Lulus kuliah, lalu kerja di mana?
Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi bagi mahasiswa tingkat akhir, pertanyaan itu bisa terasa cukup serius. Selama kuliah, kita sibuk dengan tugas, praktikum, organisasi, dan berbagai kegiatan lain. Namun, begitu wisuda selesai, satu pertanyaan besar langsung menanti: bagaimana caranya masuk ke dunia kerja?
Pertanyaan ini terasa makin relevan di Kota Malang. Setiap tahun, kota ini kedatangan ribuan mahasiswa baru dan, pada saat yang sama, terus menghasilkan ribuan lulusan baru. Universitas Brawijaya saja mewisuda 8.450 sarjana S1 pada 2023, disusul Universitas Negeri Malang dengan 5.479 lulusan pada tahun yang sama.
Belum lagi lulusan dari UIN Maulana Malik Ibrahim, Polinema, UMM, dan puluhan kampus lain. Ribuan lulusan ini akan masuk ke pasar kerja yang sama: mencari pekerjaan, bersaing memperebutkan posisi, dan menawarkan keterampilan mereka kepada perusahaan.
Membaca Angkanya: Penawaran dan Permintaan yang Belum Bertemu
Dalam ilmu ekonomi tenaga kerja, kondisi ini bisa dibaca lewat dua sisi. Mahasiswa dan lulusan adalah bagian dari penawaran tenaga kerja (labor supply); mereka menawarkan waktu, tenaga, dan kemampuan untuk bekerja. Di sisi lain, perusahaan dan berbagai jenis usaha adalah pihak yang menciptakan permintaan tenaga kerja (labor demand); mereka membutuhkan pekerja untuk menjalankan proses produksi. Idealnya, kedua sisi ini bertemu di satu titik keseimbangan. Kenyataannya, tidak selalu semudah itu.
Berdasarkan data yang dirilis Dinas Tenaga Kerja, Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (Disnaker-PMPTSP) Kota Malang bersumber dari BPS Kota Malang, jumlah angkatan kerja Kota Malang pada 2025 tercatat 486.794 orang, dengan 459.084 orang di antaranya sudah bekerja. Sisanya, 27.710 orang, berstatus pengangguran, setara dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 5,69 persen.
Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar tenaga kerja Kota Malang memang sudah terserap. Namun, ada detail menarik di baliknya: menurut data yang sama, lulusan SMK menyumbang 7,24 persen terhadap TPT Kota Malang, dan lulusan SMA menyumbang 5,14 persen, dua kelompok pendidikan dengan kontribusi pengangguran tertinggi di kota ini.
Kondisi inilah yang membuat Pemkot Malang, melalui program bursa kerja (job fair) tahunannya, memfokuskan penyerapan pada lulusan pendidikan menengah. Pada 2025, program tersebut menyerap 2.500 orang, dan pada 2026 ditargetkan 3.000 orang lewat kerja sama dengan sekitar 70 perusahaan.
Ketika Gelar Saja Belum Cukup
Yang belum banyak disorot adalah tekanan dari sisi lulusan perguruan tinggi. Secara nasional, Ditjen Dikti Kemendikbudristek pernah mencatat bahwa perguruan tinggi Indonesia meluluskan sekitar 1,2 juta sarjana dan diploma setiap tahun, sementara lapangan kerja formal yang tersedia hanya berkisar 300–400 ribu posisi. Data terbaru Sakernas BPS pada Mei 2026 bahkan mencatat lebih dari satu juta lulusan D4, S1, S2, dan S3 di seluruh Indonesia (sekitar 14,3 persen dari total lulusan) masih belum mendapatkan pekerjaan.
Di sinilah persoalan menjadi lebih menarik: masalah tenaga kerja bukan cuma soal berapa banyak lapangan pekerjaan yang tersedia, tetapi juga soal apakah pekerjaan itu sesuai dengan tenaga kerja yang mencarinya. Dalam istilah ekonomi, ini disebut labor market mismatch, yaitu ketidaksesuaian antara keterampilan yang ditawarkan tenaga kerja dengan kebutuhan yang diminta perusahaan.
Contohnya cukup dekat dengan kehidupan mahasiswa. Ada lulusan bergelar sarjana, tetapi ketika melamar kerja justru diminta pengalaman kerja, kemampuan teknologi tertentu, atau kemampuan komunikasi yang belum banyak diasah selama kuliah.
Gelar saja ternyata belum tentu langsung membuka pintu kerja. Ini karena yang sebenarnya dicari perusahaan bukan sekadar ijazah, melainkan human capital, yaitu kombinasi pendidikan, pengalaman, dan keterampilan yang benar-benar meningkatkan produktivitas seseorang di tempat kerja.
Bukan Cuma Tugas Mahasiswa
Karena itu, mahasiswa sebenarnya perlu mulai memikirkan dunia kerja sejak masih kuliah. Bukan berarti melupakan kuliah, melainkan mulai mengenali kemampuan apa yang sedang dibutuhkan pasar kerja. Magang, organisasi, pelatihan, sertifikasi, atau proyek yang bersinggungan dengan dunia kerja bisa jadi bekal tambahan. Dengan begitu, saat lulus nanti, yang dibawa bukan cuma ijazah, tetapi juga kemampuan nyata yang bisa ditawarkan ke perusahaan.
Namun, persoalan ini juga tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada mahasiswa. Setidaknya ada tiga pihak yang perlu bergerak bersama:
Kampus, sebagai penghasil lulusan, perlu terus menyesuaikan materi perkuliahan dengan kebutuhan dunia kerja yang berubah cepat dan memberi lebih banyak ruang bagi mahasiswa untuk merasakan langsung kondisi kerja sesungguhnya.
Perusahaan, sebagai pihak yang menciptakan permintaan tenaga kerja, perlu membuka ruang bagi pekerja pemula untuk berkembang lewat program magang dan pelatihan karena tidak realistis mengharapkan lulusan baru langsung punya pengalaman sempurna.
Pemerintah daerah, seperti yang sudah dirintis lewat program bursa kerja Disnaker-PMPTSP, perlu memperluas cakupannya, tidak hanya menyasar lulusan SMA/SMK, tetapi juga lulusan perguruan tinggi yang jumlahnya terus bertambah setiap tahun di kota pendidikan ini.
Jadi, Lulus Kuliah, Lalu Kerja di Mana?
Kembali ke pertanyaan di awal: lulus kuliah, lalu kerja di mana? Jawabannya ternyata tidak sesederhana “ada” atau “tidak ada” lapangan pekerjaan. Kota Malang menunjukkan bahwa persoalannya lebih tentang apakah kemampuan yang ditawarkan lulusan benar-benar bertemu dengan apa yang dibutuhkan dunia kerja.
Selama penawaran tenaga kerja dari kampus-kampus Malang terus tumbuh lebih cepat daripada penciptaan lapangan kerja yang sesuai, jawaban dari pertanyaan itu akan terus dicari oleh mahasiswa yang bersiap wisuda, oleh perusahaan yang mencari talenta tepat, dan oleh kota yang menyandang predikat kota pendidikan ini.
Penulis:
- Adria Fajar Alikia
- Marsha Putri Wardani
Mahasiswa Ekonomi Pembangunan, Universitas Negeri Malang
Dosen Pengampu: Nur Anita Yunikawati, S.Pd. M.Pd
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















