Dari Gula Kelapa Organik ke Pasar Global: Praktik Fair Trade Aliet Green dalam Memberdayakan Petani Indonesia 

Aliet Green
Foto: Dok. Aliet Green

Indonesia terkenal sebagai salah satu negara dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah.

Salah satu komoditas yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat adalah kelapa.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Hampir seluruh bagian kelapa digunakan sebagai pemanfaatan nilai ekonomi, seperti minyak, santan, hingga gula kelapa.

Dalam beberapa tahun terakhir, meningkatnya tren konsumsi pangan sehat dan berkelanjutan di pasar internasional telah membuka peluang baru untuk produk turunan kelapa Indonesia, seperti gula kelapa organik.

Di tengah peluang ini, muncul suatu tantangan yaitu bagaimana memastikan bahwa petani sebagai produsen utama turut memperoleh manfaat yang adil dari perdagangan global. 

Selama ini perdagangan global sering dikritik karena menciptakan hubungan yang tidak adil antara produsen di negara berkembang dan konsumen di negara maju.

Tidak sedikit petani yang hanya mendapatkan bagian kecil dari nilai keuntungan yang dihasilkan oleh produk mereka.

Kondisi ini mendorong lahirnya konsep Fair Trade atau perdagangan adil, sebuah pendekatan perdagangan yang berupaya menciptakan hubungan yang lebih adil melalui harga yang layak, transparansi, pemberdayaan produsen, dan keberlanjutan lingkungan. 

Salah satu contoh menarik dari praktik tersebut dapat ditemukan pada Aliet Green, sebuah perusahaan sosial yang berada di Yogyakarta.

Didirikan pada tahun 2009 oleh Lastiana Yuliandari, Aliet Green berawal dari kepeduliannya terhadap tantangan yang dihadapi oleh petani dan masyarakat pedesaan.

Seiring dengan meningkatnya permintaan global terhadap gula kelapa organik, perusahaan ini mulai berkembang dengan menghubungkan ratusan petani Indonesia ke pasar Internasional melaluI prinsip Fair Trade dan pertanian berkelanjutan, hingga menjadi pelopor gula kelapa organik bersertifikasi Fair Trade pertama di dunia. 

Keberhasilan Aliet Green sampai disitu saja.

Pada tahun 2023, perusahaan ini memperoleh penghargaan dari PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) dalam ajang SDG Action Awards sebagai Best Small Business.

Setahun kemudian, Aliet Green menjadi produsen gula kelapa organik pertama di dunia yang memperoleh sertifikasi Regenerative Organic Certified (ROC).

Penghargaan ini menunjukkan bahwa praktik bisnis yang dijalankan tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, namun juga mampu menghasilkan dampak sosial dan lingkungan yang mendapat perhatian di tingkat global. 

Aliet Green
Foto: Dok. Aliet Green

Keberhasilan sebuah praktik tidak dapat diukur dari jumlah produk yang terjual atau keuntungan yang diperoleh.

Menurut Nicholls dan Opal (2005), Fair Trade merupakan suatu upaya dalam memperbaiki posisi produsen kecil dalam sistem perdagangan global yang lebih adil, transparan, dan berkelanjutan.

Tujuannya bukan sekedar meningkatkan akses pasar, namun juga memastikan manfaat ekonomi dari perdagangan dapat dirasakan oleh pihak-pihak yang selama ini berada pada posisi paling rentan dalam rantai pasok. 

Prinsip tersebut dapat dalam model kemitraan yang dijalankan Aliet Green.

Perusahaan tidak hanya membeli hasil produksi petani, namun juga menerapkan skema Fair Trade Premium yang memungkinkan komunitas petani memperoleh manfaat sosial secara langsung.

Dana yang dihasilkan dipergunakan untuk mendukung berbagai kebutuhan masyarakat seperti pendidikan, kesehatan pengembangan kapasitas komunitas, sampai pembangunan fasilitas umum.

Melalui mekanisme ini, perdagangan tidak hanya menghasilkan keuntungan finansial, namun juga berkontribusi pada pembangunan sosial di tingkat lokal.

Berdasarkan laporan proyek Fair Trade Aliet Green sepanjang periode 2014-2024, sebanyak 40% dana dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur seperti perbaikan akses jalan, fasilitas publik, dan pendidikan.

Alokasi terbesar ini menunjukkan bahwa kebutuhan dasar masyarakat menjadi prioritas utama dalam meningkatkan kesejahteraan petani.

Kemudian, 15% dana digunakan untuk mendukung pelestarian lingkungan seperti pengelolaan sampah dan perbaikan sistem sanitasi dan air bersih.

Sebanyak 15% lainnya dialokasikan untuk berbagai kegiatan sosial seperti, bantuan pendidikan dan dukungan untuk kelompok rentan di masyarakat. 

Aliet Green juga mengalokasikan 12% dana untuk proyek penanaman regeneratif yang bertujuan menjaga keberlanjutan lingkungan dan meningkatkan kualitas lahan pertanian.

Sementara itu, 10% digunakan untuk berbagai program pelatihan, termasuk pengolahan kompos, keamanan pangan, dan peningkatan kapasitas petani.

Sisanya, sebesar 8%, digunakan untuk penyediaan alat produksi yang mendukung kualitas dan efisiensi proses pengolahan hasil pertanian.

Distribusi dana tersebut menunjukkan bahwa manfaat perdagangan tidak hanya dirasakan oleh individu petani, namun juga oleh komunitas secara keseluruhan  

Aliet Green
Foto: Dok. Aliet Green

Dalam beberapa kasus, label etis sering mendapat kritik karena lebih menguntungkan perusahaan dibandingkan produsen.

Namun Aliet Green memberikan manfaat perdagangan yang dapat dilihat melalui berbagai proyek, program, dan infrastruktur yang berkontribusi pada peningkatan sumber daya manusia dan ekonomi.

Sementara investasi pada lingkungan dan pertanian regeneratif membantu menjaga keberlanjutan produksi dalam jangka panjang.

Dengan kata lain, perdagangan etis menghasilkan dampak yang melampaui transaksi jual beli dan menciptakan manfaat bagi masyarakat. 

Hal ini dapat dipahami melalui konsep producer empowerment atau pemberdayaan produsen.

Menurut Narayan (2002), pemberdayaan merupakan suatu proses yang memungkinkan masyarakat memiliki kapasitas lebih besar untuk menentukan pilihan dan mempengaruhi keputusan yang berdampak pada kehidupan mereka.

Dalam konteks ini, petani tidak lagi diposisikan sebagai pemasok bahan baku saja, namun sebagai mitra yang memiliki peran dalam proses pengambilan keputusan dan pengembangan komunitas.

Selama bertahun-tahun petani seringkali menjadi pihak yang paling lemah dalam rantai perdagangan global, dan pergantian posisi ini menjadi penanda penting. 

Fair Trade memiliki potensi dalam memperbaiki kesejahteraan produsen kecil.

Dragusanu, Giovannucci, dan Nunn (2014) menjelaskan bahwa Fair Trade dapat membantu produsen memperoleh kondisi perdagangan yang lebih baik, meningkatkan akses pasar, memperkuat organisasi produsen, serta menciptakan investasi sosial di tingkat komunitas.

Pengalaman Aliet Green menunjukkan bagaimana prinsip-prinsip tersebut dapat diterapkan secara nyata di Indonesia. 

Aliet Green
Foto: Dok. Aliet Green

Meski demikian, keberhasilan Aliet Green bukan berarti seluruh permasalahan dalam global telah terselesaikan.

Struktur perdagangan internasional masih menunjukkan adanya ketimpangan kekuasaan.

Standar sertifikasi, preferensi konsumen, dan tuntutan pasar global masih didominasi oleh negara maju sebagai tujuan ekspor utama.

Sehingga petani dan produsen di negara berkembang masih perlu menyesuaikan diri dengan berbagai standar yang ditentukan di luar wilayah mereka, khususnya di negara maju. 

Namun, kondisi tersebut tidak mengurangi nilai penting dari praktik yang dilakukan Aliet Green.

Di tengah perdagangan global yang belum sepenuhnya setara, perusahaan ini berhasil menunjukkan ketimpangan dapat dikurangi melalui pendekatan yang lebih inklusif.

Petani mendapatkan akses pasar yang lebih luas, komunitas memperoleh manfaat sosial yang nyata, dan praktik produksi lebih ramah lingkungan.

Manfaat tidak hanya dirasakan oleh perusahaan dan konsumen, namun juga oleh para produsen yang berada di tingkat akar rumput.

Hal ini menunjukkan bahwa perdagangan internasional tidak selalu menghasilkan pemenang dan pihak yang dirugikan, namun dapat menciptakan manfaat yang lebih merata apabila dijalankan dengan prinsip Fair Trade

Aliet Green mungkin belum mampu menghapus seluruh ketimpangan dalam perdagangan global, tetapi pengalaman mereka telah menunjukkan bahwa perdagangan yang lebih adil masih dapat diwujudkan.

Ketika petani memperoleh akses pasar, kesempatan berkembang, dan posisi tawar yang lebih baik, manfaat perdagangan tidak lagi hanya dinikmati oleh perusahaan dan konsumen, namun juga oleh para produsen atau petani.

Oleh karena itu, dukungan dari pemerintah, lembaga sertifikasi, dan sektor swasta masih perlu ditingkatkan agar semakin banyak petani kecil Indonesia dapat merasakan manfaat globalisasi yang lebih adil dan berkelanjutan. 


Penulis: Ni Nyoman Pritha Savitri Setiawati Putri
Mahasiswa Prodi Hubungan Internasional, Universitas Udayana


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Referensi 

  1. Aliet Green. (n.d.). About us. https://alietgreen.com/about-us/
  2. Aliet Green. (n.d.). Products. https://alietgreen.com/products/
  3. Aliet Green. (n.d.). Aliet Green fair trade story. https://alietgreen.com/aliet-green-fair-trade-story/
  4. Aliet Green. (n.d.). Fairtrade. https://alietgreen.com/fairtrade/
  5. Aliet Green. (n.d.). A journey into regenerative organic agriculture. https://alietgreen.com/a-journey-into-regenerative-organic-agriculture/
  6. Aliet Green. (2023, September 20). Aliet Green selected as the best small business by the United Nations. https://alietgreen.com/aliet-green-selected-as-the-best-small-business-by-the-united-nations/
  7. Aliet Green. (2024, May 17). Aliet Green has the world’s first organic coconut sugar in regenerative organic certified (ROC) quality. https://alietgreen.com/aliet-green-has-the-worlds-first-organic-coconut-sugar-in-regenerative-organic-certified-roc-quality/
  8. Aliet Green. (2024). Fair Trade premium project distribution 2014–2024 [Infografis]. Aliet Green Fair Trade Project.
  9. Dragusanu, R., Giovannucci, D., & Nunn, N. (2014). The economics of fair trade. Journal of Economic Perspectives, 28(3), 217–236. https://doi.org/10.1257/jep.28.3.217
  10. Narayan, D. (2002). Empowerment and poverty reduction: A sourcebook. World Bank. https://openknowledge.worldbank.org/handle/10986/15239
  11. Nicholls, A., & Opal, C. (2005). Fair trade: Market-driven ethical consumption.
  12. World Fair Trade Organization. (n.d.). What is fair trade? https://wfto.com/fair-trade/

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses