Dulu, saat mahasiswa tidak paham mengenai materi, mereka harus membuka buku, lalu bertanya kepada dosen, atau menghabiskan waktu berjam-jam untuk mencari informasi dari berbagai sumber.
Sekarang, cukup dengan mengetik pertanyaan di handphone, lalu muncul beberapa jawaban dalam hitungan detik melalui artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.
Kemudahan tersebut tentunya membantu proses belajar para mahasiswa, tetapi sekaligus menimbulkan sebuah pertanyaan: Jika AI yang mencari, menjelaskan, bahkan merangkai jawaban, lalu siapa yang sebenarnya sedang belajar?
Menurut saya, AI bukanlah masalah dalam proses pembelajaran ini, tetapi ketika mahasiswa menyerahkan semua proses berpikirnya pada AI.
Penggunaan AI di kalangan mahasiswa bukan lagi suatu hal yang awam. Generasi Z, yang sebagian besarnya berada di bangku perguruan tinggi, menjadi salah satu kelompok pengguna AI yang besar.
Berdasarkan artikel Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan (Puslapdik) yang mengutip survei pengguna internet yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2025 terhadap 8.700 responden, Generasi Z, yakni yang berusia mulai 14 sampai 29 tahun.
Rentang usia itu merupakan generasi yang paling banyak menggunakan AI, yakni sebanyak 43,7 persen dari total responden. Sedangkan, generasi milenial yang berusia antara 30 sampai 45 tahun sebanyak 22,3 persen.
Selain itu, untuk tujuan penggunaan AI, sebanyak 43,98 persen untuk edukasi dan pembelajaran, meningkat drastis dari tahun sebelumnya yang hanya 21,84 persen.
Tujuan lainnya adalah untuk hiburan sebanyak 29,52 persen, pekerjaan sebagai asisten virtual sebanyak 13,48 persen, dan produktivitas sebanyak 12,37 persen. (Kemendikdasmen, 2026)
Menurut saya, data tersebut menunjukkan bahwa AI sudah menjadi bagian dari kehidupan belajar generasi sekarang.
Namun, semakin mudah mahasiswa menemukan jawaban, semakin penting juga mahasiswa mempertanyakan pada dirinya apakah kemampuan berpikirnya masih digunakan atau malah membiarkan AI yang berpikir untuk mereka.
Oleh karena itu, persoalannya bukan lagi sekadar apakah mahasiswa menggunakan AI, melainkan apakah mahasiswa masih benar-benar belajar ketika AI mengambil alih sebagian besar proses berpikirnya.
Hal tersebut juga disampaikan oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie Wamendiktisaintek.
Ia mengatakan AI memiliki dua sisi yang dapat menurunkan keamanan, tetapi juga memperkuatnya, bisa menciptakan kesenjangan, tetapi juga membantu pemerataan, serta dapat menyebarkan hoaks, tetapi juga membantu memeriksa kebenaran informasi. (Kemdiktisaintek, 2025)
Jadi, kehadiran AI bukan suatu hal yang harus ditakuti oleh mahasiswa. Jika kita menggunakannya dengan tepat, AI dapat membantu dalam proses pembelajaran. Misalnya, saat mahasiswa belum memahami suatu ide awal, AI dapat membantu memberikan penjelasan dengan bahasa yang lebih dapat kita pahami.
Namun, kemudahan yang diberikan AI juga dapat menjadi masalah apabila mahasiswa menggunakannya tanpa batas. Salah satu masalah yang mungkin muncul yaitu kebiasaan menerima jawaban dengan instan tanpa mengecek informasi itu benar atau tidak, bahkan enggan berusaha untuk memahami isi tugasnya.
Kondisi tersebut juga menjadi perhatian pemerintah. Salah satunya, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menekankan teknologi kecerdasan artifisial (AI) harus diposisikan sebagai alat bantu bagi para penggunanya, bukan dipakai untuk menggantikan proses berpikir yang dapat menciptakan ketergantungan. (Komdigi, 2026)
Menurut saya, pernyataan tersebut memang penting karena tujuan pendidikan bukan hanya menghasilkan jawaban yang benar, tetapi juga membentuk mahasiswa agar mampu memahami, menganalisis, serta mempertanggungjawabkan jawabannya.
Jika mahasiswa menggunakan AI untuk mendapatkan gambaran awal, lalu mengecek informasi dan membandingkannya dengan sumber lain, serta mengembangkan jawabannya sendiri, maka AI masih berfungsi sebagai alat bantu.
Sebaliknya, jika mahasiswa tersebut menerapkan prinsip 3M, yaitu memasukkan pertanyaan, menerima jawaban, dan mengumpulkan sebagai tugas, maka kondisi tersebut membuat mahasiswa mungkin mendapat nilai, tetapi belum tentu mendapat pengetahuan.
Menurut saya, solusi dari masalah tersebut bukan melarang sepenuhnya mahasiswa menggunakan AI, melainkan mendorong mereka untuk menggunakannya secara bijak dan bertanggung jawab.
Pertama, jawaban dari AI perlu dicek kembali dari sumber yang terpercaya. Kedua, mahasiswa perlu memahami kembali jawaban yang diberikan dan tidak langsung menyalinnya. Ketiga, AI sebaiknya digunakan untuk mengembangkan ide, bukan menggantikan analisis pribadi.
Dengan cara tersebut, mahasiswa tetap menjadi pihak yang berpikir, lalu AI hanya membantu prosesnya saja. Karena itu, selama mahasiswa menjadi pihak yang berpikir, AI akan menjadi alat bantu yang sangat bermanfaat dan inovatif.
Namun, ketika proses tersebut diserahkan semuanya kepada AI, pertanyaan dalam judul tulisan ini menjadi sangat relevan: siapa yang sebenarnya sedang belajar?
Penulis: Janur Nanda Trival
Mahasiswa Program Studi Administrasi Publik, Universitas Diponegoro
Dosen Pengampu: Juang Abdi Muhammad, S.AP., M.AP.
Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















