Startup Edupreneurship UM Libatkan Mahasiswa, Guru, dan Komunitas melalui 17 Rintisan Layanan Pendidikan dan Laboratorium Sains Berkelanjutan

Edupreneurship Berbasis Sains
Mahasiswa Universitas Negeri Malang mengikuti kegiatan workshop dan edutrip BerdayaSains sebagai bagian dari pembelajaran sains berbasis pengalaman.

Malang – Bagaimana rasanya belajar sains sambil meracik kopi, memetik mawar, membatik, atau membuat es krim? Di tangan mahasiswa Pendidikan IPA Universitas Negeri Malang (UM), pengalaman tersebut bukan sekadar kegiatan menyenangkan, melainkan pintu masuk untuk memahami konsep kapilaritas, perubahan wujud zat, hingga fisiologi tanaman. Gagasan inilah yang melatarbelakangi hadirnya BerdayaSains.

BerdayaSains merupakan program Pengembangan Start-Up Edupreneurship Berbasis Pemberdayaan Guru dan Komunitas melalui Layanan Pendidikan dan Laboratorium Sains Berkelanjutan. Startup ini merupakan binaan Direktorat Inovasi Universitas Negeri Malang yang dikembangkan oleh tim dari Departemen Pendidikan IPA FMIPA, Departemen Ekonomi Pembangunan FEB, Departemen Teknik Mesin dan Industri FT, Pusat Sains dan Rekayasa LPPM, serta Direktorat Inovasi UM.

Penelitian ini diketuai oleh Dr. Dian Nugraheni, S.Pd., M.Sc., dengan anggota Novida Pratiwi, S.Si., M.Si., Ph.D.; Magistyo Purboyo Priambodo, S.E., M.E.; Andika Bagus Nur Rahma Putra, S.Pd., M.Pd.; Afifatul Bariroh; Dinda Callista; Vinaya Rafa’ Fadiya; Oktafiana Fadilatul Khoiroh; Melanie Putih Cahayani; Ayunda Aulia Muhyi Salam; Cintiya Diva Ramadan; dan Dimas Arimbi Zahro Agata.

Program ini didanai melalui skema Pengembangan Startup Company Produk Inovasi Tahun 2026 dengan Nomor Kontrak 14.04.1224/UN32.14.1/LT/2026. BerdayaSains memadukan literasi sains, kewirausahaan berbasis sains (science-based entrepreneurship), dan pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning).

Mengapa Sains Perlu Keluar dari Ruang Kelas

Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) masih menghadapi tantangan dalam menghubungkan konsep ilmiah dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, minat masyarakat terhadap pelatihan dan lokakarya terus tumbuh. Sementara itu, limbah plastik dan limbah kopi masih belum memiliki pengolahan yang lebih baik.

Calon guru IPA sebenarnya dibekali kemampuan berpikir kritis, keterampilan proses sains, dan pemecahan masalah. Namun, kompetensi tersebut masih jarang diarahkan menjadi layanan yang memiliki nilai ekonomi. Padahal, survei IDEAS dan GREAT Edunesia tahun 2024 menunjukkan bahwa sebagian guru, terutama guru honorer dan kontrak, masih mencari penghasilan tambahan.

BerdayaSains hadir sebagai salah satu jawaban atas kondisi tersebut. Berangkat dari mata kuliah Ilmu Pengetahuan Alam Terapan dan Kewirausahaan (IPTERKWU), mahasiswa merancang usaha jasa pelatihan yang menyampaikan konsep sains melalui praktik langsung. Dengan demikian, kompetensi akademik dosen dan mahasiswa dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekaligus membuka peluang pemberdayaan guru dan komunitas.

Edupreneurship Berbasis Sains
Kolaborasi dengan Mitra Lokal

17 Rintisan Usaha dengan Satu Semangat: Sains yang Dialami

Sepanjang pelaksanaan program, lahir 17 rintisan usaha dari berbagai kelas mahasiswa Departemen Pendidikan IPA. Setiap rintisan menggabungkan konsep fisika, kimia, biologi, dan lingkungan dengan pengalaman belajar yang menyenangkan.

Berikut 17 rintisan usaha yang dikembangkan melalui BerdayaSains:

  1. Serasa.Kopi mengajak peserta memahami proses karamelisasi, keseimbangan rasa, dan microfoam melalui praktik membuat kopi dan latte art.
  2. Sweet Creation mengungkap prinsip baking science di balik takaran bahan, suhu, dan teknik menghias cupcake.
  3. Gabinverse mengajak peserta membuat es krim sambil mempelajari perubahan wujud zat, sistem pendinginan, dan perpindahan kalor.
  4. SKINCOFFA mengolah ampas kopi dan ampas kelapa menjadi body scrub sebagai praktik penerapan ekonomi sirkular.
  5. Dear Flower, What’s Your Name? dan Blooms and Botany memadukan edutrip ke kebun mawar, sains pascapanen, floriografi atau bahasa bunga, serta pembuatan pengawet bunga potong.
  6. GummyHerbs mengolah jamu kunyit asam dan beras kencur menjadi produk gummy yang lebih ramah di lidah generasi muda.
  7. Swarna Kala menawarkan konsep “satu hari, tiga pengalaman”, yakni membatik, kegiatan inkuiri sains tentang kapilaritas dan perubahan wujud malam, serta wisata alam di Bedengan, Kabupaten Malang.
  8. Fresh & Smash menggabungkan kegiatan bulu tangkis dengan lokakarya pembuatan infused water berbasis konsep difusi dan pelarutan.
  9. CEVIA Workshop mengolah kulit kopi atau cascara menjadi teh herbal dalam kemasan kantong.
  10. GLOWBREATHE memadukan kegiatan pembuatan lilin aromaterapi berbahan soy wax dengan sesi yoga ringan dan meditasi.
  11. Terraqua.spot mengajak peserta menyusun terarium air sebagai miniatur ekosistem perairan.
  12. BuchaLab mengangkat proses fermentasi kombucha berbahan bunga telang.
  13. JellyBites x Luk Chup mengembangkan produk dengan teknik spherification sari buah.
  14. TropiBar (Bloomera) mengangkat pengolahan buah tropis menjadi snack bar.
  15. Eco Stitch Workshop mengajak peserta merajut tempat gelas dari benang katun susu sebagai upaya mengurangi sampah plastik sekali pakai.
  16. LenterA Belajar menyediakan layanan bimbingan belajar secara hibrida untuk persiapan Tes Kemampuan Akademik (TKA) tingkat SMP. Layanan ini dilengkapi placement test, pretest–posttest, dan Skill Day.
Edupreneurship Berbasis Sains
Kolaborasi dengan coffee shop Malang

Kolaborasi dengan Mitra dan Komunitas Lokal

BerdayaSains berkolaborasi dengan berbagai pihak, di antaranya petani, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), kedai kopi, florist, komunitas, sekolah, serta laboratorium perguruan tinggi.

Sejumlah kerja sama telah dituangkan dalam dokumen nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan Kopi Lereng Kawi x Oito Koffie, Una Home Buns, dan Luk Chup Malang Batu.

Kegiatan BerdayaSains diselenggarakan di berbagai lokasi di Malang Raya, mulai dari kebun bunga di Kota Batu, Malang Creative Center, Akar Rumput, hingga Laboratorium IPA UM.

Melalui pola kolaborasi tersebut, kampus tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga laboratorium sains yang terbuka bagi masyarakat. Di dalamnya, guru, mahasiswa, pelaku usaha, dan komunitas dapat saling belajar serta saling menguatkan.

Menuju Ekosistem Edupreneurship yang Berkelanjutan

BerdayaSains diarahkan menjadi unit usaha edukatif yang mandiri melalui penguatan model bisnis, standardisasi layanan, strategi pemasaran, dan perluasan kemitraan.

Layanan BerdayaSains juga akan dijangkaukan kepada lebih banyak guru, peserta didik, UMKM, dan komunitas dengan tetap menjaga prinsip keberlanjutan. Salah satu penerapannya dilakukan melalui pemanfaatan limbah dan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai.

Pengembangan Startup Inovasi BerdayaSains berkaitan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) 8, yakni Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Kegiatan ini mendukung target 8.3 melalui pengembangan 17 rintisan usaha mahasiswa berbasis sains yang mendorong kreativitas, inovasi produk, dan keterampilan kewirausahaan.

Berbagai produk dan layanan yang dikembangkan juga berpotensi membuka peluang usaha serta memperkuat keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ekonomi produktif. Namun, dampak terhadap penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi yang lebih luas masih memerlukan pengukuran lebih lanjut.

Selain itu, kegiatan ini turut mendukung SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, khususnya target 4.4 mengenai peningkatan keterampilan yang relevan untuk pekerjaan dan kewirausahaan.

Dukungan tersebut diwujudkan melalui lokakarya, edutrip, pelatihan, dan bimbingan belajar yang mengintegrasikan konsep sains dengan pengalaman praktik. Kegiatan ini memberikan ruang bagi mahasiswa dan peserta untuk mengembangkan keterampilan, kreativitas, kemampuan pemecahan masalah, serta kemampuan menerapkan pengetahuan dalam menghasilkan produk dan layanan berbasis sains.

BerdayaSains juga berkaitan dengan SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, khususnya target 17.17 melalui penguatan kemitraan antara perguruan tinggi, mahasiswa, UMKM, petani, sekolah, komunitas, laboratorium, dan mitra usaha.

Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui penyediaan bahan, fasilitas, pendampingan, pengembangan produk, hingga pelaksanaan dan promosi kegiatan. Kerja sama dengan mitra, seperti Furigurumi dan Oito Koffie dalam kegiatan Eco Stitch Workshop, menjadi salah satu bentuk penerapan kemitraan tersebut.

Meski demikian, keberlanjutan dan perluasan dampak kolaborasi masih memerlukan penguatan melalui kerja sama jangka panjang dan pengembangan jejaring mitra.

Melalui BerdayaSains, tim Departemen Pendidikan IPA UM menunjukkan bahwa sains lebih mudah dipahami ketika dialami secara langsung. Ilmu yang dikembangkan di lingkungan kampus juga dapat tumbuh menjadi usaha yang memberdayakan banyak orang.


Tim Peneliti BerdayaSains

Ketua Peneliti:
Dr. Dian Nugraheni, S.Pd., M.Sc.

Anggota:

  • Novida Pratiwi, S.Si., M.Si., Ph.D
  • Magistyo Purboyo Priambodo, S.E., M.E.
  • Andika Bagus Nur Rahma Putra, S.Pd., M.Pd.
  • Afifatul Bariroh
  • Dinda Callista
  • Vinaya Ra’fa Nur Fadiya
  • Oktafiana Fadilatul Khoiroh
  • Melanie Putih Dwi Cahayani
  • Ayunda Aulia Muhyi Salam
  • Cintiya Diva Ramadan
  • Dimas Arimbi Zahro Agata

Editor: Darsono. AR

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *