Ketika seorang anak hadir dalam kehidupan orang tua, ada begitu banyak harapan yang ikut tumbuh. Orang tua membayangkan anak dapat tumbuh sehat, berkomunikasi dengan baik, bersekolah, memiliki teman, dan suatu hari nanti mampu menjalani kehidupannya secara mandiri.
Namun, perjalanan itu tidak selalu berjalan seperti yang dibayangkan. Ketika orang tua mengetahui bahwa anaknya mengalami gangguan pendengaran, kehidupan keluarga dapat memasuki sebuah fase baru.
Ada proses menerima, memahami kondisi anak, mencari informasi, memilih teknologi pendengaran, mendampingi terapi, memikirkan pendidikan, hingga mempersiapkan masa depan anak. Di tengah semua itu, ada satu hal yang sering terlupakan: bagaimana kondisi orang tua itu sendiri?
Menjadi orang tua anak dengan gangguan pendengaran bukan berarti seseorang selalu kuat dan siap menghadapi segala sesuatu. Ada hari ketika orang tua merasa optimis melihat perkembangan anak. Namun, ada pula hari ketika mereka merasa lelah, khawatir, bingung, bahkan mempertanyakan apakah dirinya sudah melakukan yang terbaik.
Penggunaan alat bantu dengar atau implan koklea, misalnya, bukan berarti perjalanan langsung selesai. Teknologi merupakan salah satu bagian dari proses. Anak tetap membutuhkan stimulasi dan lingkungan komunikasi yang mendukung.
Pada banyak keluarga, orang tua juga perlu terlibat dalam proses terapi dan latihan komunikasi sehari-hari. Rutinitas tersebut membutuhkan waktu, energi, perhatian, dan komitmen.
Belum lagi ketika orang tua harus menghadapi persoalan biaya, perawatan alat, jadwal terapi, kebutuhan pendidikan, atau komentar dari lingkungan sekitar.
Penelitian mengenai orang tua anak dengan gangguan pendengaran menunjukkan bahwa pengasuhan dapat berkaitan dengan stres dan berbagai tantangan psikologis.
Sebuah systematic review mengenai stres pada orang tua anak dengan hearing loss menunjukkan bahwa pengalaman pengasuhan dapat menjadi sumber tekanan, sementara strategi coping menjadi salah satu aspek penting dalam menghadapinya.
Namun, apakah tekanan tersebut berarti orang tua pasti memiliki kesehatan mental yang buruk? Jawabannya tidak sesederhana itu. Tidak semua orang tua merespons tantangan dengan cara yang sama.
Dua orang tua dapat menghadapi situasi yang hampir sama, tetapi memberikan respons yang berbeda. Ada orang tua yang merasa sangat terpukul ketika mengetahui kondisi anaknya. Ada yang membutuhkan waktu cukup panjang untuk menerima.
Baca Juga: Menambah Kesejahteraan Hidup dan Kesehatan Mental: Dengan Screening Pendengaran pada Bayi dan Anak
Ada pula yang secara perlahan mulai mencari informasi, bergabung dengan komunitas, belajar memahami kebutuhan anak, dan menemukan cara untuk menjalani kehidupan bersama kondisi tersebut. Perbedaan respons inilah yang membuat kita perlu melihat lebih jauh mengenai resiliensi.
Resiliensi sering kali dipahami secara sederhana sebagai ‘kemampuan untuk bangkit”’ Padahal, resiliensi bukan berarti seseorang tidak pernah menangis, tidak pernah lelah, atau selalu berpikir positif.
Resiliensi justru dapat dipahami sebagai kemampuan seseorang untuk beradaptasi ketika menghadapi kesulitan, menggunakan sumber daya yang dimiliki, mencari bantuan ketika diperlukan, dan menemukan cara untuk kembali menjalankan kehidupannya secara adaptif.
Dengan kata lain, orang yang resilien bukan berarti tidak pernah jatuh. Ia mungkin jatuh, tetapi memiliki kemampuan untuk mencari cara agar dapat melanjutkan perjalanan.
Resiliensi bukan berarti harus selalu kuat ada sebuah pemahaman yang menurut saya penting untuk diluruskan. Ketika berbicara tentang orang tua anak berkebutuhan khusus, kita sering mendengar kalimat seperti: “Orang tua harus kuat demi anak.”
Kalimat tersebut mungkin dimaksudkan sebagai dukungan. Namun, jika terus-menerus diterima sebagai tuntutan, orang tua justru dapat merasa bahwa dirinya tidak boleh lelah. Padahal, orang tua juga manusia. Mereka boleh merasa sedih. Boleh merasa lelah. Boleh merasa takut. Boleh mengatakan, “Hari ini aku tidak baik-baik saja.”
Dan meminta bantuan bukan berarti gagal menjadi orang tua. Justru kemampuan untuk menyadari keterbatasan diri dan mencari dukungan dapat menjadi bagian dari resiliensi.
Penelitian mengenai keluarga anak dengan disabilitas menunjukkan bahwa dukungan sosial dan resiliensi dapat menjadi sumber daya penting dalam menghadapi beban pengasuhan. Artinya, kemampuan orang tua untuk bertahan tidak hanya berasal dari dirinya sendiri, tetapi juga dari lingkungan yang mendukungnya.
Dari “Bertahan” menjadi “Bertumbuh”. Resiliensi juga menarik jika dikaitkan dengan konsep kesehatan mental. Kesehatan mental bukan hanya tentang tidak mengalami depresi, kecemasan, atau stres.
Kesehatan mental juga berkaitan dengan bagaimana seseorang mampu menjalani kehidupan, memiliki hubungan yang bermakna, memiliki tujuan, menerima dirinya, dan merasakan bahwa kehidupannya tetap memiliki nilai. Orang tua anak dengan gangguan pendengaran, perjalanan tersebut dapat menjadi proses yang sangat personal.
Awalnya mungkin ada pertanyaan: “Mengapa ini terjadi pada anak saya?” Kemudian berubah menjadi: “Apa yang bisa saya lakukan untuk membantu anak saya?” Dan pada suatu titik mungkin berkembang menjadi: “Apa yang bisa saya pelajari dari perjalanan ini?”.
Perubahan cara memandang pengalaman tersebut bukan berarti masalah yang dihadapi menjadi hilang. Namun, orang tua dapat menemukan cara baru untuk memaknai pengalaman tersebut. Di sinilah resiliensi dapat berperan.
Resiliensi bukan sesuatu yang hanya menjadi tanggung jawab orang tua. Lingkungan memiliki peran besar. Pasangan yang mau berbagi tugas. Keluarga yang memberikan dukungan. Terapis yang mendengarkan. Guru yang memahami kebutuhan anak. Komunitas orang tua yang saling menguatkan. Tenaga profesional yang memberikan informasi dengan cara yang mudah dipahami.
Hal-hal tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi orang tua yang sedang menjalani perjalanan panjang, dukungan seperti itu dapat memiliki arti yang besar.
Baca Juga: Perencanaan Progam Bimbingan dan Konseling untuk Anak Tunarungu Kelas V di SLB Raisya Puri
Penelitian mengenai peer support pada orang tua anak dengan disabilitas atau kondisi kesehatan kronis juga menunjukkan bahwa dukungan dari sesama orang tua merupakan salah satu pendekatan yang dapat membantu meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup.
Terkadang, orang tua tidak membutuhkan seseorang yang langsung memberikan solusi. Mereka hanya membutuhkan seseorang yang berkata: “Aku mengerti. Kamu tidak sendirian.”
Ada satu hal yang penting untuk kita sadari. Ketika kita berbicara tentang intervensi untuk anak dengan gangguan pendengaran, perhatian, sering kali berpusat pada perkembangan anak yaitu kemampuan mendengar, bahasa, komunikasi, pendidikan, dan kemandirian. Semua itu memang penting.
Namun, ada satu bagian lain yang tidak kalah penting: orang tua yang mendampingi proses tersebut. Orang tua yang memiliki kesehatan mental yang lebih baik memiliki ruang yang lebih besar untuk hadir secara emosional bagi anak, mengambil keputusan dengan lebih adaptif, dan menjalani proses pengasuhan secara berkelanjutan.
Karena itu, mendukung perkembangan anak juga berarti memberikan ruang bagi orang tua untuk mendapatkan dukungan. Bukan karena orang tua lemah. Tetapi karena orang tua juga membutuhkan energi untuk terus berjalan.
Setiap keluarga memiliki perjalanan yang berbeda, tidak ada satu bentuk resiliensi yang berlaku untuk semua orang tua. Bagi satu keluarga, resiliensi mungkin berarti mampu menjalani terapi secara konsisten. Bagi keluarga lain, mungkin berarti berani meminta bantuan.
Bagi orang tua lainnya, mungkin berarti menerima bahwa perjalanan anaknya berbeda dari anak-anak lain dan bagi sebagian orang tua, resiliensi mungkin muncul ketika mereka mulai melihat bahwa di balik berbagai tantangan, terdapat banyak hal yang membuat mereka tumbuh sebagai manusia.
Karena itu, kita tidak perlu membandingkan perjalanan satu keluarga dengan keluarga lainnya. Tidak ada standar bahwa orang tua harus “secepat” apa dalam menerima kondisi anak. Tidak ada ukuran bahwa orang tua yang menangis berarti kurang kuat dan tidak ada kewajiban bagi orang tua untuk selalu terlihat baik-baik saja.
Resiliensi bukan tentang seberapa sedikit seseorang mengalami kesulitan. Resiliensi adalah tentang bagaimana seseorang belajar menghadapi kesulitan tersebut.
Pada akhirnya, orang tua juga perlu didengar perjalanan memiliki anak dengan gangguan pendengaran mungkin tidak selalu mudah.
Ada biaya yang harus dipikirkan. Ada terapi yang harus dijalani. Ada teknologi yang harus dirawat. Ada kekhawatiran mengenai masa depan. Ada komentar masyarakat yang terkadang menyakitkan. Ada hari-hari ketika semuanya terasa melelahkan.
Namun, di antara semua itu, ada pula proses belajar, harapan, hubungan yang semakin kuat, dan pencapaian-pencapaian kecil yang mungkin tidak terlihat oleh orang lain.
Baca Juga: Pemanfaatan Media Digital untuk Meningkatkan Perkembangan Kemampuan Berbahasa pada Anak Usia Dini
Mungkin, kesehatan mental orang tua bukan tentang memiliki kehidupan tanpa masalah. Mungkin kesehatan mental justru tentang memiliki cukup ruang untuk mengatakan:
“Aku lelah, tetapi aku tahu aku boleh meminta bantuan.”
“Aku takut, tetapi aku akan mencoba memahami apa yang bisa kulakukan.”
“Perjalananku berbeda, tetapi bukan berarti perjalanan ini tidak bermakna.”
Dan mungkin, di situlah resiliensi tumbuh. Bukan dari tuntutan untuk selalu kuat. Tetapi dari keberanian untuk mengakui bahwa perjalanan ini memang tidak mudah, menerima dukungan ketika membutuhkannya, dan perlahan menemukan cara untuk tetap melangkah.
Karena pada akhirnya, anak membutuhkan dukungan untuk bertumbuh, tetapi orang tua juga membutuhkan dukungan untuk terus mendampingi.
Penulis: Ervina Ihsa Kumalasari
Mahasiswa Magister Sains Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















