar bagaimana sebuah desa mengembangkan potensinya, tetapi juga dapat melihat bentuk pemanfaatannya secara langsung.

Satu Kunjungan, Banyak Pelajaran

Suasana kegiatan berlangsung aktif dan interaktif. Sesi tanya jawab memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menggali lebih jauh pengalaman pihak desa dan narasumber dalam mengelola potensi ekonomi. Sementara kunjungan lapangan membuat mahasiswa dapat menghubungkan materi yang diperoleh dengan kondisi nyata di masyarakat.

Bagi mahasiswa Akuntansi, pengalaman tersebut menjadi pembelajaran bahwa ilmu yang selama ini dipelajari di bangku kuliah memiliki ruang penerapan yang luas. Pengelolaan keuangan, pencatatan, transparansi, hingga pengelolaan aset ternyata memiliki kaitan erat dengan bagaimana sebuah desa berkembang dan membangun kemandirian ekonominya.

KKL di Oro-Oro Ombo akhirnya tidak hanya meninggalkan cerita tentang perjalanan ke Kota Batu. Lebih dari itu, mahasiswa pulang dengan perspektif baru bahwa desa dapat menjadi ruang tumbuhnya ekonomi masyarakat ketika potensi lokal dikelola dengan tata kelola yang baik. Pembelajaran tersebut menjadi pengalaman yang menghubungkan teori di ruang kelas dengan realitas yang ditemui langsung di lapangan.


Penulis:
1. Nadim Dafa’ Al Hazim (08020224061)
2. Ahmad Mu’ti Labib (08040224093)
3. Rizka Isfatul Aflaha (08020224079)
4. Valeri Septa Anggra Haryadi (08020224084)
5. Riris Aurelia (08020224078)
6. Reva Dita Avrilia (08020224076)
7. Shella Shindi Anora (08020224082)
8. Rahma Lailatul Qodriyah (08020224075)
9. Sania Lutfiana Putri Sofiya (08020224080)
10. Uswatun Hasanah (08020224083)
11. Schatzi Bulan Estreda Priambodo (08020224081)
Mahasiswa Program Studi Akuntansi, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya


Dosen Pengampu: Dr. Mazro’atus Sa’adah, M.Ag.


Editor: Darsono. AR

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *