Tim Pengabdian Masyarakat UNS Bersama Komunitas RumahKu Boyolali Belajar Budidaya Bonsai Rumahan Jadi Barang Bernilai Ekonomis

Budidaya bonsai
Boyolali — Riset Grup Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia (SDM) FEB UNS (Foto: Dok. Penulis)

Boyolali, MMI — Sebuah pohon ternyata bisa menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan jika ditangani dengan tepat.

Itulah pesan utama yang mengemuka dalam kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Pemberdayaan Ekonomi melalui Pengembangan Usaha Bonsai Rumahan” yang digelar oleh Riset Grup Kelembagaan dan SDM Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta di Komunitas RumahKu, Boyolali, pada Sabtu, 13 Juni 2026.

RumahKu merupakan komunitas pelayanan masyarakat di Boyolali yang bersifat non-profit yang berdiri sejak 9 September 2017.

Komunitas RumahKu telah berhasil meningkatkan keterampilan dan aktivitas ekonomi anggotanya melalui berbagai pelatihan kewirausahaan.

Komunitas RumahKu memiliki kegiatan-kegiatan yang dilakukan secara rutin setiap bulannya.

Kegiatan yang dilakukan adalah pelatihan peningkatan kapasitas diri, keterampilan dan pemberdayaan kepada para anggota.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat kali ini mengangkat tema besar “Meningkatkan Kemandirian Ekonomi melalui Budidaya dan Pemasaran Bonsai Bernilai Ekonomis” dan menghadirkan Pak Edy Setiyawan, S.Psi., seorang praktisi sekaligus pelaku usaha bonsai berpengalaman, sebagai narasumber utama.

Peserta yang hadir didominasi oleh warga laki-laki, sebagian di antaranya bahkan sudah memiliki koleksi bonsai di rumah, sehingga diskusi berlangsung hangat dan interaktif.

Budidaya bonsai
Foto: Dok. Penulis

Bonsai: Dari Hobi Menjadi Peluang Bisnis

Dalam paparannya, Pak Edy menjelaskan bahwa bonsai bukan sekadar tanaman hias, melainkan perpaduan antara ilmu hortikultura dan seni yang memiliki nilai jual terus meningkat seiring waktu.

Berbeda dari komoditas pertanian pada umumnya yang harganya fluktuatif, bonsai justru cenderung semakin mahal jika dirawat dan dibentuk dengan telaten.

“Modal awalnya bisa sangat minim, karena bahan bakalan bonsai bisa dicari di alam sekitar, baik dari hasil dongkelan maupun budidaya sendiri melalui stek dan cangkok,” ujar Pak Edy di hadapan peserta.

Ia mencontohkan, bibit tanaman senilai Rp10 ribu saja, jika dibentuk menjadi bonsai dasar dalam kurun satu hingga dua tahun, harganya bisa melonjak menjadi ratusan ribu bahkan jutaan rupiah.

Pasarnya pun luas, mulai dari kolektor lokal, penghobi tanaman hias, kebutuhan dekorasi hotel dan kantor, hingga ajang pameran nasional.

Tahapan Budidaya dan Strategi Berkelompok

Pak Edy memaparkan empat tahapan budidaya bonsai secara runtut, mulai dari pemilihan bahan (bakalan), tahap training atau pembentukan dasar batang, pengawatan (wiring) dan pemangkasan untuk membentuk gaya, hingga tahap finishing berupa pemindahan ke pot khusus yang estetik.

Ia menekankan pentingnya menggunakan tanaman lokal yang mudah tumbuh dan berdaun kecil, seperti Serut, Anting Putri, Sancang, dan Beringin, sebagai bahan yang ramah bagi pemula.

Yang menarik, Pak Edy juga membagikan strategi agar usaha bonsai dapat berdampak nyata bagi perekonomian kelompok, bukan hanya perorangan.

Ia mengusulkan pembentukan “Kelompok Sadar Bonsai” dengan pembagian peran: kelompok pembibit yang fokus pada stek dan cangkok untuk perputaran uang cepat secara bulanan, kelompok pendongkel atau grounding yang membesarkan batang pohon dalam jangka menengah enam hingga dua belas bulan, serta kelompok artist atau trainer yang membentuk estetika akhir bonsai bernilai jual tinggi dalam jangka satu hingga tiga tahun.

Pembagian ini dirancang agar warga tidak merasa usaha bonsai “lama menghasilkan uang”, karena tiap kelompok memiliki siklus pendapatan yang berbeda dan saling melengkapi.

Tanya Jawab dan Demonstrasi Langsung

Setelah sesi pemaparan materi, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang antusias antara Pak Edy dan para peserta.

Berbagai pertanyaan praktis muncul, mulai dari cara memilih bahan bakalan yang baik, teknik “dongkel” tanaman liar agar tidak mati, hingga formula media tanam yang cocok untuk iklim tropis Indonesia yang bercurah hujan tinggi.

Sebagai puncak kegiatan, Pak Edy memberikan demonstrasi langsung teknik penanaman bonsai di hadapan peserta, mulai dari cara mengambil akar tunggang, memangkas daun dan cabang untuk mengurangi penguapan, mengolesi luka potongan dengan zat perangsang akar, hingga proses karantina bibit di media pasir selama dua hingga empat minggu sebelum siap ditanam kembali.

Beberapa peserta kemudian dibekali bahan tanam untuk dipraktikkan secara mandiri di rumah masing-masing, sehingga ilmu yang diperoleh dapat langsung diterapkan.

Selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

Kegiatan pengabdian ini sejalan dengan setidaknya dua Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).

Pertama, SDG 1 (Tanpa Kemiskinan), karena kegiatan ini membuka peluang usaha rumahan berbiaya rendah yang dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi warga Komunitas RumahKu.

Kedua, SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), karena pelatihan ini mendorong tumbuhnya wirausaha berbasis keterampilan lokal serta membuka lapangan kerja baru melalui skema pembagian peran dalam kelompok usaha bonsai.

Selain itu, kegiatan ini juga mencerminkan semangat SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), karena terjalin kolaborasi antara akademisi, praktisi, dan komunitas warga dalam satu program pemberdayaan.

Melalui pendekatan yang aplikatif dan berbasis kearifan lokal, kegiatan pemberdayaan ekonomi ini diharapkan dapat menjadi pemantik bagi warga Komunitas RumahKu Boyolali untuk mulai merintis usaha bonsai rumahan secara berkelompok dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi keluarga.


Tim Pelaksana Pengabdian

Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan oleh Riset Grup Kelembagaan dan SDM yang diketuai oleh Danur Condro Guritno, S.E., M.E., Ph.D., dengan anggota tim terdiri dari Prof. Dr. Dwi Prasetyani, S.E., M.Si., CIPE., CPRM., Dr. Vincentius Hadi Wiyono WS, M.A., Dr. Akhmad Daerobi, M.S., Dr. Guntur Riyanto, M.Si., Ratna Malisa Indriawati, S.E., M.E., dan Aulia Hapsari Juwita, S.E., M.E. Pelaksanaan kegiatan turut dibantu oleh Hendrika Ayuliani Muntiyas, S.E., M.E., Ulya Faiza Husna, S.E., dan Rosyid Tryanggana.


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses