Dampak Tren Belanja Online terhadap Perubahan Struktur Pasar Ritel Tradisional Tanah Abang Jakarta

pasar tanah abang jakarta pusat
Dampak Tren Belanja Online terhadap Perubahan Struktur Pasar Ritel Tradisional Tanah Abang Jakarta. Sumber: MMI.

Perkembangan belanja online (e-commerce) secara signifikan telah mengubah struktur pasar ritel tradisional. Konsumen kini cenderung memilih transaksi digital karena kenyamanan, kemudahan akses, variasi produk, serta harga kompetitif yang ditawarkan oleh platform online.

Dampak tersebut mencakup perubahan perilaku konsumen, penurunan kunjungan di lokasi fisik, tekanan kompetitif terhadap pedagang tradisional, dan munculnya strategi adaptasi yang baru untuk mempertahankan eksistensi pasar tradisional di era digital.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Penelitian ini bermaksud untuk menjelaskan pengaruh pasar online terhadap minat beli konsumen dan dampaknya pada pasar tradisional Tanah Abang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif.

Kata Kunci: Pasar online, pasar tradisional, dan konsumen.

Riset  ini  bertujuan  buat  menganalisis  akibat  belanja  daring  terhadap  kinerja penjualan di kawasan Tanah Abang, Jakarta.

Dengan menggunakan tata cara survei serta analisis  informasi  kualitatif,  riset  ini  mengeksplorasi  gimana  kenaikan  pemakaian platform e-commerce mempengaruhi strategi penjualan tradisional pada masa Covid-19 pada tahun 2020-2021.

Hasil menampilkan kalau belanja daring sudah tingkatkan akses pasar  untuk  orang  dagang  memperluas  jangkauan  pelanggan,  serta  berkontribusi  pada perkembangan   penjualan.

Tetapi   tantangan   semacam   persaingan   yang   ketat   serta pergantian sikap konsumen pula teridentifikasi. Penemuan ini membagikan pengetahuan untuk  pelakon  bisnis  buat  mengadaptasi  model  bisnis  mereka  guna  menggunakan kesempatan di masa digital.

Pasar Tanah Abang di Jakarta merupakan salah satu pusat ritel tradisional terbesar di Indonesia, khususnya untuk produk tekstil dan pakaian. Sebelum perkembangan e-commerce, pasar ini menjadi tujuan utama pedagang grosir maupun konsumen dari berbagai daerah.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kemunculan dan pertumbuhan pesat platform belanja online seperti Shopee, Tokopedia, dan Lazada telah mengubah pola konsumsi masyarakat secara signifikan.

Seiring meningkatnya penetrasi internet dan penggunaan smartphone, konsumen mulai beralih dari belanja langsung ke belanja online yang dianggap lebih praktis, efisien, dan kompetitif dari segi harga. Hal ini berdampak langsung terhadap aktivitas perdagangan di Pasar Tanah Abang.

Baca Juga: Masyarakat Beralih ke Online Shop, Pelaku UMKM dan Pedagang di Pasar Mengeluhkan Sepi Pembeli

Permasalahan yang terjadi pada pasar ritel tradisional, khususnya di Pasar Tanah Abang Jakarta, berawal dari perubahan signifikan dalam pola belanja masyarakat akibat perkembangan pesat belanja online.

Kehadiran platform e-commerce telah menggeser preferensi konsumen dari aktivitas belanja langsung di pasar fisik menuju transaksi digital yang dianggap lebih praktis, efisien, dan fleksibel.

Konsumen tidak lagi harus datang ke pasar, berdesakan, atau menghabiskan waktu untuk mencari barang, karena seluruh kebutuhan dapat diakses melalui perangkat digital kapan saja dan di mana saja.

Kondisi ini menyebabkan penurunan jumlah kunjungan ke pasar tradisional, terutama dari konsumen eceran yang sebelumnya menjadi tulang punggung aktivitas perdagangan harian.

Penurunan jumlah pengunjung berdampak langsung pada menurunnya omzet penjualan pedagang tradisional. Banyak pedagang mengeluhkan bahwa pendapatan mereka tidak lagi stabil seperti sebelum maraknya belanja online.

Produk yang dijual di pasar tradisional sering kali kalah bersaing dari segi harga, karena pedagang online memiliki struktur biaya yang lebih rendah tanpa harus menanggung biaya sewa kios, listrik, dan tenaga kerja dalam jumlah besar.

Selain itu, pedagang online juga kerap menawarkan potongan harga, promosi gratis ongkos kirim, serta sistem pembayaran digital yang semakin menarik minat konsumen. Akibatnya, pedagang pasar tradisional berada pada posisi yang kurang menguntungkan dalam persaingan pasar.

Berdasarkan  hasil  observasi  terhadap  4  orang  responden yaitu  pedagang sayuran,   sembako,   pakaian,   dan   ikan. Para   pedagang   mengaku   mengalami penurunan  omzet  penjualan  setelah  adanya  pasar  online,  terutama  pada penjual pakaian.

Namun,  penurunan  omzet  penjualan  bagi  pedagang  sayuran,  sembako, dan  ikan  tidak  terlalu  banyak.  Hal  ini  dikarenakan  konsumen  lebih  cenderung membeli  sayuran,  sembako,  dan  ikan  di  pasar  tradisional  selain  karena  harganya yang cukup terjangkau pembelian seperti sayuran dan ikan di pasar online sangat tidak efisien dan efektif.

Ikan dan sayuran merupakan barang yang mudah busuk, sehingga jika dibeli secara online maka akan meningkatkan risiko kerugian. Beberapa  para  pedagang  di  pasar  induk  kajen  tidak  terlalu  khawatir  dengan adanya pasar online, mengingat penurunan omzet yang tidak terlalu banyak.

Namun ada  beberapa  pedagang, seperti  pedagang  pakaian, selain  berjualan  di  pasar tradisional pedagang pakaian juga sudah mulai berjualan secara online.

Baca Juga: Matinya Pasar Tanah Abang: Penyebab dan Solusi

Beberapa pedagang  pakaian  menyadari  terhadap  pesatnya  perkembangan  pasar  online sehingga harus mengikuti perkembangan tersebut agar tetap dapat bertahan di era sekarang.

Dengan perkembangan zaman yang semakin modern, teknologi berkembang begitu pesat.  Pasar  online  mulai  hadir  di tengah-tengah  masyarakat  sebagai  alternatif belanja. Pasar online menyediakan berbagai kebutuhan konsumen yang dapat dibeli melalui jaringan internet, sehingga konsumen dapat bertransaksi di segala kondisi.

Keberadaan  pasar  online  dapat  berpengaruh  terhadap  pasar  tradisional,  padahal pasar tradisional memiliki peran penting dalam memajukan pertumbuhan ekonomi.

Konsumen yang cenderung tidak ingin repot lebih memilih belanja di pasar online, sedangkan konsumen yang terlalu takut dengan  risiko  belanja  secara  online  lebih  memilih  berbelanja  di  pasar  tradisional.


Penulis:
1. Muhammad Raditya Aman
2. Muhammad Galang Sebastiane
3. Marcello Muhammad Shafy
Mahasiswa Manajemen Universitas Al-Azhar Indonesia


Dosen Pengampu: Dewi Elfidasari


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Daftar Pustaka

Ramaditta, V. & Fasa, M. I. (2024). Dampak Pembelanjaan Online terhadap Kinerja Penjualan di Era COVID-19.  Jurnal Media Akademik (JMA). Studi ini membahas bagaimana belanja online memengaruhi strategi dan kinerja penjualan pedagang tradisional.

Rohmania, D. R., Nasrullah, M., Utami, Y. L., & Caniago, S. A. (2023). Pengaruh Pasar Online terhadap Minat Beli Konsumen dan Dampaknya pada Pasar Tradisional Sahmiyya: Jurnal Ekonomi dan Bisnis. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana hadirnya pasar online memengaruhi minat beli konsumen terhadap pasar tradisional.

Pramesti, F. C., Rima, & Elisa. (2025). Analisis Dampak Perkembangan E-Commerce terhadap Preferensi Minat Konsumen pada Kelangsungan Usaha UMKM Pedagang Pakaian di Pasar Tradisional.

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses