Ketika Perempuan Tidak Hanya di Rumah: Belajar dari Pengusaha Gula Kelapa Magelang

pengusaha gula kelapa Magelang
Ilustrasi Perempuan Pengusaha Gula Kelapa

Candimulyo, Magelang, memiliki kebun kelapa seluas 480 hektare yang belum dimanfaatkan secara optimal.

Ironisnya, di desa yang sama, banyak ibu memilih merantau ke kota untuk mencari nafkah, meninggalkan anak-anak mereka di kampung halaman.

Potensi besar ada di depan mata, namun jalan untuk memanfaatkannya tampak tertutup bagi perempuan yang justru paling dekat dengannya.

Dilema para ibu di desa itu mewakili persoalan yang lebih luas.

Kini semakin banyak perempuan yang ikut menopang pendapatan keluarga, tetapi mereka sering tetap diharapkan bertanggung jawab penuh atas anak dan rumah tangga.

Persoalannya bukan “boleh atau tidak perempuan bekerja”, melainkan bagaimana beban itu dibagi secara adil.

Waktu pun berebut ruang: jam kerja, mengasuh anak, usaha, mengurus rumah, hingga waktu untuk diri sendiri.

Ditambah stigma bahwa ibu yang sibuk bekerja kurang memperhatikan keluarga, tekanan sosial ini menjadi hambatan non-ekonomi yang nyata bagi perempuan yang ingin berwirausaha.

Baca Juga: Dari Gula Kelapa Organik ke Pasar Global: Praktik Fair Trade Aliet Green dalam Memberdayakan Petani Indonesia 

Dari Kebun Kelapa Magelang untuk Pasar Dunia

Ironi itulah yang dilihat Ella Rizky Farihatul Maftuhah, perempuan 28 tahun yang sedang menempuh studi doktoral Kimia di Universitas Gadjah Mada dengan beasiswa LPDP.

Alih-alih sekadar mengamati, ia memutuskan mengambil peran: mendirikan Kelompok Wanita Tani (KWT) Nira Lestari, yang kini berkembang menjadi PT Nira Lestari International dan Koperasi Nira Lestari, mengolah nira kelapa menjadi gula semut organik.

Produk ini kini diekspor ke Kanada, Belanda, Malaysia, Thailand, dan Korea Selatan, dengan kapasitas hingga 60 ton per bulan dan melibatkan lebih dari 300 petani, sebagian besar perempuan di desanya yang kini bisa bekerja tanpa meninggalkan desa dan anak-anak mereka.

“Kenapa ibu-ibu harus meninggalkan anaknya demi mencari nafkah?

Padahal potensi desanya sangat besar,” ujar Ella, sebagaimana dikutip Media Keuangan Kementerian Keuangan.

Di KWT sendiri, 94 perempuan menjadi anggota yang mengembangkan usaha kelapa tanpa kehilangan peran sebagai ibu rumah tangga.

Yang diubah bukan perempuannya, melainkan cara kerja dan tempat kerjanya.

Baca Juga: Perjuangan Perempuan: Dari Era Kelam Menuju Kesetaraan dan Keadilan Sosial

Dari Beban Menjadi Peluang

Kisah Ella menunjukkan bahwa kewirausahaan dapat membuka kemandirian: perempuan bukan sekadar pekerja, melainkan pencipta lapangan kerja.

Namun, pertanyaan yang lebih tepat daripada “perempuan juga bisa sukses” adalah apa yang membuat perempuan mampu berwirausaha dan hambatan apa yang masih mereka hadapi.

Perjalanan Ella menginspirasi banyak orang, namun jangan dibaca keberhasilan ini hanya soal ketangguhan pribadi.

Ada enam hal di sekitar perempuan yang ikut menentukan apakah ia bertahan atau berhenti di tengah jalan.

1. Pembagian Pekerjaan Domestik

Selama pekerjaan rumah dianggap urusan perempuan saja, ibu yang berusaha harus bekerja dua kali.

Model KWT menyentuh persoalan ini dari sisi lain: para ibu bekerja di desa sendiri, sehingga jarak dari anak tidak lagi menjadi harga yang harus dibayar.

2. Dukungan Pasangan dan Keluarga

Restu, kesediaan menjaga anak, hingga sikap tidak meremehkan sering menentukan apakah seorang perempuan berani memulai usaha.

3. Akses terhadap Pendidikan

Pendidikan memperluas pilihan. Ella menempuh studi doktoral Kimia dengan beasiswa LPDP, sedangkan bagi perempuan lain pendidikan berarti pelatihan bisnis, pengelolaan uang, dan literasi digital.

4. Lingkungan Kerja

Lingkungan yang suportif bisa berupa ruang kerja fleksibel yang dikelola sesama perempuan dan memahami tanggung jawab anggotanya di rumah.

5. Akses Modal dan Jaringan

Perempuan pengusaha sering terkendala jaminan dan kredibilitas di mata lembaga keuangan, serta terbatasnya jaringan.

Pinjaman mikro, asosiasi bisnis, dan komunitas wirausaha menjadi penyangga, dan badan usaha PT serta koperasi memperkuat posisi Nira Lestari di pasar ekspor.

6. Dukungan Pengembangan Usaha

Usaha tumbuh bila ada mentoring, pelatihan, dan kebijakan yang berpihak, seperti insentif pajak atau pendanaan khusus.

Kisah Ella yang diangkat Media Keuangan Kementerian Keuangan menunjukkan dukungan itu ada, tetapi perlu menjangkau lebih banyak perempuan di desa lain.

Karena itu, perempuan tidak seharusnya dituntut untuk “jago membagi waktu” seorang diri.

Tanpa pembagian peran yang adil, dukungan keluarga, dan lingkungan yang membuka akses, kemampuan mengatur waktu hanya menunda kelelahan.

Baca Juga: Tim BBK 8 Unair Dorong Kewirausahaan Warga Klakeh melalui Demonstrasi Pembuatan Jamu dan Pelatihan Bisnis

Ketika Bisnis Lokal Menjadi Jalan Menuju Kemandirian

Kembali ke kebun kelapa di Candimulyo.

Lahan 480 hektare yang semula belum optimal kini menghasilkan gula semut organik dan madu bunga kelapa “Vegan Nektar”.

Nilai ekonomi tidak lagi hilang di tengah jalan, melainkan berputar di desa.

Manfaatnya tidak berhenti pada pendirinya.

Usaha ini menghidupi 94 anggota KWT dan lebih dari 300 petani mitra beserta keluarga mereka.

Pasar ekspor menuntut mutu yang konsisten, sehingga para perempuan petani terus belajar.

Alurnya jelas: perempuan terjun ke kewirausahaan, kewirausahaan membuka pemberdayaan ekonomi, pemberdayaan ekonomi mendorong pengembangan produk lokal, dan produk lokal membawa dampak ekonomi yang lebih luas.

Lewat inovasi seperti Vegan Nektar, Ella juga memperlihatkan bagaimana perempuan pengusaha membawa perspektif segar ke dunia bisnis.

Bukan Sekadar “Ibu yang Bekerja”

Persoalannya bukan lagi apakah seorang ibu boleh bekerja atau berwirausaha.

Pertanyaan yang lebih tepat adalah apakah lingkungan di sekitarnya mampu memberi ruang dan dukungan agar ia bisa menjalankan pilihannya tanpa menanggung seluruh beban seorang diri.

Di situlah kisah gula kelapa Magelang berarti.

Ella tidak hanya bekerja keras; ia membangun wadah yang membuat para ibu mencari penghasilan tanpa meninggalkan anak-anak mereka.

Ketika ruang dan dukungan itu tersedia, perempuan menjadi pelaku sekaligus penggerak roda ekonomi di sekitarnya, dari kebun kelapa di desa hingga meja pembeli di mancanegara.


Penulis:
1. Cita Nafisah Putri
2. Silvi Permata Sari
3. Yusalina
Mahasiswa Magister Sains Agribisnis, IPB University


Dosen Pengampu: Dr. Yusalina, M.Si.


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *