Pernah membuka media sosial hanya untuk melihat-lihat, tetapi beberapa menit kemudian sudah memasukkan barang ke keranjang? Apalagi kalau ada tulisan “diskon”, “gratis ongkir”, atau “flash sale”. Tanpa sadar, scroll bisa berubah menjadi belanja.
Fenomena sederhana ini menunjukkan bagaimana teknologi telah mengubah cara kita menjalankan aktivitas ekonomi. Dulu, kita harus datang ke pasar atau toko. Sekarang, cukup menggunakan telepon seluler, barang dapat dibeli kapan saja dan di mana saja.
Namun, di tengah perkembangan ekonomi digital tersebut, menarik untuk melihat kembali pemikiran seorang tokoh Muslim yang hidup berabad-abad sebelum internet ditemukan: Ibnu Khaldun.
Dari Pasar ke Marketplace
Ibnu Khaldun merupakan salah satu pemikir penting dalam sejarah pemikiran ekonomi Islam. Dalam karyanya, Muqaddimah, ia membahas berbagai persoalan kehidupan masyarakat, termasuk pekerjaan, produksi, perdagangan, harga, pembagian kerja, dan perpajakan.
Meskipun tidak pernah mengenal marketplace, pemikirannya tetap menarik untuk melihat ekonomi masa kini.
Cara transaksi memang berubah, tetapi kegiatan dasarnya tetap sama. Manusia bekerja untuk menghasilkan barang dan jasa, kemudian melakukan pertukaran untuk memenuhi kebutuhan.
Ketika kita memesan makanan melalui aplikasi, misalnya, ada penjual yang menyiapkan makanan dan pengemudi yang mengantarkannya.
Begitu juga dengan belanja online. Ada produsen, pekerja, penjual, pengemas, hingga kurir yang terlibat sebelum barang sampai ke tangan konsumen.
Artinya, di balik kemudahan satu kali klik, terdapat banyak tenaga manusia.
Ketika Diskon Membuat Kita Terus Belanja
Ekonomi digital memberikan kemudahan, tetapi juga membuat konsumsi semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Iklan dan rekomendasi produk terus muncul di media sosial, sementara berbagai promo membuat kita merasa harus segera membeli.
Masalahnya, sesuatu yang murah belum tentu sesuatu yang kita butuhkan.
Di sinilah kita perlu melihat kegiatan ekonomi secara lebih sadar. Pertumbuhan ekonomi memang dapat dilihat dari banyaknya transaksi dan barang yang terjual.
Namun, kesejahteraan manusia tidak seharusnya hanya diukur dari seberapa banyak seseorang membeli atau seberapa besar keuntungan yang diperoleh.
Pemikiran Ibnu Khaldun mengingatkan bahwa kegiatan ekonomi berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat. Produksi dan perdagangan melibatkan manusia, tenaga, serta hubungan sosial di dalamnya.
Ekonomi Tumbuh, Siapa yang Menikmatinya?
Ekonomi digital juga membuka peluang baru. Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dapat menjangkau konsumen yang lebih luas tanpa harus memiliki toko besar. Seseorang bahkan dapat memulai usaha dari rumah melalui media sosial dan marketplace.
Namun, perkembangan tersebut juga menghadirkan tantangan. Persaingan semakin ketat, penjual harus bersaing dalam harga dan promosi, sementara pekerja di sektor digital menghadapi perubahan pola kerja dan pendapatan.
Karena itu, ketika melihat ekonomi tumbuh, kita tidak cukup hanya bertanya, “Berapa besar keuntungannya?”
Kita juga perlu bertanya, “Siapa yang menikmati hasilnya?”
Pertanyaan tersebut membuat pemikiran Ibnu Khaldun tetap relevan. Ekonomi tidak hanya berbicara tentang uang dan keuntungan, tetapi juga tentang bagaimana aktivitas ekonomi memengaruhi kehidupan masyarakat.
Belajar dari Masa Lalu
Tentu saja, pemikiran Ibnu Khaldun tidak bisa diterapkan begitu saja pada ekonomi digital saat ini. Dunia telah berubah jauh. Namun, pemikirannya dapat menjadi bahan refleksi untuk melihat persoalan ekonomi modern.
Teknologi boleh berubah, pasar boleh berpindah dari ruang fisik ke layar ponsel, dan pembayaran semakin cepat. Tetapi satu hal tetap sama: ekonomi pada akhirnya berbicara tentang manusia.
Jadi, lain kali ketika kita sedang scroll, belanja, lalu bayar, jangan hanya melihat apa yang masuk ke keranjang. Cobalah melihat juga manusia dan proses yang berada di balik setiap transaksi.
Sebab ekonomi yang baik bukan hanya tentang seberapa banyak yang berhasil dijual, tetapi juga tentang seberapa luas manfaat yang dapat dirasakan oleh masyarakat.
Referensi
• Benić, Đ. (2016). Ibn Khaldun: Economic Thoughts in the Muqaddimah. Ekonomski pregled, 67(5), 462–488.
• Ogunbado, A. F., & Zein, I. M. (2009). Economic Theories of Ibn Khaldun from His Great Work, Muqaddimah. Al-Risala, 9(9), 69–88.
• Ibn Khaldun. (2005). The Muqaddimah: An Introduction to History. Princeton University Press.
Penulis: Savina Rahma Alia
Mahasiswa Program Studi Ilmu Ekonomi Syariah, Institut Pertanian Bogor University
Dosen Pengampu: Dr. Asep Nurhalim Lc., M.I.R.K.
Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















